Senin, 25 Maret 2013

Tafsir Thaha Ayat 38-55

Ayat 38-48: Membicarakan tentang perhatian Allah Subhaanahu wa Ta'aala kepada setiap orang yang memikul beban risalah, penjelasan sayangnya ibu dan kelembutannya kepada anak, dan perintah kepada Nabi Musa ‘alaihis salam dan Nabi Harun ‘alaihis salam untuk menghadap Fir’aun.

إِذْ أَوْحَيْنَا إِلَى أُمِّكَ مَا يُوحَى (٣٨) أَنِ اقْذِفِيهِ فِي التَّابُوتِ فَاقْذِفِيهِ فِي الْيَمِّ فَلْيُلْقِهِ الْيَمُّ بِالسَّاحِلِ يَأْخُذْهُ عَدُوٌّ لِي وَعَدُوٌّ لَهُ وَأَلْقَيْتُ عَلَيْكَ مَحَبَّةً مِنِّي وَلِتُصْنَعَ عَلَى عَيْنِي (٣٩) إِذْ تَمْشِي أُخْتُكَ فَتَقُولُ هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَنْ يَكْفُلُهُ فَرَجَعْنَاكَ إِلَى أُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلا تَحْزَنَ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنَاكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنَّاكَ فُتُونًا فَلَبِثْتَ سِنِينَ فِي أَهْلِ مَدْيَنَ ثُمَّ جِئْتَ عَلَى قَدَرٍ يَا مُوسَى (٤٠) وَاصْطَنَعْتُكَ لِنَفْسِي   (٤١)اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (٤٢)اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (٤٣) فَقُولا لَهُ قَوْلا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (٤٤) قَالا رَبَّنَا إِنَّنَا نَخَافُ أَنْ يَفْرُطَ عَلَيْنَا أَوْ أَنْ يَطْغَى      (٤٥) قَالَ لا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (٤٦)فَأْتِيَاهُ فَقُولا إِنَّا رَسُولا رَبِّكَ فَأَرْسِلْ مَعَنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلا تُعَذِّبْهُمْ قَدْ جِئْنَاكَ بِآيَةٍ مِنْ رَبِّكَ وَالسَّلامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى (٤٧) إِنَّا قَدْ أُوحِيَ إِلَيْنَا أَنَّ الْعَذَابَ عَلَى مَنْ كَذَّبَ وَتَوَلَّى (٤٨

Terjemah Surat Thaha Ayat 38-48

38. (yaitu) ketika Kami mengilhamkan kepada ibumu sesuatu yang diilhamkan[1],

39. (yaitu), letakkanlah dia (Musa) dalam peti, kemudian hanyutkanlah dia ke sungai (Nil), maka biarlah (arus) sungai itu membawanya ke tepi, dia akan diambil oleh (Fir'aun) musuh-Ku dan musuhnya. Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang yang datang dari-Ku[2], dan agar engkau diasuh di bawah pengawasan-Ku,

40. (yaitu) ketika saudara perempuanmu berjalan[3], lalu dia berkata (kepada keluarga Fir'aun), "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka Kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati. Dan engkau pernah membunuh seseorang[4], lalu Kami selamatkan engkau dari kesulitan yang besar dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan (yang berat)[5]; lalu engkau tinggal beberapa tahun di antara penduduk Madyan[6], kemudian engkau, wahai Musa, datang menurut waktu yang ditetapkan[7],

41. Dan Aku telah memilihmu (menjadi rasul) untuk diri-Ku[8].

42. Pergilah engkau beserta saudaramu dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan)-Ku[9], dan janganlah kamu berdua lalai mengingat-Ku[10];

 

43. Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas[11];

44. maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan kata-kata yang lemah lembut[12], mudah-mudahan dia sadar atau takut[13].”

45. Keduanya berkata, "Ya Tuhan Kami, sungguh, kami khawatir dia akan segera menyiksa kami[14] atau akan bertambah melampaui batas[15].”

46. Allah berfirman, "Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku bersama kamu berdua[16], Aku mendengar[17] dan melihat[18].”

47. Maka pergilah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dan katakanlah, "Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil[19] bersama Kami[20] dan janganlah engkau menyiksa mereka[21]. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan[22] itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.

48. Sungguh, telah diwahyukan kepada kami bahwa siksa itu (ditimpakan) pada siapa pun yang mendustakan (ajaran agama yang kami bawa)[23] dan berpaling (tidak mempedulikannya)[24].

Ayat 49-55: Dialog Nabi Musa dan Nabi Harun ‘alaihimas salam dengan Fir’aun, dan penegakkan dalil-dalil terhadap keberadaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

قَالَ فَمَنْ رَبُّكُمَا يَا مُوسَى (٤٩) قَالَ رَبُّنَا الَّذِي أَعْطَى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهُ ثُمَّ هَدَى (٥٠) قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الأولَى (٥١) قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لا يَضِلُّ رَبِّي وَلا يَنْسَى (٥٢) الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّى (٥٣) كُلُوا وَارْعَوْا أَنْعَامَكُمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لأولِي النُّهَى (٥٤) مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى (٥٥

Terjemah Surat Thaha Ayat 49-55

49. Dia (Fir’aun) berkata, "Siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa?”.

50. Musa menjawab, "Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan bentuk kejadian kepada segala sesuatu[25], kemudian memberinya petunjuk[26].

51. [27]Fir'aun berkata, "Lalu bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu[28]?"

52. Musa menjawab, "Pengetahuan tentang itu ada pada Tuhanku, di dalam sebuah kitab[29], Tuhanku tidak akan salah ataupun lupa[30];

53. (Tuhan) yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu[31], dan menjadikan jalan-jalan di atasnya bagimu[32], dan yang menurunkan air (hujan) dari langit. Kemudian Kami tumbuhkan dengannya (air hujan itu) berjenis-jenis aneka macam tumbuh-tumbuhan[33].

54. Makanlah dan gembalakanlah hewan-hewanmu[34]. Sungguh, pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda (kekuasaan) Allah[35] bagi orang yang berakal[36].

55. Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu[37] dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu[38] pada waktu yang lain[39].


[1] Dalam bentuk mimpi atau ilham ketika ibumu melahirkan kamu dan ia khawatir kalau Fir’aun sampai membunuhmu, karena ketika itu dia memerintahkan agar bayi Bani Israil yang lahir disembelih. Ada yang mengatakan bahwa sebab Fir’aun membunuh anak laki-laki dari kalangan Bani Isra’il adalah karena berita yang sampai kepadanya dari orang-orang Qibth (Mesir), di mana mereka mendengar cerita dari kaum Bani Isra’il yang mereka warisi dari Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, bahwa akan keluar dari keturunannya seorang anak yang akan menggulingkan kekuasaan raja Mesir.

Sedangkan menurut As Suddiy yang bersumber dari Ibnu Abbas atau dari Ibnu Mas’ud dan para sahabat yang lain bahwa sebabnya adalah karena Fir’aun bermimpi ada sebuah api yang datang dari arah Baitul Maqdis membakar rumah-rumah di Mesir beserta orang-orang Qibthi, namun orang-orang bani Isra’il tidak kena. Ketika Fir’aun bangun, ia pun kaget, segeralah dikumpulkannya para penyihir, para dukun dan para peramal, ia bertanya kepada mereka, mereka pun menjawab, “Ini adalah anak laki-laki dari kalangan mereka (bani Isra’il) yang akan menjadi sebab hancurnya penduduk Mesir melalui tangannya.” Wallahu Ta’aala a’lam.

[2] Maksudnya, setiap orang yang memandang Nabi Musa ‘alaihis salam akan merasa sayang kepadanya.

[3] Agar ia dapat mengetahui keadaan Musa. Ketika itu, para ibu yang siap menyusukan dihadirkan, namun Musa menolak menyusu kepada salah seorang di antara mereka, lalu saudara perempuannya berkata sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas.

[4] Yang dibunuh Musa ‘alaihis salam ini ialah seorang bangsa Qibthi yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil, sebagaimana yang dikisahkan dalam surah Al Qashash ayat 15. Setelah itu Musa ‘alaihis salam berdoa dan meminta ampunan kepada Allah, maka Allah mengampuninya, lalu Musa pergi menyelamatkan diri ketika mendengar bahwa para pembesar negeri hendak menangkapnya untuk dibunuh, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyelamatkan Beliau dari kemalangan akibat membunuh dan dari pembunuhan yang direncanakan ole para pembesar negeri.

[5] Yakni ternyata engkau tetap istiqamah di atas keadaanmu yang baik.

[6] Nabi Musa ‘alaihis salam datang ke negeri Mad-yan untuk menyelamatkan diri, di sana Beliau dikawinkan oleh seorang hamba yang saleh (menurut sebagian ahli sejarah, bahwa ia adalah Nabi Syu’aib, namun yang lain tidak berpendapat demikian) dengan salah seorang puterinya dan menetap sepuluh tahun di sana.

[7] Yakni ditetapkan dalam ilmu-Nya untuk datang ke lembah Thuwa menerima wahyu dan kerasulan, yaitu pada saat usia Beliau 40 tahun. Hal ini menunjukkan perhatian Allah kepada Nabi Musa ‘alaihis salam.

[8] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengatur dan mengurus Musa ‘alaihis salam agar menjadi orang yang dicintai-Nya dan mencapat derajat yang tidak dicapai oleh makhluk-makhluk-Nya yang lain kecuali sedikit di antara mereka.

[9] Seperti tangan, tongkat dan mukjizat lainnya yang Allah berikan.

[10] Yang demikian adalah karena dzikrullah membantu semua urusan, memudahkannya dan meringankannya.

[11] Baik dalam kekafirannya (sampai mengaku sebagai tuhan), dalam kezalimannya (sampai tega menyembelih bayi yang lahir) maupun dalam permusuhannya.

[12] Yakni dengan lembut dan beradab, tidak membual (mengada-ada), tidak keras ucapannya dan tidak kasar sikapnya. Ucapan yang lembut dapat membuat orang lain menerima, sedangkan ucapan yang keras dapat membuat orang lain menjauh. Nabi Musa ‘alaihs salam kemudian mengikuti perintah Allah tersebut, dan ketika sampai kepada Fir’aun dengan lembut Musa berkata sesuai perintah Allah, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri, dan engkau akan kuarahkan ke jalan Tuhanmu agar Engkau takut kepada-Nya?” (lihat surah An Naazi’at: 18-19) sepeti inilah cara yang perlu dilakukan da’i, yakni perkataannya tidak menunjukkan paksaan, tetapi menunjukkan pilihan dan penawaran seperti dengan kata-kata, “Maukah? Mungkin? Barang kali?” dsb. Karena hal ini lebih bisa diterima daripada perkataan yang terkesan memaksa atau mengajari, terlebih kepada orang yang lebih tua. Perhatikanlah kalimat tersebut, “Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri…dst.” Kalimatnya tidak “Agar aku bersihkan dirimu?” tetapi “membersihkan diri?” yang menunjukkan biarlah ia memberihkan dirinya sendiri setelah mengingatkan sesuatu yang membuatnya berpikir. Kemudian Musa ‘alaihis salam mengajaknya kepada jalan Tuhannya yang telah mengaruniakan berbagai nikmat yang nampak maupun yang tersembunyi, di mana nikmat-nikmat itu sepatutnya disyukuri dengan mengikuti perintah-perintah-Nya. Namun ternyata Fir’aun tidak menerima nasehat yang lembut itu, maka semakin jelaslah, bahwa peringatan tidak bermanfaat baginya, sehingga pantas jika Allah menghukumnya.

[13] Kepada Allah.

[14] Yakni sebelum risalah-Mu sampai dan sebelum kami menegakkan hujjah kepadanya.

[15] Terhadap kami dengan bersikap sombong.

[16] Dengan memberikan pertolongan.

[17] Apa yang diucapkannya.

[18] Apa yang dilakukannya.

[19] Yakni dari jeratanmu dan perbudakanmu wahai Fir’aun agar mereka dapat hidup merdeka dan berkuasa terhadap urusan mereka serta agar Musa dapat menegakkan syari’at Allah dan agama-Nya di tengah-tengah mereka.

[20] Pergi ke Syam.

[21] Bani Israil ketika berada di Mesir di bawah perbudakan Fir'aun. Mereka dipekerjakan untuk mendirikan Bangunan-bangunan yang besar dan kota-kota dengan kerja paksa. Maka Nabi Musa ‘alaihis salam meminta kepada Fir'aun agar mereka dibebaskan.

[22] Yakni dari azab di dunia dan akhirat.

[23] Atau mendustakan berita-berita Allah dan Rasul-Nya.

[24] Maksudnya, tidak mempedulikan dan tidak mengikuti ajaran dan petunjuk rasul. Nabi Musa ‘alaihis salam mentarghib (mendorong) Fir’aun untuk beriman dan mengikutinya serta mentarhib(menakut-nakuti)nya jika tidak mau beriman dan mengikuti. Akan tetapi nasehat itu tidak dipedulikannya, ia tetap ingkar dan kafir kepada Tuhannya dan membantahnya karena kezaliman dan kedurhakaannya seperti yang disebutkan dalam ayat selanjutnya.

[25] Yakni Dia yang menciptakan semua makhluk dan memberikan kepada setiap makhluk ciptaan yang cocok baginya, di mana hal itu menunjukkan bagusnya ciptaan-Nya, ada yang berbadan besar dan ada yang kecil dan ada pula yang pertengahan, dan Dia memberikan pula sifatnya.

[26] Maksudnya, memberikan akal, instink (naluri) dan kodrat alamiyah untuk kelanjutan hidupnya masing-masing. Oleh karena itu, kita dapat menyaksikan semua makhluk berusaha untuk memperoleh manfaat dan terhindar dari bahaya.

[27] Oleh karena dalil yang disampaikan Musa adalah benar, maka untuk menolaknya Fir’aun beralih kepada masalah lain dan menyimpang dari maksud dan tujuan.

[28] Seperti kaum Nuh, kaum Hud, kaum Luth, dan kaum Shalih, di mana mereka telah mendahului kami mengingkari-Nya?

[29] Maksudnya, Lauh Mahfuzh. Dia menghitung secara teliti amal mereka, baik atau buruk dan mencatatnya dalam Lauh Mahfuzh yang kemudian akan diberi-Nya balasan pada hari kiamat.

[30] Maksud jawaban Musa ini adalah, bahwa umat-umat terdahulu itu sudah mengerjakan yang telah mereka kerjakan dan mereka tinggal menunggu pembalasan, oleh karena itu tidak ada gunanya kamu bertanya tentang mereka wahai Fir’aun! Mereka adalah umat yang telah berlalu, balasan untuknya sesuai apa yang dia kerjakan dan dosanya akan mereka tangung. Jika dalil yang kami kemukakan dan ayat yang kami perlihatkan itu sudah membuktikan kebenaran kami dan seperti itulah kenyataannya, maka tunduklah kepada kebenaran dan tinggalkanlah kekafiran dan kezaliman serta terlalu banyak membantah dengan kebatilan. Jika engkau masih meragukannya, maka pintu untuk mengkajinya tidaklah tertutup dan jalannya terbuka, inilah maksud jawaban Musa ‘alaihis salam, wallahu a’lam. Kemudian Nabi Musa ‘alaihis salam melanjutkan dengan menyebutkan nikmat-nikmat yang diberikan Allah dan ihsan-Nya sebagaimana dijelaskan dalam ayat selanjutnya.

[31] Sehingga meskipun bulat, kamu dapat tinggal dan menetap di sana, mendirikan bangunan dan menggarap tanahnya.

[32] Dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dari daerah yang satu ke daerah yang lain, dsb. Sehingga mereka dapat pergi ke daerah yang jauh dengan mudah.

[33] Sebagai rezeki untuk kita dan hewan ternak kita. Jika tidak ada tumbuhan, tentu manusia dan hewan tidak dapat makan dan akan binasa.

[34] Susunan ayat ini nampaknya menunjukkan karunia-Nya kepada manusia. Ayat ini menunjukkan bahwa hukum asal semua tumbuhan adalah mubah, sehingga tidak ada yang haram selain yang membahayakan seperti racun, ganja, dsb.

[35] Demikian pula menunjukkan karunia Allah, ihsan-Nya, rahmat-Nya, luasnya kepemurahan-Nya, perhatian-Nya, dan menunjukkan bahwa hanya Allah-lah Tuhan yang berhak disembah satu-satunya, dan yang berhak mendapat pujian dan sanjungan, dan bahwa Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Di samping itu, dihidupkan-Nya tanah yang sebelumnya mati menunjukkan bahwa Dia mampu menghidupkan orang-orang yang telah mati.

[36] Akal disebut “nuha” karena ia melarang pemiliknya dari mengerjakan perbuatan buruk. Dikhususkan kepada orang-orang yang berakal, karena hanya mereka yang dapat mengambil manfaat dan pelajaran darinya, di mana mereka memandangnya dengan pandangan yang disertai pengambilan pelajaran. Adapun selain mereka, maka tidak ubahnya seperti hewan ternak, melihat tanpa mengambil pelajaran, pandangan mereka tidak sampai mengetahui maksud daripadanya, bahkan yang mereka peroleh sebagaimana yang diperoleh binatang ternak yaitu bersenang-senang semata; hanya makan dan minum, sedangkan hati mereka lalai dan badan mereka berpaling. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, ”Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, sedang mereka berpaling daripadanya.” (Terj. Yusuf: 105)

[37] Dengan dikubur dalam tanah setelah mati.

[38] Untuk dibangkitkan.

[39] Ayat 53 dan 55 menunjukkan Allah Mahakuasa menghidupkan kembali, sebagaimana Dia berkuasa menghidupkan tanah yang mati dan menciptakan mereka darinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar