Jumat, 15 Februari 2013

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 144-154

Ayat 144-147: Keutamaan Nabi Musa ‘alaihi salam di atas manusia yang lain pada zamannya, dan bahwa bersikap sombong kepada manusia dengan tanpa hak merupakan jalan yang membawa kepada kehinaan

قَالَ يَا مُوسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلَى النَّاسِ بِرِسَالاتِي وَبِكَلامِي فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ (١٤٤) وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا لِكُلِّ شَيْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا سَأُرِيكُمْ دَارَ الْفَاسِقِينَ (١٤٥)سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ آيَةٍ لا يُؤْمِنُوا بِهَا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الرُّشْدِ لا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا وَإِنْ يَرَوْا سَبِيلَ الْغَيِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَافِلِينَ (١٤٦) وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الآخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ      (١٤٧)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 144-147

144.[1] (Allah) berfirman, "Wahai Musa! Sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (pada masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, sebab itu berpegangteguhlah kepada apa yang aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur."

145. Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh[2] (Taurat) segala sesuatu[3] sebagai pelajaran[4] dan penjelasan untuk segala hal[5]; maka (kami berfirman), "Berpegangteguhlah kepadanya[6] dan suruhlah kaummu berpegang kepadanya dengan sebaik-baiknya[7], aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang fasik[8].”

146. Akan Aku palingkan dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku)[9] orang-orang yang menyombongkan diri[10] di bumi tanpa alasan yang benar. Kalau pun melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku), mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk[11], mereka tidak akan menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan[12], mereka memenempuhnya. Yang demikian adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lengah terhadapnya.

 

147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan (mendustakan) adanya pertemuan akhirat, sia-sialah amal mereka[13]. Mereka diberi balasan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan[14].

Ayat 148-149: Sesatnya sebagian Bani Israil karena menyembah patung anak sapi

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَى مِنْ بَعْدِهِ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلا جَسَدًا لَهُ خُوَارٌ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُ لا يُكَلِّمُهُمْ وَلا يَهْدِيهِمْ سَبِيلا اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ (١٤٨) وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِنْ لَمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ       (١٤٩)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 148-149

148. Dan kaum Musa, setelah bepergian (Musa ke gunung Sinai) mereka membuat patung anak sapi yang bertubuh dan melenguh (bersuara) dari perhiasan (emas)[15]. Apakah mereka tidak mengetahui bahwa (patung) anak sapi itu tidak dapat berbicara[16] dengan mereka dan tidak dapat (pula) menunjukkan jalan kepada mereka[17]? Mereka menjadikannya (sebagai sembahan). Mereka adalah orang-orang yang zalim[18].

149.[19] Setelah mereka menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, "Sungguh, jika Tuhan kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang rugi[20]."

Ayat 150-154: Marah karena Allah dan karena agama-Nya merupakan sesuatu yang mesti, dimana perkara agama akan tegak dengannya, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerima tobat hamba-hamba-Nya yang berdosa

وَلَمَّا رَجَعَ مُوسَى إِلَى قَوْمِهِ غَضْبَانَ أَسِفًا قَالَ بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِنْ بَعْدِي أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ وَأَلْقَى الألْوَاحَ وَأَخَذَ بِرَأْسِ أَخِيهِ يَجُرُّهُ إِلَيْهِ قَالَ ابْنَ أُمَّ إِنَّ الْقَوْمَ اسْتَضْعَفُونِي وَكَادُوا يَقْتُلُونَنِي فَلا تُشْمِتْ بِيَ الأعْدَاءَ وَلا تَجْعَلْنِي مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (١٥٠)قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلأخِي وَأَدْخِلْنَا فِي رَحْمَتِكَ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (١٥١) إِنَّ الَّذِينَ اتَّخَذُوا الْعِجْلَ سَيَنَالُهُمْ غَضَبٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَذِلَّةٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُفْتَرِينَ (١٥٢)وَالَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ ثُمَّ تَابُوا مِنْ بَعْدِهَا وَآمَنُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٥٣) وَلَمَّا سَكَتَ عَنْ مُوسَى الْغَضَبُ أَخَذَ الألْوَاحَ وَفِي نُسْخَتِهَا هُدًى وَرَحْمَةٌ لِلَّذِينَ هُمْ لِرَبِّهِمْ يَرْهَبُونَ (١٥٤

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 150-154

150. Dan ketika Musa telah kembali kepada kaumnya, dengan marah dan sedih hati dia berkata, "Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan selama kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu[21]?” Musa pun melemparkan lauh-lauh (Taurat) itu dan memegang kepala (rambut dan janggut) saudaranya (Harun) sambil menarik ke arahnya[22]. (Harun) berkata, "Wahai anak ibuku! Kaum ini telah menganggapku lemah[23] dan hampir saja mereka membunuhku[24], sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh menyoraki melihat kemalanganku[25], dan janganlah kamu jadikan aku sebagai orang-orang yang zalim[26].”

151.[27] Dia (Musa) berdoa, "Ya Tuhanku, ampunilah aku dan saudaraku dan masukkanlah kami ke dalam rahmat Engkau[28], dan Engkau adalah Maha Penyayang dari semua penyayang[29].”

152. Sesungguhnya orang-orang yang menjadikan (patung) anak sapi (sebagai sembahannya), kelak akan menerima mereka kemurkaan dari Tuhan mereka dan kehinaan dalam kehidupan di dunia[30]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kebohongan (terhadap Allah).

153. Orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan[31], kemudian bertobat[32] dan beriman[33], niscaya setelah itu Tuhanmu Maha Pengampun[34] lagi Maha Penyayang[35].

154. Setelah amarah Musa mereda, diambilnya (kembali) lauh-lauh (Taurat) itu; di dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya[36].


[1] Setelah Allah mencegah Musa dari melihat-Nya, sedangkan dirinya rindu kepada-Nya, maka Allah memberikan kepadanya kebaikan yang banyak, yaitu menjadikan orang pilihan-Nya.

[2] Lauh adalah kepingan dari batu atau kayu yang tertulis di sana isi Taurat yang diterima Nabi Musa ‘alaihis salam. setelah bermunajat di gunung Thursina.

[3] Yang dibutuhkan dalam agama.

[4] Yang mendorong mereka mengerjakan kebaikan dan menakutkan mereka dari mengerjakan keburukan.

[5] Seperti hukum-hukum syar’i, ‘aqidah, akhlak dan adab.

[6] Dengan melaksanakannya.

[7] Maksudnya utamakanlah yang wajib-wajib dahulu dari yang sunat dan yang mubah.

[8] Maksudnya negeri Mesir bekas peninggalan Fir’aun dan para pengikutnya agar mereka mengambil pelajaran daripadanya.

[9] Yakni dari mengambil ibrah (pelajaran) pada ayat-ayat yang ada di ufuq dan pada diri mereka sendiri serta dari memahami ayat-ayat Al Qur’an.

[10] Dengan merendahkan hamba-hamba Allah dan menolak kebenaran. Orang yang seperti ini sifatnya, Allah akan menghalanginya dari kebaikan yang banyak, ia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah yang memberinya manfaat, bahkan terkadang hakikat yang sebenarnya menjadi berubah dan keburukan disangkanya baik, wal ‘iyadz billah.

[11] Yaitu jalan yang menghubungkan kepada Allah dan kepada surga-Nya.

[12] Yang mengarah kepada kesengsaraan dan kepada neraka.

[13] Seperti silaturrahim, sedekah dan amal saleh lainnya. Hal itu, karena orang yang tidak beriman kepada hari akhir tidak mengharap pahala terhadap amal salehnya, dan ia pun tidak memiliki tujuan sehingga menjadi sia-sia.

[14] Dengan sia-sianya amal dan tidak memperoleh apa yang diinginkan.

[15] Patung anak sapi itu dibuat dari emas oleh Samiri lalu ditaruhnya segenggam jejak Rasul. Ketika sudah jadi patung anak sapi, Samiri berkata kepada kaum Nabi Musa, “Ini adalah tuhan kamu dan tuhannya Musa, namun ia lupa.” Ini adalah kebodohan mereka dan kurangnya bashirah (mata hati) mereka, bagaimana mereka bisa samar terhadap Tuhan Penguasa langit dan bumi oleh patung anak sapi tersebut yang merupakan makhluk lemah?

Para mufassir berpendapat bahwa patung itu tetap patung tidak bernyawa, sedangkan suara yang seperti sapi itu hanyalah disebabkan oleh angin yang masuk ke dalam rongga patung itu dengan tekhnik yang dikenal oleh Samiri waktu itu, sedangkan sebagian mufassirin ada yang menafsirkan bahwa patung yang dibuat dari emas itu kemudian menjadi tubuh yang bernyawa dan mempunyai suara sapi (sebagai cobaan).

[16] Dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa tidak bisa berbicara berarti tidak layak dijadikan sebagai tuhan.

[17] Patung tersebut tidak memiliki sifat dzatiyyah (seperti bisa bicara) maupun sifat fi’liyyah (seperti memberi petunjuk) yang menjadikannya layak disembah.

[18] Karena mereka meletakkan ibadah bukan pada tempatnya.

[19] Ketika Nabi Musa ‘alaihis salam kembali kepada kaumnya, Beliau mendapati kaumnya dalam keadaan menyembah patung itu, maka Beliau menerangkan bahwa yang demikian merupakan kesesatan.

[20] Di dunia dan akhirat.

[21] Maksudnya, “Apakah kamu tidak sabar menanti kedatanganku kembali setelah bermunajat dengan Allah sehingga kamu membuat patung untuk disembah sebagaimanas menyembah Allah?”

[22] Dalam Surah Thaha ayat 92 dan 93 disebutkan, bahwa Musa berkata kepada Harun, "Wahai Harun! Apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat,--(sehingga) kamu tidak mengikutiku? Apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?"

[23] Ketika Harun berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak sapi itu dan sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” (lihat Thaha: 90)

[24] Yakni “Maka janganlah engkau menyangka bahwa diriku meremehkan dalam memimpin.

[25] Karena mereka ingin sekali melihatku disalahkan.

[26] Sehingga engkau bermu’amalah denganku seperti bermu’amalah dengan orang zalim.

[27] Maka Nabi Musa ‘alaihis salam merasa menyesal karena tergesa-gesa menarik kepala saudaranya sebelum mengetahui bahwa Harun tidak salah, karena Harun dikiranya kurang memperhatikan, kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

[28] Karena rahmat-Mu merupakan benteng yang paling kokoh yang melindungi dari semua keburukan.

[29] Engkau lebih penyayang kepada kami dari bapak dan ibu kami, bahkan daripada diri kami sendiri.

[30] Karena mereka membuat marah Tuhan mereka dan meremehkan perintah-Nya. Oleh karenanya, Dia memerintahkan mereka membunuh diri mereka, dan Allah tidak ridha kecuali dengan berbuat begitu, sehingga antara mereka satu sama lain saling bunuh-membunuh sebagai tobat mereka, kemudian Allah menerima tobat mereka. Oleh karena itu, pada ayat setelahnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan hukum umum yang mencakup semua orang termasuk mereka.

[31] Syirk, dosa besar dan dosa kecil.

[32] Dengan menyesali apa yang telah berlalu, berhenti melakukannya, dan berniat keras untuk tidak mengulanginya.

[33] Kepada Allah dan kepada apa saja yang wajib diimani, dan iman tidaklah sempurna kecuali dengan amalan hati dan anggota badan yang merupakan hasil dari keimanan.

[34] Terhadap semua kejahatan, meskipun sepenuh bumi.

[35] Dengan menerima tobatnya, memberinya taufik untuk mengerjakan kebaikan, serta menerimanya.

[36] Adapun orang-orang yang tidak takut kepada Tuhannya, maka hal itu tidak menambahnya selain sikap congkak dan menjauh, dan kepadanya hujjah Allah tegak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar