Sabtu, 30 Maret 2013

Tafsir Al Qashash Ayat 29-43

Ayat 29-30: Musa ‘alaihis salam pulang ke Mesir dan menerima wahyu untuk berdakwah kepada Fir’aun.

  فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الأجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لأهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (٢٩) فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٣٠

Terjemah Surat Al Qashash Ayat 29-30

29. Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu[1] dan dia berangkat dengan keluarganya (menuju Mesir), ia melihat api di lereng gunung[2]. Dia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu[3] dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan.”

30. Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah dari sebatang pohon di sebidang tanah yang diberkahi, "Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam[4]!

Ayat 31-35: Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajak berbicara kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, penampakkan mukjizatnya dan pemuliaan untuknya dengan mengangkat saudaranya Harun sebagai nabi.

  وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الآمِنِينَ (٣١) اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ (٣٢) قَالَ رَبِّ إِنِّي قَتَلْتُ مِنْهُمْ نَفْسًا فَأَخَافُ أَنْ يَقْتُلُونِ    (٣٣) وَأَخِي هَارُونُ هُوَ أَفْصَحُ مِنِّي لِسَانًا فَأَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا يُصَدِّقُنِي إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُكَذِّبُونِ (٣٤) قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ بِأَخِيكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطَانًا فَلا يَصِلُونَ إِلَيْكُمَا بِآيَاتِنَا أَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغَالِبُونَ (٣٥

 

Terjemah Surat Al Qashash Ayat 31-35

31. Dan lemparkanlah tongkatmu.” Maka ketika dia (Musa) melihatnya bergerak-gerak seakan-akan seekor ular yang gesit[5], dia lari ke belakang tanpa menoleh. (Allah berfirman), "Wahai Musa! Kemarilah dan jangan takut. Sesungguhnya engkau termasuk orang yang aman[6].

32. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu[7], ia akan keluar putih bercahaya tanpa cacat, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu apabila ketakutan[8]. Itulah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan engkau pertunjukkan kepada Fir'aun dan para pembesarnya). Sungguh, mereka adalah orang-orang fasik[9].”

33. Dia (Musa) berkata[10], "Ya Tuhanku, sungguh aku telah membunuh seorang dari golongan mereka, sehingga aku takut mereka akan membunuhku.

34. Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku[11], maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sungguh, aku takut mereka akan mendustakanku.”

35. Dia (Allah) berfirman, "Kami akan menguatkan engkau (membantumu) dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar[12], maka mereka tidak akan dapat mencapaimu[13]; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamu yang akan menang[14].”

Ayat 36-43: Awal kedatangan Nabi Musa ‘alaihis salam kepada Fir’aun dengan membawa bukti-bukti yang nyata, kesombongan Fir’aun dan kaumnya, penenggelaman mereka, dan penurunan kitab Taurat oleh Allah kepada Bani Israil sebagai petunjuk dan rahmat untuk mereka.

فَلَمَّا جَاءَهُمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا بَيِّنَاتٍ قَالُوا مَا هَذَا إِلا سِحْرٌ مُفْتَرًى وَمَا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الأوَّلِينَ (٣٦) وَقَالَ مُوسَى رَبِّي أَعْلَمُ بِمَنْ جَاءَ بِالْهُدَى مِنْ عِنْدِهِ وَمَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ (٣٧) وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلأ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرِي فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَى إِلَهِ مُوسَى وَإِنِّي لأظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ (٣٨)وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لا يُرْجَعُونَ (٣٩)فَأَخَذْنَاهُ وَجُنُودَهُ فَنَبَذْنَاهُمْ فِي الْيَمِّ فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الظَّالِمِينَ (٤٠)وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ لا يُنْصَرُونَ (٤١)وَأَتْبَعْنَاهُمْ فِي هَذِهِ الدُّنْيَا لَعْنَةً وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ هُمْ مِنَ الْمَقْبُوحِينَ (٤٢)وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الأولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (٤٣

Terjemah Surat Al Qashash Ayat 36-43

36. Maka ketika Musa datang kepada mereka dengan (membawa) mukjizat Kami yang nyata, mereka berkata[15], "Ini hanyalah sihir yang dibuat-buat[16], dan kami tidak pernah mendengar (yang seperti) ini pada nenek moyang kami dahulu[17].”

37. Dan dia (Musa) menjawab[18], "Tuhanku lebih mengetahui siapa yang (pantas) membawa petunjuk dari sisi-Nya dan siapa yang akan mendapat kesudahan (yang baik) di akhirat. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan mendapat kemenangan[19].”

38. Dan Fir'aun berkata[20], "Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku[21]. Maka bakarkanlah tanah liat untukku wahai Haman (untuk membuat batu bata), kemudian buatkanlah bangunan yang tinggi untukku agar aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan yakin bahwa dia termasuk pendusta[22].”

39. Dan dia (Fir’aun) dan bala tentaranya berlaku sombong[23], di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada kami[24].

40. Maka Kami siksa dia (Fir'aun) dan bala tentaranya[25], lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang zalim[26].

41. Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang mengajak (manusia) ke neraka[27] dan pada hari Kiamat mereka tidak akan ditolong[28].

42. Dan Kami susulkan laknat kepada mereka di dunia ini[29]; sedangkan pada hari Kiamat mereka termasuk orang-orang yang dijauhkan (dari rahmat Allah)[30].

43. Dan sungguh, telah Kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) setelah Kami binasakan umat-umat yang terdahulu[31], untuk menjadi pelita bagi manusia[32] dan petunjuk serta rahmat, agar mereka mendapat pelajaran.


[1] Beliau rindu dengan keluarganya dan kampung halamannya.

[2] Setelah Musa ‘alaihis salam menyelesaikan perjanjian dengan mertuanya. Dia berangkat dengan keluarganya dengan sejumlah kambing yang diberi mertuanya, maka pada suatu malam yang gelap dan dingin, Musa ‘alaihis salam tiba di suatu tempat, di mana setiap kali Beliau menghidupkan api, ternyata api itu tidak menyala. Hal ini sangat mengherankan Musa, sehingga ia berkata kepada istrinya seperti yang disebutkan dalam ayat 29.

[3] Tentang jalan yang harus dilalui, di mana ketika itu Beliau sedang tersesat jalan dan merasakan kedinginan.

[4] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan rububiyyah-Nya (pengaturan-Nya terhadap alam semesta) dan uluhiyyah-Nya (keberhakan-Nya untuk disembah). Di tempat dan di saat itulah Musa ‘alaihis salam diangkat menjadi rasul.

[5] Yakni ular jantan yang besar.

[6] Maka Nabi Musa ‘alaihis salam menghadap dengan tidak takut, bahkan merasa tenteram dan percaya dengan berita Tuhannya. Imannya bertambah dan keyakinannya sempurna.

Mukjizat ini Allah perlihatkan sebelum Beliau berangkat menghadap Fir’aun agar Beliau berada di atas keyakinan yang sempurna sehingga Beliau lebih berani dan lebih kuat. Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala memperlihatkan mukjizat yang lain.

[7] Maksudnya, meletakkan tangan ke dada leher baju.

[8] Maksudnya, karena Musa merasa takut, Allah memerintahkan untuk mendekapkan tangan ke dadanya agar rasa takut itu hilang, yang kemudian keadaannya akan kembali seperti biasanya.

[9] Karena mereka adalah orang-orang yang fasik, maka tidak cukup diperingatkan, bahkan harus ditunjukkan mukjizat kepadanya.

[10] Yakni meminta uzur, dan meminta bantuan-Nya dalam tugas yang dipikulnya sambil menyebutkan penghalangnya agar Tuhannya menghilangkan apa yang dia khawatirkan.

[11] Nabi Musa ‘alaihis salam selain merasa takut kepada Fir'aun juga merasa dirinya kurang lancar berbicara menghadapi Fir'aun. Maka Beliau memohon kepada Allah agar dia mengutus Harun ‘alaihis salam bersamanya, yang lebih fasih lidahnya.

[12] Berupa mampu berdakwah dengan hujjah dan mendapatkan kewibawaan dari Allah sehingga merasa terhormat di hadapan musuh mereka.

[13] Yang demikian disebabkan ayat-ayat Allah (mukjizat yang diberikan-Nya), dan karena ayat-ayat itu menunjukkan kebenaran serta membuat takjub orang yang melihatnya, sehingga mereka berdua (Musda dan Harun) memiliki kekuasaan dan terhindar dari tipu daya musuh, bahkan mereka seperti memiliki bala tentara dengan jumlah yang banyak dan perlengkapan yang kuat sehingga tidak takut berhadapan dengan Fira’un yang kejam dan memiliki banyak pasukan.

[14] Inilah janji Allah untuk Musa dan Harun di waktu itu, padahal mereka hanya berdua, pulang ke kampung halamannya setelah pergi darinya. Keadaan pun berubah sehingga akhirnya sempurnalah janji Allah dan Beliau beserta pengikutnya memperoleh kemenangan.

[15] Secara zalim, sombong dan membangkang.

[16] Sebagaimana yang dikatakan Fir’aun ketika kebenaran telah jelas dan kebatilan kalah, “Sesungguhnya dia (Musa) adalah pemimpinmu yang mengajarkan kepadamu ilmu sihir.” Fir;aun memang pintar namun tidak bersih sehingga berbuat licik, sampai-sampai melakukan berbagai macam tipu daya seperti yang telah diceritakan Allah kepada kita, padahal dia mengetahui bahwa tidak ada yang mendatangkan mukjizat yang besar itu kecuali Allah Tuhan langit dan bumi, akan tetapi kecelakaan lebih menguasai dirinya, sehingga dia tidak beriman dan malah menentangnya.

[17] Ucapan mereka ini dusta, padahal Allah telah mengutus sebelum Musa rasul-Nya Yusuf ‘alaihis salam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata, "Allah tidak akan mengirim seorang (rasul pun) setelahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.” (Terj. Al Mu’min: 34)

[18] Ketika mereka mengatakan, bahwa apa yang dibawa Musa adalah sihir dan kesesatan, dan bahwa apa yang mereka pegang selama ini adalah hak (benar).

[19] Ternyata yang memperoleh kemenangan dan kesudahan yang baik adalah Musa ‘alaihis salam dan para pengikutnya. Sedangkan orang-orang yang mendustakan Beliau memperoleh kerugian dan kesudahan yang buruk.

[20] Bersikap berani terhadap Tuhannya dan mengelabui kaumnya yang bodoh dan kurang akal.

[21] Setelah Fir’aun mengucapkan kata-kata ini yang di dalamnya mengandung kemungkinan ada Tuhan selainnya, maka Fir’aun hendak menguatkan ketidakadaan Tuhan selainnya.

[22] Perhatikanlah keberaniaan makhluk yang lemah dan kecil ini kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, ia mendustakan Rasul-Nya dan mengaku dirinya tuhan serta mencoba menguatkan dirinya dengan membuat bangunan yang tinggi untuk melihat Tuhan Musa dan kita. Akan tetapi, sungguh aneh para pembesar yang mengatur kerajaan, bagaimana akal mereka dapat dipermainkan oleh satu orang ini (Fir’aun), orang yang merusak agama dan akal mereka. Ini tidak lain karena keadaan mereka juga fasik dan sifat itu telah menancap dalam diri mereka. Oleh karena itu, kami meminta kepada-Mu ya Allah agar Engkau meneguhkan kami di atas keimanan dan tidak memalingkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk.

[23] Mereka bersikap sombong terhadap hamba-hamba Allah dan menimpakan azab yang berat kepada mereka, bersikap sombong terhadap para rasul Allah dan terhadap apa yang mereka bawa dari-Nya, serta menyangka bahwa apa yang mereka pegang selama ini lebih tinggi dan lebih hebat.

[24] Kalau seandainya mereka mereka mengetahui, bahwa mereka akan kembali kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala, tentu mereka tidak akan bersikap seperti itu.

[25] Ketika mereka tetap membangkang.

[26] Di mana akhir kesudahannya adalah kebinasaan. Ia merupakan kesudahan yang paling buruk dan paling sengsara, di dunia mendapatkan hukuman yang sangat buruk dan berlanjut dengan hukuman di akhirat, nas’alullahas salaamah wal ‘aafiyah.

[27] Karena mengajak manusia berbuat syirk dan kemaksiatan.

[28] Dari azab Allah.

[29] Sebagai tambahan terhadap azab dan penghinaan mereka. Nama mereka di hadapan semua makhluk begitu buruk, dibenci dan dicela oleh mereka.

[30] Berkumpul dalam diri mereka kemurkaan dari Allah, dari makhluk-Nya dan dari diri mereka sendiri.

[31] Seperti kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud dan Fir’aun bersama bala tentaranya. Ini adalah dalil, bahwa setelah turun kitab Taurat, maka hilanglah pembinasaan secara merata dan disyariatkan jihad melawan orang-orang kafir.

[32] Yakni menjadi cahaya bagi hati mereka, membuat mereka dapat melihat hakikat sesuatu dan kesudahannya serta dapat melihat hal yang bermanfaat bagi mereka dan hal yang tidak bermanfaat, sebagai hujjah bagi pelaku maksiat dan bermanfaat bagi orang-orang mukmin, sebagai rahmat baginya dan petunjuk ke jalan yang lurus.

1 komentar: