Selasa, 02 April 2013

Tafsir Al Qalam Ayat 1-16

Surah Al Qalam (Pena)

Surah ke-68. 52 ayat. Makkiyyah

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-7: Sumpah Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap ketinggian pribadi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan bersihnya Beliau dari tuduhan yang dikatakan orang-orang musyrik kepada Beliau.

  ن وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ (١) مَا أَنْتَ بِنِعْمَةِ رَبِّكَ بِمَجْنُونٍ (٢) وَإِنَّ لَكَ لأجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ (٣) وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ (٤)فَسَتُبْصِرُ وَيُبْصِرُونَ (٥) بِأَيِّكُمُ الْمَفْتُونُ (٦) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ (٧)

Terjemah Surat Al Qalam Ayat 1-7

1. Nun. Demi pena[1] dan apa yang mereka tuliskan[2],

2. dengan karunia Tuhanmu engkau (Muhammad) bukanlah orang gila[3].

3. Dan sesungguhnya engkau pasti mendapat pahala yang besar yang tidak putus-putusnya.

4. Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur[4].

5. [5]Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,

6. Siapa di antara kamu yang gila[6]?

7. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan Dia-lah yang paling mengetahui siapa orang yang mendapat petunjuk[7].

Ayat 8-16: Sikap kaum musyrik terhadap dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, azab yang disiapkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala untuk mereka, dan larangan menaati usulan mereka.

فَلا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ (٨) وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ (٩) وَلا تُطِعْ كُلَّ حَلافٍ مَهِينٍ (١٠) هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ (١١) مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (١٢) عُتُلٍّ بَعْدَ ذَلِكَ زَنِيمٍ (١٣) أَنْ كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ (١٤)إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٥) سَنَسِمُهُ عَلَى الْخُرْطُومِ (١٦)

Terjemah Surat Al Qalam Ayat 8-16

8. Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah)[8].

9. Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak[9] lalu mereka bersikap lunak (pula)[10].

10. Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah[11] dan suka menghina[12],

11. suka mencela[13], yang kian ke mari menghambur fitnah[14],

12. Yang merintangi segala yang baik[15], yang melampaui batas[16] dan banyak dosa,

13. yang bertabiat kasar[17], selain itu juga terkenal kejahatannya[18],

14. karena dia kaya dan banyak anak[19].

15. Apabila ayat-ayat Kami dibacakan kepadanya, dia berkata, "(Ini adalah) dongeng-dongeng orang dahulu."

16. [20]Kelak dia akan Kami beri tanda pada belalai(nya)[21].


[1] Yakni alat yang digunakan untuk mencatat di Lauh Mahfuzh segala sesuatu yang terjadi sampai hari Kiamat. Ada pula yang menafsirkan qalam (pena) di sini dengan semua pena yang digunakan untuk mencatat ilmu.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan pena dan apa yang mereka tulis karena hal itu termasuk tanda-tanda kekuasaan Allah yang besar yang berhak Allah bersumpah dengannya untuk menunjukkan kebersihan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dari tuduhan yang dilemparkan oleh musuh-musuh Beliau seperti tuduhan gila. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menafikan sifat gila dari Beliau karena nikmat Allah dan ihsan-Nya, yaitu dikaruniakan kepadanya akal yang sempurna, pandangan yang bagus dan kata-kata yang tepat yang paling baik untuk ditulis. Hal ini merupakan kebahagiaan untuk Beliau di dunia, selanjutnya kebahagiaan untuk Beliau di akhirat sebagaimana diterangkan di ayat selanjutnya adalah bahwa untuk Beliau pahala yang besar yang tidak akan putus, karena amal Beliau yang saleh dan akhlaknya yang sempurna. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.

[2] Baik natsr (tulisan bebas) maupun nazhm (tulisan bersusun seperti syair).

[3] Ayat ini merupakan bantahan terhadap ucapan orang-orang kafir bahwa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang gila.

[4] Kesimpulan akhlak Beliau adalah seperti yang dikatakan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, “Kaana khuluquhul Qur’aan,” (artinya: Akhlak Beliau adalah Al Qur’an). Beliau melakukan apa yang disebutkan dalam Al Qur’an seperti pada ayat-ayat berikut:

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (Terj. Al A’raaf: 199)

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Terj. Ali Imran: 159)

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Terj. At Taubah: 128)

dan ayat-ayat lainnya yang menyebutkan sifat-sifat Beliau yang mulia serta ayat-ayat lainnya yang mendorong untuk berakhlak mulia. Oleh karena itu, Beliau memiliki akhlak yang paling sempurna dan paling agung, dimana tidak ada satu pun akhlak mulia kecuali Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menduduki peringkat tertinggi. Oleh karena itu, Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam orangnya mudah, dekat dengan manusia, memenuhi undangan orang yang mengundangnya, memenuhi kebutuhan orang yang butuh, memberi orang yang meminta-minta dan tidak mengecewakannya. Apabila para sahabatnya menginginkan suatu perkara dari Beliau, maka Beliau menyetujui mereka serta mengikuti mereka jika tidak ada larangannya, dan jika ingin melakukan suatu langkah, maka Beliau mengajak para sahabatnya bermusyawarah terhadapnya. Beliau menerima orang yang berbuat ihsan dan memaafkan orang yang bersalah dan tidaklah ada orang yang duduk dengan Beliau kecuali Beliau bersikap dengan sikap yang sebaik-baiknya untuk Beliau. Oleh karena itu, Beliau tidak bermuka masam, tidak keras ucapannya, tidak menyembunyikan kegembiraannya, menjaga lisannya dari ucapan yang tidak berguna, tidak membalas orang yang bertindak kasar terhadap diri Beliau, Beliau tidak marah jika diri Beliau disakiti, tetapi marah jika syariat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dilanggar.

[5] Karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menempatkan Beliau pada posisi yang paling tinggi, sedangkan musuh-musuhnya menuduh Beliau sebagai orang yang gila, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, Maka kelak engkau akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat,-- Siapa di antara kamu yang gila?”

[6] Kamu ataukah mereka? Sungguh jelas, bahwa Beliau adalah manusia yang paling mendapatkan petunjuk, paling menyempurnakan diri dan orang lain, sedangkan musuh-musuh Beliau adalah manusia paling tersesat dan paling buruk, mereka telah menggelincirkan hamba-hamba Allah dan menyesatkan mereka dari jalan-Nya. Cukuplah pengetahuan Allah terhadapnya; Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapatkan petunjuk, dan Dialah yang akan menghisab mereka dan memberi balasan.

[7] Dalam ayat ini terdapat ancaman bagi orang-orang yang sesat, janji kebaikan untuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk, menjelaskan kebijaksanaan Allah, dimana Dia memberi petunjuk orang yang layak memperoleh hidayah tidak selainnya.

[8] Hal itu, karena mereka tidak layak diikuti, karena mereka tidaklah menyuruh kecuali yang sesuai hawa nafsu mereka, dan mereka tidak menginginkan selain kebatilan. Oleh karena itu, menaati mereka sama saja mempersiapkan dirinya kepada sesuatu yang membahayakannya, dan hal ini umum kepada setiap orang yang mendustakan dan pada setiap ketaatan yang timbul dari mendustakan, meskipun susunan ayatnya untuk sesuatu yang khusus, yaitu kaum musyrikin meminta kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk diam tidak mencela sesembahan dan agama mereka sehingga mereka pun akan diam terhadap Beliau. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula).”

[9] Yakni sepakat dengan yang mereka pegang, baik dengan ucapan, perbuatan maupun dengan mendiamkan, sehingga mereka akan bersikap lunak terhadap Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam.

[10] Akan tetapi Beliau diperintahkan untuk menerangkan perintah Allah dan menerangkan agama-Nya.

[11] Karena tidak ada orang yang seperti itu kecuali ia sebagai pendusta, dan tidak ada yang seperti itu kecuali orang yang keadaannya hina.

[12] Mahiin bisa juga diartikan ‘hina’, yakni dirinya hina, tidak ada kemauan kepada kebaikan, bahkan keinginannya hanya tertuju kepada hawa nafsunya yang hina.

[13] Yakni banyak mencela manusia baik dengan menggunjing, menghina maupun dengan lainnya.

[14] Yakni mengadu domba.

[15] Yakni bakhil terhadap hartanya tidak mau menunaikan hak yang seharusnya ditunaikan seperti nafkah yang wajib, kaffarat, zakat, dsb.

[16] Terhadap manusia dengan menzalimi harta, darah dan kehormatan mereka.

[17] Yakni kasar, keras, berakhlak buruk dan tidak mau tunduk kepada kebenaran.

[18] Yakni diragukan keturunannya, tidak ada asalnya yang menghasilkan kebaikan, bahkan akhlaknya adalah seburuk-buruk akhlak, tidak diharapkan kebaikannya, bahkan terkenal kejahatannya.

Kesimpulan ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala melarang menaati setiap orang yang banyak bersumpah lagi pendusta, hina dirinya dan buruk akhlaknya, khususnya akhlak yang mengandung ujub terhadap diri, sombong terhadap kebenaran, merendahkan manusia seperti ghibah dan namimah (adu domba), mencela manusia dan banyak melakukan maksiat. Ayat-ayat di atas meskipun turun berkenaan dengan sebagian kaum musyrikin seperti Walid bin Mughirah atau selainnya namun umum kepada setiap orang yang memiliki sifat ini, karena Al Qur’an turun untuk memberi hidayah kepada manusia, baik untuk generasi pertama mereka maupun generasi yang datang kemudian, bahkan terkadang turun sebagian ayat karena satu sebab atau pada orang tertentu agar jelas kaidah keumumannya dan dapat diketahui permisalan juz’iyyah(satuan)nya bahwa ia masuk ke dalam kaidah umum.

[19] Orang yang mempunyai banyak anak dan harta lebih mudah mendapat pengikut. Tetapi jika dia mempunyai sifat-sifat seperti tersebut pada ayat 10-13, maka tidak patut diikuti.

[20] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam orang yang seperti itu sifatnya, bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan menandai hidungnya untuk diazab dengan azab yang tampak jelas.

[21] Yang dimaksud dengan ‘belalai’ di sini ialah hidung. Dipakai kata belalai di sini sebagai penghinaan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar