Kamis, 04 April 2013

Tafsir Al Qiyamah Ayat 1-15

Surah Al Qiyaamah (Hari Kiamat)

Surah ke-75. 40 ayat. Makkiyyah

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-15: Sumpah bahwa kebangkitan setelah mati adalah benar dan huru hara pada hari itu.

  لا أُقْسِمُ بِيَوْمِ الْقِيَامَةِ (١) وَلا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ (٢) أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَلَّنْ نَجْمَعَ عِظَامَهُ (٣) بَلَى قَادِرِينَ عَلَى أَنْ نُسَوِّيَ بَنَانَهُ   (٤) بَلْ يُرِيدُ الإنْسَانُ لِيَفْجُرَ أَمَامَهُ (٥) يَسْأَلُ أَيَّانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ (٦)فَإِذَا بَرِقَ الْبَصَرُ (٧) وَخَسَفَ الْقَمَرُ (٨) وَجُمِعَ الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ    (٩) يَقُولُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ أَيْنَ الْمَفَرُّ (١٠) كَلا لا وَزَرَ (١١) إِلَى رَبِّكَ يَوْمَئِذٍ الْمُسْتَقَرُّ (١٢) يُنَبَّأُ الإنْسَانُ يَوْمَئِذٍ بِمَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ (١٣)بَلِ الإنْسَانُ عَلَى نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ (١٤) وَلَوْ أَلْقَى مَعَاذِيرَهُ (١٥)

Terjemah Surat Al Qiyamah Ayat 1-15

1. Aku bersumpah dengan hari Kiamat[1],

2. dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri)[2].

3. [3]Apakah manusia[4] mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya (setelah matinya)?[5]

4. (Bahkan) Kami mampu menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna[6].

5. Tetapi manusia hendak membuat maksiat terus menerus[7].

6. Dia bertanya[8], "Kapankah hari kiamat itu?"

7. [9]Maka apabila mata terbelalak (ketakutan)[10],

8. dan bulan pun telah hilang cahayanya[11],

9. lalu matahari dan bulan dikumpulkan[12],

10. pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?"

11. Tidak![13] Tidak ada tempat berlindung!

12. Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu[14].

13. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.

14. Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri[15],

15. dan meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya[16].


[1] Menurut Syaikh As Sa’diy, kata ‘Laa’ di ayat tersebut bukanlah laa naafiyah (yang berarti ‘tidak’), bukan pula laa zaa’idah (sebagai tambahan), bahkan digunakan kata ‘Laa’ ini untuk memulai dan agar kalimat setelahnya diperhatikan. Oleh karena kata ‘Laa’ sering dipakai bersama sumpah, maka tidaklah dipandang aneh memulai dengannya meskipun pada asalnya tidak dipakai untuk memulai. Yang dipakai sumpah dalam ayat ini adalah perkara yang merupakan isi sumpah, yaitu hari Kiamat, hari dimana manusia dibangkitkan setelah matinya; bangun dari kuburnya dan berdiri menunggu keputusan Rabbul ‘aalamin.

[2] Maksudnya, jika ia berbuat kebaikan ia menyesal mengapa tidak berbuat lebih banyak, apalagi kalau ia berbuat kejahatan. Jawaban (isi) terhadap sumpah tersebut adalah, “Kamu pasti akan dibangkitkan.” Dinamakan jiwa tersebut dengan ‘lawwamah’ karena keadaan jiwa tersebut yang selalu menyesali dirinya, tidak tetapnya berada di atas satu keadaan. Di samping itu, ketika mati jiwa itu menyesali perbuatannya. Bahkan jiwa orang mukmin menyalahkan dirinya ketika di dunia karena apa yang dilakukannya berupa sikap meremehkan, kurang memenuhi hak, lalai dsb.

Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menggabung antara bersumpah dengan pembalasan, pembalasan itu sendiri dan orang yang berhak mendapatkan balasan.

[3] Selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan bahwa sebagian manusia mendustakan kebangkitan atau hari Kiamat.

[4] Yakni orang kafir.

[5] Untuk dibangkitkan dan dihidupkan. Ia menganggap hal itu mustahil karena kebodohannya terhadap kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itulah, pada ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala membantah.

[6] Yakni Kami akan menyusun kembali tulang-belulangnya seperti semula meskipun bagian tulang yang kecil seperti jari. Apabila Allah Subhaanahu wa Ta'aala berkuasa menyusun kembali tulang-belulang yang kecil, lalu bagaimana dengan tulang belulang yang besar?

[7] Yakni dengan mendustakan apa yang ada di depannya, yaitu hari Kiamat. Pendustaan mereka terhadapnya bukanlah karena kurangnya dalil yang menunjukkan demikian, tetapi memang manusia itu lebih menginginkan mendustakan.

[8] Sambil mengolok-olok dan mendustakan.

[9] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan tentang keadaan pada hari Kiamat.

[10] Karena melihat apa yang telah didustakannya atau karena melihat peristiwa yang dahsyat dan mengerikan.

[11] Menjadi gelap.

[12] Padahal sebelumnya belum pernah berkumpul, tetapi pada hari Kiamat Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan keduanya. Cahaya bulan diredupkan dan matahari digulung, kemudian keduanya dilemparkan ke dalam neraka agar manusia melihat bahwa keduanya adalah hamba Allah yang ditundukkan-Nya yang tidak berhak disembah dan agar manusia yang menyembahnya mengetahui bahwa mereka berdusta.

[13] Kata ‘Kallaa’ di sini untuk menolak pertanyaan, “Ke mana tempat lari?”

[14] Untuk dihisab dan diberikan balasan.

[15] Maksudnya ayat ini ialah, bahwa anggota-anggota badan manusia menjadi saksi terhadap pekerjaan yang telah mereka lakukan seperti yang disebutkan dalam surah An Nur ayat 24.

[16] Yakni tidak akan diterima alasan-alasannya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Maka pada hari itu tidak bermanfaat (lagi) bagi orang-orang yang zalim permintaan uzur mereka, dan tidak pula mereka diberi kesempatan bertobat lagi.” (Terj. Ar Ruum: 57)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar