Tampilkan postingan dengan label Juz 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Juz 9. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Februari 2013

Tafsir Al Anfaal Ayat 27-40

Ayat 27-29: Berhati-hati agar tidak berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan agar jangan sampai tidak menunaikan amanah, serta mengingatkan terhadap cobaan harta dan anak

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ (٢٧) وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ (٢٨) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (٢٩

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 27-29

27. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad)[1] dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui[2].

28. Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan[3] dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar[4].

29. Wahai orang-orang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan Furqaan[5] kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu[6] dan mengampuni (dosa-dosa)mu[7]. Allah memiliki karunia yang besar[8].

Tafsir Al Anfaal Ayat 15-26

Ayat 15-19: Menaati Allah dan Rasul-Nya merupakan jalan untuk memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat, serta larangan melarikan diri dari pertempuran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمُ الأدْبَارَ (١٥) وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٦) فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (١٧) ذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ (١٨)إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ (١٩

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 15-19

15. Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).

16. Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang[1] atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain[2], maka sungguh, orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali[3].

17.[4] Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik[5]. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[6].

18. Demikianlah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sungguh, Allah melemahkan tipu daya orang-orang kafir[7].

19. Jika kamu (orang-orang musyrik) meminta keputusan[8], maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu[9]; dan jika kamu berhenti[10], maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali[11], niscaya Kami kembali (memberi pertolongan kepadanya); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman[12].

Tafsir Surat Al Anfaal Ayat 1-14

Surah Al Anfaal (Rampasan Perang)

Surah ke-8. 75 ayat. Madaniyyah, ada yang berpendapat kecuali ayat 30-37

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-4: Hukum ghanimah dan pembagiannya, cara pembagian ghanimah terserah kepada Allah dan Rasul-Nya serta penjelasan sifat-sifat orang mukmin yang sesungguhnya

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأنْفَالِ قُلِ الأنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ     (١) إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٢) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣)أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (٤

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 1-4

1.[1] Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, "Harta rampasan perang itu milik Allah[2] dan Rasul[3] (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu[4], dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman[5]."

2.[6] Sesungguhnya orang-orang yang beriman[7] adalah mereka yang apabila disebut nama Allah[8] gemetar hatinya[9], dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka bertambah (kuat) imannya[10] dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal[11],

3. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat[12] dan yang menginfakkan[13] sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.

4. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman[14]. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia[15].

Jumat, 15 Februari 2013

Terjemah Al A’raaf Ayat 189-206

Ayat 189-195: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan manusia kepada asal usul kejadiannya, Dia menciptakan manusia dari laki-laki dan wanita, tanggung jawab orang tua untuk mendidik anak, dan menerangkan bahwa beribadah kepada selain Allah adalah batil

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ         (١٨٩) فَلَمَّا آتَاهُمَا صَالِحًا جَعَلا لَهُ شُرَكَاءَ فِيمَا آتَاهُمَا فَتَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ (١٩٠)أَيُشْرِكُونَ مَا لا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (١٩١) وَلا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ (١٩٢) وَإِنْ تَدْعُوهُمْ إِلَى الْهُدَى لا يَتَّبِعُوكُمْ سَوَاءٌ عَلَيْكُمْ أَدَعَوْتُمُوهُمْ أَمْ أَنْتُمْ صَامِتُونَ (١٩٣) إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ عِبَادٌ أَمْثَالُكُمْ فَادْعُوهُمْ فَلْيَسْتَجِيبُوا لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (١٩٤)أَلَهُمْ أَرْجُلٌ يَمْشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَيْدٍ يَبْطِشُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ أَعْيُنٌ يُبْصِرُونَ بِهَا أَمْ لَهُمْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا قُلِ ادْعُوا شُرَكَاءَكُمْ ثُمَّ كِيدُونِ فَلا تُنْظِرُونِ (١٩٥

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 189-195

189. Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangannya[1], agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (isterinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), "Jika Engkau memberi kami anak yang sempurna fisiknya (tidak cacat), tentulah kami akan selalu bersyukur.”

190. Maka setelah Dia (Allah) memberi keduanya seorang anak yang sempurna fisiknya. Mereka[2] menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Tafsir Al A’raaf Ayat 179-188

Ayat 179: Penjelasan tentang orang yang tidak mengikuti kebenaran, padahal ada dalil yang mengingatkannya, dan seperti inilah sifat penghuni neraka

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ           (١٧٩)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 179

179. Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak[1], bahkan lebih sesat lagi[2]. Mereka itulah orang-orang yang lengah.

Tafsir Al A’raaf Ayat 167-178

Ayat 167-171: Cintanya orang-orang Yahudi secara berlebihan kepada perhiasan dunia, dan bagaimana mereka membatalkan perjanjian serta pentingnya berpegang dengan kitab yang Allah turunkan. Demikian pula memerintahkan untuk menjaga shalat dan mengadakan perbaikan di bumi

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٦٧)وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (١٦٨) فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الأدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ     (١٦٩) وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ (١٧٠)وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٧١

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 167-171

167. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya[1] kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya[2], dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[3].

168. Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan[4]; di antaranya ada orang-orang yang saleh[5] dan ada yang tidak demikian[6]. Dan Kami uji mereka dengan yang baik-baik (nikmat) dan yang buruk-buruk (bencana), agar mereka kembali (kepada kebenaran).

169. Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat[7], yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini[8]. Lalu mereka berkata[9], "Kami akan diberi ampun[10].” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga)[11]. Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?[12] Dan negeri akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?[13]

Tafsir Al A’raaf Ayat 155-166

Ayat 155-156: Permohonan maaf Nabi Musa ‘alaihis salam kepada Tuhannya terhadap tindakan kaumnya dan penjelasan luasnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya

وَاخْتَارَ مُوسَى قَوْمَهُ سَبْعِينَ رَجُلا لِمِيقَاتِنَا فَلَمَّا أَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ أَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ السُّفَهَاءُ مِنَّا إِنْ هِيَ إِلا فِتْنَتُكَ تُضِلُّ بِهَا مَنْ تَشَاءُ وَتَهْدِي مَنْ تَشَاءُ أَنْتَ وَلِيُّنَا فَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَأَنْتَ خَيْرُ الْغَافِرِينَ (١٥٥)وَاكْتُبْ لَنَا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ إِنَّا هُدْنَا إِلَيْكَ قَالَ عَذَابِي أُصِيبُ بِهِ مَنْ أَشَاءُ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ فَسَأَكْتُبُهَا لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِنَا يُؤْمِنُونَ (١٥٦

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 155-156

155.[1] Dan Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohon tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Ketika mereka ditimpa gempa bumi[2], Musa berkata, "Ya Tuhanku, jika Engkau kehendaki, tentulah Engkau binasakan mereka dan aku sebelum ini. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang berakal di antara kami?[3] Itu hanyalah cobaan dari-Mu, Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki[4]. Engkaulah pemimpin kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah pemberi ampun yang terbaik.”

156. Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini[5] dan di akhirat[6]. Sungguh, kami kembali (bertobat) kepada Engkau[7]. (Allah) berfirman, "Siksa-Ku akan Aku timpakan kepada siapa yang Aku kehendaki[8] dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu[9]. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku[10] bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami[11].”

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 144-154

Ayat 144-147: Keutamaan Nabi Musa ‘alaihi salam di atas manusia yang lain pada zamannya, dan bahwa bersikap sombong kepada manusia dengan tanpa hak merupakan jalan yang membawa kepada kehinaan

قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاتِي وَبِكَلامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (١٤٤) وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ (١٤٥)سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (١٤٦) وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ      (١٤٧)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 144-147

144.[1] (Allah) berfirman, "Wahai Musa! Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegangteguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur."

145. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh[2] (Taurat) segala sesuatu[3] sebagai pelajaran[4] dan penjelasan untuk segala hal[5]; maka (kami berfirman), "Berpegangteguhlah kepadanya[6] dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya[7], aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik[8].”

146. Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku)[9] orang-orang yang menyombongkan diri[10] di bumi tanpa alasan yang benar. Kalau pun melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku), mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk[11], mereka tidak akan menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan[12], mereka memenempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.

Tafsir Al A’raaf Ayat 130-143

Ayat 130-136: Musibah dapat melunakkan hati, nikmat Allah kepada Bani Israil dan dibalasnya nikmat itu dengan sikap kufur

وَلَقَدْ أَخَذْنَا آلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِينَ وَنَقْصٍ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُونَ (١٣٠) فَإِذَا جَاءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوا لَنَا هَذِهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَطَّيَّرُوا بِمُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَلا إِنَّمَا طَائِرُهُمْ عِنْدَ اللَّهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (١٣١) وَقَالُوا مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِنْ آيَةٍ لِتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ (١٣٢) فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ وَالدَّمَ آيَاتٍ مُفَصَّلاتٍ فَاسْتَكْبَرُوا وَكَانُوا قَوْمًا مُجْرِمِينَ (١٣٣) وَلَمَّا وَقَعَ عَلَيْهِمُ الرِّجْزُ قَالُوا يَا مُوسَى ادْعُ لَنَا رَبَّكَ بِمَا عَهِدَ عِنْدَكَ لَئِنْ كَشَفْتَ عَنَّا الرِّجْزَ لَنُؤْمِنَنَّ لَكَ وَلَنُرْسِلَنَّ مَعَكَ بَنِي إِسْرَائِيلَ      (١٣٤) فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُمُ الرِّجْزَ إِلَى أَجَلٍ هُمْ بَالِغُوهُ إِذَا هُمْ يَنْكُثُونَ (١٣٥) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ فَأَغْرَقْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (١٣٦

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 130-136

130. Dan Sungguh, Kami telah menghukum (Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan musim kemarau) bertahun-tahun dan kekurangan buah-buahan, agar mereka mengambil pelajaran[1].

131. Kemudian apabila kebaikan (kemakmuran) datang kepada mereka, mereka berkata, "Ini adalah karena (usaha) kami[2].” Dan jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa dan pengikutnya. Ketahuilah, sesungguhnya nasib mereka di tangan Allah[3], namun kebanyakan mereka tidak mengetahui[4].

132. Dan mereka berkata (kepada Musa), "Bukti apa pun yang engkau bawa kepada kami untuk menyihir kami, kami tidak akan beriman kepadamu.”

133. Maka Kami kirimkan kepada mereka topan (banjir besar), belalang[5], kutu[6], katak[7] dan darah[8] sebagai bukti-bukti yang jelas[9], tetapi mereka tetap menyombongkan diri[10] dan mereka sebelumnya juga kaum yang berdosa[11].

Tafsir Al A’raaf Ayat 117-129

Ayat 117-126: Menangnya kebenaran, kalahnya kebatilan serta bersabar ketika kesulitan dan mendapatkan gangguan

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَإِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُونَ    (١١٧) فَوَقَعَ الْحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (١١٨)فَغُلِبُوا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوا صَاغِرِينَ (١١٩) وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ (١٢٠) قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ (١٢١) رَبِّ مُوسَى وَهَارُونَ (١٢٢) قَالَ فِرْعَوْنُ آمَنْتُمْ بِهِ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّ هَذَا لَمَكْرٌ مَكَرْتُمُوهُ فِي الْمَدِينَةِ لِتُخْرِجُوا مِنْهَا أَهْلَهَا فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ (١٢٣) لأقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلافٍ ثُمَّ لأصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ (١٢٤) قَالُوا إِنَّا إِلَى رَبِّنَا مُنْقَلِبُونَ (١٢٥)وَمَا تَنْقِمُ مِنَّا إِلا أَنْ آمَنَّا بِآيَاتِ رَبِّنَا لَمَّا جَاءَتْنَا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَتَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ (١٢٦

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 117-126

117. Dan Kami wahyukan kepada Musa, "Lemparkanlah tongkatmu!". Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.

118. Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia.

119. Mereka[1] dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina.

120. Dan para pesihir itu serta merta menjatuhkan diri dengan bersujud[2],

121. Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam,

122. (yaitu) Tuhan Musa dan Harun[3].”

123. Fir'aun berkata, "Mengapa kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya ini benar-benar tipu muslihat yang telah kamu rencanakan di kota ini, untuk mengusir penduduk. Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu ini)[4].

Tafsir Al A’raaf Ayat 103-116

Ayat 103-108: Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, pengutusannya kepada Fir’aun dan ditunjukkan kepadanya ayat-ayat Allah

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (١٠٣) وَقَالَ مُوسَى يَا فِرْعَوْنُ إِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٠٤) حَقِيقٌ عَلَى أَنْ لا أَقُولَ عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ فَأَرْسِلْ مَعِيَ بَنِي إِسْرَائِيلَ (١٠٥) قَالَ إِنْ كُنْتَ جِئْتَ بِآيَةٍ فَأْتِ بِهَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (١٠٦) فَأَلْقَى عَصَاهُ فَإِذَا هِيَ ثُعْبَانٌ مُبِينٌ   (١٠٧) وَنَزَعَ يَدَهُ فَإِذَا هِيَ بَيْضَاءُ لِلنَّاظِرِينَ (١٠٨)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 103-108

103. Setelah mereka, kemudian Kami utus Musa dengan membawa bukti-bukti Kami kepada Fir'aun[1] dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari bukti-bukti itu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan[2].

104. Dan Musa berkata[3], "Wahai Fir'aun! Sungguh, aku adalah seorang utusan dari Tuhan seluruh alam,

105.[4] Aku wajib mengatakan yang sebenarnya tentang Allah. Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersama aku[5].”

106. Dia (Fir'aun) menjawab, "Jika benar kamu membawa sesuatu bukti, maka tunjukkanlah, kalau kamu termasuk orang-orang yang benar.”

107. Lalu (Musa) melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya.

Minggu, 10 Februari 2013

Tafsir Al A’raaf Ayat 88-102

Juz 9

Ayat 88-93: Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salam

قَالَ الْمَلأ الَّذِينَ اسْتَكْبَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَكَ مِنْ قَرْيَتِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا قَالَ أَوَلَوْ كُنَّا كَارِهِينَ (٨٨) قَدِ افْتَرَيْنَا عَلَى اللَّهِ كَذِبًا إِنْ عُدْنَا فِي مِلَّتِكُمْ بَعْدَ إِذْ نَجَّانَا اللَّهُ مِنْهَا وَمَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَعُودَ فِيهَا إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّنَا وَسِعَ رَبُّنَا كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا عَلَى اللَّهِ تَوَكَّلْنَا رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ (٨٩) وَقَالَ الْمَلأ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَوْمِهِ لَئِنِ اتَّبَعْتُمْ شُعَيْبًا إِنَّكُمْ إِذًا لَخَاسِرُونَ      (٩٠) فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (٩١) الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَأَنْ لَمْ يَغْنَوْا فِيهَا الَّذِينَ كَذَّبُوا شُعَيْبًا كَانُوا هُمُ الْخَاسِرِينَ (٩٢) فَتَوَلَّى عَنْهُمْ وَقَالَ يَا قَوْمِ لَقَدْ أَبْلَغْتُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَنَصَحْتُ لَكُمْ فَكَيْفَ آسَى عَلَى قَوْمٍ كَافِرِينَ (٩٣

 

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 88-93

88. Pemuka-pemuka yang menyombongkan dari kaum Syu’aib berkata, "Wahai Syu'aib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami[1].” Syu'aib berkata, "Apakah (kamu kamu hendak mengembalikan kami kepada agamamu), kendatipun kami tidak suka?"

89. Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, setelah Allah melepaskan kami darinya. Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki[2]. Pengetahuan Tuhan Kami meliputi segala sesuatu[3]. Hanya kepada Allah kami bertawakkal[4]. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil)[5]. Engkaulah pemberi keputusan terbaik[6].”

90. Pemuka-pemuka dari kaumnya (Syu'aib) yang kafir berkata (kepada sesamanya)[7], "Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syu'aib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi[8].”

91. Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan[9] di dalam reruntuhan rumah mereka,

92. Orang-orang yang mendustakan Syu'aib seakan-akan mereka belum pernah tinggal di (negeri) itu. Mereka yang mendustakan Syu'aib, itulah orang-orang yang sebenarnya merugi.

93. Maka Syu'aib meninggalkan mereka seraya berkata, "Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu[10]. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir[11]?"

Ayat 94-95: Sunnatullah dalam bertindak terhadap setiap umat

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَبِيٍّ إِلا أَخَذْنَا أَهْلَهَا بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَضَّرَّعُونَ (٩٤) ثُمَّ بَدَّلْنَا مَكَانَ السَّيِّئَةِ الْحَسَنَةَ حَتَّى عَفَوْا وَقَالُوا قَدْ مَسَّ آبَاءَنَا الضَّرَّاءُ وَالسَّرَّاءُ فَأَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩٥

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 94-95

94. Dan Kami tidak mengutus seseorang nabi pun[12] kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan[13] dan penderitaan[14] agar mereka tunduk dengan merendahkan diri[15].

95. Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan[16] sehingga (keturunan dan harta mereka) bertambah banyak, lalu mereka berkata[17], "Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan[18],” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.

Ayat 96-102: Sunnatullah dalam memberikan hukuman kepada orang-orang yang mendustakan para nabi, dan pentingnya takwa dalam kehidupan manusia

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالأرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ    (٩٦) أَفَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا بَيَاتًا وَهُمْ نَائِمُونَ (٩٧) أَوَأَمِنَ أَهْلُ الْقُرَى أَنْ يَأْتِيَهُمْ بَأْسُنَا ضُحًى وَهُمْ يَلْعَبُونَ (٩٨) أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ فَلا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ (٩٩) أَوَلَمْ يَهْدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ الأرْضَ مِنْ بَعْدِ أَهْلِهَا أَنْ لَوْ نَشَاءُ أَصَبْنَاهُمْ بِذُنُوبِهِمْ وَنَطْبَعُ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لا يَسْمَعُونَ (١٠٠) تِلْكَ الْقُرَى نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَائِهَا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانُوا لِيُؤْمِنُوا بِمَا كَذَّبُوا مِنْ قَبْلُ كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِ الْكَافِرِينَ (١٠١) وَمَا وَجَدْنَا لأكْثَرِهِمْ مِنْ عَهْدٍ وَإِنْ وَجَدْنَا أَكْثَرَهُمْ لَفَاسِقِينَ (١٠٢

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 96-102

96.[19] Dan sekiranya penduduk negeri beriman[20] dan bertakwa[21], pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit[22] dan bumi[23], tetapi ternyata mereka mendustakan (para rasul), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

97. Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?

98. Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada siang hari ketika mereka sedang bermain?

99. Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang datang tidak terduga-duga)[24]? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi[25].

100.[26] Atau apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri setelah (lenyap) penduduknya? Bahwa kalau Kami menghendaki pasti Kami siksa mereka karena dosa-dosanya; dan Kami mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran)[27].

101. Itulah negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagian kisahnya kepadamu[28]. Rasul-rasul mereka benar-benar telah datang kepada mereka[29] dengan membawa bukti-bukti yang nyata (mukjizat). Tetapi mereka tidak beriman (juga) kepada apa yang telah mereka dustakan sebelumnya[30]. Demikianlah Allah mengunci hati orang-orang kafir[31].

102. Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji[32]. Sebaliknya yang Kami dapati kebanyakan mereka adalah orang-orang yang benar-benar fasik[33].


[1] Mereka menggunakan kekerasan untuk melawan yang benar.

[2] Kehendak yang mengikuti ilmu dan hikmah (kebijaksanaan)-Nya.

[3] Termasuk pula tentang keadaan aku dan keadaan kamu.

[4] Yakni kami bersandar kepada-Nya agar Dia meneguhkan kami di atas jalan yang lurus, menjaga kami dari semua jalan yang mengarah kepada neraka, karena barang siapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan mencukupkannya, memudahkan perkara agamanya dan dunianya.

[5] Maksudnya, “Tolonglah orang yang teraniaya dan orang yang berada di atas kebenaran terhadap orang yang zalim lagi menentang kebenaran.”

[6] Fath (keputusan) Allah kepada hamba-hamba-Nya mencakup dua hal:

a. Keputusan dalam arti diterangkan ilmu, yakni diterangkan jalan yang benar dari jalan yang batil, petunjuk daripada kesesatan, dan siapa yang berada di atas jalan yang lurus dengan yang berada di atas jalan yang bengkok.

b. Keputusan dalam arti pemberian balasan dan hukuman kepada orang yang zalim, serta keselamatan dan pemuliaan kepada orang-orang yang saleh.

[7] Memperingatkan yang lain agar tidak mengikuti Nabi Syu’aib ‘alaihis salam.

[8] Mereka tidak mengetahui, bahwa kerugian yang sesungguhnya ketika tetap berada di atas kesesatan dan menyesatkan yang lain, dan mereka akan mengetahui siapa yang sesungguhnya rugi ketika azab menimpa mereka.

[9] Di atas lutut mereka.

[10] Namun kamu tidak mau beriman.

[11] Kami berlindung kepada Engkau ya Allah dari kehinaan seperti ini. Kerugian dan kesengsaraan manakah yang melebihi kerugian orang-orang yang manusia terbaik (para nabi) berlepas diri daripadanya dan tidak berduka cita terhadapnya.

[12] Yang mengajak manusia kepada Allah; menyembah hanya kepada-Nya dan mengerjakan kebaikan serta melarang semua keburukan.

[13] Yakni kemiskinan atau kesengsaraan.

[14] Seperti sakit dan berbagai bencana lainnya.

[15] Sehingga mereka beriman.

[16] Dengan memperbanyak rezeki, menyehatkan badan mereka serta menghindarkan musibah dari mereka.

[17] Sebagai tanda kufur kepada nikmat Allah.

[18] Menurut mereka kesengsaraan, sakit dan musibah adalah hal yang biasa sebagaimana menimpa pula kepada nenek moyang mereka sebelumnya, dan bukan sebagai peringatan dan hukuman Allah, oleh karena itu mereka tetap di atas sikap mereka.

[19] Setelah Alah menyebutkan tentang orang-orang yang mendustakan para rasul, bahwa mereka diuji dengan berbagai penderitaan dan musibah sebagai peringatan bagi mereka, dan dengan kesenangan sebagai istidraj (penangguhan) dan makar, Allah menyebutkan, bahwa penduduk negeri jika mau beriman kepada para rasul serta menjauhi kufur dan kemaksiatan, maka Alah menurunkan berkah dari langit dan bumi kepada mereka. Berdasarkan ayat ini, jika amal yang naik kepada Allah adalah amal yang baik, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menurunkan kebaikan. Sebaliknya, jika amal yang naik kepada Alah Ta’ala adalah amal buruk, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menurunkan keburukan pula kepada mereka.

[20] Kepada Allah dan rasul-Nya.

[21] Menjauhi kekufuran dan kemaksiatan.

[22] Seperti diturunkan hujan.

[23] Seperti ditumbuhkan tumbuh-tumbuhan.

[24] Yakni istidraj; penundaan azab dengan memberikan nikmat untuk sementara waktu, lalu azab datang secara tiba-tiba.

[25] Syaikh As Sa’diy berkata, “Dalam ayat ini terdapat takhwif (menakutkan) yang dalam agar seorang hamba tidak merasa aman dengan iman yang dimilikinya, bahkan ia harus selalu memiliki rasa takut jika sekiranya ia ditimpa cobaan yang mencabut keimanannya, dan hendaknya ia senantiasa berdoa,

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Serta beramal dan berusaha melakukan setiap sebab yang dapat meloloskannya dari keburukan ketika terjadi fitnah, karena seorang hamba kalau pun tinggi keadaannya, namun tidak pasti tetap selamat.”

[26] Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan umat-umat yang baru agar memperhatikan umat-umat yang telah binasa dahulu, yakni agar mereka tidak mengerjakan hal yang sama seperti yang dikerjakan umat terdahulu yang binasa, karena Sunnatullah berlaku baik bagi orang-orang yang tedahulu maupun yang kemudian, bahwa jika Dia menghendaki, Dia akan membinasakan mereka karena dosa-dosanya, sebagaimana orang-orang sebelum mereka.

[27] Yakni ketika Allah mengingatkan mereka, namun mereka tidak mau mengingatnya, memberi pelajaran kepada mereka namun mereka tidak mau mengambil pelajaran, menunjukkan mereka, namun mereka tidak mau mengikutinya sehingga Allah mengunci hati mereka dan mereka tidak dapat mendengarkan lagi sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Mereka hanya mendengar sesuatu yang merupakan penegak hujjah atas mereka.

[28] Agar menjadi pelajaran, membuat orang-orang zalim berhenti dari kezalimannya dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.

[29] Mengajak kepada sesuatu yang membahagiakan mereka

[30] Yakni karena pada awalnya mereka mendustakan sehingga mereka mendustakan lagi setelahnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman,“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (terj. Al An’aam: 110)

[31] Sebagai hukuman bagi mereka, dan Allah tidaklah menzalimi mereka, akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.

[32] Yakni tidak teguh memegang wasiat Allah yang diwasatkan-Nya kepada semua manusia serta tidak tunduk kepada perintah-Nya yang disampaikan melalui lisan para rasul-Nya.

[33] Fasik artinya keluar dari ketaatan kepada Allah. Alah Subhaanahu wa Ta'aala menguji manusia dengan mengutus rasul dan menurunkan kitab serta memerintahkan mereka melaksanakan wasiat-Nya dan petunjuk-Nya, namun tidak ada yang mengikutinya kecuali sebagian kecil di antara mereka, sedangkan sebagian besarnya berpaling dari petunjuk, bersikap sombong terhadap apa yang dibawa para rasul, sehingga Allah menimpakan hukuman-Nya yang bermacam-macam .