Jumat, 22 Februari 2013

Tafsir Al Anfaal Ayat 15-26

Ayat 15-19: Menaati Allah dan Rasul-Nya merupakan jalan untuk memperoleh kemuliaan di dunia dan akhirat, serta larangan melarikan diri dari pertempuran

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا زَحْفًا فَلا تُوَلُّوهُمُ الأدْبَارَ (١٥) وَمَنْ يُوَلِّهِمْ يَوْمَئِذٍ دُبُرَهُ إِلا مُتَحَرِّفًا لِقِتَالٍ أَوْ مُتَحَيِّزًا إِلَى فِئَةٍ فَقَدْ بَاءَ بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَمَأْوَاهُ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ (١٦) فَلَمْ تَقْتُلُوهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ قَتَلَهُمْ وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْهُ بَلاءً حَسَنًا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (١٧) ذَلِكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ مُوهِنُ كَيْدِ الْكَافِرِينَ (١٨)إِنْ تَسْتَفْتِحُوا فَقَدْ جَاءَكُمُ الْفَتْحُ وَإِنْ تَنْتَهُوا فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَإِنْ تَعُودُوا نَعُدْ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًا وَلَوْ كَثُرَتْ وَأَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ (١٩

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 15-19

15. Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang akan menyerangmu, maka janganlah kamu berbalik membelakangi mereka (mundur).

16. Dan barang siapa mundur pada waktu itu, kecuali berbelok untuk (sisat) perang[1] atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain[2], maka sungguh, orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah. Tempatnya ialah neraka Jahanam, dan seburuk-buruk tempat kembali[3].

17.[4] Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik[5]. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[6].

18. Demikianlah (karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu), dan sungguh, Allah melemahkan tipu daya orang-orang kafir[7].

19. Jika kamu (orang-orang musyrik) meminta keputusan[8], maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu[9]; dan jika kamu berhenti[10], maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali[11], niscaya Kami kembali (memberi pertolongan kepadanya); dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya (pasukan) banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman[12].

Ayat 20-26: Pengarahan kepada kaum mukmin untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mengingatkan mereka bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan kekuasaan kepada mereka

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ (٢٠) وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لا يَسْمَعُونَ (٢١) إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لا يَعْقِلُونَ (٢٢) وَلَوْ عَلِمَ اللَّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُونَ (٢٣) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (٢٤) وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٥)وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ مُسْتَضْعَفُونَ فِي الأرْضِ تَخَافُونَ أَنْ يَتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَآوَاكُمْ وَأَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهِ وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٢٦

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 20-26

20. Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari-Nya[13], padahal kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)[14],

21. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang (munafik dan musyrik) yang berkata, "Kami mendengarkan,” padahal mereka tidak mendengarkan[15] (karena hati mereka mengingkarinya).

22. Sesungguhnya makhluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu[16] yaitu orang-orang yang tidak mengerti.

23. Kalau sekiranya Allah mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentu Dia menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka berpaling juga[17], sedang mereka memalingkan diri[18].

24. Wahai orang-orang yang beriman! Penuhilah seruan Allah dan Rasul[19], apabila dia menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu[20], dan ketahuilah[21] bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya[22] dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan[23].

25. Dan peliharalah dirimu[24] dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu[25]. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya[26].

26. Dan ingatlah ketika kamu (para muhajirin) masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Dia memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya[27] dan diberi-Nya kamu rezeki yang baik[28] agar kamu bersyukur[29].


[1] Seperti memperlihatkan kepada musuh seakan-akan lari ke belakang sebagai tipu daya, padahal akan kembali menyerang atau berpindah dari satu tempat ke tempat lain agar lebih mudah memerangi.

[2] Yakni meminta bantuan kepada pasukan kaum muslimin yang lain. Jika pasukan lain berada dekat dengannya (di sekitar medan peperangan), maka masalahnya sudah jelas, yakni boleh. Tetapi apabila pasukan lain di luar medan peperangan, misalnya kaum muslimin kalah dan pergi menuju ke salah satu negeri kaum muslimin atau ke pasukan lain dari pasukan kaum muslimin, maka telah ada riwayat dari para sahabat yang menunjukkan bolehnya. Namun mungkin saja, hal ini apabila mundur lebih baik akibatnya, akan tetapi apabila mereka melihat jika tetap di tempat dapat mengalahkan musuh, maka dalam hal ini tidak termasuk keadaan yang diberi rukhshah (keringanan) sehingga mereka tidak boleh mundur. Ayat ini masih mutlak, dan akan disebutkan di akhir surat batasan jumlahnya yang membolehkan mundur.

[3] Hal ini apabila kaum kafir tidak berjumlah lebih dari dua kali lipat kaum muslimin sebagaimana akan diterangkan nanti. Ayat ini menunjukkan bahwa melarikan diri dari peperangan merupakan dosa yang besar.

[4] Ketika kaum musyrik telah kalah, maka dalam ayat ini Allah menerangkan, bahwa sesungguhnya yang membunuh dan melempar mereka adalah Allah. Thabrani meriwayatkan dari Hakim bin Hizam ia berkata, “Ketika perang Badar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan (diambilkan batu kerikil), lalu Beliau mengambil segenggam batu kerikil dan menghadap kepada kami serta melempar kami dengannya. Beliau bersabda, “Muka-muka yang buruk.” Kami pun kalah, dan Allah Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya, “Wa maa ramaita idz ramaita wa laakinnallaha ramaa (artinya: Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah yang melempar).” Haitsami dalam Majma’ juz 2 hal. 84 berkata, “Sanadnya hasan.” Menurut Syaikh Muqbil bahwa perkataannya “Sanadnya hasan” maksudnya adalah hasan lighairihi. Syaikh Muqbil juga menjelaskan, bahwa Haitsami menghasankannya karena hadits tersebut memiliki syawahid (penguat dari jalan lain) dan mutaba’ah (penguat dari jalan yang sama), karena ia menyebutkan setelahnya, dari Ibnu Abas bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali, “Berikanlah kepadaku segenggam batu kerikil.” Maka Ali memberikannya, lalu Beliau melemparkannya ke arah wajah-wajah kaum musyrik, sehingga tidak ada salah seorang di antara mereka kecuali kedua matanya penuh kerikil. Ketika itulah turun ayat, “Wa maa ramaita idz ramaita wa laakinnallaha ramaa.” Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Thabrani. Para perawinya adalah para perawi kitab shahih.”

[5] Yaitu ghanimah. Ada pula yang menafsirkan, bahwa Allah Ta’ala sessungguhnya berkuasa untuk memenangkan kaum mukmin di atas orang-orang kafir tanpa perlu adanya peperangan, akan tetapi Allah ingin menguji orang-orang mukmin dengan jihad agar mereka mencapai derajat yang tinggi, kedudukan yang mulia dan mendapat pahala yang baik dan banyak.

[6] Allah mendengar apa yang dirahasiakan hamba dan apa yang ditampakkannya, dan mengetahui apa yang ada dalam hati manusia berupa niat yang baik dan yang buruk, sehingga Dia menetapkan untuk hamba taqdir yang sesuai ilmu-Nya, kebijaksanaan-Nya dan maslahat hamba-hamba-Nya, dan akan memberikan balasan masing-masingnya sesuai niat dan amalnya.

[7] Allah melemahkan tipu daya dan makar orang-orang kafir yang mereka lancarkan kepada Islam dan pemeluknya, dan menjadikan tipu daya mereka berbalik menimpa mereka.

[8] Yakni keputusan dari Allah dengan menimpakan azab kepada orang yang zalim dan salah.

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abdullah bin Tsa’labah bin Shaghir ia berkata, “Orang yang meminta keputusan pada perang Badar adalah Abu Jahal, ketika dia berkata, “Ya Allah, siapakah di antara kami yang lebih memutuskan tali silaturrahim dan datang membawa sesuatu yang tidak kami kenali? Oleh karena itu, binasakanlah ia pada pagi hari ini.” Maka Allah menurunkan ayat, “In tastaftihuu faqad jaa’akumul fat-h.” Hadits ini asalnya ada dalam Musnad juz 5 hal. 431, namun di sana tidak diterangkan tentang turunnya ayat tersebut. Hakim meriwayatkannya dan berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat dua syaikh (Bukhari-Muslim), namun keduanya tidak menyebutkannya”, tetapi Muslim tidak meriwayatkan hadits Abdullah bin Ta’labah, oleh karena itu hanya sesuai syarat Bukhari saja, dan Adz Dzahabi mendiamkannya. Al Haafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyandarkannya kepada Nasa’i, dan Al Waahidiy menyebutkannya dalam Asbaabunnuzul.

[9] Dengan membinasakan yang layak dibinasakan, yaitu Abu Jahal dan orang-orang yang terbunuh bersamanya.

[10] Dari kekufuran dan dari memerangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[11] Maksudnya kembali memusuhi dan memerangi Rasul.

[12] Barang siapa Alah bersamanya, maka dialah yang akan tertolong meskipun ia lemah dan jumlahnya sedikit. Kebersamaan Allah ini dengan memberikan bantuan dan pertolongan sesuai amalan iman yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, apabila terjadi kekalahan pada kaum muslimin di sebagian waktu, maka hal itu tidak lain karena sikap remeh mereka dan tidak mengerjakan kewajiban iman dan konsekwensinya. Karena jika mereka melakukan apa yang diperintahkan Allah, tentu mereka tidak akan kalah dan musuh tidak akan menang.

[13] Dengan menyelisihi perintah-Nya.

[14] Oleh karena itu, berpalingnya kamu dari-Nya padahal kamu mendengarkan apa yang dibacakan kepadamu dari kitab Allah, perintah-perintah-Nya, wasiat dan nasehat-Nya, termasuk keadaan yang sangat buruk.

[15] Yakni tidak mendengar sambil mentadaburi dan mengambil pelajaran daripadanya. Maksud ayat ini adalah janganlah kita hanya menyampaikan di lisan dakwaan yang tidak ada hakikatnya, karena yang demikian tidak diridhai Allah dan Rasul-Nya, dan lagi iman bukan sekedar angan-angan dan hiasan, akan tetapi iman sesungguhnya yang menancap di hati dan dibenarkan oleh amalan.

[16] Maksudnya manusia yang paling buruk di sisi Allah ialah yang tidak mau mendengar, menuturkan dan memahami kebenaran. Ayat-ayat dan peringatan sama sekali tidak bermanfaat bagi mereka. Mereka ini disebut Allah sebagai orang-orang yang tidak mengerti, yakni tidak mengerti hal yang bermanfaat bagi mereka, dan tidak mengutamakannya di atas madharrat. Mereka ini di sisi Allah lebih buruk dari semua makhluk bergerak, karena Alah Ta’ala telah memberikan mereka pendengaran, penglihatan dan hati agar mereka menggunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan menaati-Nya, namun mereka menggunakannya untuk maksiat sehingga terhalang dari banyak kebaikan. Mereka sesungguhnya dapat mendengar, akan tetapi tidak masuk ke dalam hati, mereka hanya mendengar sesuatu yang menjadi hujjah atas mereka, dan mereka tidak mendengar sesuatu yang bermanfaat bagi mereka karena Alah mengetahui bahwa dalam hati mereka tidak ada kebaikan sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[17] Karena sudah diketahui tidak ada kebaikan dalam hati mereka.

[18] Tidak mau menerima ditambah dengan sikap keras dan mengingkari atau mereka tidak akan menoleh kepada kebenaran satu pun juga. Dalam ayat ini terdapat dalil bahwa Allah tidak menghalangi iman dan kebaikan kecuali kepada orang yang tidak ada kebaikan padanya, karena keimanan tidak akan berkembang dan berbuah dalam dirinya, maka segala puji bagi Allah yang Mahabijaksana.

[19] Dengan menaati Allah dan Rasul-Nya.

[20] Maksudnya menyeru kamu berperang untuk meninggikan kalimat Allah yang dapat membinasakan musuh serta menghidupkan Islam dan muslimin. Demikian juga berarti menyeru kamu kepada iman, petunjuk, dan perkara-perkara agama lainnya, di mana hal itu merupakan sebab kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat serta sebab hidupnya hati dan ruh.

[21] Allah memperingatkan agar seseorang tidak menolak seruan Allah dan Rasul-Nya dengan firman-Nya, Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai menolak perintah Allah ketika datang, sehingga diadakan penghalang antara seseorang dengan hatinya apabila seseorang menginginkan sesuatu setelah itu, hatinya pun bercerai berai karena Allah membatasi seseorang dengan hatinya; Dia membolak-balikkan hati sesuai yang Dia kehendaki. Oleh karena itu, hendaknya seoarang hamba banyak berdoa, “Yaa muqallibal quluub tsabit qalbii ‘alaa diinik” (“Wahai Allah yang membola-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”)

[22] Maksudnya Allah-lah yang menguasai hati manusia, sehingga seseorang tidak mampu beriman atau berbuat kufur melainkan dengan iradah (kehendak)-Nya.

[23] Maka Dia akan memberikan balasan terhadap amalmu.

[24] Caranya adalah dengan mengingkari kemungkaran yang terjadi sesuai kemampuan.

[25] Hal ini apabila kezaliman nampak dan tidak dirubah, maka jika datang musibah sebagai hukumannya akan mengena kepada pelaku dan selainnya.

[26] Bagi orang yang melanggar perintah-Nya.

[27] Sebagaimana pada perang Badar.

[28] Seperti ghanimah.

[29] Dengan hanya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar