Senin, 11 Maret 2013

Tafsir Ar Ra’d Ayat 25-34

Ayat 25-27: Di antara sifat dan perbuatan orang-orang kafir, dan bahwa mereka senang dengan kesenangan yang mereka dapatkan di dunia, serta penjelasan bahwa rezeki itu di Tangan Allah Subhaanahu wa Ta'aala

وَالَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ أُولَئِكَ لَهُمُ اللَّعْنَةُ وَلَهُمْ سُوءُ الدَّارِ (٢٥) اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلا مَتَاعٌ (٢٦)وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ (٢٧

Terjemah Surat Ar Ra’d Ayat 25-27

25.[1] Dan orang-orang yang melanggar janji Allah[2] setelah diikrarkannya dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah agar dihubungkan[3] dan berbuat kerusakan di bumi, mereka itulah memperoleh kutukan[4] dan tempat kediaman yang buruk (Jahannam).

26. Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasi (bagi siapa yang Dia kehendaki). Mereka bergembira dengan kehidupan dunia[5], padahal kehidupan dunia hanyalah kesenangan (yang sedikit dan sementara) dibanding kehidupan akhirat.

27. Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda (mukjizat) dari Tuhannya?”[6] Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki[7] dan memberi petunjuk orang yang kembali kepada-Nya[8],”

Ayat 28-29: Di antara pengaruh dzikrullah, yaitu memberikan ketenteraman dan ketenangan di hati, dan bagaimana Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuliakan orang-orang mukmin dengan dimasukkan-Nya ke dalam surga

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (٢٨) الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (٢٩

Terjemah Surat Ar Ra’d Ayat 28-29

28. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah[9]. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.

29. Orang-orang yang beriman[10] dan mengerjakan kebajikan[11], mereka mendapat kebahagiaan[12] dan tempat kembali yang baik.

Ayat 30-34: Pengutusan rasul-rasul kepada umat manusia merupakan sunnah Allah, Al Qur’an kitab yang menggoncangkan dunia, ajakan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kaumnya untuk mentauhidkan Allah, dan bagaimana mereka (kaumnya) menyusahkan diri dengan meminta didatangkan mukjizat dan mengolok-olok rasul serta menyembah berhala, dan akibat buruk yang akan mereka rasakan, yaitu kekalahan, kehinaan dan penyesalan

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهَا أُمَمٌ لِتَتْلُوَ عَلَيْهِمُ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَهُمْ يَكْفُرُونَ بِالرَّحْمَنِ قُلْ هُوَ رَبِّي لا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ مَتَابِ (٣٠) وَلَوْ أَنَّ قُرْآنًا سُيِّرَتْ بِهِ الْجِبَالُ أَوْ قُطِّعَتْ بِهِ الأرْضُ أَوْ كُلِّمَ بِهِ الْمَوْتَى بَلْ لِلَّهِ الأمْرُ جَمِيعًا أَفَلَمْ يَيْأَسِ الَّذِينَ آمَنُوا أَنْ لَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لَهَدَى النَّاسَ جَمِيعًا وَلا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا تُصِيبُهُمْ بِمَا صَنَعُوا قَارِعَةٌ أَوْ تَحُلُّ قَرِيبًا مِنْ دَارِهِمْ حَتَّى يَأْتِيَ وَعْدُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (٣١) وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ (٣٢) أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا لا يَعْلَمُ فِي الأرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ (٣٣) لَهُمْ عَذَابٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَعَذَابُ الآخِرَةِ أَشَقُّ وَمَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَاقٍ (٣٤

Terjemah Surat Ar Ra’d Ayat 30-34

30. Demikianlah[13], Kami telah mengutus engkau (Muhammad) kepada suatu umat[14] yang sungguh sebelumnya telah berlalu beberapa umat[15], agar engkau bacakan kepada mereka (Al Quran) yang Kami wahyukan kepadamu, padahal mereka ingkar kepada Tuhan yang Maha Pengasih[16]. Katakanlah, “Dia Tuhanku, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia[17]; hanya kepada-Nya aku bertawakkal[18] dan hanya kepada-Nya aku bertobat[19].”

31.[20] Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan itu gunung-gunung dapat bergeser (dari tempatnya), atau bumi jadi terbelah[21], atau orang yang sudah mati dapat berbicara, (itulah Al Quran)[22]. Sebenarnya segala urusan itu milik Allah[23]. [24]Maka tidakkah orang-orang yang beriman mengetahui bahwa sekiranya Allah menghendaki (semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya[25]. Dan orang-orang yang kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri[26] atau bencana[27] itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sampai datang janji Allah[28]. Sungguh, Allah tidak menyalahi janji[29].

32. Dan sesungguhnya beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) telah diperolok-olokkan[30], maka Aku beri tenggang waktu kepada orang-orang kafir itu, kemudian Aku binasakan mereka. Maka alangkah dahsyatnya siksaan-Ku itu![31]

33. Maka apakah Tuhan yang menjaga setiap jiwa terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang lain)?[32] Mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah[33]. Katakanlah, “Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu[34].” Atau apakah kamu hendak memberitakan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi[35], atau (mengatakan tentang hal itu[36]) sekedar perkataan pada lahirnya saja[37]. Sebenarnya bagi orang-orang kafir, tipu daya mereka itu[38] dijadikan terasa indah, dan mereka dihalangi dari jalan (yang benar). Dan barang siapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang memberi petunjuk baginya.

34. Mereka mendapat siksaan dalam kehidupan dunia[39], dan azab akhirat pasti lebih keras[40]. Tidak ada seorang pun yang melindungi mereka dari (azab) Allah.


[1] Setelah Allah menyebutkan keadaan penghuni surga, Allah menyebutkan keadaan penghuni neraka.

[2] Yang disampaikan melalui para rasul, lalu mereka tidak mau tunduk dan menerima, bahkan malah berpaling dan melanggarnya.

[3] Mereka tidak menyambung hubungan mereka dengan Tuhan mereka dengan iman dan amal saleh, dan tidak menyambung hubungan mereka dengan kerabat dengan bersilaturrahim, dan mereka tidak memenuhi hak-hak, bahkan mengadakan kerusakan di bumi dengan berbuat kekafiran dan kemaksiatan serta menghalangi manusia dari jalan Allah dan menginginkannya menjadi bengkok.

[4] Dijauhkan dari rahmat Allah, dan mendapatkan celaan dari Allah, malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

[5] Karena apa yang mereka peroleh darinya.

[6] Mereka menyatakan, bahwa jika mukjizat itu datang, niscaya mereka akan beriman, padahal kesesatan dan hidayah bukanlah di tangan mereka, sehingga mereka menggantungkan hal itu dengan datangnya mukjizat. Mereka berdusta dalam ucapannya itu, bahkan, ”Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Terj. Al An’aam: 111)

Demikian juga tidak mesti rasul itu harus mendatangkan mukjizat yang mereka tentukan dan usulkan, bahkan jika Beliau datang kepada mereka dengan membawa ayat yang menerangkan kebenaran yang dibawanya, maka hal itu pun sudah cukup, dan lebih bermanfaat bagi mereka dari usulan yang mereka usulkan. Hal itu, karena jika mukjizat yang mereka usulkan itu datang, lalu mereka tidak beriman, maka azab akan disegerakan untuk mereka.

[7] Sehingga ayat-ayat yang menunjukkan kebenaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidaklah berguna sedikit pun baginya.

[8] Yakni bertobat kepada-Nya, atau mencari keridhaan-Nya.

[9] Dan memang patut demikian. Hal itu, karena tidak ada yang lebih nikmat bagi hati dan lebih manis baginya daripada mencintai Tuhannya, dekat dengan-Nya dan mengenal-Nya. Semakin tinggi tingkat ma’rifat(mengenal)nya kepada Allah dan kecintaan kepada-Nya, maka semakin banyak menyebut nama Tuhannya dan mengingat-Nya, seperti dengan bertasih, bertahlil (mengucapkan Laailaahaillallah), bertakbir, dsb. Ada yang menafsirkan “mengingat Allah” di sini dengan mengingat janji Allah Ta’ala. Ada pula yang menafsirkan “mengingat Allah” dengan kitab-Nya yang diturunkan sebagai pengingat bagi orang-orang mukmin. Oleh karena itu, maksud tenteramnya hati karena mengingat Allah adalah ketika mengenali kandungan Al Qur’an dan hukum-hukumnya, karena kandungannya menunjukkan kebenaran kebenaran lagi diperkuat dalil-dalil dan bukti sehingga hati semakin tenteram, karena hati tidaklah tenteram kecuali dengan ilmu dan keyakinan, dan hal itu ada dalam kitab Allah.

[10] Kepada rukun iman yang enam.

[11] Mereka membuktikan keimanannya dengan amal saleh.

[12] Karena mereka mendapatkan keridhaan Allah dan kemuliaan-Nya di dunia dan akhirat. Mereka juga memperoleh istirahat dan ketenangan yang sempurna, di antaranya adalah dengan memperoleh pohon thubaa di surga; di mana seorang pengendara berjalan di bawah naungannya selama seratus tahun, namun belum juga dilaluinya.

[13] Sebagaimana Kami telah mengutus para nabi sebelummu.

[14] Agar engkau (Muhammad) mengajak mereka kepada petunjuk.

[15] Yang kepada mereka diutus pula para rasul. Sehingga engkau bukanlah rasul yang baru yang menyebabkan mereka mengingkari kerasulanmu.

[16] Mereka mengatakan saat diperintahkan untuk sujud kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, “Siapakah Tuhan Yang Maha Pengasih itu?” Mereka tidak membalas rahmat dan ihsan-Nya -yang salah satunya adalah dengan diutus-Nya rasul dan diturukan-Nya kitab- dengan menerima dan bersyukur, bahkan mereka menolak dan mengingkarinya.

[17] Kalimat ini mengandung dua tauhid; tauhid rububiyyah dan tauhid uluhiyyah, yakni memberitahukan bahwa hanya Allah Tuhan yang mencipta, memberi rezeki dan menguasai alam semesta, dan hanya Dia yang berhak disembah; tidak selain-Nya.

[18] Dalam semua urusanku.

[19] Ada yang mengartikan dengan, “Aku kembali kepada-Nya dalam semua ibadah dan kebutuhanku.”

[20] Dalam ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menerangkan kelebihan Al Qur’an di atas kitab-kitab lainnya yang diturunkan.

Disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain, bahwa ayat ini turun ketika orang-orang musyrik berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Jika engkau memang seorang nabi, maka singkirkanlah dari kami gunung-gunung Mekah, dan jadikanlah untuk kami di sana sungai-sungai dan mata air agar kami menanam dan menggarapnya, serta bangkitkanlah nenek-moyang kami yang sudah meninggal agar berbicara dengan kami bahwa engkau adalah seorang nabi.” Namun kami belum mengetahui kesahihan riwayat ini, wallahu a’lam.

[21] Menjadi kebun-kebun dan sungai-sungai.

[22] Ayat ini dapat juga diartikan, “Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan membacanya gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, maka itulah Al Qur’an (namun mereka tetap tidak juga akan beriman).”

[23] Bukan milik selain-Nya. Oleh karena itu, jika apa yang mereka usulkan itu didatangkan, maka tidak ada yang beriman selain orang yang Dia kehendaki untuk beriman.

[24] Disebutkan dalam tafsir Al Jalaalain, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan keinginan para sahabat agar ditunjukkan mukjizat yang diusulkan orang-orang musyrik karena keinginan dari mereka agar orang-orang musyrik itu beriman.

[25] Tanpa perlu mendatangkan mukjizat. Tetapi Dia tidak menghendaki, Dia memberi petunjuk siapa yang Dia kehendaki dan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki.

[26] Seperti dibunuh, ditawan, diperangi atau ditimpa kemarau panjang.

[27] Yang ditimpakan pasukan engkau wahai Muhammad.

[28] Ada yang menafsirkan dengan penaklukkan Mekah. Ada pula yang menafsirkan dengan ancaman Allah untuk diturunkan azab yang tidak mungkin ditolak.

[29] Ini merupakan ancaman untuk mereka (orang-orang kafir) dan untuk menakut-nakuti mereka terhadap turunnya azab yang diancamkan itu karena kekafiran, pembangkangan dan kezaliman mereka.

[30] Oleh karena itu, engkau bukanlah orang pertama yang didustakan dan disakiti. Ayat ini merupakan hiburan bagi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[31] Yakni tepat mengenai sasaran. Demikian pula tindakan Allah kepada orang-orang yang mengolok-olok Rasul-Nya. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mereka yang mendustakan dan mengolok-olok itu tertipu bahwa mereka tidak akan diazab hanya karena diberi tenggang waktu.

[32] Tentu tidak sama.

[33] Padahal Dia Mahaesa dan semua makhluk bergantung kepada-Nya.

[34] Agar diketahui keadaan yang sebenarnya.

[35] Bahwa Dia memiliki sekutu. Jika memang Dia memiliki sekutu, tentu Dia mengetahuinya.

[36] Yakni sebagai sekutu.

[37] Yang sama sekali tidak ada hakikatnya.

[38] Yakni perbuatan kufurnya, syirknya dan pendustaannya terhadap ayat-ayat Allah.

[39] Seperti dengan dibunuh dan ditawan.

[40] Karena dahsyat dan kekalnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar