Kamis, 28 Maret 2013

Tafsir Asy Syu’araa Ayat 52-68

Ayat 52-68: Perintah Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Nabi Musa ‘alaihis salam untuk menyelamatkan Bani Israil dari Fir’aun, dan pembinasaan Fir’aun.

وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ (٥٢) فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ (٥٣) إِنَّ هَؤُلاءِ لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ (٥٤)وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ (٥٥) وَإِنَّا لَجَمِيعٌ حَاذِرُونَ (٥٦) فَأَخْرَجْنَاهُمْ مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٥٧) وَكُنُوزٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ (٥٨)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا بَنِي إِسْرَائِيلَ (٥٩) فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ (٦٠) فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (٦١) قَالَ كَلا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (٦٢) فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ (٦٣) وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الآخَرِينَ (٦٤) وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (٦٥) ثُمَّ أَغْرَقْنَا الآخَرِينَ (٦٦) إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (٦٧)وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٦٨

Terjemah Surat Asy Syu’araa Ayat 52-68

52. [1]Dan Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa[2], "Pergilah pada malam hari dengan membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), sebab pasti kamu akan dikejar[3].”

53. Kemudian Fir'aun[4] mengirimkan orang ke kota-kota untuk mengumpulkan (bala tentaranya).

54. (Fir'aun berkata), "Sesungguhnya mereka (Bani Israil) hanya sekelompok kecil,

55. dan sesungguhnya mereka telah berbuat hal-hal yang menimbulkan amarah kita[5],

56. dan sesungguhnya kita tanpa kecuali harus selalu waspada.”

57. Kemudian Kami keluarkan Fir'aun dan kaumnya[6] dari taman-taman dan mata air,

58. dan (dari) harta kekayaan[7] dan kedudukan yang mulia[8],

59. Demikianlah, dan Kami anugerahkan semuanya (itu) kepada Bani Israil[9].

60. Lalu Fir'aun dan bala tentaranya dapat menyusul mereka pada waktu matahari terbit.

 

61. Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa, "Kita benar-benar akan tersusul.”

62. Dia (Musa) menjawab, "Sekali-kali tidak akan (tersusul); sesungguhnya Tuhanku bersamaku, dia akan memberi petunjuk kepadaku.”

63. Lalu Kami wahyukan kepada Musa, "Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu[10], dan setiap belahan seperti gunung yang besar.

64. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain[11].

65. Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang bersamanya[12].

66. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain.

67. Sungguh, pada yang demikian itu[13] terdapat suatu tanda[14] (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka[15] tidak beriman[16].

68. Dan sesungguhnya Tuhanmu Dialah Yang Mahaperkasa[17] lagi Maha Penyayang[18].


[1] Selanjutnya Fir’aun dan kaumnya tetap terus di atas kekafirannya meskipun Nabi Musa ‘alaihis salam memperlihatkan berbagai mukjizat. Setiap kali mukjizat yang berupa azab datang kepada mereka, maka mereka mengadakan perjanjian dengan Nabi Musa ‘alaihis salam, bahwa jika azab itu hilang, maka mereka akan beriman dan akan melepaskan Bani Israil bersamanya, lalu Allah menghilangkan azab itu, namun mereka mengingkari janji dan terus menerus seperti itu sampai Nabi Musa ‘alaihis salam berputus asa dari mengharapkan keimanan mereka (Fir’aun dan kaumnya), dan mereka sudah berhak menerima azab, serta telah tiba waktu untuk menyelamatkan Bani Israil dari cengkeraman mereka dan memberikan tempat bagi mereka di bumi.

[2] Setelah berlalu beberapa tahun, di mana Beliau mengajak mereka kepada kebenaran dengan membawa mukjizat, namun ajakan Beliau tidak menambah mereka selain kedurhakaan.

[3]Dan ternyata demikian. Mereka dikejar oleh Fir’aun dan tentaranya. Para mufassir banyak yang menerangkan, bahwa perginya Nabi Musa ‘alaihis salam membawa Bani Israil dilakukan pada waktu bulan muncul, dan bahwa Nabi Musa ‘alaihis salam sebelumnya bertanya tentang kuburan Nabi Yusuf ‘alaihis salam, lalu ditunjukkanlah oleh perempuan tua Bani Israil, kemudian Beliau membawa peti mayatnya, karena Yusuf ‘alaihis salam berwasiat seperti itu, yakni apabila Bani Israil keluar (dari Mesir), ia meminta agar petinya dibawa bersama mereka. Ketika tiba pagi harinya dan majlis petemuan mereka sepi; tidak ada yang memanggil maupun menjawab, maka bertambahlah kemarahan Fir’aun dan diputuskannya untuk mengejar Bani Israil.

[4] Ketika pagi harinya melihat tidak ada Bani Israil, dan mengetahui bahwa mereka telah pergi di malam harinya.

[5] Oleh karena itu, Fir’aun hendak menimpakan hukumannya kepada Bani Israil.

[6] Yakni dari Mesir.

[7] Harta kekayaan di ayat ini disebut dengan kunuz (simpanan) karena ia (Fir’aun) tidak mengeluarkan untuk hak Allah di sana.

[8] Yaitu majlis besar miliknya untuk berbicara dengan para gubernur dan mentri. Dengan pengejaran Fir'aun dan kaumnya untuk menyusul Musa dan Bani Israil, maka mereka telah keluar dari negeri mereka dengan meninggalkan kerajaan, kebesaran, kemewahan dan sebagainya.

[9] Maksudnya Allah akan memberikan kepada Bani Israil kerajaan yang kuat, kerasulan dan sebagainya di negeri yang telah dijanjikan (Palestina), maka Mahasuci Allah yang memberikan kerajaan kepada yang Dia kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Dia kehendaki, memuliakan orang yang Dia kehendaki karena taat kepada-Nya dan menghinakan orang yang Dia kehendaki karena maksiat-Nya.

[10] Menjadi 12 belahan, lalu Nabi Musa ‘alaihis salam dan kaumnya masuk melewatinya.

[11] Yang dimaksud golongan yang lain ialah Fir'aun dan kaumnya. Maksud ayat tersebut adalah di bagian yang terbelah itu Allah memperdekatkan antara Fir'aun dan kaumnya dengan Musa dan Bani Israil, di mana Fir’aun dan kaumnya masuk melewati jalan yang dilalui Nabi Musa dan Bani Israil.

[12] Tanpa ada yang tertinggal seorang pun juga.

[13] Yakni penenggelaman Fir’aun dan kaumnya.

[14] Ada pula yang menafsirkan dengan terdapat pelajaran bagi orang-orang yang datang setelahnya, atau terdapat bukti yang besar yang menunjukkan benarnya apa yang dibawa Nabi Musa ‘alaihis salam dan batilnya apa yang dipegang oleh Fir’aun dan kaumnya selama ini.

[15] Yakni orang-orang Qibthi.

[16] Meskipun bukti-bukti telah ditunjukkan. Ada yang mengatakan, bahwa tidak ada yang beriman dari kalangan mereka selain Asiyah istri Fir’aun, Hazqil dari kalangan keluarga Fir’aun, dan Maryam binti Namusa yang menunjukkan tulang-belulang Nabi Yusuf (yakni kuburnya).

[17] Dengan keperkasaan-Nya, Dia binasakan orang-orang kafir yang mendustakan.

[18] Kepada orang-orang mukmin, sehingga mereka diselamatkan-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar