Kamis, 28 Maret 2013

Tafsir Asy Syu’araa Ayat 160-191

Ayat 160-175: Pendustaan kaum Luth kepada Nabi mereka Luth ‘alaihis salam dan bagaimana mereka dibinasakan.

  كَذَّبَتْ قَوْمُ لُوطٍ الْمُرْسَلِينَ (١٦٠) إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ لُوطٌ أَلا تَتَّقُونَ (١٦١) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٦٢) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ    (١٦٣) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٤) أَتَأْتُونَ الذُّكْرَانَ مِنَ الْعَالَمِينَ (١٦٥)وَتَذَرُونَ مَا خَلَقَ لَكُمْ رَبُّكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ عَادُونَ (١٦٦) قَالُوا لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ يَا لُوطُ لَتَكُونَنَّ مِنَ الْمُخْرَجِينَ (١٦٧) قَالَ إِنِّي لِعَمَلِكُمْ مِنَ الْقَالِينَ (١٦٨) رَبِّ نَجِّنِي وَأَهْلِي مِمَّا يَعْمَلُونَ (١٦٩) فَنَجَّيْنَاهُ وَأَهْلَهُ أَجْمَعِينَ (١٧٠) إِلا عَجُوزًا فِي الْغَابِرِينَ (١٧١) ثُمَّ دَمَّرْنَا الآخَرِينَ (١٧٢)وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَسَاءَ مَطَرُ الْمُنْذَرِينَ (١٧٣)إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (١٧٤) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (١٧٥

Terjemah Surat Asy Syu’araa Ayat 160-175

160. [1]Kaum Luth telah mendustakan para rasul,

161. ketika saudara mereka Luth berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa?"

162. Sungguh, aku ini seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,  

163. maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku.

164. Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.

165. Mengapa kamu mendatangi jenis laki-laki di antara manusia (berbuat homoseks),

166. dan kamu tinggalkan perempuan yang diciptakan Tuhan untuk menjadi istri-istri kamu? Kamu (memang) orang-orang yang melampaui batas[2].”

167. Mereka menjawab, "Wahai Luth! Jika engkau tidak berhenti[3], engkau termasuk orang-orang yang terusir."

168. Dia (Luth) berkata, "Aku sungguh benci kepada perbuatanmu.”

169. [4](Luth berdoa), "Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dan keluargaku dari (akibat) perbuatan yang mereka kerjakan[5].”

170. Lalu Kami selamatkan dia bersama keluarganya semua,

171. kecuali seorang perempuan tua (istrinya), yang termasuk dalam golongan yang tinggal.

172. Kemudian Kami binasakan yang lain.

173. Dan Kami hujani mereka (dengan hujan batu[6]), maka betapa buruk hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu[7].

174. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.

175. Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.

Ayat 176-191: Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salam, pendustaan kaumnya kepadanya dan bagaimana mereka dibinasakan.

كَذَّبَ أَصْحَابُ الأيْكَةِ الْمُرْسَلِينَ (١٧٦) إِذْ قَالَ لَهُمْ شُعَيْبٌ أَلا تَتَّقُونَ (١٧٧) إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٧٨) فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَطِيعُونِ    (١٧٩) وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٨٠) أَوْفُوا الْكَيْلَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُخْسِرِينَ        (١٨١) وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ (١٨٢)وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ (١٨٣)وَاتَّقُوا الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالْجِبِلَّةَ الأوَّلِينَ (١٨٤) قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ (١٨٥) وَمَا أَنْتَ إِلا بَشَرٌ مِثْلُنَا وَإِنْ نَظُنُّكَ لَمِنَ الْكَاذِبِينَ (١٨٦) فَأَسْقِطْ عَلَيْنَا كِسَفًا مِنَ السَّمَاءِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (١٨٧) قَالَ رَبِّي أَعْلَمُ بِمَا تَعْمَلُونَ (١٨٨) فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَهُمْ عَذَابُ يَوْمِ الظُّلَّةِ إِنَّهُ كَانَ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ (١٨٩) إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (١٩٠) وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (١٩١

Terjemah Surat Asy Syu’araa Ayat 176-191

176. Penduduk Aikah[8] telah mendustakan para rasul;

177. Ketika Syu'aib[9] berkata kepada mereka, "Mengapa kamu tidak bertakwa[10]?

178. Sungguh, aku adalah rasul kepercayaan[11] (yang diutus) kepadamu.

179. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;

180. Dan aku tidak meminta imbalan kepadamu atas ajakan itu; imbalanku hanyalah dari Tuhan seluruh alam.

181. [12]Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu merugikan orang lain;

182. dan timbanglah dengan timbangan yang benar.

183. Dan janganlah kamu merugikan manusia dengan mengurangi hak-haknya[13] dan janganlah membuat kerusakan di bumi[14];

184. dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang terdahulu[15].”

185. Mereka berkata[16], "Engkau tidak lain hanyalah orang-orang yang kena sihir[17],

186. dan engkau hanyalah manusia seperti kami[18], dan sesungguhnya kami yakin engkau termasuk orang-orang yang berdusta[19].

187. Maka jatuhkanlah kepada kami gumpalan dari langit[20], jika engkau termasuk orang-orang yang benar.

188. Dia (Syu'aib) berkata, "Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan[21].”

189. Kemudian mereka mendustakannya (Syu'aib)[22], lalu mereka ditimpa azab pada hari yang gelap[23]. Sungguh, itulah azab pada hari yang dahsyat[24].

190. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah)[25], tetapi kebanyakan mereka tidak beriman[26].

191. Dan sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Mahaperkasa[27] lagi Maha Penyayang[28].


[1] Nabi Luth 'alaihis salam berdakwah sebagaimana para nabi sebelumnya, dan kaumnya menyikapi Beliau sebagaimana sikap orang-orang sebelum mereka yang mendustakan para rasul, hati mereka sama dalam kekafiran sehingga ucapannya sama. Di samping mereka (kaum Luth) berbuat syirk, mereka juga mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah didahului oleh seorang pun sebelum mereka, mereka lebih memilih menikahi laki-laki dan tidak suka kepada wanita karena sikap melampaui batasnya mereka, maka Nabi Luth senantiasa mendakwahi mereka agar mereka mentauhidkan Allah dan tidak berbuat keji itu, sehingga pada akhirnya kaum Luth berkata, "Wahai Luth! Jika engkau tidak berhenti, engkau termasuk orang-orang yang terusir."

[2] Dari yang halal kepada yang haram.

[3] Melakukan nahi munkar terhadap kami.

[4] Ketika Nabi Luth melihat kaumnya tetap di atas perbuatan itu (syirk dan berbuat keji).

[5] Yakni dari perbuatan keji itu dan akibatnya.

[6] Dari tanah yang keras.

[7] Sehingga mereka binasa sampai orang yang terakhir.

[8] Yang dimaksud dengan penduduk Aikah ialah penduduk Madyan Yaitu kaum Nabi Syu'aib ‘alaihis salam. Aikah artinya belukar atau kebun-kebun yang dikelilingi pepohonan.

[9] Tidak disebutkan saudara mereka, karena Beliau bukan dari golongan mereka.

[10] Kepada Allah, dengan meninggalkan perbuatan yang membuat-Nya murka, yaitu kesyirkkan, kekafiran dan kemaksiatan.

[11] Yakni oleh karena itu, seharusnya kamu bertakwa kepada Allah dan menaatiku.

[12] Mereka di samping berbuat syirk, juga mengurangi takaran dan timbangan.

[13] Yakni mengurangi harta mereka dan mengambilnya dengtan mengurangi takaran dan timbangan.

[14] Seperti melakukan pembunuhan, pembajakan dan menakut-nakuti kafilah yang lewat.

[15] Yakni sebagaimana Dia sendiri yang menciptakan kamu dan menciptakan orang-orang sebelum kamu tanpa sekutu, maka sembahlah Dia saja dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan sebagaimana Dia sendiri yang memberimu nikmat, maka sikapilah dengan bersyukur kepada-Nya.

[16] Sambil mendustakan dan menolaknya.

[17] Sehingga ucapanmu keluar tanpa sadar.

[18] Yakni engkau tidak memiliki kelebihan di atas kami sehingga kami harus mengikutimu. Hal ini seperti ucapan orang-orang sebelum mereka dan orang-orang setelah mereka yang menentang para rasul dengan syubhat tersebut; syubhat yang senantiasa mereka gunakan, karena sepakatnya mereka di atas kekafiran sehingga hati dan ucapan mereka sama. Syubhat tersebut telah dijawab para rasul, bahwa mereka memang manusia seperti yang lain, akan tetapi Allah memberikan nikmat kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya (lihat surah Ibrahim: 11).

[19] Inilah sikap beraninya mereka, berbuat zalim dan berkata dusta. Padahal tidak ada seorang rasul pun kecuali Allah telah menampakkan melalui kedua tangannya ayat-ayat yang menunjukkan kebenaran dan amanahnya, terlebih Syu’aib ‘alaihis salam yang digelari dengan “Khathibul anbiyaa’ (juru bicara para nabi) karena bagusnya dalam menyampaikan nasehat dan dalam berdebat. Kaumnya telah meyakini kebenaran Beliau dan bahwa apa yang Beliau bawa adalah hak (benar), akan tetapi mereka mereka malah menyatakan bahwa Beliau berdusta.

[20] Yakni yang membinasakan kami sampai habis.

[21] Maksudnya, turunnya azab dan terjadinya ayat yang diusulkan bukanlah Beliau yang mendatangkan dan menurunkannya, karena tugas Beliau hanyalah menyampaikan dan menasehati, dan hal itu telah Beliau lakukan, dan bahwa yang mendatangkan apa yang mereka minta adalah Allah yang mengetahui amal dan keadaan mereka, yang selanjutnya akan membalas dan menghisab mereka.

[22] Sikap mendustakan telah melekat dalam diri mereka dan kekafiran telah menjadi kebiasaan mereka, di mana ayat-ayat dan nasehat sudah tidak lagi bermanfaat, sehingga tidak ada cara lain yang dapat menghentikan sikap mereka selain diberikan hukuman.

[23] Ibnu Katsir berkata, “Ini termasuk jenis (azab) yang mereka minta, yaitu ditimpakan kepada mereka gumpalan (dari langit). Allah Subhaanahu wa Ta'aala menjadikan hukuman mereka dengan menimpakan panas yang tinggi selama tujuh hari, di mana mereka tidak terlindungi oleh sesuatu apa pun, lalu sebuah awan datang kepada mereka dan menaungi mereka, kemudian mereka pergi ke naungan itu dan berlindung di bawah naungan itu dari panas yang mereka rasakan. Ketika mereka semua telah berkumpul di bawahnya, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengirimkan kepada mereka percikan api, gejolaknya dan sinar yang sangat terang, lalu bumi mengguncang mereka, kemudian datang kepada mereka suara keras yang membuat ruh-ruh mereka keluar (mati). Oleh karena itu, Dia berfirman, Sungguh, itulah azab pada hari yang dahsyat.” Qatadah berkata, “Ubaidullah bin Umar radhiyallahu 'anhu berkata, “Sesungguhnya Allah mengirimkan kepada mereka panas selama tujuh hari, sampai-sampai tidak ada sesuatu pun yang melindungi mereka darinya, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengadakan untuk mereka sebuah awan, lalu salah seorang di antara mereka pergi kepadanya dan bernaung dengannya, ia merasakan kesejukan dan rasa santai di bawahnya, kemudian ia memberitahukan kepada kaumnya, lalu mereka semua mendatanginya dan bernaung di bawahnya, kemudian dinyalakan api kepada mereka.” Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Allah mengirimkan kepada mereka naungan, sehingga ketika mereka telah berkumpul (di bawahnya), maka Allah singkirkan naungan itu, lalu sinar matahari dipanaskan kepada mereka, kemudian mereka terbakar sebagaimana belalang terbakar dalam penggorengan.” Muhammad bin Jarir berkata: Dari Yazid Al Bahiliy, (ia berkata), “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas tentang ayat ini, “lalu mereka ditimpa azab pada hari yang gelap” maka Beliau menjawab, “Allah mengirimkan kepada mereka guruh dan panas yang tinggi, lalu menimpa nafas mereka, kemudian mereka keluar dari rumah ke lapangan, lalu Allah mengirimkan awan kepada mereka dan menaungi mereka dari panas matahari. Mereka pun merasakan dingin dan kesejukannya, lalu sebagian mereka memanggil (memberitahukan) yang lain, sehingga ketika mereka telah berkumpul di bawah naungan itu, maka Allah mengirimkan api kepada mereka.” Ibnu Abbas melanjutkan, “Itu adalah azab pada hari yang gelap. Itu adalah azab hari yang besar.”

[24] Mereka tidak akan kembali lagi ke dunia untuk memperbaiki amal mereka dan mereka akan diazab selama-lamanya, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

[25] Bisa juga diartikan, “terdapat tanda yang menunjukkan kebenaran Syu’aib, kebenaran dakwah Beliau dan batilnya bantahan kaumnya.”

[26] Padahal mereka melihat ayat-ayat itu, namun mereka tidak juga beriman karena tidak ada lagi kebaikan dalam diri mereka dan sudah tidak dapat diharapkan lagi.

[27] Dengan keperkasaan-Nya Dia mengalahkan musuh-musuh-Nya ketika mereka mendustakan para rasul-Nya.

[28] Rahmat (kasih sayang) adalah sifat-Nya, dan di antara atsar (hasilnya) adalah semua kebaikan yang diperoleh makhluk di dunia dan akhirat dari sejak Allah menciptakan alam dan seterusnya. Dengan rahmat-Nya Dia menyelamatkan wali-wali-Nya dan orang-orang yang mengikuti mereka dari kalangan kaum mukmin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar