Kamis, 21 Maret 2013

Tafsir Al Kahfi Ayat 9-20

Ayat 9-16: Kisah As-habul Kahfi dan bagaimana mereka pergi untuk menyelamatkan agama mereka dari fitnah serta pengorbanan demi membela kebenaran.

أَمْ حَسِبْتَ أَنَّ أَصْحَابَ الْكَهْفِ وَالرَّقِيمِ كَانُوا مِنْ آيَاتِنَا عَجَبًا (٩)إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا (١٠) فَضَرَبْنَا عَلَى آذَانِهِمْ فِي الْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا (١١) ثُمَّ بَعَثْنَاهُمْ لِنَعْلَمَ أَيُّ الْحِزْبَيْنِ أَحْصَى لِمَا لَبِثُوا أَمَدًا      (١٢) نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُمْ بِالْحَقِّ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى (١٣) وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (١٤) هَؤُلاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَوْلا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا (١٥) وَإِذِ اعْتَزَلْتُمُوهُمْ وَمَا يَعْبُدُونَ إِلا اللَّهَ فَأْوُوا إِلَى الْكَهْفِ يَنْشُرْ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ وَيُهَيِّئْ لَكُمْ مِنْ أَمْرِكُمْ مِرفَقًا (١٦

9. Apakah engkau mengira bahwa orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) Ar Raqim[1] itu, termasuk tanda-tanda kebesaran Kami yang menakjubkan[2]?

10. [3](Ingatlah) ketika pemuda-pemuda itu berlindung ke dalam gua[4], lalu mereka berdoa, "Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan Kami[5]."

11. Maka Kami tutup telinga mereka[6] di dalam gua itu selama beberapa tahun[7],

12. Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu[8] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu).

13. Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda[9] yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambahkan petunjuk kepada mereka[10].

14. Dan Kami teguhkan hati mereka ketika mereka berdiri[11], lalu mereka berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; Kami tidak menyeru tuhan selain Dia[12]. Sungguh, kalau kami berbuat demikian tentu kami telah mengucapkan perkataan yang sangat jauh dari kebenaran.”

 

15. [13]Mereka itu kaum kami yang telah menjadikan tuhan-tuhan (untuk disembah) selain Dia. Mengapa mereka tidak mengemukakan alasan yang jelas (tentang kepercayaan mereka)? Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah[14]?

16. [15]Dan apabila kamu meninggalkan mereka[16] dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu[17].

Ayat 17-20: Kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak dapat dikalahkan oleh sesuatu pun juga, kebangkitan adalah benar, keutamaan bergaul dengan orang-orang yang baik serta menerangkan dialog antara sesama As-habul Kahfi.

وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا     (١٧) وَتَحْسَبُهُمْ أَيْقَاظًا وَهُمْ رُقُودٌ وَنُقَلِّبُهُمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَذَاتَ الشِّمَالِ وَكَلْبُهُمْ بَاسِطٌ ذِرَاعَيْهِ بِالْوَصِيدِ لَوِ اطَّلَعْتَ عَلَيْهِمْ لَوَلَّيْتَ مِنْهُمْ فِرَارًا وَلَمُلِئْتَ مِنْهُمْ رُعْبًا (١٨) وَكَذَلِكَ بَعَثْنَاهُمْ لِيَتَسَاءَلُوا بَيْنَهُمْ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ كَمْ لَبِثْتُمْ قَالُوا لَبِثْنَا يَوْمًا أَوْ بَعْضَ يَوْمٍ قَالُوا رَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثْتُمْ فَابْعَثُوا أَحَدَكُمْ بِوَرِقِكُمْ هَذِهِ إِلَى الْمَدِينَةِ فَلْيَنْظُرْ أَيُّهَا أَزْكَى طَعَامًا فَلْيَأْتِكُمْ بِرِزْقٍ مِنْهُ وَلْيَتَلَطَّفْ وَلا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ أَحَدًا (١٩) إِنَّهُمْ إِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ يَرْجُمُوكُمْ أَوْ يُعِيدُوكُمْ فِي مِلَّتِهِمْ وَلَنْ تُفْلِحُوا إِذًا أَبَدًا (٢٠

17. Dan engkau akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan apabila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri[18] sedang mereka berada dalam tempat yang luas di dalam (gua) itu[19]. Itulah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka Dialah yang mendapat petunjuk[20]; dan barang siapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya[21].

18. Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur[22]; dan Kami bolik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri[23], sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan diri dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka[24].

19. Dan demikianlah Kami bangunkan mereka[25], agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?" Mereka menjawab, "Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari[26].” berkata (yang lain lagi), "Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah-lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.

20. Sesungguhnya jika mereka dapat mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempari kamu dengan batu, atau memaksamu kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung selama-lamanya[27].”


[1] Raqim, menurut sebagian ahli tafsir adalah nama anjing, dan sebagian yang lain mengartikan batu bertulis, yang di sana tertulis nama dan nasab mereka.

[2] Tidak ayat-ayat-Nya yang lain. Bahkan ayat-ayat-Nya yang lain pun sama menakjubkan pula, oleh karena itu perlu diperhatikan dan dipikirkan, karena memperhatikan ayat-ayat-Nya merupakan kunci keimanan, jalan mencapai ilmu dan keyakinan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala senantiasa memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya ayat-ayat-Nya di alam semesta dan pada diri mereka agar semakin jelas antara yang hak dengan yang batil, dan petunjuk daripada kesesatan.

[3] Di ayat ini disebutkan kisah mereka secara jumlah (garis besar), dan nanti (yaitu pada ayat 13 dan seterusnya) akan disebutkan lebih rinci.

[4] Dalam keadaan takut disiksa oleh kaum mereka yang kafir karena beriman kepada Allah.

[5] Mereka menggabung antara usaha dan menjauh dari fitnah dengan sikap tadharru’ (merendahkan diri) dan meminta kepada Allah, serta tidak bersandar kepada diri dan orang lain. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengabulkan doa mereka.

[6] Yakni Kami tidurkan mereka.

[7] Maksudnya, Allah menidurkan mereka selama 309 tahun qamariah dalam gua itu (Lihat ayat 25) sehingga mereka tidak dapat dibangunkan oleh suara apa pun. Dalam tidur mereka selama ratusan tahun itu untuk menjaga mereka dari keguncangan hati dan rasa takut, demikian pula untuk menjaga mereka dari penangkapan oleh kaum mereka, serta sebagai salah satu di antara ayat-ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[8] Kedua golongan itu ialah pemuda-pemuda itu sendiri yang berselisih tentang berapa lamanya mereka tinggal dalam gua itu.

[9] Dalam ayat tersebut dipakai jama’ yang menunjukkan sedikit, yaitu kata “fityah” (beberapa pemuda), yang menunjukkan bahwa jumlah mereka di bawah sepuluh.

[10] Berupa ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

[11] Maksudnya, berdiri di hadapan raja Dikyanus (Decius) yang zalim dan menyombongkan diri, serta memerintahkan mereka bersujud kepada berhala.

[12] Mereka berdalih dengan rububiyyah Allah terhadap alam semesta untuk menunjukkan keberhakan-Nya untuk diibadahi, yaitu karena Dia Tuhan Pencipta langit dan bumi, maka hanya Dialah yang brhak diibadahi. Mereka menggabung antara mengikrarkan tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah, demikian pula berpegang di atasnya serta menerangkan bahwa selain Alah adalah batil. Hal ini merupakan bukti sempurnanya pengetahuan mereka terhadap Tuhan mereka dan pemberian petunjuk dari Allah kepada mereka.

[13] Setelah mereka menyebutkan nikmat yang telah diberikan Allah berupa iman dan hidayah, maka mereka beralih melihat keadaan kaum mereka yang menjadikan sesembahan selain Allah. Mereka membenci perbuatan itu dan menerangkan, bahwa perbuatan itu sama sekali tidak di atas ilmu dan keyakinan.

[14] Dengan menisbatkan sekutu bagi-Nya, padahal Dia tidak mempunyai sekutu.

[15] Perkataan ini terjadi antara mereka sendiri yang timbul karena ilham dari Allah.

[16] Karena tidak sanggup menghadapi mereka dan tidak mungkin tinggal di tengah-tengah mereka.

[17] Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa mereka berdoa, “Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan Kami.” Di mana dalam doa tersebut mereka menggabung antara sikap berlepas diri dari kemampuan mereka, menghadap kepada Allah agar Dia memperbaiki urusan mereka, berdoa dengannya, dan merasa yakin dengan Allah, bahwa Dia akan melakukannya, maka sudah tentu Allah akan melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka, menyiapkan hal yang berguna bagi mereka, menjaga agama dan badan mereka, serta menjadikan mereka termasuk di antara ayat-ayat-Nya, menyebut mereka dengan sebutan yang baik, di mana hal itu termasuk rahmat-Nya kepada mereka. Demikian pula memudahkan sebabnya untuk mereka, sampai tempat yang mereka singgahi untuk istirahat pun sangat cocok bagi mereka.

[18] Oleh karena itu, mereka tidak terkena panasnya matahari.

[19] Oleh karena itu, udara dan angin sepoi-sepoi masuk mengenai mereka, tidak ada udara kotor, dan mereka tidak terganggu dengan tempat yang sempit, terlebih dengan waktu yang lama. Hal ini termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah dan rahmat-Nya. Demikian pula sebagai pengabulan terhadap doa mereka, dan hidayah bagi mereka sampai dalam masalah ini.

[20] Tidak ada jalan untuk memperoleh hidayah kecuali dengan meminta kepada Allah.

[21] Yakni engkau tidak akan mendapatkan seorang pun yang mengarahkan dan mengaturnya kepada hal yang bermaslahat baginya; hal yang di dalamnya terdapat kebaikan dan keberuntungan baginya, karena Allah telah memutuskannya sebagai orang yang tersesat, dan tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya.

[22] Banyak para mufassir yang mengatakan, bahwa hal itu karena mata mereka terbuka agar tidak rusak.

[23] Hal ini termasuk penjagaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap badan mereka, karena tanah itu pada tabi’atnya memakan jasmani yang menempel dengannya. Oleh karena itu, termasuk qadar Allah, Dia membolak-balikkan rusuk mereka ke kanan dan ke kiri seukuran yang tidak dimakan tanah. Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesungguhnya Mahakuasa menjaga mereka tanpa perlu membolak-balikkan badan mereka, akan tetapi Dia Mahabijaksana; Dia ingin sunnah-Nya berlaku di alam semesta dan mengikat sebab dengan musabbabnya.

[24] Hal ini merupakan penjagaan Allah untuk mereka dari manusia, setelah sebelumnya disebutkan penjagaan-Nya agar jasad mereka tidak dimakan tanah. Penjagaan-Nya dari manusia adalah apabila ada manusia yang melihat mereka, tentu hatinya penuh rasa takut dan melarikan diri dari mereka. Tidak ada yang mengetahui mereka, padahal gua tersebut dekat sekali dengan kota.

[25] Dari tidur yang panjang.

[26] Hal itu, karena mereka memasuki gua ketika matahari terbit dan dibangunkan ketika matahari tenggelam, sehingga mereka mengira bahwa terbenamnya matahari itu adalah pada hari ketika mereka memasuki gua itu.

[27] Dari ayat 19 dan 20 dapat diambil kesimpulan:

- Dorongan untuk memperoleh ilmu dan membahasnya.

- Adab bagi orang yang masih samar baginya suatu ilmu, yaitu mengembalikan kepada yang tahu, dan berhenti sampai di situ, serta mengucapkan, “Wallahu a’lam” (Allah lebih mengetahui).

- Sahnya wakalah (perwakilan) dalam hal menjual dan membeli.

- Bolehnya memakan makanan yang enak dan lezat apabila tidak sampai israf (belebihan) yang terlarang. Hal ini berdasarkan kata-kata, “dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik,” terlebih apabila seseorang tidak biasa kecuali makanan yang enak. Mungkin inilah yang dijadikan sandaran para mufassir yang menyebutkan, bahwa mereka (As-habul kahfi) ini adalah anak-anak raja yang biasanya memakan yang paling enak.

- Dorongan untuk menjaga diri dan bersembunyi serta menjauhi tempat-tempat fitnah.

- Perintah untuk berhijrah jika dia tidak dapat menjalankan agama di negeri tersebut.

5 komentar:

  1. Sungguh,,,, Maha Suci Allah

    BalasHapus
  2. lalu penjelasan mengenai laba-laba yang menipu dengan jaring nya supaya orang kafir tidak masuk ke gua tersebut mana ?? :/

    BalasHapus
  3. lalu penjelasan mengenai laba-laba yang menipu dengan jaring nya supaya orang kafir tidak masuk ke gua tersebut mana ?? :/

    BalasHapus
    Balasan
    1. jaring laba laba mah itu mah kisah nabi muhammad atuh euy,..ketika dikejar-kejar kaum quaraisy, masuk ke Gua..

      Hapus