Sabtu, 16 Maret 2013

Tafsir Al Hijr Ayat 26-38

Ayat 26-38: Penciptaan manusia, kisah petunjuk dan kesesatan yang terjadi antara Adam ‘alaihis salam dan musuhnya Iblis la’natulllah ‘alaih.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (٢٦) وَالْجَانَّ خَلَقْنَاهُ مِنْ قَبْلُ مِنْ نَارِ السَّمُومِ (٢٧) وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (٢٨) فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (٢٩)فَسَجَدَ الْمَلائِكَةُ كُلُّهُمْ أَجْمَعُونَ (٣٠)إِلا إِبْلِيسَ أَبَى أَنْ يَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (٣١)قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا لَكَ أَلا تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ (٣٢) قَالَ لَمْ أَكُنْ لأسْجُدَ لِبَشَرٍ خَلَقْتَهُ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (٣٣) قَالَ فَاخْرُجْ مِنْهَا فَإِنَّكَ رَجِيمٌ (٣٤) وَإِنَّ عَلَيْكَ اللَّعْنَةَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ     (٣٥) قَالَ رَبِّ فَأَنْظِرْنِي إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (٣٦) قَالَ فَإِنَّكَ مِنَ الْمُنْظَرِينَ (٣٧) إِلَى يَوْمِ الْوَقْتِ الْمَعْلُومِ (٣٨

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 26-38

26. [1]Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk[2].

27. Dan Kami telah menciptakan jin[3] sebelum (Adam) dari api yang sangat panas[4].

28. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat[5], “Sungguh, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.

29. Maka apabila Aku telah menyempurnakan (kejadian)nya, dan Aku telah meniupkan roh (ciptaan)-Ku[6] maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud[7].

30. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama[8],

 

31. Kecuali iblis[9]. Ia enggan ikut besama-sama (para malaikat) yang sujud itu.

32. Allah berfirman, “Wahai iblis! Apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama mereka yang sujud itu?”

33. Ia (Iblis) berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk[10].”

34. Allah berfirman[11], “(Kalau begitu) keluarlah dari surga[12], karena sesungguhnya kamu terkutuk[13],

35. Dan sesungguhnya kutukan itu[14] tetap menimpamu sampai hari pembalasan[15].”

36. Ia (Iblis) berkata, “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka berilah penangguhan kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan[16].”

37. Allah berfirman, “(Baiklah) maka sesungguhnya kamu yang termasuk diberi penangguhan[17],

38. Sampai hari yang telah ditentukan (kiamat)[18].”


[1] Dalam ayat ini dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan nikmat dan ihsan-Nya kepada nenek moyang kita, Nabi Adam ‘alaihis salam, dan apa yang dilakukan musuhnya yaitu Iblis terhadapnya. Di sana terdapat peringatan kepada kita agar berhati-hati terhadap keburukan dan godaannya.

[2] Yaitu tanah yang sudah berubah warna dan baunya karena sudah lama.

[3] Yakni nenek moyang jin, yaitu Iblis.

[4] Api tersebut tidak berasap.

[5] Ketika hendak menciptakan Adam.

[6] Diidhafatkan atau dihubungkan kata roh dengan Allah Ta’ala adalah untuk menunjukkan kemuliaan Adam, sebagaimana kata “baitullah” (rumah Allah), dsb.

[7] Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan atau sujud membungkuk.

[8] Disebutkan dua kata penguat, “semuanya” dan “bersama-sama” untuk menunjukkan bahwa mereka semua sujud tanpa terkecuali. Hal ini sebagai pengagungan mereka terhadap perintah Allah, dan penghormatan keada Adam karena ia mengetahui yang tidak mereka ketahui. Hal ini menunjukkan kelebihan orang yang berilmu di atas orang yang tidak berilmu.

[9] Nenek moyang jin yang tinggal di tengah-tengah malaikat. Ini merupakan awal permusuhannya kepada Adam dan anak keturunannya.

[10] Iblis bersikap sombong terhadap perintah Allah dan menampakkan permusuhan kepada Adam dan keturunannya, serta merasa ujub dengan asal penciptaannya, dan mengatakan bahwa dirinya lebih baik daripada Adam.

[11] Menghukumnya karena kekafiran dan kesombongannya.

[12] Ada yang mengatakan, dari langit.

[13] Yakni dijauhkan dari semua kebaikan.

[14] Yakni celaan, aib dan dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala.

[15] Ayat ini menunjukkan bahwa Iblis senantiasa di atas kekafiran dan jauh dari kebaikan.

[16] Maksudnya, iblis meminta agar dia tidak diazab sekarang, bahkan agar diberikan kebebasan hidup sampai hari kebangkitan.

[17] Pengabulan Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap permohonannya bukan berarti sebagai pemuliaan untuk dirinya, akan tetapi sebagai ujian dan cobaan dari Allah untuknya dan untuk hamba-hamba-Nya agar diketahui dengan jelas orang yang benar; yang taat kepada Allah dengan yang tidak demikian.

[18] Yakni waktu tiupan pertama tanda permulaan hari kiamat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar