Kamis, 14 Maret 2013

Tafsir Al Muthaffifin

Surah Al Muthaffifin (Orang-Orang Yang Curang)

Surah ke-83. 36 ayat. Makkiyyah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Ayat 1-6: Ancaman terhadap orang-orang yang curang dalam menakar dan menimbang.

وَيْلٌ لِلْمُطَفِّفِينَ (١) الَّذِينَ إِذَا اكْتَالُوا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُونَ (٢) وَإِذَا كَالُوهُمْ أَوْ وَزَنُوهُمْ يُخْسِرُونَ (٣) أَلا يَظُنُّ أُولَئِكَ أَنَّهُمْ مَبْعُوثُونَ (٤) لِيَوْمٍ عَظِيمٍ (٥) يَوْمَ يَقُومُ النَّاسُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ        (٦)

Terjemah Surat Al Muthaffifin Ayat 1-6

1. [1]Celakalah[2] bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)[3],

2. (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi[4],

3. dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi[5].

4. [6]Tidakkah orang-orang itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan,

5. pada suatu hari yang besar[7],

6. (yaitu) pada hari (ketika) semua orang bangkit[8] menghadap Tuhan seluruh alam[9].

Ayat 7-17: Keadaan orang-orang yang celaka dan balasan untuk mereka pada hari Kiamat.

كَلا إِنَّ كِتَابَ الْفُجَّارِ لَفِي سِجِّينٍ (٧) وَمَا أَدْرَاكَ مَا سِجِّينٌ (٨)كِتَابٌ مَرْقُومٌ (٩) وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ (١٠) الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ بِيَوْمِ الدِّينِ (١١) وَمَا يُكَذِّبُ بِهِ إِلا كُلُّ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ (١٢) إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الأوَّلِينَ (١٣) كَلا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (١٤) كَلا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ (١٥) ثُمَّ إِنَّهُمْ لَصَالُو الْجَحِيمِ (١٦) ثُمَّ يُقَالُ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ     (١٧)

Terjemah Surat Al Muthaffifin Ayat 7-17

7. Sekali-kali jangan begitu![10] Sesungguhnya catatan orang yang durhaka[11] benar-benar tersimpan dalam Sijjin[12].

8. Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu?

9. (Yaitu) kitab yang berisi catatan (amal)[13].

10. Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!

11. (yaitu) orang-orang yang mendustakan hari pembalasan[14].

12. Dan tidak ada yang mendustakannya (hari pembalasan) kecuali setiap orang yang melampaui batas[15] dan berdosa[16],

13. yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami[17], dia berkata[18], "Itu adalah dongeng orang-orang dahulu[19]."

14. Sekali-kali tidak![20] Bahkan apa yang mereka kerjakan[21] itu telah menutupi hati mereka[22].

15. Sekali-kali tidak![23] Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Tuhannya.

16. Kemudian[24], sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.

17. Kemudian, dikatakan (kepada mereka), "Inilah (azab) yang dahulu kamu dustakan[25].”

Ayat 18-28: Keadaan kaum mukmin dan kenikmatan yang mereka peroleh.

كَلا إِنَّ كِتَابَ الأبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ (١٨) وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ (١٩)كِتَابٌ مَرْقُومٌ (٢٠) يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ (٢١) إِنَّ الأبْرَارَ لَفِي نَعِيمٍ    (٢٢) عَلَى الأرَائِكِ يَنْظُرُونَ (٢٣) تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ (٢٤) يُسْقَوْنَ مِنْ رَحِيقٍ مَخْتُومٍ (٢٥) خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ (٢٦) وَمِزَاجُهُ مِنْ تَسْنِيمٍ (٢٧)عَيْنًا يَشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُونَ (٢٨

Terjemah Surat Al Muthaffifin Ayat 18-28

18. [26]Sekali-kali tidak![27] Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam 'Illiyyin[28].

19. Dan tahukah engkau apakah 'Illiyyin itu?

20. (yaitu) kitab yang berisi catatan (amal),

21. yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).

22. [29]Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan,

23. mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan[30].

24. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan[31].

25. Mereka diberi minum dari khamr murni (tidak memabukkan)[32] yang (tempatnya) masih dilak (disegel)[33],

26. Laknya dari kesturi. Dan untuk yang demikian itu[34] hendaknya orang berlomba-lomba[35].

27. Dan campurannya dari tasnim,

28. (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang dekat (kepada) Allah[36].

Ayat 29-36: Ejekan-ejekan orang-orang yang berdosa terhadap orang-orang mukmin di dunia dan balasan terhadapnya di akhirat.

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا يَضْحَكُونَ (٢٩) وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ (٣٠) وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلَى أَهْلِهِمُ انْقَلَبُوا فَكِهِينَ (٣١)وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَؤُلاءِ لَضَالُّونَ (٣٢) وَمَا أُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ (٣٣) فَالْيَوْمَ الَّذِينَ آمَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ (٣٤) عَلَى الأرَائِكِ يَنْظُرُونَ (٣٥) هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّارُ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ     (٣٦)

Terjemah Surat Al Muthaffifin Ayat 29-36

29. [37]Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman[38].

30. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya.

31. Dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria[39].

32. Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, "Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,”

33. Padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga (orang-orang mukmin dan perbuatannya).

34. Maka pada hari ini[40], orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir[41],

35. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan[42].

36. Bukankah orang-orang kafir telah mendapat balasan (hukuman) terhadap apa yang telah mereka kerjakan[43]?


[1] Ibnu Majah berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Bisyr bin Al Hakam dan Muhammad bin ‘Uqail bin Khuwailid, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Al Husain bin Waqid, (ia berkata): telah menceritakan kepadaku bapakku Yazid An Nahwiy, bahwa ‘Ikrimah menceritakan kepadanya dari Ibnu Abbas ia berkata: Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, mereka (penduduk Madinah) adalah manusia yang paling buruk dalam menakar, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menurunkan firman-Nya, “Celakalah bagi orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang).” Maka setelah itu, mereka memperbaiki takarannya. (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Nasa’i sebagaimana dikatakan Al Haafizh Ibnu Katsir juz 4 hal. 483 dari jalan Muhammad bin ‘Uqail. Para perawinya adalah tsiqah kecuali Ali bin Al Husain bin Waqid, maka padanya terdapat pembicaraan. Ibnu Hibban juga meriwayatkan di halaman 438 di Mawaariduzh Zham’aan, demikian pula Ibnu Jarir di juz 29 hal. 91, di sana terdapat mutaba’ah (penguat dari jalan yang sama) bagi Ali bin Al Husain bin Waqid, ia telah dimutabaahkan oleh Yahya bin Wadhih, dimana ia adalah seorang hafizh dan termasuk para perawi jamaah, akan tetapi Syaikhnya Ibnu Jarir yaitu Muhammad bin Humaid Ar Raaziy terdapat pembicaraan. Hakim di juz 2 hal. 23 juga meriwayatkan dan ia berkata, “Shahih isnadnya.” Dan didiamkan oleh Adz Dzahabiy. Dalam Mustadrak Hakim disebutkan mutaba’ah Ali bin Al Husain bin Syaqiq yang termasuk perawi jamaah sebagaimana dalam Tahdzibut Tahdzib, akan tetapi pada jalan kepadanya terdapat Muhammad bin Musa bin Hatim Al Qaasyaaniy, yang muridnya berkata, “Ia di sini adalah Al Qaasim bin Al Qaasim As Sayyaariy yang aku lepas tangan darinya.” Ibnu Abi Sa’dan berkata, “Muhammad bin ‘Ali Al Haafizh berpandangan buruk terhadapnya.” Demikian yang disebutkan dalam Lisaanul Miizaan. Syaikh Muqbil berkata, “Tetapi keseluruhan mutabaah ini menunjukkan bahwa hadits tersebut tsabit (sah), wallahu a’lam.” (lihat Ash Shahihul Musnad hal. 266), Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah (2223) menghasankan hadits tersebut.)

[2] Kata “Wail” artinya ucapan azab dan ancaman atau sebuah lembah di neraka Jahannam, seperti yang diterangkan oleh penyusun tafsir Al Jalaalain. Ada pula yang menafsirkan, bahwa kata “wail” artinya kebinasaan dan kehancuran.

[3] Apabila ancaman keras ini ditujukan kepada orang-orang yang mengurangi harta orang lain dalam hal takaran dan timbangan, dimana di dalamnya terdapat pengambilan harta orang lain secara tersembunyi, maka orang yang mengambil harta orang lain secara terang-terangan atau secara paksa dan atau mencuri harta mereka, tentu lebih berhak mendapatkan ancaman yang keras ini.

[4] Tanpa dikurangi sedikit pun.

[5] Termasuk pula ke dalam hal ini orang-orang yang ingin dipenuhi hak mereka secara sempurna, tetapi mereka tidak mau memenuhi hak orang lain yang menjadi tanggung jawabnya (tidak seimbang antara hak dan kewajiban) atau selalu menuntut hak, namun kewajiban tidak dilakukan.

[6] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengancam kembali orang-orang yang berlaku curang itu, dan mengapa mereka masih saja melakukan kecurangan.

[7] Yaitu hari Kiamat. Dengan demikian, yang membuat mereka berani melakukan kecurangan tersebut adalah karena tidak beriman kepada hari Akhir. Kalau sekiranya mereka beriman kepada hari Akhir dan mengetahui bahwa mereka akan berdiri di hadapan Allah untuk dihisab-Nya amal mereka besar atau kecil, tentu mereka tidak akan melakukannya dan akan bertobat darinya. Inilah di antara hikmah, mengapa Allah Subhaanahu wa Ta'aala sering menyebutkan hari Akhir dalam Al Qur’an, yaitu karena beriman kepada hari akhir memiliki pengaruh yang kuat dalam memperbaiki keadaan seseorang sehingga ia akan mengisi hari-harinya dengan amal saleh, ia pun akan lebih semangat untuk mengerjakan ketaatan itu sambil berharap akan diberikan pahala di hari itu, demikian juga akan membuatnya semakin takut ketika mengisi hidupnya dengan kemaksiatan apalagi sampai merasa tenteram dengannya. Beriman kepada hari akhir juga membantu seseorang untuk tidak berlebihan terhadap dunia dan tidak menjadikannya sebagai tujuan hidupnya. Di antara hikmahnya juga adalah menghibur seorang mukmin yang kurang mendapatkan kesenangan dunia, karena di hadapannya ada kesenangan yang lebih baik dan lebih kekal.

[8] Dari kubur mereka.

[9] Untuk dihisab dan diberikan pembalasan.

[10] Kata “Kalla” di ayat ini bisa diartikan “Tentu atau pasti”.

[11] Seperti orang-orang kafir, orang-orang munafik dan orang-orang fasik.

[12] Kitab yang mencatat perbuatan orang-orang yang durhaka seperti para setan, orang-orang kafir dan orang-orang munafik tersimpan di Sijjin. Ada yang berpendapat, bahwa Sijjin adalah sumur di neraka Jahannam, dan ada pula yang berpendapat bahwa Sijjin adalah tempat paling bawah di bumi ketujuh yang merupakan tempat kembali orang-orang yang durhaka. Menurut Ibnu Katsir, yang benar bahwa Sijjiin diambil dari kata sajn yang artinya sempit. Karena semua makhluk setiap kali ke bawah, maka tempatnya semakin sempit, sedangkan jika semakin ke atas, maka (tempatnya) semakin luas, demikian juga karena tempat kembali orang-orang durhaka adalah ke neraka Jahannam yang tempatnya berada di paling bawah atau rendah. Ayat ini menunjukkan bahwa neraka berada di bawah, sedangkan surga berada di atas.

[13] Yakni kitab yang disebutkan di sana amal mereka yang buruk.

[14] Yakni hari yang di sana Allah membalas amal mereka.

[15] Dari yang halal kepada yang haram.

[16] Yakni yang banyak berdosa. Inilah yang membuatnya mendustakan hari pembalasan.

[17] Yang menunjukkan kepada kebenaran dan menunjukkan benarnya apa yang dibawa para rasul.

[18] Dengan sombong sambil mendustakan dan menentangnya.

[19] Yakni cerita-cerita bohong orang-orang terdahulu. Berbeda dengan orang-orang yang adil dan sadar, yang maksudnya adalah mencari kebenaran, maka dia tidak akan mendustakan hari pembalasan, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menegakkan dalil-dalilnya yang qath’i (pasti) dan bukti-buktinya yang menjadikan hal itu sebagai haqqul yaqin (kebenaran yang pasti) yang saking jelasnya seperti matahari di siang hari. Adapun orang yang ditutup hatinya oleh keburukan dan kemaksiatan yang dilakukannya, maka ia terhalangi dari melihat yang hak (benar). Oleh karena itu, ia dibalas dengannya, yakni ditutupi dari melihat Allah sebagaimana hatinya dihalangi dari ayat-ayat-Nya di dunia.

[20] Ibnu Katsir berkata, “Yakni perkaranya tidaklah seperti yang mereka sangka, dan tidak seperti yang mereka katakan, yaitu bahwa Al Qur’an adalah dongengan-dongengan orang-orang terdahulu, bahkan ia adalah firman Allah, wahyu-Nya, dan kitab yang diturunkan-Nya kepada Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya yang menghalangi hati mereka dari beriman kepadanya adalah karena Ar Raan yang menutupi hati mereka karena banyaknya dosa dan kesalahan. Oleh karena itu, Allah berfirman, apa yang mereka kerjakan.” Rain menimpa hati orang-orang kafir, ghaim menimpa hati orang-orang baik, sedangkan ghain menimpa hati orang-orang yang dekat (dengan Allah)”

[21] Berupa kemaksiatan.

[22] Sehingga hati mereka seperti berkarat. Syaikh As Sa’diy berkata, “Dalam beberapa ayat ini terdapat peringatan terhadap dosa, karena ia akan menutupi hati sedikit demi sedikit sampai hilang cahayanya dan mati ketajaman pandangannya sehingga hakikat menjadi terbalik atasnya, ia akan melihat kebatilan sebagai kebenaran dan kebenaran sebagai kebatilan, dan ini di antara hukuman terhadap dosa.”

Tirmidzi meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa Beliau bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ : كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka akan digoreskan satu titik hitam di hatinya. Apabila dia berhenti, beristighfar dan bertobat, maka akan mengkilap lagi hatinya, dan jika ia mengulangi lagi, maka akan ditambah lagi (titik itu) sampai menutupi hatinya. Itulah Ar Raan yang disebutkan Allah (dalam Al Qur’an),” yaitu firman-Nya, Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Syaikh Al Albani menghasankan hadits ini dalam Shahih At Tirmidzi (3334). Hadits ini menurut penyusun Tuhfatul Ahwadzi diriwayatkan pula oleh Ahmad, Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim, ia berkata, “Shahih sesuai syarat Muslim.”)

Penyusun Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Asal kata ‘Raan’ dan ‘Rain’ adalah tutupan, ia seperti karat yang menimpa sesuatu yang mengkilap.” Ath Thiibiy berkata, “Ar Raan dan Ar Rain adalah sama seperti kata ‘Aab dan ‘Aib. Ayat tersebut adalah berkenaan dengan orang-orang kafir, akan tetapi orang-orang mukmin ketika melakukan dosa, maka seperti mereka dalam hal hitamnya hati dan bertambahnya hal itu dengan bertambahnya dosa.” Ibnul Malak berkata, “Ayat ini disebutkan berkenaan dengan orang-orang kafir, akan tetapi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkannya untuk menakut-nakuti orang-orang mukmin agar mereka berhati-hati dari terjatuh ke dalam banyak dosa agar hati mereka tidak menghitam sebagaimana menghitamnya hati orang-orang kafir. Oleh karena itu, dikatakan bahwa kemaksiatan-kemaksiatan adalah pengantar kekafiran.”

[23] Kata “Kalla” di ayat ini bisa diartikan “Tentu atau pasti”.

[24] Di samping hukuman yang disebutkan sebelumnya (dihalangi dari melihat Allah).

[25] Dengan demikian, mereka ditimpa tiga macam azab; azab neraka, azab celaan, dan azab dihalangi dari melihat Rabbul ‘aalamin yang di dalamnya mengandung marah dan murka Allah kepada mereka, dan yang demikian lebih besar dari azab neraka. Kebalikan dari itu adalah, bahwa kaum mukmin dapat melihat Tuhan mereka pada hari Kiamat dan ketika mereka di surga, dan mereka juga merasa nikmat karena melihat kepada-Nya bahkan hal itu melebihi semua kenikmatan. Mereka juga merasa senang dengan pembicaraan Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan merasa gembira dengan dekatnya mereka dengan-Nya.

[26] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan bahwa kitab catatan amal orang-orang yang durhaka berada di tempat paling bawah dan paling sempit, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan bahwa kitab catatan amal orang-orang yang berbakti berada di tempat paling atas dan paling luas, dan bahwa kitab catatan amal mereka itu disaksikan oleh makhluk yang didekatkan (lihat ayat ke 21) seperti para malaikat, ruh para nabi, para shiddiqin dan para syuhada, dan bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala meninggikan nama mereka di hadapan makhluk di sisi-Nya.

[27] Kata “Kalla” di ayat ini bisa diartikan “Tentu atau pasti”.

[28] Kitab yang mencatat perbuatan orang-orang yang berbakti tersimpan di 'Illiyyin. Ada yang berpendapat, bahwa ‘Illiyyin artinya tempat di langit ketujuh di bawah ‘Arsy. Al A’masy meriwayatkan dari Hilal bin Yasaf ia berkata: Ibnu ‘Abbas pernah bertanya kepada Ka’ab tentang Sijjin, sedangkan saya hadir di situ?” Ia (Ka’ab) menjawab, “Ia adalah bumi yang ketujuh dan di sana terdapat ruh-ruh orang-orang kafir.” Lalu Ibnu Abbas bertanya kepadanya tentang Sijjin? Ia menjawab, “Ia adalah langit ketujuh, dan di sana terdapat ruh-ruh orang-orang mukmin.”Ibnu Abbas berkata tentang ayat, “Benar-benar tersimpan dalam 'Illiyyin.” “Yaitu surga.” Dan dalam sebuah riwayat darinya, bahwa maksudnya amal-amal mereka di langit di sisi Allah. Qatadah berkata, “Illiyyun adalah betis/tonggak kanan ‘Arsy.” Yang lain berpendapat, “Illiyyun adalah di dekat Sidratul Muntaha.” Menurut Ibnu Katsir, yang tampak, bahwa ‘Illiyyin diambil dari kata ‘uluw (tinggi), dan setiap kali sesuatu tinggi dan naik, maka semakin besar dan luaslah tempatnya.

[29] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan kitab catatan amal orang-orang yang berbakti, maka Dia menyebutkan bahwa mereka berada di dalam na’iim atau kenikmatan; yang mencakup kenikmatan bagi hati, bagi ruh dan bagi badan.

[30] Kepada kenikmatan yang Allah sediakan untuk mereka.

[31] Hal itu karena berulang-ulang dan terus-menerusnya mereka mendapatkan kesenangan dapat mencerahkan muka, menghiasnya dan memperindahnya.

[32] Yang merupakan minuman yang paling enak dan paling nikmat.

[33] Bisa maksud ‘makhtum’ adalah ditutup dari dimasuki sesuatu yang mengurangi kenikmatannya atau merusak rasanya. Penutupnya adalah minyak kesturi. Bisa juga maksudnya akhir gelas atau ampas yang mereka minum khamr murni darinya adalah minyak kesturi yang sangat wangi yang biasanya di dunia ampas itu ditumpahkan.

[34] Yakni kenikmatan yang kekal itu, yang tidak diketahui indah dan besarnya kecuali oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[35] Dengan bersegera mengerjakan amal yang dapat memasukkan ke dalamnya. Kenikmatan inilah yang seharusnya disiapkan segala yang berharga untuknya dan dikejar oleh orang-orang yang berakal.

[36] Mereka yang dekat kepada Allah adalah manusia yang paling tinggi kedudukannya dimana minuman mereka adalah minuman penduduk surga yang paling utama.

[37] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan balasan orang-orang yang berdosa dan balasan orang-orang yang beriman serta menerangkan perbedaan besar antara keduanya, maka Dia memberitahukan bahwa orang-orang yang berdosa itu adalah mereka yang dahulu di dunia menertawakan orang-orang mukmin dan mengolok-olok mereka, bahkan ketika orang-orang mukmin lewat, maka mereka mengedipkan matanya sambil menghinanya.

[38] Sambil mengolok-olok mereka.

[39] Mereka sungguh tertipu karena mereka menggabung antara bersikap buruk dengan merasa aman di dunia, seakan-akan mereka telah mendapatkan informasi dan jaminan dari Allah, bahwa mereka tergolong orang-orang yang berbahagia, bahkan mereka menyatakan bahwa diri merekalah yang mendapat petunjuk sedangkan orang-orang beriman adalah orang-orang yang sesat dengan mengadakan kedustaan terhadap Allah Subhaanahu wa Ta'aala serta berani berkata terhadap-Nya tanpa ilmu.

[40] Yaitu pada hari Kiamat.

[41] Ketika orang-orang yang beriman melihat orang-orang kafir berada dalam azab, dan apa yang mereka ada-adakan ternyata tidak terwujud, sedangkan orang-orang mukmin berada dalam kesenangan, kenikmatan dan ketenangan.

[42] Kepada kenikmatan yang Allah siapkan.

[43] Yakni bukankah mereka telah diberi balasan sesuai yang mereka kerjakan? Oleh karena mereka (orang-orang kafir) menertawakan orang-orang mukmin di dunia serta menuduh mereka telah sesat, maka orang-orang mukmin akan menertawakan mereka di akhirat dan akan melihat mereka dalam azab dan siksaan akibat kesesatan mereka. Mereka benar-benar telah dibalas sesuai yang mereka kerjakan sebagai keadilan Allah dan kebijaksanaan-Nya, dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.

Selesai tafsir surah Al Muthaffifin dengan pertolongan Allah, taufiq-Nya dan kemudahan-Nya, wal hamdulillahi Rabbil ‘aalamiin.

4 komentar:

  1. Assalaamualaikum,
    Mengapa sijjiin tetap disebut sijjin pada ayat selanjutnya, sedangkan Illiyyiin berubah menjadi Illiyyun...
    Terimakasih,
    Eko

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bismillah,

      itu namanya kaidah ilmu nahwu (dalam ilmu Bahasa Arab), tapi artinya tetap sama.

      Sama seperti: laHum jannatun tajri min tahtiHal anHaar & fii jannatin na`iim...
      jannaatin dan jannaatun, sama2 jannah = surga.

      Hapus