Sabtu, 16 Maret 2013

Tafsir Al Hijr Ayat 39-50

Ayat 39-44: Permusuhan Iblis kepada keturunan Adam, dan bahwa ia (Iblis) tidak memiliki kekuasaan kepada hamba-hamba Allah yang ikhlas.

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأرْضِ وَلأغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ   (٣٩) إِلا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ (٤٠) قَالَ هَذَا صِرَاطٌ عَلَيَّ مُسْتَقِيمٌ (٤١) إِنَّ عِبَادِي لَيْسَ لَكَ عَلَيْهِمْ سُلْطَانٌ إِلا مَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْغَاوِينَ (٤٢) وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (٤٣) لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ (٤٤

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 39-44

39. Iblis berkata, “ Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi[1], aku akan menyesatkan mereka semuanya[2],

40. Kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih[3] di antara mereka.”

41. Allah berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus (menuju) kepada-Ku.”

42. Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak kuasa atas hamba-hamba-Ku[4], kecuali mereka yang mengikutimu, yaitu orang yang sesat[5].

43. Dan sungguh, Jahannam itu benar-benar (tempat) yang telah dijanjikan untuk mereka (pengikut setan) semuanya,

44. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu[6]. Setiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan tertentu dari mereka.

Ayat 45-50: Rahmat Allah kepada orang-orang yang bertakwa, berita tentang kenikmatan surga, berharap kepada rahmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan takut terhadap siksa-Nya.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٤٥)ادْخُلُوهَا بِسَلامٍ آمِنِينَ (٤٦)وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ (٤٧) لا يَمَسُّهُمْ فِيهَا نَصَبٌ وَمَا هُمْ مِنْهَا بِمُخْرَجِينَ (٤٨) نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (٤٩) وَأَنَّ عَذَابِي هُوَ الْعَذَابُ الألِيمُ          (٥٠)

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 45-50

45. [7]Sesungguhnya orang yang bertakwa itu berada dalam surga-surga (taman-taman)[8] dan (di dekat) mata air (yang mengalir).

46. (Akan dikatakan kepada mereka saat memasukinya), “Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera dan aman[9].”

47. Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka; mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan[10] di atas dipan-dipan.

48. Mereka tidak merasa lelah di dalamnya[11] dan mereka tidak akan dikeluarkan darinya.

49. Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[12],

50. Dan sesungguhnya azab-Ku adalah azab yang sangat pedih[13].


[1] Iblis akan menghias dunia bagi mereka dan mengajak mereka mengutamakannya di atas akhirat sehingga mereka tunduk untuk melakukan setiap maksiat.

[2] Yakni dari jalan yang lurus.

[3] Yang dimaksud dengan mukhlis ialah orang-orang yang telah diberi taufiq untuk menaati segala petunjuk dan perintah Allah karena keikhlasan, keimanan dan tawakkal dalam diri mereka, atau orang-orang mukmin.

[4] Untuk mengarahkan mereka kepada kesesatan karena ibadah mereka kepada Tuhan mereka dan ketundukan mereka kepada perintah-Nya, sehingga Allah menjaga mereka dari gangguan setan. Demikian juga karena mereka senantiasa meminta hidayah kepada-Nya seperti dalam shalat, di mana shalat merupakan benteng mereka agar tidak terjatuh ke dalam kesesatan.

[5] Yakni orang yang mengetahui kebenaran lalu meninggalkannya, seperti halnya orang-orang kafir. Inilah yang disebut Ghaawiy. Termasuk pula orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena ketidaktahuannya. Inilah yang disebut Dhaall.

[6] Ada yang mengartikan tujuh lapisan. Ibnu Juraij berkata, “Neraka terdiri dari tujuh tingkatan: pertama, Jahannam. selanjutnya, Lazhaa, Huthamah, Sa’ir, Saqar, Jahiim, kemudian Hawiyah.” Adh Dhahhak berkata, “Di tingkatan pertama terdapat ahli tauhid yang dimasukkan ke dalam neraka; mereka disiksa sesuai dosa mereka lalu dikeluarkan. Di lapisan kedua terdapat orang-orang Nasrani. Di lapisan ketiga terdapat orang-orang Yahudi. Di lapisan keempat terdapat orang-orang shabiin. Di lapisan kelima terdapat orang-orang Majusi. Di lapisan keenam terdapat orang-orang musyrik, dan di lapisan ketujuh terdapat orang-orang munafik.”

[7] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan apa yang disiapkan-Nya untuk para pengikut Iblis dari kalangan jin dan manusia berupa siksa yang pedih, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan apa yang disiapkan-Nya untuk para wali-Nya berupa karunia yang besar dan nikmat yang kekal.

[8] Taman-taman itu penuh dengan pohon-pohon yang berbuah lagi enak rasa buahnya.

[9] Sejahtera dari bencana dan malapetaka, aman dari maut, tidak lelah dan letih, kenikmatannya tidak pernah putus, tidak pernah sakit, tidak pernah sedih dan tidak pernah tua.

[10] Yakni satu sama lain tidak melihat tengkuk saudaranya. Hal ini menunjukkan bahwa mereka saling menziarahi dan berkumpul bersama, adab dan akhlak mereka sangat mulia, di mana masing-masing berhadap-hadapan dan tidak membelakangi, sambil bertelekan di atas dipan-dipan yang dihiasi permadani, mutiara dan berbagai perhiasan.

[11] Yang demikian adalah karena Allah menciptakan mereka dalam keadaan yang sempurna.

[12] Hal ini karena apabila mereka mengetahui sempurnanya rahmat dan ampunan-Nya, maka mereka akan berusaha mengerjakan sebab yang dapat mengantarkan mereka kepada rahmat-Nya, berhenti dari dosa dan bertobat darinya agar memperoleh ampunan-Nya. Meskipun demikian, mereka tidak boleh terus-menerus mengandalkan rahmat dan ampunan Allah sampai merasa aman dan tertidur nyenyak olehnya sehingga membuat mereka berani berbuat maksiat. Oleh karena itu, dalam ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya untuk memberitahukan pula kepada hamba-hamba-Nya bahwa azab-Nya kepada para pelaku maksiat sangat pedih, di mana tidak ada yang menyamai azab-Nya.

[13] Oleh karena itu, seorang hamba harus selamanya berada di antara rasa harap dan cemas. Ketika ia melihat rahmat Allah dan ampunan-Nya, ia berharap memperolehnya, dan apabila melihat dosa-dosanya dan kekurangan-Nya dalam memenuhi hak Tuhannya, ia menghadirkan rasa takut dan cemas serta berhenti darinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar