Jumat, 05 April 2013

Tafsir Muhammad Ayat 12-24

Ayat 12-15: Keadaan orang-orang mukmin dan kenikmatan yang mereka peroleh di surga, dan keadaan orang-orang kafir di neraka.

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الأنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ (١٢) وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ هِيَ أَشَدُّ قُوَّةً مِنْ قَرْيَتِكَ الَّتِي أَخْرَجَتْكَ أَهْلَكْنَاهُمْ فَلا نَاصِرَ لَهُمْ (١٣) أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ كَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (١٤) مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ فِيهَا أَنْهَارٌ مِنْ مَاءٍ غَيْرِ آسِنٍ وَأَنْهَارٌ مِنْ لَبَنٍ لَمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُ وَأَنْهَارٌ مِنْ خَمْرٍ لَذَّةٍ لِلشَّارِبِينَ وَأَنْهَارٌ مِنْ عَسَلٍ مُصَفًّى وَلَهُمْ فِيهَا مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ وَمَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ كَمَنْ هُوَ خَالِدٌ فِي النَّارِ وَسُقُوا مَاءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَاءَهُمْ (١٥)

Terjemah Surat Muhammad Ayat 12-15 

12. [1]Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (di dunia), dan mereka makan seperti hewan makan[2]; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.

13. Dan betapa banyak negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu[3]. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang pun yang menolong mereka[4].

14. Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Tuhannya[5] sama dengan orang yang dijadikan terasa indah baginya perbuatan buruknya dan mengikuti hawa nafsunya[6]?

15. Perumpamaan[7] surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa[8]; di sana ada sungai-sungai yang airnya tidak payau[9], sungai-sungai air susu yang tidak berubah rasanya[10], sungai-sungai dari khamar (anggur yang tidak memabukkan) yang lezat rasanya bagi peminumnya[11], dan sungai-sungai madu yang murni[12]. Di dalamnya mereka memperoleh segala macam buah-buahan[13], dan ampunan dari Tuhan mereka[14]. Samakah mereka dengan orang yang kekal dalam neraka, dan diberi minuman dengan air yang mendidih, sehingga ususnya terpotong-potong[15]?

Ayat 16-19: Bahaya kaum munafik bagi umat Islam karena mereka menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran dan penjelasan tentang keutamaan dzikrullah dan istighfar.

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ حَتَّى إِذَا خَرَجُوا مِنْ عِنْدِكَ قَالُوا لِلَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مَاذَا قَالَ آنِفًا أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَاتَّبَعُوا أَهْوَاءَهُمْ (١٦) وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ (١٧)فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا السَّاعَةَ أَنْ تَأْتِيَهُمْ بَغْتَةً فَقَدْ جَاءَ أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءَتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ (١٨) فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ (١٩)

 Terjemah Surat Muhammad Ayat 15-19

16. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu (Muhammad)[16], tetapi apabila mereka telah keluar dari sisimu, mereka berkata kepada orang yang telah diberi ilmu (sahabat-sahabat Nabi)[17], "Apakah yang dikatakannya tadi?"[18] Mereka itulah orang-orang yang dikunci hatinya oleh Allah[19], dan mengikuti hawa nafsunya.

17. [20]Dan orang-orang yang mendapat petunjuk[21], Allah akan menambah petunjuk kepada mereka[22] dan menganugerahi ketakwaan mereka[23].

18. Maka apalagi yang mereka[24] tunggu-tunggu selain hari Kiamat, yang akan datang kepada mereka secara tiba-tiba, karena tanda-tandanya sungguh telah datang[25]. Maka apa gunanya kesadaran mereka itu. Apabila hari kiamat itu sudah datang[26]?

19. [27]Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah[28], dan mohonlah ampunan atas dosamu[29] dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan[30]. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu[31].

Ayat 20-24: Sifat penakut pada orang-orang kafir ketika mereka diperintahkan berperang dan jauhnya mereka dari memahami Al Qur’an.

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا لَوْلا نُزِّلَتْ سُورَةٌ فَإِذَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ مُحْكَمَةٌ وَذُكِرَ فِيهَا الْقِتَالُ رَأَيْتَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ نَظَرَ الْمَغْشِيِّ عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَأَوْلَى لَهُمْ (٢٠) طَاعَةٌ وَقَوْلٌ مَعْرُوفٌ فَإِذَا عَزَمَ الأمْرُ فَلَوْ صَدَقُوا اللَّهَ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ (٢١) فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ (٢٢) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فَأَصَمَّهُمْ وَأَعْمَى أَبْصَارَهُمْ (٢٣) أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا (٢٤)

  Terjemah Surat Muhammad Ayat 20-24

20. Dan orang-orang yang beriman berkata[32], "Mengapa tidak ada suatu surah (tentang perintah berjihad) yang diturunkan?" Maka apabila ada suatu surah[33] diturunkan yang jelas maksudnya dan di dalamnya tersebut (perintah) perang, engkau meihat orang-orang yang di dalam hatinya[34] ada penyakit akan memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati[35]. [36]Tetapi yang lebih pantas bagi mereka,

21. (adalah) taat (kepada Allah) dan bertutur kata yang baik[37]. Sebab apabila perintah (perang) ditetapkan (mereka tidak menyukainya). Padahal jika mereka benar-benar (beriman) kepada Allah[38], niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka[39].

22. [40]Maka apakah sekiranya kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusakan di bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan[41]?

23. Mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah[42]; dan dibuat tuli (pendengarannya)[43] dan dibutakan penglihatannya[44].

24. Maka tidakkah mereka menghayati Al Quran[45], ataukah hati mereka sudah terkunci[46]?


[1] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan bahwa Dia adalah wali (Pelindung) kaum mukmin, maka Dia menyebutkan apa yang Dia lakukan untuk mereka di akhirat, yaitu dengan memasukkan mereka ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, dimana sungai-sungai itu mengairi kebun-kebun yang indah dan pohon-pohon yang berbuah. Demikian pula setelah Dia menyebutkan bahwa orang-orang kafir tidak mempunyai pelindung, maka Dia menyebutkan bahwa mereka (orang-orang kafir) diserahkan mengurus diri mereka sendiri, sehingga mereka tidak memiliki sifat yang baik dan sifat yang wajar yang seharusnya ada pada dirinya, bahkan keadaan mereka turun seperti halnya hewan ternak yang tidak punya akal dan tidak punya kelebihan, bahkan perhatian mereka dan tujuan mereka hanya ingin bersenang-senang dengan kesenangan dunia. Oleh karena itu, kita melihat aktifitas mereka baik luar maupun dalam (seperti memikirkan) hanya beredar seputar dunia, tidak lebih dari itu dan tidak menghendaki hal yang lebih baik dari itu. Maka tepatlah jika neraka tempat tinggal mereka –wal ‘iyaadz billah-, dimana mereka tidak akan dikeluarkan darinya dan tidak akan diringankan azabnya.

[2] Mereka tidak peduli terhadap akhirat, bahkan yang mereka pikirkan adalah memuaskan kebutuhan perut dan seksual mereka.

[3] Yakni betapa banyak negeri-negeri orang-orang yang mendustakan yang keadaannya lebih kuat daripada penduduk negerimu yang telah mengusirmu, baik dalam hal harta, anak, penguat, bangunan maupun peralatan.

[4] Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah membinasakan mereka ketika mereka mendustakan rasul-rasul-Nya, dimana semua nasehat tidak lagi bermanfaat bagi mereka, dan ketika itu todak ada yang menolong mereka, dan kekuatan mereka tidak berguna sama sekali bagi mereka ketika berhadapan dengan azab Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu bagaimana dengan mereka yang lemah itu, yakni penduduk negeri yang mengusir Beliau, mendustakan Beliau dan memusuhi Beliau padahal Beliau rasul yang paling utama dan manusia terbaik?

[5] Mereka ini adalah orang-orang mukmin.

[6] Mereka ini adalah orang-orang kafir. Maksudnya, tidak sama orang yang berada di atas ilmu tentang agamanya, dimana dia mengetahui yang hak dan mengikutinya, serta mengharap janji Allah bagi orang yang berada di atas yang hak, dengan orang yang buta hatinya, yang menolak kebenaran dan menghilangkannya serta mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah, disamping itu dia mengira bahwa apa yang dia pegang selama ini adalah kebenaran. Sungguh berbeda kedua golongan itu dan sungguh jauh perbandingannya!

[7] Yakni sifatnya.

[8] Yaitu mereka yang menghindari kemurkaan Allah dan mengikuti keridhaan-Nya.

[9] Yakni tidak berubah seperti halnya air di dunia yang berubah ketika ada sesuatu yang mengenainya. Bahkan airnya adalah air yang paling segar, paling jernih, paling wangi dan paling lezat rasanya.

[10] Menjadi asam atau rasa lainnya.

[11] Berbeda dengan khamr di dunia, tidak lezat rasanya ketika diminum dan memabukkan.

[12] Yang telah disaring.

[13] Seperti kurma, anggur, apel, delima, tin dan lainnya yang tidak ada bandingannya di dunia. Segala yang mereka senangi dan mereka inginkan, mereka dapatkan.

[14] Dengan ampunan itu semua yang dikhawatirkan hilang.

[15] Mahasuci Allah yang membedakan antara kedua tempat itu, demikian pula balasannya, orangnya dan amalnya.

[16] Yaitu pada saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berceramah. Mereka ini adalah orang-orang munafik. Mereka hanya sekedar mendengar, bukan untuk menerima dan mengikuti, bahkan hati mereka berpaling darinya.

[17] Meminta pemahaman terhadap apa yang mereka dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, padahal mereka tidak suka kepada ucapan Beliau.

[18] Sekiranya mereka menginginkan kebaikan, tentu mereka pasang telinganya dan ucapan Beliau yang begitu jelas masuk ke dalam hati mereka, dan anggota badan mereka tunduk kepadanya, akan tetapi mereka tidak demikian.

[19] Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mengunci hatinya dan menutup pintu-pintu kebaikan disebabkan mereka mengikuti hawa nafsunya dan tidak mereka inginkan selain kebatilan.

[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan keadaan orang-orang yang mendapat petunjuk.

[21] Dengan beriman, tunduk dan mengikuti keridhaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[22] Sebagai syukur-Nya kepada mereka atas hal itu.

[23] Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberi mereka taufiq kepada kebaikan dan menjaga mereka dari keburukan. Dia menyebutkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang mendapatkan petunjuk memperoleh dua balasan; ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh.

[24] Yaitu orang-orang yang mendustakan.

[25] Yang menunjukkan kedekatannya, seperti telah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, terbelahnya bulan, adanya dukhan (asap), dsb.

[26] Kesadaran ketika itu tidaklah berguna karena waktunya telah berlalu, mereka telah melalui waktu yang biasanya orang yang sadar jika melaluinya akan sadar, yaitu di dunia. Di samping itu, pemberi peringatan telah datang kepada mereka. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk mempersiapkan diri sebelum maut datang seara tiba-tiba, karena dengan tibanya kematian, maka tibalah kiamat untuk dirinya.

[27] Mengetahui mengharuskan untuk mengakui dengan hati dan mengenal makna (kandungan) yang dituntut untuk diketahui, dan menjadi sempurna adalah ketika mengerjakan konsekwensinya. Mengetahui keesaan Allah adalah fardhu ‘ain bagi setiap manusia. Di antara cara untuk mengetahui bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah adalah sebagai berikut:

1. Mentadabburi (memikirkan) nama-nama, sifat-sifat-Nya, dan perbuatan-Nya yang menunjukkan kesempurnaan-Nya, keagungan-Nya dan kebesaran-Nya. Hal itu menghendaki sseorang beribadah hanya kepada Allah Yang Mahasempurna, dimana semua pujian, kemuliaan, keagungan dan keindahan milik-Nya.

2. Mengetahui bahwa Dia yang sendiri menciptakan dan mengatur alam semesta, sehingga dari sini diketahui bahwa Dia yang satu-satunya berhak disembah.

3. Mengetahui bahwa Dia yang sendiri memberi nikmat baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik nikmat agama maupun nikmat dunia. Hal ini tentu akan membuat seseorang bergantung hati kepada-Nya dan mencintai-Nya serta beribadah kepada-Nya.

4. Kita telah melihat dan mendengar nikmat dan pertolongan yang Allah berikan kepada mereka yang mentauhidkan-Nya, serta hukuman-Nya kepada orang-orang yang menyekutukan-Nya.

5. Mengetahui sifat patung dan berhala yang disembah di samping Allah, ternyata ia penuh dengan kekurangan dari berbagai sisi, zatnya fakir, tidak berkuasa memberi manfaat terhadap dirinya dan para penyembahnya, tidak mampu menghidupkan dan mematikan serta tidak mampu menolong para penyembahnya. Hal ini pun sama menghasilkan pengetahuan bahwa tidak ada yang berhak disembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla.

6. Sepakatnya semua kitab samawi menyatakan, hanya Allah yang berhak disembah.

7. Manusia pilihan yang paling sempurna akal, akhlak, pandangan dan ilmunya, yaitu para nabi dan rasul serta para ulama bersaksi terhadap keesaan-Nya.

8. Dalil yang Allah tunjukkan di cakrawala dan pada diri manusia juga menunjukkan keesaan Allah.

9. Dll.

Demikian pula dengan mentadabburi Al Qur’an dan memperhatikan ayat-ayatnya membantu sekali seseorang mengetahui tauhid, bahkan ia merupakan pintu terbesar untuk mengetahuinya.

[28] Yakni tetaplah kamu di atas pengetahuan itu, yakni bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, karena hal itu akan bermanfaat pada hari Kiamat.

[29] Dikatakan demikian kepada Beliau, sedangkan Beliau seorang yang ma’shum adalah agar umat Beliau mengikuti Beliau, dan Beliau telah melakukan hal itu (beristighfar). Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku meminta ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.”

Firman-Nya,Mohonlah ampunan atas dosamu.” Menurut Syaikh As Sa’diy, “Mintalah ampunan kepada Allah untuk dosamu, yaitu dengan mengerjakan sebab-sebab yang mendatangkan ampunan, seperti tobat, berdoa meminta ampunan, mengerjakan kebaikan, meninggalkan dosa dan memaafkan kesalahan.

[30] Ini adalah pemuliaan Beliau kepada mereka. Hal itu karena dengan sebab keimanan mereka, maka mereka memiliki hak atas orang mukmin baik laki-laki maupun wanita, di antara hak mereka adalah didoakan dan dimintakan ampunan untuk dosa mereka. Dalam perintah memintakan ampunan untuk mereka yang isinya mengandung penyingkiran dosa dan hukuman terhadap mereka terdaoat perintah untuk memberikan sikap nush-h (tulus) kepada mereka dan mencintai kebaikan diperoleh mereka serta tidak suka keburukan diperoleh mereka, memerintahkan mereka kepada hal yang baik untuk mereka dan melarang sesuatu yang membahayakan mereka, memaafkan kesalahan mereka, mendorong mereka bersatu dan menyingkirkan segala dendam yang dapat menimbulkan permusuhan dan pertengkaran, dimana hal itu dapat menambah dosa dan maksiat mereka.

[31] Dia mengetahui semua keadaanmu, dan tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Oleh karena itu, berhati-hatilah jangan sampai mendurhakai-Nya. Ada pula yang mengartikan “tempat usahamu” yakni di dunia, dan “tempat tinggalmu” yakni di akhirat.

[32] Meminta perkara yang berat dengan terburu-buru.

[33] Yang dimaksud dengan surat di sini ialah surat yang berisi perintah untuk memerangi orang-orang kafir.

[34] Mereka ini adalah kaum munafik.

[35] Ayat ini seperti firman-Nya di ayat yang lain, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat! Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu takutnya. mereka berkata, "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada Kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun.” (Terj. An Nisaa’: 77)

[36] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyarankan sikap yang terbaik.

[37] Yakni yang patut bagi mereka adalah melaksanakan perintah pada saat itu dan mengerahkan kemampuan mereka untuknya serta tidak meminta disyariatkan hal yang masih berat bagi mereka dan agar mereka bergembira atas perlindungan Allah dan maaf-Nya.

[38] Dengan memohon pertolongan kepada-Nya dan mengerahkan kemampuan untuk menaati-Nya.

[39] Daripada keadaan mereka pertama tadi. Hal itu dikarenakan beberapa sebab, di antaranya:

- Seorang hamba adalah lemah dari berbagai sisi dan tidak mempunyai kemampuan kecuali orang yang dibantu Allah. Oleh karena itu, janganlah ia meminta lebih dari itu.

- Jika jiwa seseorang sudah terikat dengan masa mendatang, maka ia akan lemah beramal dengan amal hariannya dan amal untuk masa mendatang. Hal itu, karena perhatiannya pindah kepada yang lain, sedangkan amal tergantung pada perhatiannya, adapun masa mendatang, maka tidaklah datang kecuali setelah semangatnya menjadi lemah sehingga ia tidak terbantu.

- Seorang hamba yang mengharapkan sesuatu di masa mendatang dengan keadaannya yang malas pada waktu itu, maka mirip dengan orang yang bersumpah yang sudah menetapkan dengan kemampuannya terhadap perkara di masa mendatang sehingga berpeluang besar ia tidak dapat meraihnya dan tidak dapat melakukan hal yang telah ditekadkannya.

Oleh karena itu, hal yang patut dilakukan oleh seorang hamba adalah mengumpulkan cita-cita, pikiran dan semangatnya terhadap perkara pada saat itu dan mengerjakannya sesuai kesanggupan, lalu setiap kali datang waktu, ia menghadapinya dengan semangat dan cita-cita tinggi sambil meminta pertolongan kepada Tuhannya, maka orang ini layak memperoleh taufiq dalam semua urusannya.

[40] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan orang yang berpaling dari ketaatan Tuhannya, bahwa keadaannya bukan kepada kebaikan tetapi kepada keburukan.

[41] Yakni kembali mengerjakan perbuatan orang-orang jahiliyyah. Keadaannya ada dua macam; bisa tetap di atas ketaatan kepada Allah dan mengerjakan perintah-Nya sehingga ia memperoleh kebaikan, petunjuk dan keberuntungan, atau malah berpaling dari ketaatan kepada Allah sehingga yang terjadi adalah mengadakan kerusakan di bumi dengan mengerjakan maksiat serta memutuskan tali silaturrahim.

[42] Yakni dijauhkan dari rahmat-Nya dan didekatkan dengan kemurkaan-Nya.

[43] Dari mendengarkan yang hak.

[44] Dari melihat petunjuk. Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan mereka tidak dapat mendengar sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Mereka memang bisa mendengar, tetapi mendengarnya bukan untuk tunduk dan menerima, bahkan hanya menegakkan hujjah Allah atas mereka. Mereka punya mata, akan tetapi mereka tidak dapat melihat ibrah (pelajaran) dan ayat-ayat dengan matanya itu serta tidak melihat bukti dan keterangan.

[45] Yakni apakah mereka yang berpaling itu tidak mentadabburi Al Qur’an dan memperhatikannya dengan sebaik-baiknya, dimana jika mereka memperhatikannya sebaik-baiknya tentu ia (Al Qur’an) akan menunjukkkan mereka kepada semua kebaikan dan menjauhkan mereka dari keburukan serta memenuhi hati mereka dengan iman dan keyakinan, menyampaikan mereka kepada tuntutan yang tinggi, serta memberikan hadiah yang mahal, menerangkan kepada mereka jalan kepada Allah dan kepada surga-Nya. Demikian pula mengenalkan mereka kepada Tuhan mereka, nama-nama-Nya, sifat-Nya, dan ihsan-Nya serta akan membuat mereka rindu kepada pahala yang besar dan membuat mereka takut kepada azab yang buruk. Demikian pula dengan Al Qur’an, mereka dapat mengetahui yang hak (kebenaran).

[46] Oleh keburukan sehingga tidak bisa dimasuki kebaikan, dan tidak dapat memahaminya.

2 komentar: