Senin, 11 Maret 2013

Tafsir Yunus Ayat 53-66

Juz 13

Ayat 53: Hawa nafsu mendorong kepada kejahatan kecuali nafsu yang dijaga oleh Allah

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ (٥٣

Terjemah Surat Yusuf Ayat 53

53.[1] Dan aku tidak menyatakan diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu[2] selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku[3]. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun[4] lagi Maha Penyayang[5].

Ayat 54-57: Nabi Yusuf ‘alaihis salam diberi kekuasaan di bumi

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُونِي بِهِ أَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِي فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ إِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِينٌ أَمِينٌ (٥٤) قَالَ اجْعَلْنِي عَلَى خَزَائِنِ الأرْضِ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ (٥٥) وَكَذَلِكَ مَكَّنَّا لِيُوسُفَ فِي الأرْضِ يَتَبَوَّأُ مِنْهَا حَيْثُ يَشَاءُ نُصِيبُ بِرَحْمَتِنَا مَنْ نَشَاءُ وَلا نُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ (٥٦)وَلأجْرُ الآخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (٥٧)

Terjemah Surat Yusuf Ayat 55-57

54.[6] Dan raja berkata, “Bawalah dia (Yusuf) kepadaku, agar aku memilih dia (sebagai orang yang dekat) kepadaku[7].” Ketika dia (raja) telah bercakap-cakap dengan dia[8], dia (raja) berkata, “Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi di lingkungan kami dan dipercayai[9].”

55. Dia (Yusuf) berkata[10], “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir)[11]; karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga[12], dan berpengetahuan.”

56. Dan demikianlah[13] Kami memberi kedudukan kepada Yusuf di negeri ini (Mesir); untuk tinggal di mana saja yang dia kehendaki[14]. Kami melimpahkan rahmat kepada siapa yang Kami kehendaki dan Kami tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik[15].

57. Dan sungguh, pahala di akhirat itu lebih baik[16] bagi orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa.

Ayat 58-62: Pertemuan Yusuf ‘alaihis salam dengan saudara-saudaranya, dan dialog yang terjadi antara Beliau dengan mereka

وَجَاءَ إِخْوَةُ يُوسُفَ فَدَخَلُوا عَلَيْهِ فَعَرَفَهُمْ وَهُمْ لَهُ مُنْكِرُونَ       (٥٨) وَلَمَّا جَهَّزَهُمْ بِجَهَازِهِمْ قَالَ ائْتُونِي بِأَخٍ لَكُمْ مِنْ أَبِيكُمْ أَلا تَرَوْنَ أَنِّي أُوفِي الْكَيْلَ وَأَنَا خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ      (٥٩) فَإِنْ لَمْ تَأْتُونِي بِهِ فَلا كَيْلَ لَكُمْ عِنْدِي وَلا تَقْرَبُونِ (٦٠) قَالُوا سَنُرَاوِدُ عَنْهُ أَبَاهُ وَإِنَّا لَفَاعِلُونَ (٦١) وَقَالَ لِفِتْيَانِهِ اجْعَلُوا بِضَاعَتَهُمْ فِي رِحَالِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَعْرِفُونَهَا إِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمْ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ (٦٢

Terjemah Surat Yusuf Ayat 58-62

58.[17] Dan saudara-saudara Yusuf[18] datang (ke Mesir)[19] lalu mereka masuk ke (tempat)nya. Maka dia (Yusuf) mengenal mereka, sedang mereka tidak kenal (lagi) kepadanya[20].

59. Dan ketika dia (Yusuf) menyiapkan bahan makanan untuk mereka, dia berkata, “Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin)[21], tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan takaran dan aku adalah penerima tamu yang terbaik?

60. Jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kamu mendekatiku[22].”

61. Mereka berkata, “Kami akan membujuk ayahnya (untuk membawanya) dan kami benar-benar akan melaksanakannya.”

62. Dia (Yusuf) berkata kepada pelayan-pelayannya, “Masukkanlah barang-barang (penukar mereka)[23] ke dalam karung-karungnya, agar mereka mengetahuinya apabila telah kembali kepada keluarganya, mudah-mudahan mereka kembali lagi[24].

Ayat 63-66: Tidak mengapa menggunakan siasat untuk mencapai tujuan selama masyru’ (disyariatkan), dan pentingnya bersikap hati-hati dan waspada

فَلَمَّا رَجَعُوا إِلَى أَبِيهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مُنِعَ مِنَّا الْكَيْلُ فَأَرْسِلْ مَعَنَا أَخَانَا نَكْتَلْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (٦٣) قَالَ هَلْ آمَنُكُمْ عَلَيْهِ إِلا كَمَا أَمِنْتُكُمْ عَلَى أَخِيهِ مِنْ قَبْلُ فَاللَّهُ خَيْرٌ حَافِظًا وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ (٦٤) وَلَمَّا فَتَحُوا مَتَاعَهُمْ وَجَدُوا بِضَاعَتَهُمْ رُدَّتْ إِلَيْهِمْ قَالُوا يَا أَبَانَا مَا نَبْغِي هَذِهِ بِضَاعَتُنَا رُدَّتْ إِلَيْنَا وَنَمِيرُ أَهْلَنَا وَنَحْفَظُ أَخَانَا وَنَزْدَادُ كَيْلَ بَعِيرٍ ذَلِكَ كَيْلٌ يَسِيرٌ (٦٥) قَالَ لَنْ أُرْسِلَهُ مَعَكُمْ حَتَّى تُؤْتُونِ مَوْثِقًا مِنَ اللَّهِ لَتَأْتُنَّنِي بِهِ إِلا أَنْ يُحَاطَ بِكُمْ فَلَمَّا آتَوْهُ مَوْثِقَهُمْ قَالَ اللَّهُ عَلَى مَا نَقُولُ وَكِيلٌ            (٦٦)

Terjemah Surat Yusuf Ayat 63-66

63. Maka ketika mereka telah kembali kepada ayahnya (Ya’kub) mereka berkata, “Wahai ayah kami! Kami tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama kami agar kami mendapat jatah, dan kami benar benar akan menjaganya.”

64. Dia (Ya’kub) berkata, “Bagaimana aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, seperti aku telah mempercayakan saudaranya (Yusuf) kepada kamu dahulu?”[25] Maka Allah adalah penjaga yang terbaik[26] dan Dia Maha Penyanyang di antara para penyanyang.

65. Dan ketika mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan barang-barang (penukar) mereka dikembalikan kepada mereka. Mereka berkata, “Wahai ayah kami! Apa lagi yang kita inginkan[27]. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kita akan dapat memberi makan keluarga kita[28], dan kami akan memelihara saudara kami, dan kita akan mendapat tambahan jatah (gandum) seberat beban seekor unta[29]. Itu suatu hal yang mudah (bagi raja Mesir)[30].”

66. Dia (Ya’kub) berkata, “Aku tidak akan melepaskannya (pergi) bersama kamu, sebelum kamu bersumpah kepadaku atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung[31].” Setelah mereka mengucapkan sumpah, dia (Ya’kub) berkata, “Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan.”


[1] Setelah Beliau menunjukkan kebersihan dirinya dan karena dalam ucapan Beliau tedapat sedikit tazkiyah (pembersihan), maka Beliau bertawadhu’ kepada Allah dengan mengatakan kata-kata sebagaimana disebutkan dalam ayat di atas. Hal ini, jika kita mengatakan, bahwa yang mengatakan kata-kata tadi (yakni di ayat 52) adalah Yusuf, akan tetapi jika kita mengatakan, bahwa yang mengatakan kata-kata itu adalah istri Al Aziz, maka karena dalam kata-kata sebelumnya terdapat sedikit tazkiyah, ia pun melanjutkan dengan kata-katanya di atas, bahwa ia tidak menyatakan bahwa dirinya tidak berarti bebas dari kesalahan, yakni dari merayu dan bermaksud buruk.

[2] Yakni biasanya memerintahkan kepada keburukan, sehingga dijadikan kendaraan oleh setan untuk menguasai diri manusia.

[3] Sehingga terjaga, nafsunya tentram ketika mendekat dengan Tuhannya, tunduk kepada seruan hidayah, menjauhi seruan kesesatan, dan yang demikian bukanlah karena kehebatan nafsu itu, akan tetapi karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada hamba-Nya.

[4] Kepada mereka yang berbuat dosa dan maksiat apabila mereka bertobat dan kembali kepada-Nya.

[5] Dengan menerima tobatnya dan memberinya taufiq untuk beramal saleh.

[6] Ketika raja dan orang-orang mengetahui bahwa Yusuf tidak bersalah.

[7] Lalu utusan itu datang kepada Yusuf dan berkata, “Penuhilah permintaan raja,” maka Yusuf berdiri dan berpamitan dengan para penghuni penjara, mendoakan kebaikan untuk mereka, lalu mandi dan mengenakan pakaian yang bagus, kemudian menemui raja.

[8] Dan raja senang dengan kata-katanya.

[9] Oleh karena itu, apa yang harus kami lakukan menurut kamu?” Kata raja. Yusuf berkata, “Kumpulkanlah makanan, tanamlah banyak tanaman di tahun-tahun yang subur ini, dan simpanlah makanan dalam tangkainya, sehingga nanti orang-orang akan datang kepadamu meminta perbekalan.” Raja kemudian berkata, “Siapa yang mengurus ini?” Maka Yusuf berkata seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya (demikian yang disebutkan dalam Tafsir Al Jalaalain).

[10] Meminta untuk kepentingan atau maslahat umum.

[11] Sebagai wakil, penjaga dan pengaturnya.

[12] Oleh karena itu, Beliau tidak akan menyia-nyiakan sesuatu dengan menempatkan yang bukan pada tempatnya, Beliau memperhatikan betul pemasukan dan pengeluaran negara, mengetahui cara mengatur, memberi dan mencegah serta mengetahui bagaimana membelanjakannya. Namun demikian, hal itu bukan berarti Yusuf berambisi terhadap jabatan, bahkan yang Beliau inginkan adalah manfaat untuk orang banyak, dan telah diketahui keadaan dirinya yang memang sesuai, amanah, dan pandai menjaga. Setelah Yusuf menjadi bendaharawan Mesir, maka Beliau mengatur harta kekayaan negara sebaik-baiknya. Paa saat-saat subur, Beliau memerintahkan untuk banyak bercocok tanam, dan Beliau membuatkan tempat besar sebagai penyimpanan makanan serta menjaganya.

[13] Yakni sebagaimana Kami telah memberinya nikmat dengan selamat dari penjara.

[14] Setelah menempati tempat yang sempit dan penjara. Inilah buah dari kesabaran. Disebutkan dalam kisah, bahwa raja kemudian mengangkat Yusuf menggantikan Al ‘Aziz (Qithfir) dan memecatnya, dan ia (Al ‘Aziz) kemudian wafat setelahnya, lalu raja menikahkan istri Al ‘Aziz kepadanya dan didapatinya masih perawan (karena suami sebelumnya, yakni Qithfir adalah seorang yang kurang tertarik kepada wanita), lalu lahir darinya dua orang anak. Di Mesir, Yusuf menegakkan keadilan dan rakyat tunduk kepadanya, wallahu a’lam bish shawab.

[15] Yusuf ‘alaihis salam termasuk tokoh orang-orang yang berbuat kebaikan. Oleh karena itu, ia memperoleh kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.

[16] Daripada balasan di dunia.

[17] Kemudian datanglah kemarau panjang yang disebutkan itu, dan menimpa pula ke negeri Kan’an dan Syam. Menurut sejarah ketika terjadi musim paceklik di Mesir dan sekitarnya, maka atas anjuran Ya'kub, saudara-saudara Yusuf datang dari negeri Kan’an ke Mesir menghadap pembesar Mesir untuk meminta bantuan bahan makanan.

[18] Selain Bunyamin.

[19] Untuk meminta perbekalan karena sampai berita kepada mereka bahwa pembesar Mesir mau memberikan makanan dengan adanya penukaran.

[20] Karena sudah lama tidak berjumpa dan mereka mengira bahwa Yusuf telah binasa. Disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain, bahwa saudara-saudara Yusuf kemudian berbicara dengan Yusuf menggunakan bahasa Ibrani, lalu Yusuf berkata seperti orang yang tidak kenal, “Apa yang membuat kamu datang ke negeriku?” Mereka berkata, “Untuk memperoleh perbekalan.” Yusuf berkata, “Mungkin kamu mata-mata.” Mereka berkata, “Ma’adzallah (seperti ucapan na’uudzubillah).” Yusuf berkata, “Dari mana kamu?” Mereka menjawab, “Dari negeri Kan’an dan bapak kami adalah Ya’kub seorang nabi Allah.” Yusuf berkata, “Apakah ia memiliki anak selain kalian?” Mereka menjawab, “Ya, kami berjumlah 12 orang saudara. Yang paling kecil di antara kami pergi dan binasa di gurun, dan dia adalah orang yang paling dicintainya. Tinggallah saudaranya, ia menahannya (tidak mengizinkan pergi) agar ia merasa terhibur dengannya.” Kemudian Yusuf memerintahkan agar mereka diberi tempat dan dimuliakan.

[21] Yakni agar aku mengetahui kebenaran perkataanmu.

[22] Kalimat ini dan kalimat sebelumnya dimaksudkan agar mereka datang kembali dan merasa berat tidak membalas budi baiknya. Di dalam kalimat itu terdapat targhib (dorongan) dan tarhib (ancaman).

[23] Menurut kebanyakan ahli tafsir, barang-barang dari saudara-saudara Yusuf yang digunakan sebagai alat penukar bahan makanan itu ialah kulit dan terompah (sandal).

[24] Tindakan ini diambil oleh Yusuf sebagai siasat, dengan cara menaruh budi baiknya kepada mereka, agar mereka nantinya bersedia kembali lagi ke Mesir dengan membawa Bunyamin.

[25] Maksudnya, bahwa Ya'kub ‘alaihis salam tidak dapat mempercayakan Bunyamin kepada saudara-saudaranya, karena dia khawatir akan terjadi peristiwa seperti yang dialami oleh Yusuf dahulu.

[26] Yakni aku berharap Allah menjaganya.

[27] Setelah penghormatan ini, di mana ia telah memenuhi untuk kita takaran dan mengembalikan barang-barang kita yang menunjukkan keikhlasannya dan akhlaknya yang mulia.

[28] Jika kami membawa saudara kami pergi bersama kami yang menjadi sebab ia memberikan makanan kepada kita.

[29] Karena untuk satu orang mendapat jatah makanan seberat beban seekor unta.

[30] Yakni karena kedermawanannya.

[31] Yakni kecuali jika datang kepadamu perkara yang bukan dari dirimu dan kamu tidak dapat menolak darinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar