Kamis, 04 April 2013

Tafsir Al Muddatstsir Ayat 49-56

Ayat 49-56: Sebab berpalingnya kaum musyrik dari beriman dan hakikat keadaan mereka.

 

فَمَا لَهُمْ عَنِ التَّذْكِرَةِ مُعْرِضِينَ (٤٩)كَأَنَّهُمْ حُمُرٌ مُسْتَنْفِرَةٌ (٥٠)فَرَّتْ مِنْ قَسْوَرَةٍ (٥١) بَلْ يُرِيدُ كُلُّ امْرِئٍ مِنْهُمْ أَنْ يُؤْتَى صُحُفًا مُنَشَّرَةً (٥٢) كَلا بَلْ لا يَخَافُونَ الآخِرَةَ (٥٣) كَلا إِنَّهُ تَذْكِرَةٌ     (٥٤) فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ (٥٥) وَمَا يَذْكُرُونَ إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ (٥٦)

Tafsir Al Muddatstsir Ayat 49-56

49. [1]Lalu mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?

50. Seakan-akan mereka keledai liar yang lari terkejut,

51. lari dari singa.

52. [2]Bahkan setiap orang dari mereka ingin agar diberikan kepadanya lembaran-lembaran (kitab) yang terbuka[3].

53. Tidak![4] Sebenarnya mereka tidak takut kepada akhirat[5].

54. Tidak! Sesungguhnya (Al Quran) itu[6] benar-benar suatu peringatan.

55. Maka barang siapa menghendaki, tentu Dia mengambil pelajaran darinya[7].

56. Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya (Al Qur’an) kecuali (jika) Allah menghendakinya[8]. Dialah Tuhan yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya[9] dan yang berhak memberi ampun[10].


[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang tempat kembali orang-orang yang menyimpang dan menakut-nakuti manusia dengan tindakan-Nya terhadap mereka yang menyimpang, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyambung dengan celaan kepada mereka yang masih hidup yang belum mendapatkan seperti yang mereka dapatkan.

[2] Di samping mereka menjauhi kebenaran, mereka juga menuntut tuntutan-tuntutan yang besar.

[3] Yang turun dari langit, sebagaimana ucapan mereka, Kami sekali-kali tidak akan mempercayaimu sehingga engkau turunkan atas kami sebuah kitab yang bisa kami baca.” (lihat surah Al Israa’: 93) Mereka menyangka, bahwa dengan cara seperti itu, mereka akan beriman dan tunduk kepada kebenaran, padahal mereka berdusta, karena meskipun setiap ayat datang kepada mereka, mereka tetap saja tidak beriman sampai mereka melihat azab yang pedih. Kalau sekiranya, dalam diri mereka terdapat kebaikan, tentu mereka akan beriman karena tidak ada satu pun rasul kecuali telah membawa bukti terhadap kebenarannya yang biasanya diimani oleh manusia.

[4] Sebagai penolakan terhadap keinginan mereka agar diturunkan kitab langsung dari langit, karena maksud mereka hanyalah untuk melemahkan bukan untuk mencari dan mengikuti kebenaran.

[5] Kalau sekiranya mereka takut kepada akhirat, tentu mereka tidak akan berkata dan berbuat seperti itu.

[6] Dhamir (k. ganti nama) ‘hu’ yang artinya ‘dia’ di ayat ini bisa kembalinya kepada surah ini dan bisa juga kembalinya kepada kandungannya yang berupa nasihat

[7] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menerangkan jalan dan dalilnya kepadanya.

[8] Yang demikian karena kehendak Allah berlaku dan merata di alam semesta, dimana tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Dalam ayat ini dan sebelumnya terdapat bantahan terhadap golongan Qadariyyah yang mengatakan bahwa manusia bebas berkehendak dan tidak ada yang berkuasa terhadapnya, dan terdapat bantahan terhadap Jabariyyah yang mengatakan bahwa manusia tidak memiliki kehendak, maka di ayat di atas Allah Subhaanahu wa Ta'aala menetapkan kehendak bagi manusia secara hakiki dan menjadikan hal tersebut mengikuti kehendak Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[9] Yakni berhak untuk ditujukan takwa dan diibadahi karena Dia adalah Tuhan yang tidak ada yang berhak disembah selain Dia.

[10] Bagi orang-orang yang bertakwa dan mengikuti keridhaan-Nya.

Selesai tafsir surah Al Muddatstsir dengan pertolongan Alah dan taufiq-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

1 komentar:

  1. salam..boleh saya tahu kitab apakah yang digunakan sebagai rujukan?

    BalasHapus