Jumat, 08 Maret 2013

Tafsir Hud Ayat 1-5

Surah Hud

Surah ke-11. 123 ayat. Makkiyyah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-5: Menerangkan kemukjizatan Al Qur’an dalam shighat(bentuk)nya dan susunannya yang indah, perintah menyembah hanya kepada Allah, bukti-bukti keesaan dan kekuasaan-Nya, serta perintah beristighfar dan bertobat, dimana keduanya merupakan kunci kebahagiaan dan sebagai kunci rezeki yang luas

الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ (١)أَلا تَعْبُدُوا إِلا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ (٢) وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ (٣) إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٤) أَلا إِنَّهُمْ يَثْنُونَ صُدُورَهُمْ لِيَسْتَخْفُوا مِنْهُ أَلا حِينَ يَسْتَغْشُونَ ثِيَابَهُمْ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (٥

1. Alif laam raa. (Inilah) kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci[1], (yang diturunkan) dari sisi (Allah) yang Mahabijaksana[2] lagi Mahateliti[3],

2. Agar kamu tidak menyembah selain Allah[4]. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan[5] dan pembawa berita gembira[6] dari-Nya untukmu,

3. Dan hendaklah kamu memohon ampunan kepada Tuhanmu[7] serta bertobat kepada-Nya[8], niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik[9] kepadamu sampai waktu yang telah ditentukan[10]. Dan Dia akan memberikan karunia-Nya[11] kepada setiap orang yang berbuat baik. Dan jika kamu berpaling[12], maka sungguh, aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang besar (kiamat)[13].

4. Kepada Allah-lah kamu kembali. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu[14].

5.[15] Ingatlah, sesungguhnya mereka memalingkan[16] dada untuk menyembunyikan diri dari dia[17]. Ingatlah, ketika mereka menyelimuti dirinya dengan kain, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan[18], sungguh, Allah Maha Mengetahui (segala isi hati).


[1] Maksudnya diperinci atas beberapa macam, ada yang berbicara mengenai aqidah, ibadah, hukum, kisah, akhlak, ilmu pengetahuan, janji dan peringatan, nasehat, perumpamaan dan lain-lain.

[2] Dia meletakkan sesuatu pada tempatnya, menempatkan sesuatu pada posisinya, tidak memerintah dan melarang kecuali sesuai kebijaksanaan-Nya.

[3] Dia mengetahui yang nampak maupun yang tersembunyi. Oleh karena berasal dari sisi Allah yang Mahabijaksana lagi Maha Teliti, maka anda tidak perlu menanyakan tentang keagungan kitab itu serta kandungannya yang penuh hikmah dan rahmat.

[4] Yakni Allah menurunkan kitab itu untuk mengembalikan manusia kepada fitrahnya, yaitu menyembah hanya kepada Allah dan sebagai pedoman bagi mereka dalam meniti hidup di dunia yang fana ini.

[5] Dengan azab jika kamu kafir.

[6] Dengan pahala jika kamu beriman.

[7] Dari perbuatan syirk dan dosa-dosa lainnya.

[8] Dengan kembali menaati-Nya dan mengerjakan perbuatan yang dicintai-Nya.

[9] Yaitu penghidupan yang baik dan rezeki yang banyak.

[10] Yaitu kematian.

[11] Balasan-Nya.

[12] Yakni dari seruanku.

[13] Hari di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengumpulkan makhluk yang dahulu maupun yang datang kemudian, lalu memberikan balasan terhadap amal mereka. Jika amalnya baik, maka akan diberi balasan yang baik, dan jika buruk, maka akan diberi balasan yang buruk.

[14] Termasuk di antaranya Dia mampu memberikan pahala dan menimpakan siksa. Kata-kata ini seakan-akan seperti dalil yang menunjukkan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala berkuasa menghidupkan orang yang telah mati sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir yang mengingkarinya sebagaimana tersebut dalam ayat 7.

[15] Tentang sebab turunnya ayat ini disebutkan dalam hadits riwayat Imam Bukhari dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, bahwa ia mendengar Ibnu Abbas membacakan ayat, “Alaa innahum yatsnuuna shudurahum,” Ia (Muhammad bin ‘Abbad) berkata, “Aku bertanya kepadanya tentang ayat itu, ia menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang merasa malu ketika buang hajat jika kelihatan ke langit atau menjima’i istrinya lalu kelihatan ke langit, maka turunlah ayat berkenaan dengan mereka.” Dari jalan yang lain Imam Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin ‘Abbad bin Ja’far, bahwa Ibnu Abbas pernah membacakan ayat, “Alaa innahum yatsnuuna shudurahum,” aku pun bertanya, “Wahai Abul ‘Abbas, apa maksud mereka memalingkan (membungkukkan) dadanya?” Ia menjawab, “Yaitu seseorang menjima’i istrinya, lalu ia merasa malu atau buang hajat (dalam keadaan telanjang), lalu merasa malu (kemudian membungkukkan dadanya), maka turunlah ayat, “Alaa innahum yatsnuuna shudurahum,

Ada pula yang berpendapat, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik, wallahu a’lam.

[16] Bisa juga diartikan “membungkukkan.”

[17] Jika turun berkenaan dengan orang-orang munafik, maka maksudnya bahwa mereka menyembunyikan perasaan permusuhan dan kemunafikan mereka terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga kata “dia” di sana kembalinya kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Tetapi jika turun berkenaan orang-orang yang merasa malu ketika buang hajat atau menjima’i istrinya, maka kata “dia” di sana kembalinya kepada Allah, yakni mereka mencoba menyembunyikan diri dengan membungkukkan dadanya agar tidak dilihat-Nya, padahal Dia mengetahui segalanya termasuk apa yang disembunyikan dalam hati mereka. Ada pula yang menafsirkan, bahwa orang-orang yang mendustakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam karena saking berpalingnya mereka dari dakwah Beliau sampai membungkukkan dadanya ketika melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar Beliau tidak melihat mereka dan tidak mendakwahi mereka.

[18] Sehingga perbuatan mereka, yakni berusaha bersembunyi tidaklah berguna.

2 komentar: