Sabtu, 09 Maret 2013

Tafsir Yusuf Ayat 1-14

Surah Yusuf

Surah ke-12. 111 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-3: Al Qur’anul Karim merupakan mukjizat, baik pada lafaznya, hurufnya, hukum-hukumnya, berita-beritanya, maupun pada syariatnya

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ (١) إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ (٢) نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ               (٣)

Terjemah Surat Yunus Ayat 1-3

1. Alif, laam, raa. Ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang jelas[1].

2. Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti[2].

3.[3] Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik[4] dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yang tidak mengetahui[5].

Ayat 4-6: Kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salam, dan bahwa mimpi para nabi adalah benar, sedangkan mimpi bagi kaum mukmin adalah sebagai kabar gembira baginya

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لأبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ (٤) قَالَ يَا بُنَيَّ لا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَى إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلإنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٥) وَكَذَلِكَ يَجْتَبِيكَ رَبُّكَ وَيُعَلِّمُكَ مِنْ تَأْوِيلِ الأحَادِيثِ وَيُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَعَلَى آلِ يَعْقُوبَ كَمَا أَتَمَّهَا عَلَى أَبَوَيْكَ مِنْ قَبْلُ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبَّكَ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (٦

Terjemah Surat Yunus Ayat 4-6

4. (Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku[6]! Sungguh, aku (bermimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku[7]."

5. Dia (ayahnya) berkata[8], "Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, mereka akan membuat tipu daya (untuk membinasakan)mu[9]. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia[10]."

6. Dan demikianlah, Tuhanmu memilih engkau[11] dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu (dengan menjadikanmu nabi) dan kepada keluarga Ya'qub[12], sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang kakekmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui[13] lagi Mahabijaksana[14].

Ayat 7-14: Penyakit hasad dan bahayanya bagi masyarakat, serta peringatan kepada para orang tua agar bersikap adil kepada anak-anaknya baik dalam mu’amalah maupun lainnya

لَقَدْ كَانَ فِي يُوسُفَ وَإِخْوَتِهِ آيَاتٌ لِلسَّائِلِينَ (٧) إِذْ قَالُوا لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّ أَبَانَا لَفِي ضَلالٍ مُبِينٍ (٨) اقْتُلُوا يُوسُفَ أَوِ اطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا مِنْ بَعْدِهِ قَوْمًا صَالِحِينَ (٩) قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ لا تَقْتُلُوا يُوسُفَ وَأَلْقُوهُ فِي غَيَابَةِ الْجُبِّ يَلْتَقِطْهُ بَعْضُ السَّيَّارَةِ إِنْ كُنْتُمْ فَاعِلِينَ (١٠) قَالُوا يَا أَبَانَا مَا لَكَ لا تَأْمَنَّا عَلَى يُوسُفَ وَإِنَّا لَهُ لَنَاصِحُونَ (١١) أَرْسِلْهُ مَعَنَا غَدًا يَرْتَعْ وَيَلْعَبْ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ (١٢) قَالَ إِنِّي لَيَحْزُنُنِي أَنْ تَذْهَبُوا بِهِ وَأَخَافُ أَنْ يَأْكُلَهُ الذِّئْبُ وَأَنْتُمْ عَنْهُ غَافِلُونَ (١٣) قَالُوا لَئِنْ أَكَلَهُ الذِّئْبُ وَنَحْنُ عُصْبَةٌ إِنَّا إِذًا لَخَاسِرُونَ (١٤

Terjemah Surat Yunus Ayat 7-14

7. Sungguh, dalam (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah)[15] bagi orang yang bertanya[16].

8. Ketika mereka berkata[17], "Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai ayah daripada kita, padahal kita adalah satu golongan (yang kuat). Sungguh, ayah kita dalam kekeliruan yang nyata[18].

9. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu tempat (yang jauh) agar perhatian ayah tertumpah kepadamu, dan setelah itu kamu menjadi orang yang baik[19]."

10. Seorang[20] di antara mereka berkata, "Janganlah kamu membunuh Yusuf[21], tetapi masukkan saja dia ke dasar sumur agar dia dipungut oleh sebagian musafir[22], jika kamu hendak berbuat."

11. Mereka berkata, "Wahai ayah kami! Mengapa engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf[23], padahal sesungguhnya kami semua menginginkan kebaikan baginya.

12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi[24], agar dia bersenang-senang dan bermain-main, dan kami pasti menjaganya[25]."

13. Dia (Ya'qub) berkata, "Sesungguhnya kepergian kamu bersama dia (Yusuf) sangat menyedihkanku dan aku khawatir dia dimakan serigala[26], sedang kamu lengah darinya[27]."

14. Mereka berkata, "Jika dia dimakan serigala, padahal kami kelompok (yang kuat), kalau demikian tentu kami orang-orang yang rugi[28]."


[1] Lafaz dan maknanya jelas. Diterangkan di sana kebenaran secara jelas. Di antara contoh jelasnya adalah Allah menurunkannya dengan bahasa Arab, bahasa mereka agar mereka mengerti batasan-batasannya, masalah dasar maupun cabang, dan mengerti perintah-perintah dan larangan-larangannya.

[2] Sehingga kamu dapat mengamalkannya, pemahamanmu bertambah karena pengulangan makna-maknanya yang tinggi lagi mulia di pikiranmu, sehingga kamu mau merubah diri dari keadaan yang satu kepada keadaan yang lain yang lebih baik dan lebih sempurna, dan inilah tarbiyah (pendidikan) yang sesunguhnya.

[3] Ibnu Rahawaih meriwayatkan dengan sanadnya dari Mush’ab bin Sa’ad dari Sa’ad tentang firman Allah, “Nahnu naqushshu ‘alaika…dst.” Ia berkata, “Allah menurunkan Al Qur’an kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau membacakannya kepada mereka (para sahabat) sekian lama. Lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, Andai saja engkau menceritakan kisah kepada kami?” maka Allah menurunkan ayat, “Alif, lam, raa. Tilka aayaatul kitaabil mubiin…sampai nahnu naqushshu ‘alaika ahsanal qashashi…dst.” Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membacakannya kepada mereka sekian lama, lalu mereka berkata, “Wahai Rasulullah, andai saja engkau menceritakan kepada kami?” Maka Allah Ta’ala menurunkan ayat, “Allahu nazzala ahsanal hadiitsi kitaabam mutasyaabihan…dst.” (Az Zumar: 23). Syaikh Muqbil berkata, “Hadits ini para perawinya adalah para perawi kitab shahih selain Khallad Ash Shaffar, ia adalah tsiqah, dan saya tidak lanjutkan haditsnya karena tidak bersambung. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam shahihnya sebagaimana dalam Az Zawaa’id hal. 432, Ibnu Jarir juz 12 hal. 150, Hakim dalam Al Mustadrak juz 2 hal. 345, ia berkata, “Shahih isnadnya”, dan didiamkan oleh Adz Dzahabi.

[4] Yang demikian karena kebenarannya, kehalusan kata-katanya dan keindahan maknanya.

[5] Sebelumnya, kamu tidak mengetahui apa kitab dan apa iman?

[6] Bapak Yusuf ‘alaihis salam. adalah Ya'qub putera Ishak putera Ibrahim ‘alaihis salam.

[7] Mimpi didahulukan, bahwa Yusuf akan memperoleh ketinggian di dunia dan akhirat. Demikianlah, apabila Allah menghendaki terjadi peristiwa besar, maka Allah dahulukan mukaddimah (pengantarnya) agar siap dan mempermudah urusannya, dan agar hamba siap menerima beban yang akan dihadapinya, yang demikian karena kelembutan Allah kepada hamba-Nya dan ihsan-Nya.

[8] Nabi Ya'qub 'alaihis salam mengetahui ta’wil mimpi itu, bahwa sebelas bintang itu adalah saudaranya, matahari adalah ibunya, sedangkan bulan adalah bapaknya, dan bahwa keadaan akan berubah sehingga akan membuat semua anggota keluarganya memuliakannya. Ketika ta’wil mimpi itu jelas maksudnya bagi Yusuf, maka bapaknya berkata eperti yang disebutkan di atas.

[9] Karena mereka akan mengetahui takwilnya, bahwa engkau akan berada di atas mereka, akhirnya mereka hasad dan kan membunuhmu.

[10] Ia (setan) tidak pernah berhenti berusaha menggelincirkan kamu di malam maupun siang hari, dan berusaha mencari jalan untuk mencerai-beraikan kamu. Oleh karena itu, menjauhi sebab yang bisa membuat setan menguasai seorang hamba lebih diutamakan. Maka Nabi Yusuf ‘alaihis salam mengikuti saran bapaknya dan tidak memberitahukan kepada saudara-saudaranya.

[11] Dengan mengauruniakan kepadamu sifat-sifat yang mulia dan perilaku yang baik.

[12] Yakni anak keturunannya.

[13] Terhadap makhluk-Nya.

[14] Dalam tindakan-Nya terhadap mereka.

[15] Ada yang menafsirkan, “Terdapat pelajaran-pelajaran bagi orang yang bertanya.”

[16] Baik menyatakan di lisan, maupun menyatakan dengan sikap yang menunjukkan penasaran. Bagi mereka akan bermanfaat kisah itu, karena yang demikian menunjukkan perhatian mereka terhadapnya, berbeda dengan orang yang kurang peduli atau berpaling, maka kisah itu tidak bermanfaat bagi mereka.

[17] kepada sesamanya.

[18] Karena mengutamakan keduanya tanpa sebab yang mengharuskan demikian dan tanpa suatu hal yang kita saksikan.

[19] Menjadi orang yang baik maksudnya, setelah mereka membunuh Yusuf ‘alaihis salam, mereka bertobat kepada Allah serta mengerjakan amal-amal saleh. Mereka dahulukan niat untuk bertobat sebelum munculnya perbuatan itu yang menunjukkan sikap enteng mereka terhadap perbuatan itu, menghilangkan kesan buruknya dan mendorong satu sama lain untuk melakukannya.

[20] Ada yang mengatakan, bahwa dia adalah Yahudza.

[21] Yakni karena membunuh merupakan perkara besar, dan masih ada cara untuk mencapai tujuan itu.

[22] Yang hendak pergi ke tempat yang jauh.

[23] Yakni karena sebab apa engkau merasa khawatir terhadap tindakan kami kepada Yusuf?

[24] Ke gurun.

[25] Kaa-kata ini dimaksudkan agar bapak mereka (Ya’qub) melepas Yusuf pergi bersama mereka.

[26] Hal itu, karena daerah mereka banyak serigala.

[27] Yakni sibuk dengan urusan kamu sendiri.

[28] Maksudnya menjadi orang-orang yang pengecut yang hidupnya tidak ada artinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar