Jumat, 08 Maret 2013

Tafsir Surat Yunus Ayat 45-60

Ayat 45-53: Ancaman bagi kaum musyrikin, penjelasan tentang ruginya mereka, dan menetapkan kebangkitan setelah mati

وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ كَأَنْ لَمْ يَلْبَثُوا إِلا سَاعَةً مِنَ النَّهَارِ يَتَعَارَفُونَ بَيْنَهُمْ قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِلِقَاءِ اللَّهِ وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ (٤٥)وَإِمَّا نُرِيَنَّكَ بَعْضَ الَّذِي نَعِدُهُمْ أَوْ نَتَوَفَّيَنَّكَ فَإِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ ثُمَّ اللَّهُ شَهِيدٌ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ (٤٦) وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَسُولٌ فَإِذَا جَاءَ رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٤٧) وَيَقُولُونَ مَتَى هَذَا الْوَعْدُ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (٤٨) قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلا نَفْعًا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَلا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ (٤٩) قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ أَتَاكُمْ عَذَابُهُ بَيَاتًا أَوْ نَهَارًا مَاذَا يَسْتَعْجِلُ مِنْهُ الْمُجْرِمُونَ (٥٠) أَثُمَّ إِذَا مَا وَقَعَ آمَنْتُمْ بِهِ آلآنَ وَقَدْ كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ (٥١) ثُمَّ قِيلَ لِلَّذِينَ ظَلَمُوا ذُوقُوا عَذَابَ الْخُلْدِ هَلْ تُجْزَوْنَ إِلا بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ (٥٢) وَيَسْتَنْبِئُونَكَ أَحَقٌّ هُوَ قُلْ إِي وَرَبِّي إِنَّهُ لَحَقٌّ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ (٥٣

Terjemah Surat Yunus Ayat 45-53

45.[1] Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa) seakan-akan tidak pernah berdiam (di dunia) kecuali sesaat saja pada siang hari[2], (pada waktu) mereka saling berkenalan. Sungguh rugi orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah[3], dan mereka tidak mendapat petunjuk.

46.[4] Dan jika Kami perlihatkan kepadamu (Muhammad)[5] sebagian dari (siksaan) yang Kami ancamkan kepada mereka, (tentulah engkau akan melihatnya) atau (jika) Kami wafatkan engkau (sebelum itu), maka kepada Kami jualah mereka kembali, dan Allah menjadi saksi atas apa yang mereka kerjakan[6].

47. Setiap umat mempunyai rasul[7]. Maka apabila rasul mereka telah datang[8], diberlakukanlah hukum bagi mereka dengan adil[9] dan (sedikit pun) tidak dizalimi[10].

 

48.[11] Dan mereka mengatakan, "Kapankah (datangnya) ancaman itu, jika kamu orang-orang yang benar[12]?"

49. Katakanlah (Muhammad), "Aku tidak kuasa menolak mudharat (bahaya) maupun mendatangkan manfaat kepada diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki[13].” Bagi setiap umat mempunyai ajal (batas waktu)[14]. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

50. Katakanlah, "Terangkan kepada-Ku, jika datang kepada kamu sikaaan-Nya pada waktu malam[15] atau siang hari[16], manakah yang diminta[17] oleh orang-orang yang berdosa itu untuk disegerakan?”[18]

51. Kemudian apakah setelah azab itu terjadi, kamu baru mempercayainya?[19] Apakah (baru) sekarang[20], padahal sebelumnya kamu selalu meminta agar disegerakan?

52. Kemudian dikatakan kepada orang-orang yang zalim (musyrik) itu[21], "Rasakanlah olehmu siksaan yang kekal. Kamu tidak diberi balasan melainkan (sesuai) dengan apa yang telah kamu lakukan[22]."

53. Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad)[23], "Benarkah (azab atau kebangkitan yang dijanjikan) itu?” Katakanlah, "Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya (azab atau kebangkitan) itu pasti benar dan kamu sekali-kali tidak dapat menghindar.”

Ayat 54-56: Hari Kiamat adalah hari dikumpulkannya makhluk, hari penyesalan bagi orang-orang kafir, dan bahwa kerajaan hanyalah milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan di Tangan-Nya

وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ مَا فِي الأرْضِ لافْتَدَتْ بِهِ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ  (٥٤) أَلا إِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ أَلا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٥٥) هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (٥٦

Terjemah Surat Yunus Ayat 54-56

54. Dan kalau setiap orang yang zalim (musyrik) itu mempunyai segala yang ada di bumi ini[24], tentu dia menebus dirinya dengan itu[25], dan mereka membunyikan penyesalannya ketika mereka telah menyaksikan azab itu[26]. Kemudian diberi keputusan di antara mereka dengan adil, dan mereka tidak dizalimi.

55. Ketahuilah sesungguhnya milik Allah-lah apa yang ada di langit dan di bumi[27]. Ketahuilah janji Allah[28] itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.

56. Dialah yang menghidupkan dan mematikan[29], dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan[30].

Ayat 57-60: Al Qur’anul Karim adalah nikmat yang besar dan kitab yang berisi petunjuk, yang di dalamnya terdapat penawar dan rahmat bagi kaum mukmin

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ (٥٧) قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (٥٨) قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ (٥٩) وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لا يَشْكُرُونَ (٦٠

Terjemah Surat Yunus Ayat 57-60

57.[31] Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al Qur’an) dari Tuhanmu[32], penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada[33], dan petunjuk[34] serta rahmat[35] bagi orang yang beriman.

58. Katakanlah (Muhammad), "Dengan karunia Allah[36] dan rahmat-Nya[37], hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan[38].”

59. Katakanlah (Muhammad), "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan sebagiannya halal[39].” Katakanlah, "Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) ataukah kamu mengada-ada atas nama Allah?"

60. Dan apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat?[40] Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) kepada manusia[41], tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur[42].


[1] Dalam ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang cepatnya kehidupan di dunia, dan bahwa Allah apabila mengumpulkan mereka pada hari yang tidak ada keraguan padanya, seakan-akan mereka tidak tinggal kecuali sebentar saja di siang hari berkenal-kenalan, dan seakan-akan kenikmatan belum pernah melewati mereka. Di hari itu, beruntunglah orang-orang yang bertakwa dan merugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan dengan Allah. Mereka tidak mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus dan agama yang lurus. Kenikmatan pun luput dari mereka dan mereka mesti masuk ke neraka.

[2] Karena kedahsyatan yang mereka saksikan.

[3] Yakni mendustakan kebangkitan.

[4] Yakni janganlah kamu bersedih wahai Rasul terhadap mereka yang mendustakan itu serta jangan pula meminta disegerakan azab bagi mereka karena sesungguhnya mereka mesti ditimpa azab yang diancamkan kepada mereka. Azab tersebut bisa di dunia, di mana kamu melihatnya langsung dan bisa di akhirat setelah kamu wafat, karena sesungguhnya kembali mereka adalah kepada Allah juga dan Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang mereka kerjakan. Allah akan menjumlahkan amal mereka dan tidak akan melupakannya, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.

[5] Di waktu hidupmu.

[6] Berupa sikap mendustakan dan mengingkari (kafir), lalu Allah mengazab mereka dengan azab yang sangat keras. Dalam ayat ini terdapat ancaman yang keras kepada mereka dan hiburan bagi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang didustakan kaumnya.

[7] Yang mengajak mereka kepada tauhid dan kepada agama-Nya.

[8] Dengan membawa bukti kemudian mereka mendustakannya.

[9] Yaitu dengan diazabnya orang-orang yang mendustakan dan diselamatkannya Rasul dan orang-orang yang mengikutiya.

[10] Mereka tidak akan diazab tanpa sebab dosa yang mereka kerjakan, dan mereka tidak akan diazab sebelum diutusnya rasul serta ditegakkan hujjah.

[11] Hendaknya mereka berhati-hati agar jangan sampai menyerupai generasi sebelum mereka yang telah dibinasakan sehingga mereka ditimpa azab seperti yang diterima generasi sebelum mereka, dan janganlah mereka meminta disegerakan azab dengan mengatakan seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.

[12] Kata-kata ini termasuk kezaliman mereka, di mana mereka meminta didatangkan ancaman itu kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang tidak berkuasa apa-apa, yang tugasnya hanya menyampaikan dan menerangkan kebenaran. Sedangkan hisab mereka dan diturunkannya azab adalah dari Allah, Dia akan menurunkannya ketika telah tiba waktunya sesuai kebijaksanaan-Nya sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya. Oleh karena itu, hendaknya mereka yang meminta disegerakan azab itu berhati-hati, karena ketika azab datang, azab itu tidak dapat ditolak dan ditunda.

[13] Kecuali apa yang Allah taqdirkan bagiku. Oleh karena itu, bagaimana mungkin aku dapat mendatangkan azab kepadamu.

[14] Yakni masa kehancurannya.

[15] Di saat kamu sedang tidur.

[16] Di saat kamu lalai.

[17] Kabar gembira ataukah azab yang mereka minta untuk disegerakan.

[18] Bisa juga diartikan, “Apakah orang-orang yang berdosa itu meminta disegerakan juga?"

[19] Padahal keimanan ketika itu tidaklah berguna, lihat pula surat Al Mu’min: 85.

[20] Maksudnya di waktu terjadinya azab itu kamu baru beriman.

[21] Ketika amalan mereka diberikan balasan pada hari kiamat.

[22] Berupa kekafiran, mendustakan dan melakukan kemaksiatan.

[23] Bukan dengan maksud mencari petunjuk.

[24] Berupa harta. Namun yang demikian tidaklah bermanfaat bagi mereka, yang bermanfaat hanyalah iman dan amal saleh sewaktu di dunia.

[25] Pada hari kiamat.

[26] Para pemimpin menyembunyikan penyesalan di hadapan para pengikut karena takut celaan.

[27] Dia memutuskan semua yang ada di langit dan di bumi dengan keputusan syar’i dan qadari (ketetapan-Nya di alam semesta), dan Dia akan memutuskan mereka dengan keptusan jaza’i (pembalasan).

[28] Yaitu membangkitkan dan memberikan balasan.

[29] Demikian pula yang mengatur segala urusan, dan tidak ada sekutu dalam semua itu.

[30] Pada hari kiamat lalu Dia memberikan balasan terhadap amalmu.

[31] Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mendorong manusia mendatangi kitab yang mulia ini dengan menyebutkan sifat-sifatnya yang baik yang dibutuhkan sekali oleh hamba.

[32] Yang memperingatkan kamu tentang amal-amal yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah dan hukuman-Nya, dan mengingatkan kamu agar menjauhi semua itu dengan menerangkan pengaruh dan bahayanya.

[33] Seperti penyakit syahwat yang dapat menghalangi seseorang dari tunduk kepada syara’, dan penyakit syubhat yang menodai ilmu yang yakin. Di dalam Al Qur’an terdapat pelajaran, targhib (dorongan) dan tarhib (peringatan), janji dan ancaman, di mana hal itu dapat menjadikan seorang hamba memiliki rasa harap dan cemas. Ia akan berharap untuk memperoleh kebaikan yang dijanjikan dengan mengerjakan amalan yang dapat mencapai ke arahnya serta ia akan merasa takut jika mengerjakan keburukan karena ancaman yang diancamkan itu. Di dalam Al Qur’an juga terdapat bukti dan dalil yang disebutkan Allah dengan cara yang paling baik dan diterangkan-Nya dengan penjelasan yang paling baik, di mana semua itu dapat menyingkirkan syubhat dan menjadikan hati seseorang mencapai ke derajat yakin yang sebelumnya ragu. Ketika hati sembuh dari penyakit-penyakit itu, maka anggota badan yang lain pun menjadi baik.

[34] Dengan Al Qur’an dapat diketahui kebenaran.

[35] Yakni kebaikan yang diberoleh dan pahala segera atau ditunda nanti bagi orang yang mengambil petunjuk darinya. Dengan petunjuk dan rahmat tercapailah kebahagiaan dan keberuntungan. Oleh karena itulah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan seseorang bergembira dengan hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam ayat selanjutnya.

[36] Yakni Islam.

[37] Yaitu Al Qur’an. Ada pula yang mengartikan karunia dalam ayat tersebut dengan Al Qur’an, sedangkan rahmat maksudnya adalah agama dan keimanan, serta beribadah kepada Allah, mencintai-Nya dan mengenali-Nya.

[38] Berupa perhiasan dunia dan kesenangannya. Berdasarkan ayat ini, maka nikmat Islam dan Al Qur’an merupakan nikmat paling besar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya karena yang demikian dapat melegakan jiwa, menyemangatkannya dan membantu untuk bersyukur, serta membuat senang dengan ilmu dan keimanan yang mendorong seseorang untuk terus menambahnya. Hal ini adalah gembira yang terpuji, berbeda dengan bergembira dengan syahwat dunia dan kesenangannya atau bergembira dengan kebatilan, maka yang demikian merupakan gembira yang tercela.

[39] Yang mereka jadikan haram misalnya bahiirah dan saa’ibah (lihat Al Maa’idah: 103), sedangkan yang mereka halalkan misalnya bangkai.

[40] Apakah mereka menduga, bahwa Allah tidak akan menghukum mereka?

[41] Dengan memberi tangguh mereka, memberi nikmat dan memberikan rezeki.

[42] Di antara mereka ada yang menggunakan rezeki yang diberikan Allah untuk berbuat maksiat, ada pula yang tidak mengakuinya, ada pula yang mengharamkannya. Sedikit sekali mereka yang bersyukur dengan mengakui nikmat itu, memuji Alah terhadapnya dan menggunakannya untuk ketaatan. Berdasarkan ayat ini, bahwa hukum asal semua makanan adalah halal sampai ada dalil dari syara’ yang mengharamkannya, karena Alah mengingkari orang yang mengharamkan rezeki yang dilimpahkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

1 komentar: