Rabu, 27 Maret 2013

Tafsir Yasin Ayat 60-70

Ayat 60-70: Penjelasan tentang permusuhan setan, kehinaan yang akan diperoleh orang-orang kafir pada saat mereka dihisab, dan penafian keadaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai penyair.

  أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَا بَنِي آدَمَ أَنْ لا تَعْبُدُوا الشَّيْطَانَ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (٦٠)وَأَنِ اعْبُدُونِي هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ (٦١) وَلَقَدْ أَضَلَّ مِنْكُمْ جِبِلا كَثِيرًا أَفَلَمْ تَكُونُوا تَعْقِلُونَ (٦٢) هَذِهِ جَهَنَّمُ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (٦٣) اصْلَوْهَا الْيَوْمَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْفُرُونَ (٦٤) الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ   (٦٥) وَلَوْ نَشَاءُ لَطَمَسْنَا عَلَى أَعْيُنِهِمْ فَاسْتَبَقُوا الصِّرَاطَ فَأَنَّى يُبْصِرُونَ (٦٦) وَلَوْ نَشَاءُ لَمَسَخْنَاهُمْ عَلَى مَكَانَتِهِمْ فَمَا اسْتَطَاعُوا مُضِيًّا وَلا يَرْجِعُونَ (٦٧) وَمَنْ نُعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِي الْخَلْقِ أَفَلا يَعْقِلُونَ (٦٨) وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغِي لَهُ إِنْ هُوَ إِلا ذِكْرٌ وَقُرْآنٌ مُبِينٌ (٦٩) لِيُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ  (٧٠)

Terjemah Surat Yasin Ayat 60-70

60. Bukankah Aku telah memerintahkan kamu[1] wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan[2]? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu[3],

61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku[4]. Inilah jalan yang lurus[5],”

62. Dan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti[6]?

63. [7]Inilah (neraka) Jahanam yang dahulu telah diperingatkan kepadamu[8].

64. Masuklah ke dalamnya pada hari ini karena dahulu kamu mengingkarinya.

65. [9]Pada hari ini Kami tutup mulut mereka[10]; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan[11].

66. Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; sehingga mereka berlomba-lomba (mencari) jalan[12]. Maka bagaimana mungkin mereka dapat melihat?.

67. Dan jika Kami menghendaki, pastilah Kami ubah bentuk mereka[13] di tempat mereka berada; sehingga mereka tidak sanggup berjalan lagi[14] dan juga tidak sanggup kembali[15].

68. Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya)[16]. Maka mengapa mereka tidak mengerti[17]?

69. [18]Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah pantas baginya[19]. Al Quran itu tidak lain hanyalah peringatan[20] dan kitab yang jelas[21],

70. Agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya)[22] dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir[23].


[1] Yakni melalui lisan para rasul-Ku.

[2] Yakni menaati setan. Teguran keras ini mencakup teguran keras terhadap semua kekuran dan kemaksiatan, karena sikap demikian disebabkan karena menaati setan dan menyembahnya.

[3] Oleh karena itu, kamu diperingatkan untuk menjauhinya dan tidak menaatinya.

[4] Yakni beribadah hanya kepada-Ku dan menaati-Ku, serta memanfaatkan waktu luangmu untuk beribadah, minimal yang wajib.

[5] Yakni namun kamu tidak menjaga perintah-Ku dan tidak mengamalkan wasiat-Ku, dan kamu malah taat kepada setan, sehingga dia menyesatkan sebagian besar di antara kamu.

[6] Yakni tidakkah kamu berpikir, sehingga memilih taat kepada Tuhanmu dan tidak mengikuti setan. Seandainya kamu memiliki akal yang sehat, tentu kamu tidak akan mengikuti setan, karena akibatnya membuat kamu masuk ke dalam neraka.

[7] Dikatakan kepada mereka di akhirat.

[8] Yakni yang kamu malah mendustakannya, maka sekarang lihatlah dengan mata kepalamu. Ketika itu hati mereka pun gelisah, penuh rasa takut dan pandangannya terpana. Kemudian ditambah lagi dengan diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam neraka.

[9] Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman menerangkan keadaan mereka di tempat yang penuh kesengsaraan itu.

[10] Dengan menjadikan mereka bisu tidak bisa bicara, sehingga mereka tidak sanggup mengingkari apa yang telah mereka kerjakan berupa kekafiran dan sikap mendustakan.

[11] Anggota badan mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang mereka kerjakan dan akan dijadikannya dapat berbicara oleh Allah yang mampu menjadikan segala sesuatu dapat berbicara.

[12] Mencari keselamatan atau mencari jalan ke surga.

[13] Menurut Ibnu Abbas, “(Yakni) Kami binasakan mereka.” Menurut As Suddiy, “Yakni Kami ubah bentuk mereka.” Menurut Abu Shalih, “Kami jadikan mereka batu.” Sedangkan menurut Al Hasan Al Bashri dan Qatadah, “Tentu Aku jadikan mereka duduk di atas kakinya.”Menurut Syaikh As Sa’diy, “Kami hilangkan gerakan mereka.”

[14] Ke depan.

[15] Ke belakang. Maksud ayat ini adalah, bahwa orang-orang kafir telah mendapatkan ketetapan azab, dan mereka harus disiksa. Di hadapan mereka ada neraka, di mana ia (neraka) telah ditunjukkan kepada orang-orang kafir, dan seseorang tidak ada yang dapat selamat kecuali dengan melintasi jembatan yang dibentangkan di atas neraka, sedangkan yang dapat melintasinya hanyalah orang-orang mukmin, di mana mereka berjalan dengan cahaya mereka. Adapun mereka (orang-orang kafir), tidak memiliki jaminan selamat dari neraka di sisi Allah. Jika Allah menghendaki, Dia menghapuskan penglihatan mereka dan membiarkan gerakan mereka sehingga mereka hanya dapat berjalan tetapi tidak tahu jalan, dan jika Dia menghendaki, maka Dia hilangkan juga gerakan mereka, sehingga mereka tidak dapat maju dan tidak dapat mundur. Dengan demikian, mereka tidak bisa melintasi jembatan dan tidak akan selamat. Wal ‘iyaadz billah.

[16] Maksudnya, kembali menjadi lemah dan kurang akal.

[17] Bahwa yang berkuasa seperti itu berkuasa pula membangkitkan yang telah mati, sehingga mereka pun mau beriman. Atau maksudnya, maka mengapa mereka tidak mengerti bahwa manusia memiliki kekurangan dari berbagai sisi, oleh karena itu seharusnya mereka gunakan kekuatan dan akal mereka untuk ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[18] Allah Subhaanahu wa Ta'aala membersihkan Nabi-Nya Muhamma shallallahu 'alaihi wa sallam dari tuduhan yang disampaikan orang-orang kafir, yaitu bahwa Beliau adalah penyair dan bahwa yang Beliau bawa adalah syair.

[19] Maksudnya tidak mungkin Beliau penyair karena Beliau adalah seorang yang cerdas dan memperoleh petunjuk, sedangkan para penyair rata-rata orang yang sesat dan diikuti oleh orang-orang yang sesat, dan karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyingkirkan semua syubhat yang dipakai orang-orang yang tersesat untuk mengingkari kerasulan Beliau, Beliau seorang yang tidak mampu baca-tulis sehingga apa yang Beliau bawa adalah betul-betul wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allah juga memberitahukan bahwa Dia tidak mengajarkan syair kepadanya, dan hal itu tidak pantas baginya. Atau bisa juga maksudnya, tidak mudah baginya membuat syair, yakni Beliau tidak mampu membuatnya, sehingga apa yang Beliau bawa bukanlah syair.

[20] Yakni peringatan untuk mengingatkan orang-orang yang berakal terhadap semua tuntutan agama, Al Qur’an mengandung semua tuntutan itu, serta mengingatkan akal apa yang Allah tanamkan dalam fitrahnya berupa perintah mengerjakan semua yang baik dan melarang semua yang buruk.

[21] Menjelaskan hukum-hukum dan hal lain yang dibutuhkan. Tidak disebutkan ma’mul (objeknya) untuk menerangkan bahwa Al Qur’an menerangkan semua yang hak dengan dalil-dalilnya yang tafshil (rinci) maupun ijmal (garis besar), demikian pula menerangkan yang batil dan dalil-dalil kebatilannya.

[22] Yakni yang hidup hatinya. Oleh karena itu, dengan siraman Al Qur’an, hatinya akan tumbuh, ilmu dan amalnya akan bertambah olehnya, dan Al Qur’an bagi hati orang mukmin ibarat air hujan yang disiramkan kepada tanah yang baik.

[23] Karena hujjah Allah telah tegak kepada mereka, dan alasan mereka telah terputus, sehingga tidak ada sedikit pun uzur dan syubhat yang dapat diterima dari mereka. Dan orang-orang yang kafir itu seperti orang-orang yang mati dan tanah keras yang tidak menumbuhkan tanaman, sehingga pembacaan Al Qur’an tidak bermanfaat bagi mereka dan tidak membuat hatinya tumbuh sebagaimana tumbuhnya tanah yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar