Rabu, 20 Maret 2013

Tafsir An Nahl Ayat 97-110

Ayat 97-102: Dorongan untuk beramal saleh, keutamaan membaca Al Qur’an dan mentadabburi maknanya, waspada terhadap was-was setan dan penjelasan hikmah dari diturunkannya Al Qur’an.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٧) فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ (٩٨) إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٩٩) إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ (١٠٠) وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ  (١٠١) قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (١٠٢

Terjemah Surat An Nahl Ayat 97-102

97. Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik[1] dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan[2].  

98. Maka apabila engkau (Muhammad) hendak membaca Al Quran[3], mohonlah perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk[4].

99. Sungguh, setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya[5].

100. Pengaruhnya hanyalah terhadap orang yang menjadikannya pemimpin[6] dan terhadap orang yang mempersekutukannya dengan Allah.

101. [7]Dan apabila Kami mengganti suatu ayat dengan ayat yang lain[8], padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja.” Sebenarnya kebanyakan mereka tidak mengetahui[9].

 

102. Katakanlah, “Rohulkudus (Jibril)[10] menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar[11], untuk meneguhkan (hati) orang yang telah beriman[12], dan menjadi petunjuk[13] serta kabar gembira[14] bagi orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Ayat 103-109: Bantahan terhadap kaum musyrik dalam kedustaan mereka terhadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan penjelasan keadaan kaum mukmin yang jujur serta hukuman orang-orang yang murtad.

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ (١٠٣) إِنَّ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ لا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٠٤) إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ (١٠٥)مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِنْ مَنْ شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١٠٦) ذَلِكَ بِأَنَّهُمُ اسْتَحَبُّوا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الآخِرَةِ وَأَنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ (١٠٧) أُولَئِكَ الَّذِينَ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ وَسَمْعِهِمْ وَأَبْصَارِهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ (١٠٨) لا جَرَمَ أَنَّهُمْ فِي الآخِرَةِ هُمُ الْخَاسِرُونَ (١٠٩

Terjemah Surat An Nahl Ayat 103-109

103. [15]Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al Quran itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad).” Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa ‘Ajam[16], sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas[17].

104. Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran)[18], Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka[19] dan mereka akan mendapat azab yang pedih.

105. Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah[20], dan mereka itulah pembohong[21].

106. Barang siapa kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah) [22], kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa)[23], tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran[24], maka kemurkaan Allah menimpanya[25] dan mereka akan mendapat azab yang besar.

107. Yang demikian itu[26] disebabkan karena mereka lebih mencintai kehidupan di dunia daripada akhirat[27], dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir.

108. Mereka itulah orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci oleh Allah[28]. Mereka itulah orang yang lalai.

109. Pastilah mereka termasuk orang yang rugi di akhirat nanti[29].

Ayat 110: Gambaran gangguan yang dilakukan orang-orang kafir kepada kaum muslimin generasi pertama dan kesabaran mereka di atas keimanan.

ثُمَّ إِنَّ رَبَّكَ لِلَّذِينَ هَاجَرُوا مِنْ بَعْدِ مَا فُتِنُوا ثُمَّ جَاهَدُوا وَصَبَرُوا إِنَّ رَبَّكَ مِنْ بَعْدِهَا لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١١٠

Terjemah Surat An Nahl Ayat 110

110. [30]Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar[31], sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[32].


[1] Yakni dengan kebahagiaan di dunia, ketenteraman hatinya, ketenangan jiwanya, sikap qana’ah (menerima apa adanya) atau mendapatkan rezeki yang halal dari arah yang tidak diduga-duga, dsb. Inilah yang diharapkan oleh orang-orang yang sekarang putus asa di dunia. Ketika mereka tidak memperoleh ketenangan atau kebahagiaan batin meskipun mereka memperoleh dunia, namun akhirnya mereka nekat bunuh diri seperti yang kita saksikan. Berdasarkan ayat ini, cara untuk memperoleh kebahagiaan atau ketenangan batin adalah dengan beriman (tentunya dengan memeluk Islam) dan beramal saleh atau mengerjakan ajaran-ajaran Islam. Bahkan, tidak hanya memperoleh kebahagiaan di dunia, di akhirat pun, Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan memberikan balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dengan memberikan surga yang penuh kenikmatan, yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Allahumma aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.

[2] Ayat ini menunjukkan, bahwa laki-laki dan perempuan dalam Islam mendapat pahala yang sama dan bahwa amal saleh harus disertai iman.

[3] Yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi hati dan ilmu yang banyak.

[4] Yakni dengan mengucapkan, “A’uudzu billahi minasy syaithaanir rajiim” (artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk). Hal itu, karena setan berusaha memalingkan manusia dari maksud dan makna Al Qur’an, maka jalan keluarnya adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah dari godaannya agar perhatian seseorang tertuju kepada Al Qur’an dan tidak berpaling daripadanya.

[5] Dengan tawakkal mereka kepada-Nya, Allah singkirkan gangguan setan, sehingga tidak ada jalan bagi setan untuk masuk menguasainya.

[6] Dengan menaatinya dan ikut ke dalam golongannya. Jika setan sebagai pemimpinnya, maka dia akan menggiring mereka ke dalam neraka, wal ‘iyaadz billah.

[7] Syaikh As Sa’diy berkata, “Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan, bahwa orang-orang yang mendustakan Al Qur’an berusaha mencari sesuatu yang bisa menjadi hujjah bagi mereka, padahal Allah Subhaanahu wa Ta'aala adalah hakim yang Mahabijaksana yang menetapkan hukum-hukum dan mengganti hukum yang satu dengan hukum yang lain karena hikmah dan rahmat-Nya. Ketika mereka melihat seperti itu, mereka pun mencela Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mencela apa yang Beliau bawa.”

[8] Dengan menasakh(hapus)nya, dan menurunkan ayat yang lain untuk maslahat hamba.

[9] Yakni tidak mengetahui tentang Tuhan mereka yang Mahabijaksana dan syari’at-Nya serta faedah naskh.

[10] Jibril disebut rohulkudus, karena Dia bersih dari aib, khianat, dan penyakit.

[11] Yakni turunnya benar-benar dari sisi Allah, di dalamnya mengandung kebenaran, baik pada beritanya, perintah maupun larangannya. Jika telah diketahui, bahwa Al Qur’an adalah kebenaran, maka berarti sesuatu yang bertentangan atau berlawanan dengannya adalah batil.

[12] Oleh karena kebenaran senantiasa sampai ke dalam hati mereka sedikit demi sedikit, maka iman mereka akan semakin kokoh bagai gunung kokoh yang menancap. Di samping itu, dengan turunnya ayat sedikit-demi sedikit, maka lebih siap diterima oleh jiwa daripada turun secara sekaligus yang seakan-akan mereka menerima banyak beban. Oleh karena itulah, dengan Al Qur’an keadaan para sahabat berubah; akhlak, tabi’at, kebiasaan dan amal mereka berubah sampai mengalahkan orang-orang terdahulu dan yang akan datang kemudian. Maka dari itu, sepatutnya generasi yang datang setelah para sahabat terdidik di atas ilmu-ilmu yang ada dalam Al Qur;an, berakhlak dengan akhlaknya, menggunakannya sebagai penerang dalam gelapnya kesesatan dan kebodohan, ehingga dengannya urusan agama dan dunia mereka menjadi baik.

[13] Yang menunjukkan kepada mereka hakikat segala sesuatu, menerangkan mana yang benar dan mana yang batil, mana petunjuk dan mana kesesatan.

[14] Yang memberikan kabar gembira kepada mereka, bahwa mereka akan memperoleh kebaikan, yaitu surga dan mereka akan kekal di sana selama-lamanya.

[15] Ibnu Jarir berkata: Telah menceritakan kepadaku Al Mutsanna, ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin ‘Aun.” Ia berkata, “Telah mengabarkan kepada kami Hasyiim dari Hushain, yaitu Ibnu Abdirrahman dari Abdullah bin Muslim Al Hadhramiy, bahwa mereka (sebagian Bani Hadhrami) memiliki dua orang budak dari penduduk selain Yaman. Keduanya masih kecil, yang satu bernama Yasar, sedangkan yang satu lagi bernama Jabr. Keduanya suka membaca Taurat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam terkadang duduk dengan keduanya, lalu orang-orang kafir Quraisy berkata, “Beliau duduk dengan keduanya adalah untuk belajar dari kedua anak itu.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan firman-Nya, “Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa 'Ajam, sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” Syaikh Muqbil berkata, “Hadits ini para perawinya adalah para perawi hadits shahih selain Al Mutsanna, yaitu Ibnu Ibrahim Al Amiliy. Saya tidak menemukan orang yang menyebutkan biografinya. Akan tetapi, ia dimutaba’ahkan oleh Sufyan bin Waki’, dan di sana terdapat pembicaraan. Adapun Hasyim, dia adalah Ibnu Basyir seorang mudallis dan tidak menyebutkan secara tegas kata “haddatsanaa (telah menceritakan kepada kami)”, akan tetapi ia dimutaba’ahkan oleh Khalid bin Abdullah Ath Thahhan dan Muhammad bin Fudhail. Dari sinilah, Al Haafizh dalam Al Ishaabah setelah menyebutkan hadits ini berkata, “Demikian pula hadits setelahnya dengan sanad hadits ini, dan sanadnya shahih.” (Juz 2 hal. 439). Tentang nama sahabat yang meriwayatkan hadits ini diperselisihkan, menurut Ibnu Jarir adalah Abdullah bin Muslim, menurut Ibnu Abi Hatim dalam Al Jarh wat Ta’dil adalah Ubaidullah bin Muslim, dalam At Tahdzib seperti dalam Al Jarh wat Ta’dil, di sana disebutkan, “Dan disebut pula Abdullah.” Al Hafizh telah mengisyaratkan tentang adanya perselisihan ini dalam Al Ishabah juz 2 hal. 439. Syaikh Muqbil juga berkata, “Hadits ini memiliki syahid (penguat dari jalan lain) dari hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, Hakim rahimahullah berkata (dalam Al Mustadrak) juz 2 hal. 357: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al Hasan bin Ahmad Al Asadiy di Hamdan. Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Husain. Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abi Iyas. Telah menceritakan kepada kami Warqa’ dari Ibnu Abi Najiih dari Mujahid dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang firman Allah ‘Azza wa Jalla, “Sesungguhnya Al Quran itu hanya diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa Muhammad belajar) kepadanya bahasa 'Ajam, sedangkan Al Quran adalah dalam bahasa Arab yang jelas.” Mereka (orang-orang musyrik) berkata, “Sesungguhnya yang mengajarkan Muhammad adalah budak Ibnul Hadhrami; seorang yang suka membaca kitab-kitab.” Maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, "Sesungguhnya Al Quran itu hanya diajarkan…dst." Hadits ini shahih isnadnya, namun keduanya (Bukhari-Muslim) tidak menyebutkannya. Lihat Ash Shahihul Musnad Min Asbaabin Nuzuul karya Syaikh Muqbil

[16] Bahasa 'Ajam adalah bahasa selain bahasa Arab dan dapat juga berarti bahasa Arab yang tidak baik. Hal itu, karena orang yang dituduh mengajarkan kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam itu bukan orang Arab dan hanya tahu sedikit tentang bahasa Arab.

[17] Oleh karena itu, bagaimana mungkin Beliau diajarkan oleh orang ‘ajam (luar Arab).

[18] Yang menunjukkan kebenaran secara tegas, lalu mereka menolaknya dan tidak mau menerimanya.

[19] Ketika datang hidayah irsyad (bimbingan) karena mereka menolaknya, sehingga diberi hukuman dengan terhalang mendapatkan hidayah dan dibiarkan oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[20] Yang mengatakan, bahwa Al Qur’an itu ucapan manusia.

[21] Yakni kedustaan ada dalam diri mereka, dan mereka lebih layak disebut pendusta daripada selain mereka. Diulangi kata-kata “dusta” terhadap mereka untuk menguatkan dan sebagai bantahan terhadap perkataan mereka kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Sesungguhnya engkau (Muhammad) hanya mengada-ada saja.” Adapun Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Beliau beriman kepada ayat-ayat Allah dan tunduk kepada Tuhannya. Oleh karena itu, mustahil jika Beliau berdusta atas nama Allah dan berkata apa yang tidak difirmankan-Nya. Oleh karena musuh-musuh Beliau menuduh Beliau berdusta, maka Allah menampakkan kehinaan dan menerangkan aib mereka, fa lillahil hamd.

[22] Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan tentang buruknya keadaan orang yang kafir kepada Allah setelah beriman. Seakan-akan mereka adalah orang yang buta setelah melihat dan kembali kepada kesesatan setelah mendapat petunjuk.

[23] Dan boleh baginya mengucapkan kata-kata kufur ketika dipaksa. Fiqih yang dapat diambil dari ayat ini adalah bahwa ucapan orang yang dipaksa tidaklah dipandang dan tidak membuah hukum syar’i, baik dalam urusan talak, memerdekakan, jual-beli dan akad lainnya. Hal ini, karena apabila seseorang tidak berdosa mengucapkan kata-kata kufur ketika dipaksa, maka urusan lain tentu lebih berhak tidak mendapatkan dosa.

[24] Yakni hatinya rela dengan kekafiran.

[25] Jika Dia murka, maka tidak ada satu pun makhluk yang berani berdiri, dan segala sesuatu akan ikut murka.

[26] Yakni murtadnya mereka dari agama Islam.

[27] Mereka lebih memilih kekafiran daripada keimanan karena mencintai kesenangan dunia, maka Allah mencegah mereka dari beriman.

[28] Oleh karena itu, hatinya tidak bisa dimasuki kebaikan, sedangkan pendengaran dan penglihatan tidak bisa menerima manfaat yang akan sampai ke dalam hati mereka.

[29] Karena tempat kembali mereka ke neraka dan mereka kehilangan nikmat yang kekal.

[30] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ikrimah dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, ia berkata, “Ada segolongan kaum di antara penduduk Mekah yang masuk Islam. Mereka meremehkan Islam, maka orang-orang musyrik memaksa mereka keluar bersama mereka pada perang Badar. Sebagian di antara mereka tertangkap, dan sebagian lagi terbunuh. Maka kaum muslimin berkata, “Para tawanan kita ini adalah kaum muslimin, mereka dipaksa, maka mintakanlah ampunan untuk mereka.” Maka turunlah ayat kepada mereka, “Innalladziina tawaffaahumum malaa’ikatu zhaalimii anfusihim…dst.” (An NIsaa’: 97) Ibnu Abbas berkata, “Maka dikirimlah surat berisi ayat tersebut kepada kaum muslimin yang tinggal di Mekah. Mereka (kaum muslimin) pun keluar, lalu ditemui oleh kaum musyrik, kemudian mereka menimpakan fitnah (gangguan kepada kaum muslimin), maka turunlah ayat ini, “Dan di antara manusia ada orang yang berkata: "Kami beriman kepada Allah", maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah…dst.” (terj. Al ‘Ankabut: 10), maka kaum muslimin mengirimkan surat kepada mereka berisikan ayat tersebut. Mereka pun keluar (dari Mekah) dan nampak beputus asa dari semua kebaikan, kemudian turunlah ayat tentang mereka, “Kemudian Tuhanmu (pelindung) bagi orang yang berhijrah setelah menderita cobaan, kemudian mereka berjihad dan bersabar, sungguh, Tuhanmu setelah itu benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Kaum muslimin kemudian mengirimkan surat berisikan ayat tersebut dan menerangkan kepada mereka, “Bahwa Allah telah memberikan jalan keluar kepada kamu.” Mereka pun keluar dan ditemui oleh kaum musyrik, lalu mereka diperangi, di antara mereka ada yang selamat dan di antara mereka ada yang terbunuh. Syaikh Muqbil berkata, “Hadits ini menurut Al Haitsami dalam Majma’uzzawaa’id juz 7 hal. 10, “Para perawinya adalah para perawi hadits shahih selain Muhammad bin Syuraik, namun dia tsiqah.”

[31] Di atas ketaatan.

[32] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengurus hamba-hamba-Nya yang ikhlas dengan kelembutan dan ihsan-Nya, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi orang yang berhijrah di jalan-Nya, meninggalkan tempat tinggal dan hartanya karena mencari keridhaan-Nya. Meskipun ia mendapat gangguan dalam menjalankan agamanya agar kembali kafir, namun ia tetap berada di atas keimanan, dan dapat pergi membawa iman, kemudian dia berjihad melawan musuh-musuh Allah untuk memasukkan mereka ke dalam agama Allah dengan lisan dan tangannya, dan bersabar dalam melakukan ibadah-ibadah yang berat itu. Ini merupakan sebab paling besar untuk memperoleh pemberian yang paling baik, yaitu ampunan Allah terhadap semua dosa besar maupun kecil. Di dalamnya mengandung selamat dari setiap perkara yang tidak diinginkan dan memperoleh rahmat-Nya yang besar, di mana dengan rahmat-Nya keadaan mereka menjadi baik, urusan agama dan dunia mereka semakin lurus. Demikian pula mereka akan mendapatkan rahmat Allah di hari kiamat.

1 komentar: