Jumat, 08 Maret 2013

Tafsir Al Anfaal Ayat 41-51

Juz 10

Ayat 41: Menjelaskan tentang pembagian ghanimah dan pendistribusiannya

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ إِنْ كُنْتُمْ آمَنْتُمْ بِاللَّهِ وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى عَبْدِنَا يَوْمَ الْفُرْقَانِ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٤١

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 41

41. Ketahuilah, sesungguhnya segala yang kamu peroleh[1] sebagai rampasan perang[2], maka seperlima untuk Allah, rasul[3], kerabat rasul[4], anak yatim[5], orang miskin[6] dan ibnussabil[7], (demikian) jika kamu beriman kepada Allah[8] dan kepada apa[9] yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan[10], yaitu pada hari bertemunya dua pasukan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Ayat 42-44: Mengingatkan nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala berupa pertolongan-Nya dalam perang Badar, dimana kemenangannya ketika itu bukan karena banyak jumlah dan lengkapnya persenjataan

إِذْ أَنْتُمْ بِالْعُدْوَةِ الدُّنْيَا وَهُمْ بِالْعُدْوَةِ الْقُصْوَى وَالرَّكْبُ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَوْ تَوَاعَدْتُمْ لاخْتَلَفْتُمْ فِي الْمِيعَادِ وَلَكِنْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولا لِيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْ بَيِّنَةٍ وَيَحْيَا مَنْ حَيَّ عَنْ بَيِّنَةٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَسَمِيعٌ عَلِيمٌ (٤٢) إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلا وَلَوْ أَرَاكَهُمْ كَثِيرًا لَفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِي الأمْرِ وَلَكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٤٣) وَإِذْ يُرِيكُمُوهُمْ إِذِ الْتَقَيْتُمْ فِي أَعْيُنِكُمْ قَلِيلا وَيُقَلِّلُكُمْ فِي أَعْيُنِهِمْ لِيَقْضِيَ اللَّهُ أَمْرًا كَانَ مَفْعُولا وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ (٤٤

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 42-44

42. (Yaitu) ketika kamu berada di pinggir lembah yang dekat dan mereka berada di pinggir lembah yang jauh sedang kafilah itu berada lebih rendah dari kamu[11]. Sekiranya kamu mengadakan persetujuan[12] (untuk menentukan hari pertempuran), niscaya kamu berbeda pendapat dalam menentukan hari pertempuran itu, tetapi Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan[13], yaitu agar orang yang binasa itu binasa dengan bukti yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidup dengan bukti yang nyata[14]. Sungguh, Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui[15],

43. (ingatlah) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit[16]. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu[17], tetapi Allah telah menyelamatkan kamu[18]. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu[19].

44. Dan ketika Allah meperlihatkan mereka kepada kamu (wahai kaum mukmin), ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu[20] dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka[21], karena Allah berhendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan[22]. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan[23].

Ayat 45-47: Di antara aturan perang adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta sabar terhadap penderitaan perang, kewajiban berteguh hati, bersatu dalam peperangan dan larangan berlaku sombong dan riya’

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٤٥) وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (٤٦)وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ               (٤٧)

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 45-47

45. Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan (musuh), maka berteguh hatilah[24] dan sebutlah (nama) Allah banyak-banyak (berdzikir dan berdoa) agar kamu beruntung[25].

46. Taatilah Allah dan Rasul-Nya[26] dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang serta bersabarlah[27]. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar[28].

47. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah[29] [30]. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.

Ayat 48-51: Pengkhianatan setan terhadap janjinya kepada pengikut-pengikutnya, dan pengaruh perang bagi kaum muslimin dan bagaimana para malaikat menyiksa orang-orang kafir

وَإِذْ زَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ وَقَالَ لا غَالِبَ لَكُمُ الْيَوْمَ مِنَ النَّاسِ وَإِنِّي جَارٌ لَكُمْ فَلَمَّا تَرَاءَتِ الْفِئَتَانِ نَكَصَ عَلَى عَقِبَيْهِ وَقَالَ إِنِّي بَرِيءٌ مِنْكُمْ إِنِّي أَرَى مَا لا تَرَوْنَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٤٨) إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلاءِ دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٤٩) وَلَوْ تَرَى إِذْ يَتَوَفَّى الَّذِينَ كَفَرُوا الْمَلائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ (٥٠) ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيكُمْ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ             (٥١)

Terjemah Surat Al Anfaal Ayat 48-51

48. Dan (ingatlah) ketika setan[31] menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (dosa) mereka dan mengatakan, "Tidak ada (orang) yang dapat mengalahkan kamu pada hari ini[32], dan sungguh, aku adalah penolongmu[33]". Maka ketika kedua pasukan itu telah saling meihat (berhadapan), setan balik ke belakang[34] seraya berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, aku dapat melihat apa yang kamu tidak dapat melihat; sesungguhnya aku takut kepada Allah[35].” Allah sangat keras siksa-Nya.

49. (Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya[36] berkata, "Mereka itu (orang mukmin) ditipu agamanya[37].” (Allah berfirman), "Barang siapa bertawakkal (menyerahkan urusan) kepada Allah[38], ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa[39] lagi Mahabijaksana[40].”

50. Dan sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka[41] (dan berkata), "Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar[42].”

51. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri[43]. Sesungguhnya Allah tidak menzalimi hamba-hamba-Nya[44],


[1] Sedikit atau banyak.

[2] Yang dimaksud dengan rampasan perang (ghanimah) adalah harta yang diperoleh dari orang-orang kafir melalui pertempuran, sedangkan yang diperoleh tanpa melalui pertempuran dinamakan fa'i. Pembagian dalam ayat ini terkait dengan ghanimah saja. Adapun fa'i dibahas dalam surat Al Hasyr.

[3] Bagian untuk Allah dan Rasul-Nya disalurkan untuk maslahat (kepentingan) kaum muslimin secara umum, karena Allah dan Rasul-Nya tidak membutuhkannya, dan tidak disebutkan ke mana disalurkan sehingga penyalurannya untuk maslahat umum.

[4] Dari kalangan Bani Hasyim dan Bani Muththalib baik yang kaya maupun yang miskin, laki-laki maupun perempuan.

[5] Yaitu anak kecil yang ditinggal mati oleh bapaknya.

[6] Yakni orang yang berhajat (membutuhkan) atau kekurangan.

[7] Yaitu orang yang terhenti di perjalanan karena kehabisan bekal. Maksud ayat ini adalah bahwa seperlima dari ghanimah itu dibagikan kepada Allah dan Rasul-Nya, kerabat Rasul, anak yatim, fakir miskin dan Ibnussabil. Sedangkan empat-perlima dari ghanimah itu dibagikan kepada yang ikut berperang, untuk yang berjalan kaki memperoleh satu bagian, sedangkan penunggang kuda memperoleh dua bagian; bagian untuknya dan untuk kudanya.

Sebagian mufassir berpendapat, bahwa 1/5 dari ghanimah tidak boleh keluar dari 5 golongan itu, dan tidak mesti mereka dibagi secara sama, bahkan disesuaikan dengan maslahat.

[8] Allah menjadikan pembagian ghanimah sesuai dengan aturannya sebagai syarat keimanan.

[9] Yang dimaksud dengan “apa” di sini bisa maksudnya ayat-ayat Al-Quran, malaikat dan pertolongan.

[10] Yang dimaksud dengan hari Al Furqaan adalah hari yang memisahkan antara yang hak dan yang batil atau hari ditampakkan kebenaran dan dikalahkan kebatilan, yaitu hari bertemunya dua pasukan di Badar, pada hari Jum'at 17 Ramadhan tahun ke 2 Hijriah.

[11] Maksudnya kaum muslimin ketika itu berada di pinggir lembah yang dekat ke Madinah, dan orang-orang kafir berada di pinggir lembah yang jauh dari Madinah. Sedangkan kafilah yang dipimpin oleh Abu Sofyan itu berada di tepi pantai kira-kira 5 mil dari Badar.

[12] Dengan mereka (kaum kafir Quraisy).

[13] Maksudnya kemenangan kaum muslimin dan kehancuran kaum musyrikin, dan dikumpulkan-Nya mereka tanpa ada persetujuan waktunya terlebih dahulu merupakan ketentuan Allah yang mesti terjadi.

[14] Maksudnya agar orang-orang yang tetap di dalam kekafirannya tidak mempunyai alasan lagi di hadapan Allah untuk tetap dalam kekafiran itu karena telah tegak hujjah dan bukti yang nyata (seperti bisa menangnya kaum muslimin terhadap musuh mereka yang berjumlah banyak padahal jumlah mereka hanya sedikit), dan orang-orang yang beriman bertambah lagi keimanannya karena Allah telah menampakkan bukti-bukti yang nyata yang menunjukkan kebenaran mereka, di mana di dalamnya terdapat peringatan bagi orang-orang yang berakal.

[15] Allah Maha Mendengar semua suara dengan berbagai macam bahasa dan berbagai macam kebutuhan, Dia mengetahui pula yang nampak maupun yang tersembunyi dan semua rahasia, serta mengetahui yang ghaib maupun yang kelihatan.

[16] Kemudian engkau memberitahukan para sahabatmu, sehingga mereka bergembira.

[17] Yakni di antara kamu ada yang mengusulkan untuk tetap maju berperang, dan ada pula yang mengusulkan untuk tidak maju berperang sehingga mengakibatkan kegentaran.

[18] Dari sikap gentar dan berbantah-bantahan.

[19] Seperti keteguhan hati dan sikap keluh kesah, kejujuran dan kedustaan.

[20] Sekitar 70 atau 100 orang, padahal sesungguhnya jumlah mereka 1.000 orang lebih. Abdulah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata, “Sungguh, mereka dijadikan sedikit dalam penglihatan kami pada perang Badar, sampai aku bertanya kepada seorang yang berada di sebelahku, “Apakah kamu melihat bahwa jumlah mereka 70 orang?” Ia menjawab, “Tidak, bahkan 100 orang.” Sampai kami menangkap salah seorang di antara mereka dan bertanya kepadanya (tentang jumlah mereka), ia menjawab, “Jumlah kami 1.000 orang.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Jarir).

[21] Agar mereka tetap maju dan tidak mundur. Hal ini sebelum berkecamuknya peperangan, namun setelah berkecamuk maka ditampakkan-Nya kaum muslimin berjumlah dua kali lipat dari mereka sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 13.

[22] Seperti menolong orang-orang mukmin dan mengecewakan orang-orang kafir, mematikan para tokoh dan pemimpin kesesatan sehingga pengikutnya mudah diajak kepada Islam, sekaligus sebagai kelembutan-Nya kepada orang-orang yang masih hidup.

[23] Semua urusan makhluk dikembalikan kepada Allah, kemudian Dia memisahkan yang baik dengan yang buruk dan menghukumi makhluk-makhluk-Nya dengan keputusan-Nya yang adil.

[24] Tahanlah jiwamu dan bersabarlah di atas ketaatan yang besar ini, di mana akibatnya adalah kemuliaan dan kemenangan. Untuk memperoleh kesabaran di waktu ini caranya adalah dengan memperbanyak dzikrullah. Berdasarkan ayat ini, sabar, teguh hati dan banyak berdzikr merupakan sebab terbesar seseorang memperoleh kemenangan.

[25] Yakni memperoleh apa yang kamu inginkan berupa kemenangan atas musuh.

[26] Dengan melakukan apa yang diperintahkan dan berjalan di belakangnya.

[27] Di atas ketaatan kepada Allah.

[28] Dengan memberikan pertolongan dan bantuan.

[29] Mereka adalah kaum musyrik yang keluar untuk berperang di Badar, mereka berkata, “Kami tidak akan pulang sampai kami meminum khamr (arak), menyembelih unta, dan para penyanyi menabuh rebana kepada kami di Badar.”

[30] Oleh karena itu, hendaknya kamu keluar dari rumahmu untuk berperang karena mencari keridhaan Allah dan meninggikan kalimat-Nya, menyingkirkan semua jalan yang membawa kepada kemurkaan Allah dan siksa-Nya serta membawa manusia ke jalan Allah yang lurus yang membawa mereka ke surga.

[31] Yaitu Iblis.

[32] Yakni karena kamu berjumlah besar dan telah menyiapkan persenjataan yang lengkap, oleh karena itu Nabi Muhammad dan para pengikutnya tidak akan sanggup menghadapimu.

[33] Terhadap orang yang kamu khawatirkan bahayanya. Ketika itu Iblis menampakkan diri kepada orang-orang Quraisy sebagai Suraqah bin Malik bin Ju’syam tokoh Bani Madlaj, di mana mereka (orang-orang Quraisy) takut kepada Bani Madlaj karena permusuhan yang terjadi di antara mereka. Bisa juga maksudnya, bahwa Iblis membujuk mereka dan membisikkan mereka bahwa “Tidak ada yang dapat mengalahkan kamu”, wallahu a’lam.

[34] Karena melihat malaikat, terutama malaikat Jibril yang merapihkan para malaikat. Dari sini diketahui, bahwa Iblis suka mengingkari janji, dan bahwa janji-janjinya adalah dusta sehingga janganlah kita tergoda olehnya. Dalam ayat lain disebutkan, “(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) setan ketika dia berkata kepada manusia, "Kafirlah kamu", maka ketika manusia itu telah kafir, ia berkata, "Sesungguhnya aku berlepas diri dari kamu, karena sesungguhnya aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam"--Maka kesudahan keduanya adalah, bahwa keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang zalim.” (Terj. Al Hasyr: 16-17)

[35] Jika Dia segera menimpakan hukuman kepadaku di dunia.

[36] Yakni lemahnya keyakinan.

[37] Karena berangkat melawan musuh yang banyak dalam jumlah sedikit.

[38] Maka dia akan menang. Hal itu, karena jika sekiranya manusia berkumpul untuk memberikan manfaat kepada seseorang meskipun sedikit niscaya mereka tidak akan mampu kecuali sesuai yang ditetapkan Allah Ta’ala, dan jika sekiranya mereka berkumpul untuk menimpakan bahaya, niscaya mereka tidak akan mampu kecuali sesuai yang ditetapkan Allah Ta’ala.

[39] Tidak ada yang dapat mengalahkan-Nya.

[40] Dalam tindakan-Nya.

[41] Tentu kamu akan menyaksikan peristiwa yang mengerikan. Para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir sambil berkata, “Keluarlah kamu”, namun ruh mereka tidak mau keluar karena mengetahui akan memperoleh azab yang pedih, lalu ditariklah ruh tersebut dengan keras.

[42] Yang demikian merupakan sunnatullah yang berlaku pada orang-orang terdahulu maupun yang kemudian, yaitu dengan menghukum mereka disebabkan dosa-dosanya sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[43] Digunakan kata “tangan” karena pada umumnya perbuatan manusia dilakukan oleh tangannya.

[44] Yakni Dia tidak akan menyiksa hamba-Nya tanpa dosa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar