Kamis, 04 April 2013

Tafsir Al Mumtahanah Ayat 1-6

Surah Al Mumtahanah (Wanita Yang Diuji)

Surah ke-60. 13 ayat. Madaniyyah

  بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-3: Peringatan agar tidak berwala’ (memberikan kecintaan dan kesetiaan) kepada musuh-musuh Allah yang menyakiti kaum mukmin sehingga mereka terpaksa harus berhijrah dan meningalkan tanah airnya.

  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُمْ مِنَ الْحَقِّ يُخْرِجُونَ الرَّسُولَ وَإِيَّاكُمْ أَنْ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ رَبِّكُمْ إِنْ كُنْتُمْ خَرَجْتُمْ جِهَادًا فِي سَبِيلِي وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِي تُسِرُّونَ إِلَيْهِمْ بِالْمَوَدَّةِ وَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا أَخْفَيْتُمْ وَمَا أَعْلَنْتُمْ وَمَنْ يَفْعَلْهُ مِنْكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ (١) إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ (٢) لَنْ تَنْفَعَكُمْ أَرْحَامُكُمْ وَلا أَوْلادُكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَفْصِلُ بَيْنَكُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ (٣)

Terjemah Surat Al Mumtahanah Ayat 1-3

1. [1] [2]Wahai orang-orang yang beriman![3] Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku dan musuhmu[4] sebagai teman-teman setia sehingga kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang[5]; [6]padahal mereka telah ingkar kepada kebenaran yang disampaikan kepadamu[7]. Mereka mengusir Rasul dan kamu sendiri[8] karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad pada jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (maka janganlah kamu berbuat demikian)[9]. Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang, dan Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan[10]. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya[11], maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus[12].

2. [13]Jika mereka menangkapmu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu lalu melepaskan tangan[14] dan lidahnya kepadamu[15] untuk menyakiti dan mereka ingin agar kamu (kembali) kafir[16].

3. Kaum kerabatmu dan anak-anakmu[17] tidak akan bermanfaat bagimu pada hari Kiamat[18]. Dia akan memisahkan antara kamu[19]. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan[20].

Ayat 4-6: Teladan dari Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dimana Beliau berlepas diri dari kaumnya ketika mereka tetap berbuat syirk.

  قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لأبِيهِ لأسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (٤) رَبَّنَا لا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٥) لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الآخِرَ وَمَنْ يَتَوَلَّ فَإِنَّ اللَّهَ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ (٦)

Terjemah Surat Al Mumtahanah Ayat 4-6

4. Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim[21] dan orang-orang yang bersama dengannya[22], ketika mereka berkata kepada kaumnya, "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, [23]kami mengingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan[24] dan kebencian[25] buat selama-lamanya[26] sampai kamu beriman kepada Allah saja[27],” kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya[28], "Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.” (Ibrahim berkata), "Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakkal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali."

5. "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir[29]. Dan ampunilah kami[30], Ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Mahaperkasa[31] lagi Mahabijaksana[32].”

6. [33]Sungguh, pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) hari kemudian[34], dan barang siapa berpaling[35], maka sesungguhnya Allah, Dialah Yang Mahakaya[36] lagi Maha Terpuji[37].


[1] Hakim di juz 2 hal. 485 berkata: telah mengabarkan kepadaku Abdurrahman bin Al Hasan Qaadhi (hakim) di Hamdzaan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Husain, telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas, telah menceritakan kepada kami Warqa’ dari Ibnu Abi Najih dari Mujahid dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan musuh-Ku…sampai firman-Nya, “Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (ayat ke-3 surah ini).” Bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan pengiriman surat dari Hathib bin Abi Balta’ah dan orang yang bersamanya kepada orang-orang kafir Quraisy untuk memperingatkan mereka. Firman-Nya, “Kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya…(ayat ke-4).” Bahwa mereka (kaum muslimin) dilarang mengikuti permohonan ampun Nabi Ibrahim untuk ayahnya sehingga mereka (kaum muslimin ikut-ikutan) memohonkan ampunan untuk kaum musyrikin. Firman-Nya, “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir.” Maksudnya, janganlah Engkau mengazab kami melalui tangan mereka dan jangan pula langsung mendapat azab dari sisi-Mu, sehingga mereka (musuh) berkata, “Kalau sekiranya mereka berada di atas kebenaran, tentu azab tidak akan menimpa mereka.” (Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkan.” Hadits ini didiamkan oleh Adz Dzahabi. Syaikh Muqbil menjelaskan, bahwa Adam bin Abi Iyas bukan termasuk para perawi Muslim, sehingga hadits tersebut menurut syarat Bukhari. Beliau (Syaikh Muqbil) berkata, “Saya berpaling dari hadits Ali yang ada di Bukhari dan Muslim, karena Al Haafizh dalam Al Fat-h juz 10 hal. 260 berkata, “Susunan (hadits tersebut) menjelaskan bahwa tambahan ini (dalam hadits Ali) adalah mudraj (diselipkan oleh seorang rawi), Muslim juga meriwayatkan dari Ishaq bin Rahawaih dari Sufyan, dan ia menerangkan bahwa pembacaan ayat adalah dari ucapan Sufyan.” Dari sini diketahui, bahwa kisah tersebut ada dalam Shahih Bukhari dan Muslim, akan tetapi turunnya ayat dan disebutkannya ayat itu adalah terputus karena Sufyan termasuk atbaa’uttaabi’in. Demikian pula ayat, “Laa yanhaakumullah…dst (ayat ke-8).” Disebutkan turunnya ayat dari jalan Sufyan, maka itu juga termasuk ucapannya sebagaimana dalam Bukhari juz 13 hal. 17, demikian pula dalam Al Adabul Mufrad hal. 23, dan ada riwayat lagi dari jalan lain di sisi Thayalisi, Abu Ya’la, Ibnu Jarir dan yang lain, namun di sana terdapat Mush’ab bin Tsabit, ia juga dha’if sebagaimana dalam Al Miizan, oleh karenanya tidak saya (Syaikh Muqbil) tulis.” Kemudian di catatan kaki kitab Ash Shahiihul Musnad Syaikh Muqbil berkata, “Kemudian tampak bagiku kedha’ifan hadits tersebut (hadits Hakim di atas) karena Abdurrahman bin Al Hasan (hanya) mengaku mendengar dari Ibrahim bin Al Husain, yaitu Ibnu Daiziil, demikian pula Ibnu Najih tidak mendengar tafsir dari Mujahid.”)

[2] Banyak para mufassir rahimahumullah menerangkan, bahwa beberapa ayat yang mulia ini turun berkenaan dengan kisah Hathib bin Abi Balta’ah, yaitu ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam hendak menaklukkan Mekah dan merahasiakan perkara itu, maka Hathib menulis surat tentang maksud Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut kepada orang-orang kafir Mekah bukan karena ia sebagai munafik, tetapi karena ia memiliki anak dan keluarga yang masih musyrik di sana, maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengambil surat itu dari wanita yang menerima surat dari Hathib karena pemberitahuan Allah kepada Beliau, kemudian Beliau mencela Hathib, maka Hathib menyebutkan alasannya, lalu diterima alasannya itu.

Di dalam ayat ini terdapat larangan berwala’ (memberikan cinta-kasih) kepada orang-orang kafir, dan bahwa yang demikian bertentangan dengan keimanan, menyelisihi ajaran Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan bertentangan dengan akal sehat yang mengharuskan untuk bersikap hati-hati terhadap musuh.

[3] Yakni kerjakanlah konsekwensi imanmu berupa memberikan wala’ kepada orang-orang yang beriman dan memusuhi orang-orang yang menolak beriman, karena sesungguhnya ia musuh Allah dan musuh kaum mukmin.

[4] Yaitu orang-orang kafir Mekah.

[5] Hal itu, karena kasih sayang apabila terjadi, maka akan diiringi dengan sikap menolong dan membela.

[6] Bagaimana seseorang mengambil orang-orang kafir yang menjadi musuhnya sebagai teman setianya, padahal mereka tidak menginginkan untuknya selain keburukan dan ia tinggalkan Tuhannya yang menginginkan kebaikan untuk dirinya. Di samping itu, orang-orang kafir telah ingkar kepada kebenaran yang dibawa kaum mukmin, bahkan mereka juga telah mengusir rasul dan kaum mukmin dari kampung halaman mereka tanpa kesalahan apa pun selain karena mereka beriman kepada Allah Tuhan mereka yang semua makhluk wajib beribadah kepada-Nya karena Dia telah mengurus mereka dan melimpahkan kepada mereka nikmat-nikmat yang tampak maupun yang tersembunyi.

[7] Yaitu agama Islam dan Al Qur’an.

[8] Dari Mekah.

[9] Yakni jika keluarmu dengan maksud berjihad di jalan Allah untuk meninggikan kalimat Allah dan mencari keridhaan-Nya, maka kerjakanlah konsekwensinya yaitu berwala’ kepada wali-wali Allah dan memusuhi musuh-musuh-Nya; yang demikian merupakan jihad fii sabilillah dan ia termasuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhaan-Nya.

[10] Yakni bagaimana kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam) kepada orang-orang kafir, karena rasa kasih sayang kepada mereka padahal kamu mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Perkara itu, meskipun tersembunyi bagi kaum mukmin, namun tidaklah tersembunyi bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan Dia akan memberikan balasan kepada hamba-hamba-Nya sesuai yang Dia ketahui dari mereka, baik atau buruk.

[11] Yani memberikan wala’ kepada orang-orang kafir setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperingatkannya.

[12] Hal itu, karena dia telah menempuh jalan yang menyelisihi syara’, akal dan jalan manusia sejati.

[13] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan betapa besarnya permusuhan mereka untuk mendorong kaum mukmin memusuhi mereka.

[14] Dengan memukulmu atau membunuhmu atau melakukan perbuatan lainnya untuk menyakitimu.

[15] Dengan mencaci-makimu.

[16] Inilah maksud utama mereka.

[17] Yang masih musyrik.

[18] Untuk menolak azab-Nya pada hari Kiamat.

[19] Dengan mereka.

[20] Oleh karena itu, Dia memperingatkan kamu untuk tidak berwala’ kepada orang-orang kafir, dimana berwala’ kepada mereka dapat memberikan madharrat (kerugian) kepadamu.

[21] Baik ucapannya maupun perbuatannya.

[22] Dari kalangan kaum mukmin.

[23] Selanjutnya mereka memperlihatkan permusuhan dengan jelas.

[24] Dengan badan.

[25] Dengan hati.

[26] Selama kamu berada di atas kekafiran.

[27] Yakni jika kamu beriman kepada Allah saja, maka hilanglah permusuhan dan kebencian itu dan berubah menjadi persaudaraan dan saling mencintai.

Kalian wahai kaum mukmin dapat mengambil suri teladan yang baik dari Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dalam hal menegakkan keimanan dan tauhid, menegakkan bagian keimanan dan konsekwensinya.

[28] Yaitu Aazar ketika ia diajak Nabi Ibrahim ‘alaihis salam beriman dan mentauhidkan Allah, namun ia menolak, maka Nabi Ibrahim memintakan ampunan untuk ayahnya yang musyrik itu. Hal ini tidak boleh ditiru, karena Allah tidak membenarkan orang mukmin memintakan ampunan untuk orang-orang kafir (Lihat surah At Taubah ayat 113-114).

[29] Yakni, jangan Engkau memenangkan mereka di atas kami, sehingga mereka menyangka bahwa mereka berada di atas kebenaran. Atau maksudnya, janganlah Engkau memberikan kekuasaan kepada mereka terhadap kami karena dosa-dosa kami sehingga mereka menindas kami dan menghalangi kami melakukan hal yang menjadi bagian dari keimanan, dan mereka juga tertipu oleh diri mereka, karena ketika mereka melihat bahwa mereka memperoleh kemenangan, maka mereka mengira bahwa mereka berada di atas kebenaran dan kami berada di atas kebatilan sehingga mereka bertambah kafir dan melampaui batas.

[30] Terhadap dosa dan maksiat yang kami kerjakan dan sikap kurangnya kami dalam menjalankan perintah-Mu.

[31] Yang menundukkan segala sesuatu.

[32] Yang meletakkan sesuatu pada tempatnya. Maka dengan keperkasaan-Mu dan kebijaksanaan-Mu ya Allah tolonglah kami dalam melawan musuh-musuh kami, ampunilah dosa-dosa kami dan perbaikilah aib kami.

[33] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengulangi lagi dorongan-Nya untuk mengikuti Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya dari kalangan kaum mukmin.

[34] Orang inilah yang mudah beruswah (mengambil teladan) kepada mereka (Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan orang-orang yang bersamanya). Karena beriman kepada Allah dan mengharapkan pahala-Nya serta takut terhadap siksaan pada hari Kiamat akan membuat seorang hamba mudah melakukan sesuatu yang susah, membuat sedikit sesuatu yang banyak serta membuatnya banyak mengikuti hamba-hamba Allah yang saleh, yaitu para nabi dan para rasul.

[35] Dari taat kepada Allah dan beruswah kepada para rasul Allah, maka ia tidaklah memadharratkan (merugikan) siapa-siapa selain kepada dirinya sendiri, dan Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah terkena madharrat sedikit pun.

[36] Dia Mahakaya dari segala sisi sehingga Dia tidak butuh kepada seorang pun dari makhluk-Nya dari segala sisi.

[37] Baik pada Dzat-Nya, nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Dia terpuji dalam semua itu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar