Kamis, 21 Maret 2013

Tafsir Al Kahfi Ayat 1-8

Surah Al Kahf (Gua)

Surah ke-18. 110 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-6: Beberapa ayat ini menyebutkan tentang pujian Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada Diri-Nya, penurunan Al Qur’an kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan bagaimana usaha keras Beliau agar kaumnya beriman, dan ancaman terhadap kepercayaan tuhan punya anak.

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجَا (١)قَيِّمًا لِيُنْذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِنْ لَدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا (٢) مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا (٣) وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (٤) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلا لآبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلا كَذِبًا (٥) فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا         (٦)

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 1-6

1.Segala puji bagi Allah[1] yang telah menurunkan kitab (Al Qur’an) kepada hamba-Nya dan Dia tidak menjadikannya bengkok[2];

2. Sebagai bimbingan yang lurus[3], untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih[4] dari sisi-Nya[5] dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh[6] bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik[7],

3. Mereka kekal di dalamnya untuk selama-lamanya.

4. Dan untuk memperingatkan kepada orang yang berkata, "Allah mengambil seorang anak[8]."

5. Mereka sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka[9]. Alangkah jeleknya[10] kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka hanya mengatakan (sesuatu) kebohongan belaka.

6. [11]Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).

Ayat 7-8: Dunia sebagai tempat ujian, bukan tempat tujuan.

إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الأرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلا (٧)وَإِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَعِيدًا جُرُزًا (٨

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 7-8

7. Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi[12] sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya[13].

8. Dan Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah yang tandus lagi kering[14].


[1] Yakni segala puji bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena sifat-sifat-Nya yang semuanya merupakan sifat sempurna, dan karena nikmat-nikmat-Nya yang nampak maupun yang tersembunyi, baik nikmat agama maupun dunia, dan nikmat yang paling besar secara mutlak adalah karena Dia telah menurunkan Al Qur’an kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Di ayat ini, Dia memuji Diri-Nya, dan di dalamnya mengandung petunjuk bagi para hamba agar mereka memuji-Nya karena telah diutus kepada mereka rasul-Nya dan karena telah diturunkan kepada mereka kitab-Nya.

[2] Tidak ada dalam Al-Quran itu makna-makna yang berlawananan dan tidak ada penyimpangan dari kebenaran. Oleh karena tidak ada kebengkokan dalam kitab-Nya, maka berarti berita-beritanya tidak ada yang dusta, perintah dan larangannya tidak ada yang zalim lagi main-main.

[3] Kelurusan kitab ini menunjukkan, bahwa kitab ini tidaklah memberitakan, kecuali dengan berita yang paling agung; berita yang memenuhi hati dengan ma’rifat (mengenal Tuhannya), keimanan dan pandangan yang lurus, seperti berita yang menerangkan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya, termasuk pula hal-hal ghaib di masa lalu dan yang akan datang, dan bahwa perintah serta larangannya membersihkan jiwa, menumbuhkannya dan menyempurnakannya karena cakupannya yang mengandung keadilan, keikhlasan dan ibadah kepada Allah Rabbul ‘alamin.

[4] Siksaan di dunia maupun siksaan di akhirat. Termasuk rahmat (kasih-sayang)-Nya kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia telah menetapkan hukuman berat kepada orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya, menerangkannya kepada mereka, dan menerangkan sebab-sebab yang dapat mengarah kepadanya.

[5] Kepada orang-orang yang kafir dan yang mendurhakai perintah-Nya.

[6] Baik yang wajib maupun yang sunat, disertai ikhlas dan mutaba’ah (sesuai sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam).

[7] Sebagai balasan terhadap iman dan amal saleh mereka, di mana yang paling besarnya adalah mendapatkan keridhaan Allah dan masuk ke surga.

[8] Baik dari kalangan Yahudi, Nasrani, maupun orang-orang musyrik.

[9] Yang mereka ikuti hanyalah persangkaan dan hawa nafsu; bukan ilmu.

[10] Dan alangkah besar hukuman untuknya. Karena menyifati-Nya dengan mengambil anak sama saja mencacatkan-Nya, menyertakan yang lain dalam hal rububiyyah-Nya (mengatur alam semesta) dan uluhiyyah-Nya (keberhakan untuk diibadahi), serta berdusta terhadap-Nya.

[11] Oleh karena Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ingin sekali dan bergembira jika manusia ketika itu mendapat hidayah dan Beliau berusaha sekuat tenaga untuknya, namun ketika manusia berpaling dan mendustakannya, Beliau pun bersedih karena kasihan kepada mereka, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengarahkan Beliau agar tidak menyibukkan dirinya dengan sedih memikirkan sikap mereka. Hal itu, karena pahala Beliau sudah pasti akan diberikan Allah, dan mereka yang berpaling itu, jika sekiranya Allah mengetahui bahwa dalam hati mereka ada kebaikan niscaya Dia akan memberi hidayah, akan tetapi Dia mengetahui, bahwa mereka lebih cocok masuk ke neraka, sehingga Dia telantarkan mereka dan tidak memberinya petunjuk. Oleh karena itu, sibuk dengan sedih memikirkan mereka tidak ada faedahnya bagimu. Dalam ayat ini dan yang semisalnya terdapat pelajaran, bahwa orang yang diperintahkan Allah untuk menyampaikan (seperti rasul dan orang yang diberi ilmu), tugasnya hanyalah menyampaikan dan melakukan segala sebab agar mereka memperoleh hidayah, menutup pintu kesesatan sesuai kemampuan, sambil bertawakkal kepada Allah. Jika mereka mendapatkan petunjuk, maka sungguh bagus sekali, kalau pun tidak maka jangan bersedih, karena hal itu dapat melemahkan jiwa (membuat dirinya lemas), meretakkan kekuatannya dan tidak ada faedahnya, bahkan hendaknya ia teruskan amal yang dibebankan kepadanya. Selebihnya, maka hal itu di luar kemampuan. Jika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam saja dikatakan tidak mampu memberi petunjuk kepada orang yang Beliau cintai, dan Nabi Musa ‘alaihis salam saja mengatakan, “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku tidak berkuasa selain terhadap diriku dan saudaraku.” Maka selain mereka lebih tidak mampu lagi. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, ”Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. -Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka,” (Terj. Al Ghaasyiyah: 21-22)

[12] Seperti hewan, tumbuhan, sungai-sungai, tempat tinggal, pemandangan yang indah, dsb.

[13] Yakni yang paling ikhlas dan paling sesuai dengan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

[14] Yakni semua perhiasan di muka bumi ini dan kesenangannnya akan binasa, hilang dan habis, dan bumi akan kembali tandus serta kering. Inilah hakikat dunia, Allah telah memperjelas kepada kita sejelas-jelasnya, memperingatkan kita agar tidak tertipu olehnya, mendorong kita untuk mencintai negeri yang kenikmatannya kekal, dan penduduknya berbahagia. Semua itu merupakan rahmat-Nya kepada kita. Namun orang yang melihat dunia zahirnya saja tanpa melihat di balik itu, maka ia akan tertipu oleh gemerlapnya dunia dan keindahannya. Mereka pun menikmati dunia seperti hewan menikmatinya, di mana yang mereka pikirkan hanya makan, minum dan bersenang-senang. Mereka tidak ingat tujuan dari diciptakannya mereka, bahkan yang di benak mereka hanyalah memuaskan hawa nafsu belaka bagaimana pun caranya, halal atau haram. Adapun mereka yang melihat hakikat dunia dan mengetahui tujuan dari diciptakannya mereka, maka dia mengambil dunia ini dan menggunakannya untuk membantu beribadah kepada Allah, dia pun mengisi waktunya dengan ketaatan. Dia juga menjadikan dunia sebagai jembatan, bukan sebaai tujuan. Dia jadikan hidupnya di dunia sebagai musafir; bukan sebagai mukim. Dia juga mengerahkan kemampuannya untuk mengenal Tuhannya, melaksanakan perintah-Nya dan memperbaiki amalnya. Orang inilah yang memperoleh tempat yang baik di sisi Allah, yang layak memperoleh kemuliaan, kenikmatan dan kesenangan. Dia melihat lebih dalam dunia ini, sedangkan orang yang tertipu hanya melihat luarnya saja, dia bekerja untuk akhiratnya, sedangkan orang yang tertipu bekerja untuk dunianya, sungguh berbeda kedua orang itu!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar