Minggu, 07 April 2013

Tafsir Al Mu’min Ayat 13-22

Ayat 13-20: Penampakkan nikmat-nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada hamba-hamba-Nya dan keadaan pada hari Kiamat.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ اللَّهِ أَكْبَرُ مِنْ مَقْتِكُمْ أَنْفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى الإيمَانِ فَتَكْفُرُونَ (١٠) قَالُوا رَبَّنَا أَمَتَّنَا اثْنَتَيْنِ وَأَحْيَيْتَنَا اثْنَتَيْنِ فَاعْتَرَفْنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلْ إِلَى خُرُوجٍ مِنْ سَبِيلٍ (١١) ذَلِكُمْ بِأَنَّهُ إِذَا دُعِيَ اللَّهُ وَحْدَهُ كَفَرْتُمْ وَإِنْ يُشْرَكْ بِهِ تُؤْمِنُوا فَالْحُكْمُ لِلَّهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيرِ (١٢) هُوَ الَّذِي يُرِيكُمْ آيَاتِهِ وَيُنَزِّلُ لَكُمْ مِنَ السَّمَاءِ رِزْقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلا مَنْ يُنِيبُ (١٣) فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (١٤) رَفِيعُ الدَّرَجَاتِ ذُو الْعَرْشِ يُلْقِي الرُّوحَ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلاقِ (١٥) يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ (١٦) الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٧) وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلا شَفِيعٍ يُطَاعُ (١٨)يَعْلَمُ خَائِنَةَ الأعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ (١٩) وَاللَّهُ يَقْضِي بِالْحَقِّ وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لا يَقْضُونَ بِشَيْءٍ إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ (٢٠)

 Terjemah Surat Al Mu’min Ayat 13-20

13. [1]Dialah yang memperlihatkan tanda-tanda (kekuasaan)-Nya[2] kepadamu [3]dan menurunkan rezeki dari langit untukmu. Dan tidak lain yang mendapatkan pelajaran[4] hanyalah orang-orang yang kembali (kepada Allah)[5].

14. [6]Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya[7], meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya)[8].

15. [9](Dialah) Yang Mahatinggi derajat-Nya[10], yang memiliki 'Arsy[11], yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya[12] kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya[13], agar memperingatkan (manusia)[14] tentang hari pertemuan (hari kiamat)[15].

16. (yaitu) pada hari (ketika) mereka keluar (dari kubur)[16]; tidak sesuatu pun keadaan mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Lalu Allah berfirman), "Milik siapakah kerajaan pada hari ini?[17]" Milik Allah Yang Maha Esa[18] lagi Maha Mengalahkan[19].

17. Pada hari ini setiap jiwa diberi balasan sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya[20]. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini[21]. Sungguh, Allah sangat cepat hisab-Nya[22].

18. [23]Dan berilah mereka peringatan akan hari yang semakin dekat (hari Kiamat, yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan[24] karena menahan kesedihan[25]. Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang yang zalim dan tidak ada baginya seorang penolong yang diterima (pertolongannya)[26].

19. Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat[27] dan apa yang tersembunyi dalam dada[28].

20. Dan Allah memutuskan dengan kebenaran[29]. Sedang mereka yang disembah selain-Nya[30] tidak mampu memutuskan dengan sesuatu apa pun[31]. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Mendengar[32] lagi Maha Melihat[33].

Ayat 21-22: Anjuran mengadakan perjalanan di muka bumi untuk mengambil pelajaran dari kisah umat-umat terdahulu yang dibinasakan.

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ كَانُوا مِنْ قَبْلِهِمْ كَانُوا هُمْ أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَآثَارًا فِي الأرْضِ فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (٢١) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانَتْ تَأْتِيهِمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَكَفَرُوا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ (٢٢)

  Terjemah Surat Al Mu’min Ayat 21-22

21. Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di bumi[34], lalu memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka[35]? Orang-orang itu lebih hebat kekuatannya daripada mereka dan (lebih banyak) peningalan-peninggalan(peradaban)nya di bumi[36], tetapi Allah mengazab mereka karena dosa-dosanya[37]. Dan tidak akan ada sesuatu pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.

22. Yang demiklan itu adalah karena sesungguhnya rasul-rasul telah datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata[38] lalu mereka ingkar; maka Allah mengazab mereka. Sungguh, Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya[39].


[1] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan nikmat-nikmat-Nya yang besar kepada hamba-hamba-Nya dengan menerangkan yang hak dari yang batil, memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya ayat-ayat-Nya yang ada dalam diri mereka, dan yang tampak di penjuru langit serta yang ada dalam Al Qur’an; yang menunjukkan kepada setiap tuntutan yang diinginkan dan yang menerangkan petunjuk dari kesesatan, dimana tidak ada lagi sedikit pun keraguan bagi orang yang memperhatikannya dan menelitinya untuk mengetahui semua hakikat. Ini termasuk nikmat terbesar yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya, dimana Dia tidak menyisakan sedikit pun syubhat terhadap yang hak dan tidak menyisakan kesamaran pun terhadap kebenaran. Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menunjukkan dengan cara yang beraneka ragam (tidak satu macam) dan memperjelas ayat agar binasa orang yang binasa di atas bukti dan agar hidup orang yang hidup di atas bukti.

Jika masalahnya lebih agung dan lebih besar, maka dalil terhadapnya lebih banyak dan lebih mudah lagi. Perhatikanlah kepada tauhid, karena masalahnya sangat besar sekali bahkan paling besar, maka banyak sekali dalil-dalilnya baik secara ‘aqli (akal) maupun naqli dan ditunjukkan dengan cara yang beraneka ragam, dan Allah membuatkan perumpamaan untuknya serta memperbanyak pengambilan dalil darinya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala sebutkan ayat-ayat yang menunjukkan kepada tauhid dan mengingatkan sebagian besar dalilnya, selanjutnya Dia berfirman, “Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

[2] Yang menunjukkan keesaan-Nya.

[3] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan bahwa Dia memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya ayat-ayat-Nya, maka Dia mengingatkan pula ayat yang besar, yaitu firman-Nya, “dan menurunkan rezeki dari langit untukmu.” Rezeki dari langit di sini adalah hujan, dimana dengannya manusia memperoleh rezeki dan dapat hidup, baik mereka maupun hewan ternak mereka. Hal ini menunjukkan bahwa semua nikmat berasal dari-Nya. Dari-Nya nikmat-nikmat agama, yaitu berbagai masalah agama dan dalil-dalilnya dan sesuatu yang mengikutinya berupa pengamalannya. Demikian pula dari-Nya nikmat-nikmat dunia, seperti nikmat yang muncul dari hujan yang diturunkan-Nya, dimana dengannya tanah maupun hamba menjadi hidup. Hal ini menunjukkan secara qath’i (pasti) bahwa Allah yang berhak disembah dan yang harus diberikan keikhlasan dalam beragama sebagaimana Dia saja yang mengaruniakan nikmat.

[4] Dari ayat-ayat tersebut ketika diingatkan.

[5] Yaitu dengan mencintai-Nya, takut kepada-Nya, menaati-Nya dan bertadharru’ (merendahkan diri) kepada-Nya. Orang inilah yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat tersebut dan ayat-ayat tersebut menjadi rahmat baginya serta menambahkan bashirah (ketajaman pandangan)nya.

[6] Oleh karena ayat tersebut membuat seseorang sadar, dan kesadaran mengharuskan seseorang berbuat ikhlas kepada Allah, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala lanjutkan dengan perintah berbuat ikhlas.

[7] Yakni dengan berbuat ikhlas dalam beribadah dan dalam taqarrub (pendekatan diri) kepada-Nya. Ikhlas artinya membersihkan niat karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam semua ibadah baik yang wajib maupun yang sunat, baik yang terkait dengan hak Allah maupun hak hamba Allah.

[8] Oleh karena itu jangan pedulikan mereka dan janganlah yang demikian itu menghalangi kamu dari menjalankan agamamu, dan janganlah kamu berhenti hanya karena ada celaan orang yang mencela, karena memang orang-orang kafir tidak suka sekali dengan ikhlas sebagaimana yang diterangkan dalam surah Az Zumar: 45.

[9] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala karena keagungan dan kesempurnaan-Nya menyebutkan sesuatu yang menghendaki untuk berbuat ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.

[10] Bisa juga diartikan, bahwa Dia meninggikan derajat orang-orang mukmin di surga.

[11] Yakni yang Mahatinggi, dimana Dia bersemayam di atas ‘Arsy-Nya. Derajat-Nya begitu tinggi sehingga jauh berbeda dengan makhluk-Nya, kedudukan-Nya pun sangat tinggi, sifat-sifat-Nya tampak jelas, Dzat-Nya tinggi sekali dan tidak ada amal yang dapat dipersembahkan kepada-Nya kecuali amal yang bersih, suci lagi menyucikan, yaitu ikhlas, dimana ia akan mengangkat derajat pemiliknya dan mendekatkan mereka kepada-Nya serta menjadikan mereka berada tinggi di atas yang lain.

[12] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya berupa risalah dan wahyu. Wahyu disebut dengan ruh, karena ia ibarat ruh bagi jasad, dimana jasad tidak akan hidup tanpanya. Oleh karena jasad tidak akan hidup kecuali dengan ruh, maka ruh itu sendiri tanpa wahyu tidak akan baik dan beruntung. Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan wahyu dengan perintah-Nya, dimana di dalamnya terdapat manfaat bagi hamba dan maslahat mereka.

[13] Yaitu para rasul yang Allah lebihkan dan istimewakan mereka dengan wahyu-Nya dan dengan berdakwah kepada kaumnya. Faedah diutusnya rasul adalah untuk menghasilkan kebahagiaan bagi hamba baik pada agama mereka, dunia mereka maupun akhirat mereka serta menyingkirkan kesengsaraan dari mereka baik pada agama, dunia maupun akhiratnya. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).

[14] Dia menakut-nakuti manusia dengannya, mendorong mereka untuk bersiap-siap menghadapinya dengan menyiapkan sebab-sebab yang dapat menyelamatkan seseorang pada hari itu.

[15] Hari Kiamat disebut hari pertemuan karena ketika itu penghuni langit bertemu dengan penghuni bumi, yang menyembah bertemu yang disembah, yang beramal bertemu dengan amalnya, dan yang zalim bertemu dengan yang dizalimi.

[16] Mereka berkumpul di tanah padang mahsyar yang rata. Seruan terdengar oleh mereka semua dan sebuah pandangan dapat melihat mereka semua.

[17] Yakni siapakah yang memiliki hari yang agung itu, yang menghimpun manusia yang terdahulu maupun yang datang kemudian baik penghuni langit maupun penghuni bumi, dimana tidak ada keikutsertaan dalam kepemilikan itu, dan hubungan pun terputus sehingga tidak ada yang tersisa selain amal yang saleh atau amal yang buruk?

[18] Yakni yang esa dalam Dzat-Nya, nama-Nya, sifat-Nya dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya sedikit pun dalam hal itu dari berbagai sisi.

[19] Semua makhluk tunduk kepada-Nya, khususnya pada hari yang wajah-wajah tertunduk kepada Allah Yang Mahahidup lagi Berdiri Sendiri. Pada hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara kecuali dengan izin-Nya.

[20] Di dunia, baik atau buruk.

[21] Dengan ditambah keburukannya atau dikurangi kebaikannya.

[22] Hal itu karena ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu dan sempurna kekuasaan-Nya.

[23] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam untuk memberikan peringatan kepada manusia terhadap hari yang semakin dekat, yaitu hari Kiamat. Hari Kiamat disebut hari yang dekat, karena sesuatu yang akan datang adalah dekat, dan karena ketika manusia menyaksikannya, maka mereka menganggap bahwa hidup mereka di dunia hanya sebentar saja; pada waktu sore atau waktu Duha.

[24] Hati mereka kosong, rasa takut naik ke tenggorokan dan mata mereka terbuka.

[25] Demikian pula menahan takut yang sangat.

[26] Karena pemberi syafaat tidak akan memberi syafaat kepada orang yang menzalimi dirinya dengan syirk. Kalau pun mereka mau memberi syafaat, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak ridha sehingga tidak diterima.

[27] Yang dimaksud dengan pandangan mata yang khianat adalah pandangan yang dilarang, seperti memandang kepada wanita yang bukan mahramnya. Menurut Syaikh As Sa’diy, bahwa maksudnya adalah pandangan yang disembunyikan oleh seorang hamba terhadap kawannya, ia adalah pencurian pandangan.

[28] Yang tidak ditampakkan oleh seorang hamba. Jika yang tersembunyi saja diketahui oleh Allah, maka yang tampak tentu lebih diketahui.

[29] Hal itu karena firman-Nya hak (benar), hukum syar’i-Nya hak, dan hukum jaza’i(pembalasan)-Nya hak. Dia meliputi segala sesuatu baik dalam hal ilmu-Nya, pencatatan-Nya, maupun pemeliharaan-Nya. Dia bersih dari kezaliman, kekurangan dan semua aib. Dia yang memutuskan dengan keputusan qadari-Nya, dimana apabila Dia menghendaki sesuatu maka akan terjadi dan jika Dia tidak menghendaki, maka tidak akan terjadi. Dia yang memberikan keputusan antara kaum mukmin dan orang-orang kafir di dunia dengan memberikan pertolongan kepada kaum mukmin dan mengalahkan orang-orang kafir.

[30] Apa pun bentuknya.

[31] Jika mereka tidak mampu memutuskan sesuatu apa pun karena kelemahan mereka, maka mengapa mereka dijadikan sekutu bagi Allah.

[32] Semua suara dengan beraneka bahasa dan beragam kebutuhan.

[33] Perbuatan manusia dan apa yang dikehendaki oleh hatinya.

Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengawali dua ayat di atas dengan firman-Nya, “Wa andzirhum…dst.” Selanjutnya menyebutkan keadaan pada hari Kiamat agar manusia bersiap-siap untuk menghadapi hari yang besar itu sekaligus sebagai targhib dan tarhib (dorongan dan ancaman).

[34] Dengan hati dan badan mereka, yaitu perjalanan dengan maksud melihat dan mengambil pelajaran serta memikirkan keadaan yang masih ada.

[35] Yaitu dari kalangan orang-orang yang mendustakan. Mereka tentu akan menyaksikan bahwa akibat mereka adalah kebinasaan, kehancuran, dan kehinaan. Padahal mereka lebih hebat dari orang-orang kafir itu dalam hal jumlah, perlengkapan dan kekuatan fisik.

[36] Seperti bangunan, perlengkapan, benteng-benteng dan istana-istana.

[37] Ketika mereka terus menerus bergelimang di atas dosa.

[38] Yaitu mukjizat, hukum-hukum, dan ajaran-ajaran yang dibawanya.

[39] Ternyata kekuatan mereka tidak ada apa-apanya di hadapan kekuatan Allah, seperti halnya kaum ‘Aad yang sampai berkata, “Siapakah yang lebih hebat kekuatannya daripada kami?” Lalu Allah mengirimkan angin yang melemahkan kekuatan mereka dan menghancurkan mereka sehancur-hancurnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar