Sabtu, 06 April 2013

Tafsir Ash Shaaffaat Ayat 158-182

Ayat 158-170: Pensucian Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari sifat-sifat yang diberikan kaum musyrik kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa Dia tidak mempunyai anak maupun istri.

وَجَعَلُوا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجِنَّةِ نَسَبًا وَلَقَدْ عَلِمَتِ الْجِنَّةُ إِنَّهُمْ لَمُحْضَرُونَ   (١٥٨) سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ (١٥٩) إِلا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ (١٦٠) فَإِنَّكُمْ وَمَا تَعْبُدُونَ (١٦١) مَا أَنْتُمْ عَلَيْهِ بِفَاتِنِينَ (١٦٢) إِلا مَنْ هُوَ صَالِ الْجَحِيمِ (١٦٣) وَمَا مِنَّا إِلا لَهُ مَقَامٌ مَعْلُومٌ (١٦٤)وَإِنَّا لَنَحْنُ الصَّافُّونَ (١٦٥) وَإِنَّا لَنَحْنُ الْمُسَبِّحُونَ (١٦٦) وَإِنْ كَانُوا لَيَقُولُونَ (١٦٧) لَوْ أَنَّ عِنْدَنَا ذِكْرًا مِنَ الأوَّلِينَ (١٦٨) لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ (١٦٩) فَكَفَرُوا بِهِ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (١٧٠)

Terjemah Surat Ash Shaaffaat Ayat 158-170

158. Dan mereka (kaum musyrik) mengadakan (hubungan) nasab (keluarga) antara Allah dan jin[1]. Dan sungguh, jin[2] telah mengetahui bahwa mereka pasti akan diseret (ke neraka ),

159. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan[3],

160. Kecuali hamba-hamba Allah[4] yang disucikan dari (dosa).

161. Maka sesungguhnya kamu dan apa yang kamu sembah itu,

162. tidak akan dapat menyesatkan (seseorang) terhadap Allah.

163. Kecuali orang-orang yang akan masuk ke neraka Jahim[5].

164. [6]Dan tidak satu pun di antara kami (malaikat) melainkan masing-masing mempunyai kedudukan tertentu[7],

165. dan sesungguhnya kami selalu teratur dalam barisan[8].

166. Dan sungguh, kami benar-benar terus bertasbih (kepada Allah)[9].

167. [10]Sesungguhnya mereka (orang kafir Mekah) benar-benar pernah berkata,

168. "Sekiranya di sisi kami ada sebuah kitab dari (kitab-kitab yang diturunkan) kepada orang-orang dahulu,  

169. tentu kami akan menjadi hamba Allah yang disucikan (dari dosa).”

170. Tetapi ternyata mereka mengingkarinya (Al Quran); maka kelak mereka akan mengetahui (akibat keingkarannya itu).

Ayat 171-182: Janji Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk memenangkan rasul-rasul-Nya dan para pengikut mereka, serta pensucian Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari segala yang tidak sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya.

 

وَلَقَدْ سَبَقَتْ كَلِمَتُنَا لِعِبَادِنَا الْمُرْسَلِينَ (١٧١) إِنَّهُمْ لَهُمُ الْمَنْصُورُونَ (١٧٢) وَإِنَّ جُنْدَنَا لَهُمُ الْغَالِبُونَ (١٧٣) فَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّى حِينٍ (١٧٤) وَأَبْصِرْهُمْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ (١٧٥) أَفَبِعَذَابِنَا يَسْتَعْجِلُونَ (١٧٦) فَإِذَا نَزَلَ بِسَاحَتِهِمْ فَسَاءَ صَبَاحُ الْمُنْذَرِينَ      (١٧٧) وَتَوَلَّ عَنْهُمْ حَتَّى حِينٍ (١٧٨) وَأَبْصِرْ فَسَوْفَ يُبْصِرُونَ    (١٧٩) سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (١٨٠) وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (١٨١) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٨٢)

Terjemah Surat Ash Shaaffaat Ayat 171-182

171. [11]Dan sungguh, janji Kami telah tetap kepada hamba-hamba Kami yang menjadi rasul,

172. (yaitu) mereka itu pasti akan mendapat pertolongan.

173. Dan sesungguhnya bala tentara Kami[12] itulah yang pasti menang[13],

174. [14]Maka berpalinglah engkau (Muhammad) dari mereka sampai waktu tertentu[15].

175. Dan perhatikanlah mereka[16], maka kelak mereka akan melihat (azab itu).

176. [17]Maka apakah mereka meminta agar azab Kami disegerakan?

177. Apabila siksaan itu turun di halaman mereka, maka sangat buruklah pagi hari bagi orang-orang yang diperingatkan itu[18].

178. [19]Dan berpalinglah engkau dari mereka sampai waktu tertentu.

179. [20]Dan perhatikanlah, maka kelak mereka akan melihat (azab itu).

180. [21]Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang Mahaperkasa[22] dari sifat yang mereka katakan.

181. Dan kesejahteraan bagi para rasul[23].

182. [24]Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam[25].


[1]Yakni kaum musyrik mengadakan (hubungan) nasab (keluarga) antara Allah dan jin, yaitu dalam sangkaan mereka bahwa malaikat adalah puteri-puteri Allah dan bahwa ibu mereka (para malaikat) adalah jin-jin mulia, padahal jin itu sendiri mengakui bahwa mereka akan dihadapkan kepada Allah untuk menerma balasan-Nya, mereka (jin-jin) itu adalah hamba-hamba yang hina. Jika memang mereka ada hubungan nasab dengan Allah, tentu mereka tidak seperti itu.

Di antara mufassir ada juga yang mengartikan jinnah di sini dengan malaikat. Kaum musyrik mengadakan hubungan nasab antara Allah dengan jinnah adalah ketika mereka mengatakan, bahwa malaikat adalah puteri-puteri Allah.

[2] Jika jinnah di ayat ini ditafsirkan dengan malaikat, maka berarti kata “mereka” pada lanjutan ayatnya kembali kepada orang-orang yang mengatakan bahwa malaikat adalah puteri-puteri Allah. Yakni mereka yang mengatakan demikian akan diseret ke neraka.

[3] Mereka menyifatkan bahwa Allah mempunyai anak, Mahasuci Allah dari penyifatan mereka itu.

[4] Ada yang mengatakan, bahwa yang dimaksud hamba Allah di sini ialah golongan jin yang beriman. Ada pula yang menafsirkan dengan manusia yang beriman. Yakni mereka menyucikan Alah dari sifat yang tidak layak bagi-Nya yang disifatkan oleh orang-orang musyrik.

[5] Dalam pengetahuan Allah. Maksud ayat ini adalah untuk menerangkan kelemahan mereka dan kelemahan sesembahan-sesembahan mereka dari menyesatkan seseorang serta menerangkan sempurnanya kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Oleh karena itu, jangan harap mereka dapat menyesatkan hamba-hamba Allah yang disucikan; yang menjadi golongan yang beruntung.

[6] Di sini Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebutkan perkataan malaikat Jibril ‘alaihis salam kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa para malaikat berlepas diri dari apa yang dikatakan kaum musyrik tentang mereka, dan bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah, tidak pernah bermaksiat meskipun sekejap mata.

[7] Yakni masing-masing mereka mempunyai kedudukan dan tugas yang diperintahkan Alllah, di mana ia tidak melampaui kedudukan dan tugas itu, dan mereka tidak memiliki kekuasaan apa-apa.

[8] Yakni dalam shalat atau dalam menaati Allah serta berkhidmat kepada-Nya.

[9] Maksudnya, menyucikan-Nya dari segala sifat yang tidak layak bagi-Nya. Oleh karena itu, bagaimana mereka pantas menjadi sekutu bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[10] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan, bahwa kaum musyrik menampakkan angan-angannya dan berkata, “Kalau datang kitab kepada kami sebagaimana yang datang kepada orang-orang terdahulu, tentu kami akan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah saja.” Mereka dusta dalam ucapannya ini, bukankah telah datang kepada mereka kitab yang paling utama (Al Qur’an), namun ternyata mereka mengingkarinya, maka dari sini dapat diketahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membangkang terhadap kebenaran.

[11] Demikian pula, janganlah orang-orang kafir mengira bahwa mereka yang akan menang di dunia, bahkan Allah telah menetapkan, bahwa kemenangan itu akan diraih oleh hamba-hamba-Nya yang beriman, yang terdiri dari para rasul dan pengikut-pengikutnya. Mereka nanti akan dapat menegakkan agamanya. Ayat ini merupakan kabar gembira bagi mereka yang menjadi tentara Allah yang keadaannya lurus di atas syariat-Nya dan berperang di jalan-Nya, bahwa nanti mereka akan menang.

[12] Yang dimaksud dengan tentara Kami disini ialah Rasul beserta pengikut-pengikutnya.

[13] Baik dalam hujjah dan akhir peperangan yang mereka alami.

[14] Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam berpaling dari orang yang tetap membangkang dan tidak menerima kebenaran, dan bahwa tidak ada lagi selain menunggu azab yang akan menimpa mereka.

[15] Maksudnya, sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mempunyai kekuatan, dan diperintahkan memerangi mereka.

[16] Yaitu ketika azab turun kepada mereka.

[17] Mereka (orang-orang musyrik) bertanya sambil mengolok-olok tentang kapan turunnya azab, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman mengancam mereka.

[18] Karena pagi itu adalah pagi keburukan bagi mereka, pagi hukuman dan pagi pembinasaan.

[19] Selanjutnya Allah memerintahkan berpaling dari mereka dan mengancam mereka dengan datangnya azab.

[20] Diulanginya kalimat ini untuk menguatkan ancaman kepada mereka dan untuk menghibur Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

[21] Oleh karena dalam surat ini disebutkan ucapan keji orang-orang musyrik, di mana mereka sifatkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kesucian Diri-Nya dari sifat-sifat yang mereka sifatkan itu.

[22] Dengan keperkasaan-Nya Dia menundukkan segala sesuatu dan jauh dari sifat yang buruk.

[23] Yang telah menyampaikan tauhid dan syariat. Kesejahteraan untuk mereka karena mereka selamat dari dosa dan musibah, serta selamatnya mereka dalam menyifatkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala Pencipta langit dan bumi.

[24] Alif lam dalam kata “Al hamdu" adalah untuk menunjukkan istighraq (menyeluruh). Oleh karena itu diartikan “segala puji” yang demikian karena sifat-Nya yang sempurna dan agung, perbuatan-Nya mengatur alam semesta, dan pelimpahan-Nya nikmat kepada mereka serta menghindarkan mereka dari bencana. Dia Mahasuci dari kekurangan, Maha Terpuji dalam setiap keadaan, yang berhak dicintai dan diagungkan, dan para rasul-Nya adalah orang-orang yang sejahtera dan mendapatkan salam/kesejahteraan, dan orang-orang yang mengikuti mereka akan memperoleh kesejahteraan pula di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, bagi mereka yang memusuhinya akan memperoleh kebinasaan dan kehancuran di dunia dan di akhirat.

[25] Atas kemenangan mereka (para rasul dan pengikutnya) dan binasanya orang-orang kafir.

Selesai tafsir surat Ash Shaaffat dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wa shallallahu ‘alaa Muhammad wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar