Rabu, 20 Maret 2013

Tafsir An Nahl Ayat 70-83

Ayat 70-72: Di antara nikmat Allah Subhaanahu wa Ta'aala dalam kehidupan, rezeki, pasangan dan keturunan.

وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ (٧٠) وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ فَمَا الَّذِينَ فُضِّلُوا بِرَادِّي رِزْقِهِمْ عَلَى مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَهُمْ فِيهِ سَوَاءٌ أَفَبِنِعْمَةِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ (٧١) وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ (٧٢

Terjemah Surat An Nahl Ayat 70-72

70. Dan Allah telah menciptakan kamu[1], kemudian mewafatkanmu[2], di antara kamu ada yang dikembalikan kepada usia yang tua renta (pikun)[3], sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa[4].

71. [5]Dan Allah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain dalam hal rezeki[6], tetapi orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau memberikan rezekinya kepada para hamba sahaya yang mereka miliki, sehingga mereka sama[7]. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah[8]?

72. [9]Dan Allah menjadikan bagimu pasangan (suami atau istri) dari jenis kamu sendiri[10] dan menjadikan anak dan cucu bagimu dari pasanganmu, serta memberimu rezeki dari yang baik. Mengapa mereka beriman kepada yang batil[11] dan mengingkari nikmat Allah[12]?,

Ayat 73-76: Dibuatkan perumpamaan dalam Al Qur’an adalah untuk menerangkan dan mendekatkan makna dalam pikiran.

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَمْلِكُ لَهُمْ رِزْقًا مِنَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ شَيْئًا وَلا يَسْتَطِيعُونَ (٧٣) فَلا تَضْرِبُوا لِلَّهِ الأمْثَالَ إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٧٤) ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا عَبْدًا مَمْلُوكًا لا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَمَنْ رَزَقْنَاهُ مِنَّا رِزْقًا حَسَنًا فَهُوَ يُنْفِقُ مِنْهُ سِرًّا وَجَهْرًا هَلْ يَسْتَوُونَ الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْلَمُونَ (٧٥) وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلَيْنِ أَحَدُهُمَا أَبْكَمُ لا يَقْدِرُ عَلَى شَيْءٍ وَهُوَ كَلٌّ عَلَى مَوْلاهُ أَيْنَمَا يُوَجِّهْهُ لا يَأْتِ بِخَيْرٍ هَلْ يَسْتَوِي هُوَ وَمَنْ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَهُوَ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (٧٦

Terjemah Surat An Nahl Ayat 73-76

73. dan mereka menyembah selain Allah[13], sesuatu yang sama sekali tidak dapat memberikan rezeki kepada mereka, dari langit[14] dan bumi[15], dan tidak akan sanggup (berbuat apa pun)[16].  

74. Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui[17].

75. [18]Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya di bawah kekuasaan orang lain, yang tidak berdaya berbuat sesuatu, dan seorang[19] yang Kami beri rezeki yang baik, lalu Dia menginfakkan sebagian rezeki itu secara sembunyi-sembunyi dan secara terang-terangan. Samakah mereka itu[20]? Segala puji hanya bagi Allah, [21]tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui[22].

76. Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu[23], tidak dapat berbuat sesuatu[24] dan dia menjadi beban penanggungannya[25], ke mana saja dia disuruh (oleh penanggungnya itu), dia sama sekali tidak dapat mendatangkan suatu kebaikan. Samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada di jalan yang lurus[26]?

Ayat 77-79: Hanya Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang mengetahui yang gaib dan bukti kekuasaan-Nya dalam penciptaan manusia, dan karunia-Nya kepada manusia dengan melengkapi dirinya dengan berbagai sarana pengetahuan.

وَلِلَّهِ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا أَمْرُ السَّاعَةِ إِلا كَلَمْحِ الْبَصَرِ أَوْ هُوَ أَقْرَبُ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٧٧) وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (٧٨) أَلَمْ يَرَوْا إِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرَاتٍ فِي جَوِّ السَّمَاءِ مَا يُمْسِكُهُنَّ إِلا اللَّهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ   (٧٩)

Terjemah Surat An Nahl Ayat 77-79

77. Dan milik Allah (segala) yang tersembunyi di langit dan di bumi[27]. Urusan kejadian kiamat itu, hanya seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi)[28]. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

78. Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani[29], agar kamu bersyukur[30].

79. Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya[31] selain Allah[32]. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah)[33] bagi orang-orang yang beriman[34].

Ayat 80-83: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan manusia dengan nikmat tempat tinggal dan pakaian, dan agar hal itu disikapi mereka dengan sikap syukur.

وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ سَكَنًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ جُلُودِ الأنْعَامِ بُيُوتًا تَسْتَخِفُّونَهَا يَوْمَ ظَعْنِكُمْ وَيَوْمَ إِقَامَتِكُمْ وَمِنْ أَصْوَافِهَا وَأَوْبَارِهَا وَأَشْعَارِهَا أَثَاثًا وَمَتَاعًا إِلَى حِينٍ (٨٠) وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِمَّا خَلَقَ ظِلالا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْجِبَالِ أَكْنَانًا وَجَعَلَ لَكُمْ سَرَابِيلَ تَقِيكُمُ الْحَرَّ وَسَرَابِيلَ تَقِيكُمْ بَأْسَكُمْ كَذَلِكَ يُتِمُّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تُسْلِمُونَ (٨١) فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ الْمُبِينُ (٨٢) يَعْرِفُونَ نِعْمَةَ اللَّهِ ثُمَّ يُنْكِرُونَهَا وَأَكْثَرُهُمُ الْكَافِرُونَ (٨٣

Terjemah Surat An Nahl Ayat 80-83

80. [35]Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal[36] dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah (kemah-kemah) dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawa)nya pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan (dijadikan-Nya pula) dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, alat-alat rumah tangga[37] dan kesenangan sampai waktu (tertentu)[38].

81. Dan Allah menjadikan tempat bernaung bagimu[39] dari apa yang telah Dia ciptakan[40], Dia menjadikan bagimu tempat-tempat tinggal di gunung-gunung[41], dan Dia menjadikan pakaian bagimu yang memeliharamu dari panas[42] dan pakaian (baju besi) yang memelihara kamu dalam peperangan. Demikianlah[43] Allah menyempurnakan nikmat-Nya[44] kepadamu agar kamu berserah diri (kepada-Nya)[45].

82. Jika mereka berpaling[46], maka ketahuilah kewajiban yang dibebankan atasmu (Muhammad) hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang[47].

83. Mereka mengetahui nikmat Allah[48], kemudian mereka mengingkarinya[49] dan kebanyakan mereka adalah orang yang kafir[50].


[1] Padahal kamu sebelumnya tidak ada.

[2] Ketika sudah tiba ajalnya.

[3] Akalnya seperti akal anak-anak.

[4] Ilmu dan kekuasaan-Nya meliputi segala sesuatu, di antaranya adalah Dia memindahkan kejadian kamu dari lemah menjadi kuat, dan kembali lagi melemah.

[5] Ayat ini termasuk dalil tentang keberhakan Allah saja untuk diibadahi; tidak selain-Nya, dan dalil terhadap buruknya perbuatan syirk.

[6] Oleh karena itu, di antara kamu ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang merdeka dan ada yang menjadi budak.

[7] Yakni jika mereka saja tidak ingin hartanya dibagi rata kepada hamba sahaya mereka atau mereka tidak ingin ada yang bersekutu dalam harta mereka, maka mengapa mereka menjadikan sebagian makhluk milik-Nya sebagai sekutu bagi-Nya.

[8] Dengan mengadakan sekutu-sekutu bagi-Nya.

[9] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan terntang nikmat-Nya yang besar kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia menjadikan untuk mereka pasangan-pasangan agar mereka merasa tenteram kepadanya. Demikian juga menjadikan dari pasangan mereka anak dan cucu yang menyenangkan pandangan mereka, yang membantu dan memenuhi kebutuhan mereka serta memberi banyak manfaat bagi mereka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga memberikan kepada mereka rezeki dari yang baik-baik, berupa makanan, minuman, nikmat-nikmat yang nampak maupun tersembunyi yang mereka tidak sanggup menjumlahkannya.

[10] Oleh karena itu, Hawa diciptakan-Nya dari tulang rusuk Adam, sedangkan semua wanita diciptakan dari air mani laki-laki dan wanita.

[11] Yaitu patung dan berhala.

[12] Dengan menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada Allah dan berbuat kufur serta syirk kepada-Nya.

[13] Yaitu patung-patung dan berhala.

[14] Seperti hujan.

[15] Seperti tumbuhnya tanaman.

[16] Seperti inilah sifat berhala dan patung yang mereka sembah. Lalu mengapa mereka menyamakannya dengan Allah Penguasa langit dan bumi, di mana milik-Nya semua kerajaan, semua pujian dan semua kekuatan? Oleh karena itu, di ayat selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan agar jangan mengadakan tandingan atau sekutu bagi-Nya.

[17] Oleh karena itu, kita tidak boleh berkata tentang-Nya tanpa ilmu dan harus menyimak perumpamaan yang dibuat oleh-Nya Al ‘Aliim.

[18] Ibnu Jarir meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, tentang firman Allah Ta’ala, “Allah membuat perumpamaan seorang hamba sahaya…dst.” (An Nahl: 75) ia berkata, “Ayat ini turun tentang seorang laki-laki dari kaum Quraisy dan budaknya.” Sedangkan firman-Nya, “Dan Allah (juga) membuat perumpamaan, dua orang laki-laki, yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatu” sampai, “dan dia berada di jalan yang lurus?” Ia berkata, “Dia adalah Utsman bin Affan. Sedangkan yang bisu, yang jika diarahkan tidak mendatangkan kebaikan adalah Maula (budak yang dimerdekakan) Utsman bin ‘Affan, di mana Utsman menafkahinya, membebaninya dan mencukupkan kebutuhan pangannya, namun maulanya membenci Islam, melarang bersedekah dan melarang berbuat yang ma’ruf (baik).” Syaikh Muqbil menjelaskan, bahwa para perawinya adalah para perawi hadits shahih.

[19] Yang merdeka.

[20] Yakni antara budak yang lemah dengan yang merdeka yang bebas bertindak? Tentu tidak sama. Jika kedua makhluk itu saja tidak sama, maka apakah sama antara makhluk yang tidak memiliki kekuasaan dan kemampuan, bahkan ia butuh dari berbagai sisi dengan Yang Maha Pencipta yang memiliki segala sesuatu, yang Maha Kaya, lagi Maha Kuasa? Tentu tidak sama. Oleh karena itu, Dia memuji Diri-Nya. Perumpamaan di ayat tersebut adalah untuk membantah orang-orang musyrikin yang menyamakan Allah Tuhan yang memberi rezeki dengan berhala-berhala yang tidak berdaya.

[21] Seakan-akan sebelum kalimat di atas ada perkataaan, “Jika demikian keadaannya, maka mengapa orang-orang musyrik menyamakan sesembahan mereka dengan Allah?” Jawabnya adalah kalimat di atas.

[22] Jika sekiranya mereka mengetahui, tentu mereka idak berani berbuat syirk.

[23] Bisu dan tuli.

[24] Dia tidak paham dan tidak memberi pemahaman kepada orang lain.

[25] Dia tidak kreatif, dan menjadi beban bagi orang lain.

[26] Allah Subhaanahu wa Ta'aala membuatkan perumpamaan yang mudah dicerna oleh manusia agar mereka paham. Sebagaimana tidak sama antara dua makhluk di atas, maka tidak sama pula antara sesembahan selain Allah yang tidak mampu mendatangkan maslahat baik bagi diri maupun orang lain dengan Allah Yang Mahakuasa. Oleh karena itu, sesembahan itu selamanya tidak sebanding dengan Allah; yang firman-Nya adalah hak dan tidak berbuat kecuali perbuatan yang menjadikan-Nya berhak mendapat pujian. Ada pula yang menfasirkan, bahwa ayat ini menerangkan perumpamaan orang kafir dan orang mukmin. Namun ada yang menafsirkan, bahwa ayat ini menerangkan perumpamaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sedangkan yang bisu dan tidak mampu mendengar adalah patung dan berhala, sedangkan ayat sebelumnya menerangkan perumpamaan orang mukmin dengan orang kafir. Wallahu a’lam.

[27] Oleh karena itu, tidak ada yang mengetahui hal yang tersembunyi lagi samar kecuali Dia. Termasuk di antaranya adalah pengetahuan tentang kapan kiamat.

[28] Yang demikian, karena Dia cukup berkata, “Kun” (terjadilah), maka terjadilah dia, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ketika itu, manusia bangkit dari kuburnya dan telah hilang kesempatan bagi orang yang meminta penangguhan.

[29] Disebutkan ketiga hal ini karena kelebihannya, meskipun anggota badan yang lain juga merupakan pemberian Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Ketiga hal ini merupakan kunci bagi setiap ilmu. Seorang hamba tidaklah mendapatkan ilmu kecuali melalui salah satu pintu ini.

[30] Yakni terhadapnya sehingga kamu beriman. Bersyukur terhadapnya adalah dengan menggunakan pemberian itu untuk ketaatan kepada Allah. Barang siapa yang tidak menggunakan untuk berpikir mencari kebenaran atau untuk ketaatan kepada Allah, maka semua itu akan menjadi hujjah terhadapnya (berbalik menimpanya), dan sama saja membalas nikmat dengan keburukan.

[31] Ketika burung-burung itu menutup sayapnya atau membuka.

[32] Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang menciptakan burung yang membuatnya dapat terbang, Dia menciptakan pula angkasa yang memudahkan burung-burung terbang di sana dan Dia yang menahannya agar tidak jatuh.

[33] Yakni tanda yang menunjukkan sempurnanya kebijaksanaan Allah, ilmu-Nya yang luas, dan perhatian-Nya kepada semua makhluk serta sempurnanya kekuasaan-Nya.

[34] Karena kepada mereka (orang-orang beriman) ayat-ayat Allah bermanfaat, adapun selain mereka, maka pandangan mereka hanya sebatas pandangan main-main dan kelalaian.

[35] Di ayat ini dan setelahnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengingatkan kepada hamba-hamba-Nya nikmat-nikmat-Nya, mengajak mereka untuk mensyukuri-Nya dan mengakui-Nya.

[36] Yang melindungi kamu dari panas dan dingin.

[37] Seperti wadah, permadani, pakaian, keranjang, dll.

[38] Sehingga membuatnya menjadi usang. Ini semua termasuk yang ditundukkan Allah kepada hamba-hamba-Nya sehingga mereka mampu membuatnya.

[39] Yang melindungi diri dari terik panas matahari.

[40] Tanpa ada tindakan dari kamu, seperti bukit, pepohonan, awan, dsb.

[41] Seperti gua di gunung yang dapat melindungi diri dari panas, dingin, hujan dan serangan musuh.

[42] Demikian pula dari dingin. Tidak disebutkan di ayat ini kata-kata “dingin” karena sebagaimana diterangkan sebelumnya, bahwa bagian pertama surah ini menerangkan ushul (pokok-pokok) nikmat, sedangkan di akhirnya pelengkap dan penyempurna kenikmatan, sedangkan perlindungan dari dingin jelas termasuk ushul nikmat.

[43] Sebagaimana Dia menciptakan semua itu.

[44] Dengan menciptakan semua yang kamu butuhkan.

[45] Yakni mentauhidkan-Nya, tunduk kepada perintah-Nya dan mengarahkan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya untuk ketaatan kepada-Nya. Banyaknya nikmat yang diberikan seharusnya semakin menambah hamba bersyukur dan memuji-Nya, akan tetapi orang-orang zalim tidak menghendaki selain kedurhakaan. Oleh karena itu, di ayat selanjutnya, Dia berfirman, “Jika mereka berpaling…dst.”

[46] Dari masuk ke dalam Islam, atau dari Allah, dari menaati-Nya setelah disebutkan nikmat-nikmat dan ayat-ayat-Nya.

[47] Maksudnya, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak dapat memberi taufiq untuk mengikuti hidayah kepada seseorang sehingga dia beriman. Menurut penyusun tafsir Al Jalaalain, ayat ini sebelum turun perintah memerangi orang-orang kafir.

[48] Bahwa nikmat-nikmat yang mereka peroleh itu berasal dari-Nya.

[49] Dengan berbuat syirk kepada-Nya.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab menyebutkan tentang tafsir ayat di atas di kitab Tauhidnya sebagai berikut:

Dalam menafsiri ayat di atas Mujahid mengatakan bahwa maksudnya adalah kata-kata seseroang, “Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku.” Aun bin Abdullah mengatakan, “Yakni perkataan mereka ‘kalau bukan karena fulan, tentu tidak akan menjadi begini.” Ibnu Qutaibah berkata menafsiri ayat di atas: “Mereka mengatakan, ‘ini adalah sebab syafaat sesembahan-sesembahan kami.” Abul Abbas (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah) - setelah menyebutkan hadits yang diriwayatkan oleh Zaid bin Kholid yang di dalamnya terdapat sabda Nabi, “Sesungguhnya Allah berfirman, “Pagi ini sebagian hambaku ada yang beriman kepada-Ku dan ada yang kufur …, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya ia mengatakan, “Hal ini banyak terdapat dalam Al Qur’an maupun As Sunnah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala mencela orang yang menyekutukan-Nya dengan menisbatkan nikmat yang telah diberikan kepada selain-Nya.” Sebagian ulama salaf mengatakan, “Yaitu seperti ucapan mereka, “Anginnya bagus, nahkodanya cerdik pandai, dan sebagainya, yang biasa muncul dari ucapan banyak orang.”

[50] Tidak ada kebaikan dalam diri mereka, dan pengulangan ayat-ayat-Nya tidaklah bermanfaat bagi mereka, karena sudah rusaknya perasaan dan tujuan mereka. Kelak mereka akan melihat balasan Allah terhadap orang yang sombong lagi keras, kufur nikmat lagi dirhaka kepada Allah dan Rasul-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar