Jumat, 15 Februari 2013

Tafsir Al A’raaf Ayat 167-178

Ayat 167-171: Cintanya orang-orang Yahudi secara berlebihan kepada perhiasan dunia, dan bagaimana mereka membatalkan perjanjian serta pentingnya berpegang dengan kitab yang Allah turunkan. Demikian pula memerintahkan untuk menjaga shalat dan mengadakan perbaikan di bumi

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكَ لَيَبْعَثَنَّ عَلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ يَسُومُهُمْ سُوءَ الْعَذَابِ إِنَّ رَبَّكَ لَسَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٦٧)وَقَطَّعْنَاهُمْ فِي الأرْضِ أُمَمًا مِنْهُمُ الصَّالِحُونَ وَمِنْهُمْ دُونَ ذَلِكَ وَبَلَوْنَاهُمْ بِالْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (١٦٨) فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَذَا الأدْنَى وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِنْ يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِثْلُهُ يَأْخُذُوهُ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِمْ مِيثَاقُ الْكِتَابِ أَنْ لا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ وَالدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ     (١٦٩) وَالَّذِينَ يُمَسِّكُونَ بِالْكِتَابِ وَأَقَامُوا الصَّلاةَ إِنَّا لا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُصْلِحِينَ (١٧٠)وَإِذْ نَتَقْنَا الْجَبَلَ فَوْقَهُمْ كَأَنَّهُ ظُلَّةٌ وَظَنُّوا أَنَّهُ وَاقِعٌ بِهِمْ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُمْ بِقُوَّةٍ وَاذْكُرُوا مَا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٧١

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 167-171

167. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sungguh, Dia akan mengirim orang-orang yang akan menimpakan azab yang seburuk-buruknya[1] kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksa-Nya[2], dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[3].

168. Dan Kami pecahkan mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan[4]; di antaranya ada orang-orang yang saleh[5] dan ada yang tidak demikian[6]. Dan Kami uji mereka dengan yang baik-baik (nikmat) dan yang buruk-buruk (bencana), agar mereka kembali (kepada kebenaran).

169. Maka setelah mereka, datanglah generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat[7], yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini[8]. Lalu mereka berkata[9], "Kami akan diberi ampun[10].” Dan kelak jika harta benda dunia datang kepada mereka sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga)[11]. Bukankah mereka sudah terikat perjanjian dalam kitab (Taurat) bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah, kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya?[12] Dan negeri akhirat itu lebih bagi mereka yang bertakwa. Maka tidakkah kamu mengerti?[13]

170. Dan orang-orang yang berpegang teguh kepada kitab[14] serta mendirikan shalat[15], (akan diberi pahala). Sungguh, Kami tidak menghilangkan pahala orang-orang yang mengadakan perbaikan[16].

171. Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat gunung ke atas mereka[17], seakan-akan (gunung) itu naungan awan dan mereka yakin bahwa (gunung) itu akan jatuh menimpa mereka[18]. (Dan Kami firmankan kepada mereka), "Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.”

Ayat 172-174: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengambil perjanjian terhadap keturunan Adam ‘alaihis salam untuk beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ (١٧٢) أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ آبَاؤُنَا مِنْ قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَّةً مِنْ بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنَا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ (١٧٣) وَكَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ وَلَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ     (١٧٤)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 172-174

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Betul (Engkau Tuban kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini (tauhid),”[19]

173. Atau agar kamu tidak mengatakan, "Sesungguhnya nenek moyang kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami adalah keturunan yang (datang) setelah mereka[20]. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang dahulu yang sesat [21]?"

174. Dan Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu, agar mereka kembali (kepada kebenaran).

Ayat 175-178: Perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah, peringatan untuk tidak mengikuti hawa nafsu, menyebutkan tentang ulama yang tidak mengamalkan ilmunya dan cenderung kepada dunia, dan bahwa hidayah itu ada di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta'aala

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ (١٧٥) وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ذَلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ (١٧٦) سَاءَ مَثَلا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ (١٧٧) مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ           (١٧٨)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 175-178

175. Dan bacakanlah kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi kitab) kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu[22], lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat[23].

176. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu[24], tetapi dia cenderung kepada dunia[25] dan mengikuti keinginannya (yang rendah)[26], maka perumpamaannya[27] seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga)[28]. Demikian perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir[29].

177. Sangat buruk perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami; mereka menzalimi diri sendiri.

178.[30] Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah[31], maka dialah yang mendapat petunjuk[32]; dan barang siapa disesatkan Allah[33], maka merekalah orang-orang yang rugi.


[1] Seperti kehinaan dan kerendahan, termasuk pula kewajiban membayar jizyah (pajak). Demikianlah keadaan mereka, Allah mengirimkan kepada mereka Nabi Sulaiman, setelahnya Raja Bukhtanasshir yang membunuh dan menawan mereka serta menetapkan mereka untuk membayar pajak yang mereka serahkan kepada orang-orang Majusi sampai diutusnya Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Beliau menetapkan pemungutan pajak dari mereka. Mereka senantiasa dalam kehinaan dan di bawah kekuasaan orang lain.

[2] Kepada orang yang bermaksiat, sehingga Allah menyegerakan hukuman kepadanya di dunia.

[3] Kepada orang yang bertobat dan taat kepada-Nya. Dia akan mengampuni dosa-dosa itu, menutupi aiab-aibnya, dan merahmatinya dengan menerima ketaatan mereka dan memberinya balasan.

[4] Setelah sebelumnya mereka berkumpul.

[5] Yang memenuhi hak Allah dan hak hamba.

[6] Keadaannya ada yang pertengahan dan ada pula yang zalim.

[7] Yang bertindak terhadap Taurat sesuai hawa nafsu mereka. Mereka diberi harta untuk berfatwa dan berhukum dengan tidak benar dan mereka biasa menerima risywah (sogok).

[8] Yang halal maupun yang haram.

[9] Mengakui bahwa perbuatan itu dosa dan bahwa mereka adalah orang-orang zalim.

[10] Yakni “Atas apa yang kami lakukan.” Kata-kata ini bukanlah istighfar (permintaan ampun), karena jika demikian tentu mereka akan menyesal terhadap perbuatan itu dan berniat keras untuk tidak mengulanginya lagi. Bahkan ketika mereka diberi harta atau sogokan, mereka masih tetap mengambilnya. Mereka rela menjual ayat-ayat Alah dengan harga yang murah, menggantinya dengan perhiasan dunia yang rendah, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia daripada akhirat.

[11] Mereka ingin diampuni, tetapi selalu mengerjakan perbuatan itu, padahal dalam Taurat tidak ada janji akan diampuni jika tetap terus berbuat maksiat.

[12] Mereka mengetahui yang hak, namun tidak mau mengamalkannya dan tidak mau memutuskan dengannya. Oleh karena itu, mereka disebut sebagai “golongan yang dimurkai.”

[13] Yakni tidakkah mereka dapat menimbang mana yang seharusnya mereka utamakan; dunia atau akhirat? Yang sementara atau yang kekal?

[14] Dengan mempelajari dan mengamalkannya.

[15] Seperti Abdullah bin Salam dan kawan-kawannya. Disebutkan secara khusus ibadah shalat, karena ia merupakan timbangan keimanan, mendirikannya dapat membantu mengerjakan ibadah yang lain, sekaligus sebagai benteng yang menjaga seseorang dari perbuatan keji dan munkar.

[16] Baik bagi diri maupun orang lain.

[17] Ketika mereka enggan menerima isi kitab Taurat.

[18] Jika mereka tidak menerima hukum-hukum Taurat.

[19] Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diciptakan di atas fitrah tauhid (mengesakan Allah). Namun kemudian fitrah ini dirubah oleh akidah-akidah rusak yang datang setelahnya.

[20] Sehingga kami mengikuti mereka.

[21] Mereka menganggap bahwa mereka tidak patut disiksa, karena yang salah adalah nenek moyang mereka yang mencontohkan demikian. Dalam ayat ini, Allah menerangkan bahwa tidak bisa berhujjah dengan alasan itu karena mereka diciptakan di atas fitrah tauhid, dan fitrah mereka mendukung bahwa apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka adalah batil, yang benar adalah yang dibawa oleh para rasul, kemudian para rasul juga telah mengingatkan mereka agar bertauhid sesuai fitrah mereka, namun mereka malah menolaknya. Kalau pun terkadang terlintas dalam pikiran manusia bahwa pendapat dan pemikiran nenek moyang mereka benar, maka hal itu tidak lain karena ia berpaling dari hujjah-hujjah Allah, bukti dan ayat-ayat-Nya yang ada di alam semesta dan pada diri mereka sendiri.

[22] Ada yang mengatakan, bahwa ia adalah Bal’am bin Ba’uraa salah seorang ulama Bani Israil, di mana ia diminta untuk mendoakan keburukan terhadap Nabi Musa dan akan diberi hadiah, maka ia pun melakukannya. Namun ternyata doa itu berbalik kepadanya dan lisannya menjulur ke dadanya. Ia dikatakan sebagai orang yang melepaskan diri dari ayat-ayat Allah, karena seharusnya orang yang mengetahui ayat-ayat al kitab memberikan dukungan kepada kebenaran, bukan malah menentangnya. Ayat ini berlaku pula bagi setiap orang yang diberi ilmu tentang ayat-ayat-Nya, namun ia melepaskan diri daripadanya.

[23] Padahal sebelumnya mendapatkan petunjuk. Inilah orang yang dibiarkan Allah dan diserahkan kepada dirinya sendiri. Nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

[24] Dengan memberinya taufiq untuk beramal sehingga kedudukannya tinggi di dunia dan di akhirat, serta dapat membentengi dirinya dari musuh-musuhnya.

[25] Yang membuatnya dibiarkan Allah Ta’ala.

[26] Meninggalkan ketaatan kepada Tuhannya, sehingga Allah merendahkannya.

[27] Dalam hal kecenderungannya yang sangat kepada dunia.

[28] Yakni selalu menjulurkan lidahnya dan hina dalam setiap keadaan.

[29] Sehingga membuat mereka beriman. Dalam ayat ini terdapat dorongan mengamalkan ilmu, dan bahwa yang demikian dapat mengangkat derajatnya, melindunginya dari setan, tarhib (ancaman) meninggalkan ilmu, dan bahwa hal tersebut dapat merendahkan kedudukannya, dan menjadikan setan menguasai dirinya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa mengutamakan dunia dan mengikuti hawa nafsu merupakan sebab dibiarkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[30] Ayat ini menunjukkan bahwa Allah sendiri yang memberikan hidayah dan menyesatkan.

[31] Dengan memberinya taufik kepada semua kebaikan, menjaganya dari keburukan dan memberinya ilmu tentang apa yang sebelumnya tidak diketahuinya.

[32] Karena Dia mengutamakan hidayah Allah Ta’ala.

[33] Disesatkan Allah berarti bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami ayat-ayat Allah, maka Allah akan membiarkannya dan tidak memberinya taufik kepada kebaikan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar