Sabtu, 16 Maret 2013

Tafsir An Nahl Ayat 14-29

Ayat 14-16: Memelihara kelestarian air merupakan sikap syukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan penjelasan tentang manfaat gunung, bintang dan makhluk ciptaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang lain.

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (١٤) وَأَلْقَى فِي الأرْضِ رَوَاسِيَ أَنْ تَمِيدَ بِكُمْ وَأَنْهَارًا وَسُبُلا لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٥) وَعَلامَاتٍ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُونَ        (١٦)

Terjemah Surat An Nahl Ayat 14-16

14. Dan Dialah yang menundukkan lautan (untukmu)[1], agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya, dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai[2]. Kamu (juga) melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya[3], dan agar kamu bersyukur[4].

15. Dan Dia menancapkan gunung di bumi agar bumi itu tidak goncang bersama kamu[5], (dan Dia menciptakan) sungai-sungai[6] dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk[7],  

16. dan (Dia menciptakan) tanda-tanda (penunjuk jalan)[8]. Dan dengan bintang-bintang mereka mendapat petunjuk[9].

Ayat 17-23: Orang yang berakal mengetahui kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala pada makhluk-Nya, sehingga dia pun menyembah-Nya, adapun orang yang tersesat dari jalan petunjuk, maka dia tidak dapat mengambil pelajaran dari nikmat Allah sehingga dia pun berpaling dan sombong.

أَفَمَنْ يَخْلُقُ كَمَنْ لا يَخْلُقُ أَفَلا تَذَكَّرُونَ (١٧) وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٨) وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ (١٩) وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ لا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ (٢٠) أَمْوَاتٌ غَيْرُ أَحْيَاءٍ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ     (٢١) إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَالَّذِينَ لا يُؤْمِنُونَ بِالآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ (٢٢) لا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ (٢٣

Terjemah Surat An Nahl Ayat 17-23

17. [10]Maka apakah (Allah) yang menciptakan sama dengan yang tidak dapat menciptakan (sesuatu)[11]? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?[12]

18. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya[13]. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[14].

19. [15]Dan Allah mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan.

20. Dan (berhala-berhala) yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apa pun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.  

21. (Berhala-berhala itu) benda mati, tidak hidup, dan berhala-berhala itu tidak mengetahui kapankah manusia dibangkitkan[16].

22. Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa[17]. Maka orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), dan mereka adalah orang yang sombong[18].

23. Tidak diragukan lagi bahwa Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan[19]. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang yang sombong[20].

Ayat 24-29: Apa yang diterima oleh orang-orang yang sombong pada hari Kiamat dan bagaimana mereka ditelentarkan.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (٢٤) لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلا سَاءَ مَا يَزِرُونَ (٢٥) قَدْ مَكَرَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَأَتَى اللَّهُ بُنْيَانَهُمْ مِنَ الْقَوَاعِدِ فَخَرَّ عَلَيْهِمُ السَّقْفُ مِنْ فَوْقِهِمْ وَأَتَاهُمُ الْعَذَابُ مِنْ حَيْثُ لا يَشْعُرُونَ (٢٦) ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُخْزِيهِمْ وَيَقُولُ أَيْنَ شُرَكَائِيَ الَّذِينَ كُنْتُمْ تُشَاقُّونَ فِيهِمْ قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ (٢٧) الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ فَأَلْقَوُا السَّلَمَ مَا كُنَّا نَعْمَلُ مِنْ سُوءٍ بَلَى إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ     (٢٨) فَادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا فَلَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ (٢٩

Terjemah Surat An Nahl Ayat 24-29

24. [21]Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?”[22] Mereka menjawab, “Dongeng-dongeng orang-orang dahulu,”

25. (ucapan mereka) menyebabkan mereka pada hari kiamat memikul dosa-dosanya sendiri secara sempurna, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, alangkah buruknya dosa yang mereka pikul itu.

26. Sungguh, orang-orang yang sebelum mereka telah mengadakan tipu daya (kepada rasul mereka), maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka mulai dari pondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan siksa itu datang kepada mereka dari arah yang tidak mereka sadari[23].

27. Kemudian Allah menghinakan mereka pada hari kiamat, dan berfirman, “Di manakah sekutu-sekutu-Ku itu (yang karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang yang beriman)?” Orang yang diberi ilmu[24] berkata, “Sesungguhnya kehinaan dan azab pada hari ini ditimpakan kepada orang yang kafir,”

28. (yaitu) orang yang dicabut nyawanya oleh para malaikat dalam keadaan berbuat zalim kepada diri sendiri[25], lalu mereka menyerahkan diri (sambil berkata), “Kami tidak pernah mengerjakan sesuatu kejahatan pun[26].” (Malaikat menjawab), “Pernah! Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan[27].”  

29. Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahannam, kamu kekal di dalamnya[28]. Pasti itu seburuk-buruk tempat orang yang menyombongkan diri[29].


[1] Agar dapat dilalui dengan perahu dan dapat diselami.

[2] Seperti mutiara dan marjan.

[3] Seperti dengan berdagang.

[4] Karena Dia telah memberikan kepada manusia segala maslahat dan kebutuhannya, bahkan menambah melebihi kebutuhan mereka, serta memberikan semua yang mereka minta. Sungguh kita tidak sanggup menjumlahkan pujian untuk-Nya, bahkan Dia sebagaimana pujian-Nya terhadap diri-Nya.

[5] Sehingga kamu dapat menggarap tanahnya, membuat bangunan dan berjalan di atasnya dengan tenang.

[6] Baik di permukaan bumi maupun di perutnya, di mana untuk mengeluarkannya butuh digali.

[7] Ke tempat yang kamu tuju.

[8] Seperti dapat mengetahui adanya gunung dengan memperhatikan sungai.

[9] Yakni mengetahui jalan-jalan dan dapat mengetahui arah kiblat di malam hari.

[10] Setelah Allah Ta’ala menyebutkan ciptaan-Nya dan menyebutkan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya, Allah menyebutkan bahwa tidak ada yang serupa dan sebanding dengan-Nya.

[11] Seperti halnya patung-patung.

[12] Sehingga kamu dapat menyadari bahwa yang menciptakan itulah yang berhak untuk diibadati.

[13] Apalagi sampai mensyukuri semua nikmat itu.

[14] Dia tetap memberimu nikmat meskipun kamu meremehkan perintah-Nya dan mendurhakai-Nya. Dia juga ridha dengan syukur kalian meskipun sedikit padahal nikmat-nikmat-Nya begitu banyak.

[15] Sebagaimana rahmat-Nya begitu luas, kepemurahan-Nya merata, dan ampunan-Nya mengena kepada semua hamba, demikian pula ilmu-Nya meliputi mereka. Dia mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka tampakkan, berbeda dengan sesembahan selain-Nya, di mana mereka (berhala-berhala) tidak sanggup mencipta, sedangkan mereka sendiri dicipta.

[16] Bagaimana berhala-berhala itu disembah, sedangkan mereka bukan pencipta, mereka tidak hidup, dan lagi tidak mengetahui yang gaib. Sungguh sesat dan rusak akal orang-orang musyrk, mereka menyamakan sesuatu yang memiliki kekurangan dari berbagai sisi dengan yang memiliki kesempurnaan dari berbagai sisi.

[17] Tidak ada tandingan bagi-Nya baik dalam zat maupun sifat.

[18] Tidak mau beriman dan beribadah kepada-Nya. Adapun orang-orang yang beriman dan berakal, maka mereka memuliakan-Nya, mengagungkan-Nya, mencintai-Nya, dan mengarahkan kepada-Nya semua ibadah yang mampu mereka lakukan baik berupa ibadah hati, ibadah ucapan dan perbuatan maupun ibadah harta, dan mereka memuji-Nya karena nama-nama-Nya yang indah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya yang suci.

[19] Berupa amal-amal buruk.

[20] Bahkan Dia membencinya dan akan membalas amal perbuatan mereka.

[21] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang kerasnya pendustaan orang-orang musyrik terhadap ayat-ayat Allah.

[22] Yakni ketika mereka ditanya (dimintai pendapatnya) tentang Al Qur’an yang merupakan nikmat terbesar bagi manusia, mereka menjawabnya dengan jawaban yang paling buruk, yang di dalamnya terdapat pendustaan dan penghinaan.

[23] Mereka sebelumnya mengira, bahwa bangunan yang mereka buat akan bermanfaat bagi mereka dan akan mencapaikan maksud yang mereka inginkan, namun ternyata bangunan itu berubah menjadi azab bagi mereka yang rubuh menimpa mereka. Ini merupakan perumpamaan yang sangat bagus, ketika mereka berpikir dan mengatur siasat untuk menimpakan makar kepada para rasul dan apa yang mereka bawa, sampai mereka membuat perencanaan yang matang, dan mereka buat pondasinya dan kemudian mereka tegakkan bangunan di atasnya (dengan melancarkan makar tersebut), hingga ketika telah tinggi bangunan yang mereka buat, maka Allah hancurkan pondasinya, sehingga bangunan yang telah mereka bangun atau rencana yang telah mereka matangkan dan hampir saja selesai ternyata runtuh, bahkan menimpa mereka. Ini ketika di dunia, sedangkan di akhirat ada lagi azab yang lebih keras.

[24] Yang dimaksud dengan orang-orang yang diberi ilmu adalah para nabi dan para ulama. Dalam ayat ini terdapat keutamaan ahli ilmu, dan bahwa mereka akan mengatakan yang hak di akhirat sebagaimana mereka telah mengatakan yang hak di dunia, dan bahwa perkataan mereka dipandang di sisi Allah dan di sisi makhluk-Nya.

[25] Dengan berbuat kekufuran.

[26] Yakni melakukan perbuatan syirk.

[27] Oleh karena itu, pengingkaran mereka tidaklah berguna. Hal ini pada sebagian tempat di hari kiamat, mereka mengingkari perbuatan mereka selama di dunia karena mengira bahwa pengingkaran itu bermanfaat bagi mereka, namun ketika anggota badan mereka bersaksi terhadap diri mereka, maka mereka akan mengaku. Oleh karenanya, mereka tidak dimasukkan ke dalam neraka sampai mereka benar-benar mengakui kesalahannya.

[28] Masing-masing orang kafir masuk melalui pintu yang sesuai dengan keadaan mereka.

[29] Ya, karena tempat itu adalah tempat penyesalan dan penderitaan, tempat kesengsaraan dan kepedihan, tempat kesedihan dan keputusasaan. Azabnya tidak dihentikan meskipun sehari, Tuhan Yang Maha Penyayang telah berpaling dari mereka dan merasakan kepada mereka azab yang pedih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar