Senin, 11 Maret 2013

Tafsir Yusuf Ayat 43-52

Ayat 43-49: Mimpi raja, takwil Yusuf ‘alaihis salam terhadapnya, berusaha memberikan manfaat untuk umat serta tidak menyembunyikan ilmu

وَقَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ يَا أَيُّهَا الْمَلأ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ (٤٣) قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلامٍ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الأحْلامِ بِعَالِمِينَ (٤٤) وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ (٤٥) يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ لَعَلِّي أَرْجِعُ إِلَى النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَعْلَمُونَ (٤٦) قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُمْ فَذَرُوهُ فِي سُنْبُلِهِ إِلا قَلِيلا مِمَّا تَأْكُلُونَ (٤٧) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ إِلا قَلِيلا مِمَّا تُحْصِنُونَ    (٤٨) ثُمَّ يَأْتِي مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ عَامٌ فِيهِ يُغَاثُ النَّاسُ وَفِيهِ يَعْصِرُونَ (٤٩

Terjemah Surat Yusuf Ayat 43-49

43. Raja[1] berkata (kepada para pemuka kaumnya), "Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus; tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan tujuh tangkai lainnya yang kering[2]." Wahai orang yang terkemuka! Terangkanlah kepadaku tentang takwil mimpiku itu jika kamu dapat menakwilkan mimpi."

44. Mereka menjawab, "(Itu) mimpi-mimpi yang kosong dan kami tidak mampu menakwilkan mimpi itu[3]."

45. Berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua[4] dan teringat (kepada Yusuf) setelah beberapa waktu lamanya, "Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku (kepadanya)."

46. (Setelah pelayan itu bertemu dengan Yusuf dia berseru), "Yusuf[5], wahai orang yang sangat dipercaya! Terangkanlah kepada Kami (takwil mimpi) tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus, tujuh tangkai (gandum) yang hijau dan (tujuh tangkai) lainnya yang kering agar aku kembali kepada orang-orang itu[6], agar mereka mengetahui (takwilnya)[7]."

47. Dia (Yusuf) berkata, "Agar kamu bercocok tanam tujuh tahun (berturut-turut) sebagaimana biasa[8]; kemudian apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan di tangkainya[9] kecuali sedikit untuk kamu makan[10].

48. Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit[11], yang menghabiskan apa yang kamu siapkan[12] untuk menghadapinya (tahun sulit), kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.

49. Setelah itu akan datang tahun, di mana manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras anggur[13]."

Ayat 50-52: Balasan bagi orang yang berbuat ihsan, pembebasan orang yang dizalimi, dan syariat membela diri dari tuduhan

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ فَلَمَّا جَاءَهُ الرَّسُولُ قَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَاسْأَلْهُ مَا بَالُ النِّسْوَةِ اللاتِي قَطَّعْنَ أَيْدِيَهُنَّ إِنَّ رَبِّي بِكَيْدِهِنَّ عَلِيمٌ (٥٠) قَالَ مَا خَطْبُكُنَّ إِذْ رَاوَدْتُنَّ يُوسُفَ عَنْ نَفْسِهِ قُلْنَ حَاشَ لِلَّهِ مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ مِنْ سُوءٍ قَالَتِ امْرَأَةُ الْعَزِيزِ الآنَ حَصْحَصَ الْحَقُّ أَنَا رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الصَّادِقِينَ (٥١)ذَلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ (٥٢

Terjemah Surat Yusuf Ayat 50-52

50. Raja berkata[14], "Bawalah dia kepadaku[15]." Ketika utusan itu datang kepadanya[16], dia (Yusuf) berkata[17], "Kembalilah kepada tuanmu dan tanyakan kepadanya bagaimana halnya perempuan-perempuan yang telah melukai tangannya. Sungguh, Tuhanku Maha Mengetahui tipu daya mereka[18]."

51. Raja berkata (kepada perempuan-perempuan itu), "Bagaimana keadaanmu[19] ketika kamu menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadamu)?" Mereka berkata, "Mahasempurna Allah, kami tidak mengetahui sesuatu keburukan darinya.” Istri Al Aziz berkata, "Sekarang jelaslah kebenaran itu[20], akulah yang menggoda dan merayunya, dan sesungguhnya dia termasuk orang yang benar."

52. (Yusuf berkata)[21], "Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa aku benar-benar tidak mengkhianatinya ketika dia tidak ada (di rumah), dan bahwa Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhianat[22].”


[1] Raja Mesir bernama Ar Rayyan bin Al Walid. Ketika ia bermimpi, ia mengumpulkan ahli ilmu dan orang-orang yang memiliki ide cemerlang di antara kaumnya dan memberitahukan kepada mereka mimpi tersebut.

[2] Yang menutupi tangkai yang hijau.

[3] Mereka menggabung antara ketidaktahuan dengan memastikan (karena sikap ‘ujub), bahwa mimpi itu adalah mimpi yang kosong, padahal tidak demikian. Hal ini sudah tentu tidak patut dilakukan oleh orang-orang yang berilmu dan orang-orang yang cerdas. Akan tetapi, raja sangat penasaran sekali terhadap mimpi itu, yang kemudian pemberi minum raja ingat tentang Yusuf dan menyampaikan mimpi itu kepadanya, lalu Yusuf menakwilkan mimpinya. Yang demikian sama seperti ketika Allah memperlihatkan keunggulan Adam di atas malaikat dalam hal ilmu setelah Dia bertanya kepada mereka, namun mereka (para malaikat) tidak sanggup menjawab, lalu Allah memerintahkan Adam untuk menjawab, maka ia pun memberitahukan kepada para malaikat nama-nama segala sesuatu, sehingga nampaklah keunggulannya. Demikian pula sebagaimana Allah menampakkan kelebihan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam di atas para nabi yang lain pada hari kiamat dengan mengilhamkan kepada makhluk untuk mendatangi para nabi agar mereka memberi syafaat di hadapan Allah, dari mulai Adam, Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa, namun mereka semua mengemukakan alasan tidak sanggup, hingga kemudian mereka datangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Beliaulah yang sanggup.

[4] Yaitu si pemberi minum.

[5] Yusuf tidak bersikap keras kepadanya karena melupakannya, bahkan ia tetap mendengarkan kata-katanya dan mau menjawab takwil mimpi itu.

[6] Yakni raja dan para pemukanya.

[7] Karena mereka ingin sekali mengetahui takwilnya dan sampai membuat mereka sibuk memikirkannya.

[8] Sebagai takwil tujuh sapi yang gemuk.

[9] Karena yang demikian lebih dapat memelihara kelestariannya.

[10] Yakni atur pula makananmu di tahun-tahun yang sering hujan, jangan terlalu banyak yang dihabiskan untuk disimpan sebagai persiapan menghadapi waktu-waktu sulit. Dalam ayat ini terdapat anjuran bagi kita mengatur harta sehemat mungkin, yakni tidak menghambur-hamburkannya agar ketika tiba waktu-watu sulit, kita tidak terlalu kekurangan.

[11] Sebagai takwil tujuh sapi yang kurus.

[12] Yaitu biji yang ditanam pada tahun-tahun, di mana hujan masih sering turun.

[13] Syaikh As Sa’diy dalam tafsirnya menerangkan sisi kesesuaiannya -dan Allah lebih mengetahui- bahwa menggarap ladang tergantung subur dan keringnya tanah. Ketika tanah subur, maka tanaman dan ladang semakin kuat, baik dan banyak hasilnya, sedangkan ketika kering tidak demikian. Adapun sapi, dialah yang menggarap tanah itu dan dipakai pada umumnya untuk menyiraminya, dan biji (dari tangkai) adalah makanan pokok utama, maka Yusuf menakwilkan seperti itu karena adanya kesesuaian. Beliau menggabung dalam takwilnya antara menerangkan maksud mimpi itu dan menunjukkan kepada mereka apa yang perlu mereka lakukan untuk menghadapinya seperti yang diterangkan dalam ayat di atas.

[14] Setelah diberitahukan takwilnya.

[15] Yakni dengan mengeluarkan Beliau dari penjara dan membawa ke hadapannya.

[16] Dan meminta Beliau untuk keluar dari penjara.

[17] Untuk menunjukkan bahwa Beliau dipenjara bukan karena bersalah.

[18] Utusan itu kemudian kembali kepada raja dan memberitahukan permintaan Yusuf kepadanya, maka raja mengumpulkan perempuan-perempuan itu.

[19] Yang dimaksud dengan keadaanmu di sini adalah pendapat wanita-wanita itu tentang Yusuf ‘alaihis salam apakah dia terpengaruh oleh godaan itu atau tidak.

[20] Setelah kami menuduh dan mencelanya sehingga ia dipenjarakan.

[21] Ada yang berpendapat, bahwa kata-kata di atas adalah ucapan istri Al ‘Aziz (alasannya karena ketika itu Yusuf belum hadir dan masih dalam penjara) sebagai lanjutan kata-kata sebelumnya, sehingga maksudnya bahwa pengakuannya itu agar dia (suaminya) tahu bahwa aku hanya sekedar merayu dan tidak merusak ranjangnya, atau bisa juga maksudnya bahwa pengakuannya itu agar dia (Yusuf) tahu bahwa dia adalah benar dan aku tidak berkhianat (dengan mengatakan yang tidak-tidak terhadapnya) ketika ia tidak berada di dekatku, wallahu a’lam.

[22] Karena setiap orang yang berkhianat, khianat dan makarnya kembalinya kepada dirinya dan urusan sebenarnya akan diketahui dengan jelas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar