Kamis, 28 Maret 2013

Tafsir Al Mu’minun Ayat 51-61

Ayat 51-61: Agama yang dibawa para nabi adalah satu, yaitu Islam, hawa nafsu memecah belah manusia, para nabi adalah panutan bagi manusia, serta penjelasan ujian bagi manusia dan keadaan kaum mukmin.

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ (٥١) وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ (٥٢)فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (٥٣)فَذَرْهُمْ فِي غَمْرَتِهِمْ حَتَّى حِينٍ (٥٤) أَيَحْسَبُونَ أَنَّمَا نُمِدُّهُمْ بِهِ مِنْ مَالٍ وَبَنِينَ (٥٥) نُسَارِعُ لَهُمْ فِي الْخَيْرَاتِ بَل لا يَشْعُرُونَ (٥٦)إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ (٥٧) وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (٥٨) وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لا يُشْرِكُونَ (٥٩) وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (٦٠) أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ (٦١

Terjemah Surat Al Mu’minun Ayat 51-61

51. [1]Allah berfirman, “Wahai para rasul! Makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal saleh[2]. Sungguh, Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan[3].

52. Dan[4] sungguh, (agama Tauhid/Islam) inilah agama kamu semua[5], agama yang satu[6], dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku[7].

53. Kemudian mereka terpecah belah dalam urusan (agama)nya menjadi beberapa golongan[8]. Setiap golongan (merasa) bangga dengan apa yang ada pada mereka (masing-masing)[9].

54. Maka biarkanlah mereka dalam kesesatannya[10] sampai waktu yang ditentukan[11].

55. Apakah mereka mengira bahwa Kami memberikan harta dan anak-anak kepada mereka itu (berarti bahwa),

 

56. Kami segera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka[12]? (Tidak), tetapi mereka tidak menyadarinya[13].

57. [14]Sungguh, orang-orang yang karena takut (azab) Tuhannya, mereka sangat berhati-hati[15],

58. dan mereka yang beriman dengan ayat-ayat Tuhannya (Al Qur’an)[16],

59. dan mereka yang tidak mempersekutukan Tuhannya[17],

60. Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah)[18] dengan hati penuh rasa takut[19] (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya[20],

61. Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan[21], dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya[22].


[1] Ayat ini merupakan perintah dari Allah Ta’ala kepada para rasul-Nya untuk memakan makanan yang baik-baik, yakni rezeki yang baik lagi halal, dan bersyukur kepada Allah dengan beramal salrh, di mana dengannya hati dan badannya menjadi baik, demikian pula dunia dan akhiratnya. Dia juga memberitahukan, bahwa Dia mengetahui amal yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, setiap amalan dan pekerjaan yang mereka kerjakan, maka Allah mengetahuinya serta akan memberikan balasan terhadapnya secara sempurna. Hal ini menunjukkan, bahwa mereka semua sepakat dalam membolehkan makanan yang baik-baik dan mengharamkan makanan yang buruk, dan bahwa mereka juga sepakat dalam mengerjakan amal saleh meskipun berbeda-beda syariatnya, namun semua itu adalah amal saleh. Oleh karena itulah, semua amal saleh yang tetap cocok di setiap zaman telah disepakati oleh para nabi dan semua syariat, seperti perintah mengesakan Allah, beribadah dengan ikhlas kepada-Nya, mencintai-Nya, takut kepada-Nya, berharap kepada-Nya, berbakti kepada orang tua, jujur, menepati janji, silaturrahim, berbuat baik kepada kaum dhu’afa, orang miskin dan anak yatim, bersikap sayang kepada semua manusia, dan perbuatan lainnya yang termasuk amal saleh. Dari sinilah, mengapa orang-orang yang yang berilmu melihat isi perintah dan larangannya untuk membuktikan kebenaran kenabian seseorang.

[2] Yang wajib maupun yang sunat.

[3] Oleh karenanya, Dia akan memberikan balasan.

[4] Yakni ketahuilah.

[5] Maksudnya, kamu semua harus berada di atasnya.

[6] Lihat surat Al Anbiya ayat 92.

[7] Yakni dengan melaksanakan perintah-Ku dan menjauhi larangan-Ku. Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga memerintahkan kaum mumkin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para rasul, karena mereka mengikuti dan berjalan di belakang para rasul. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Terj. Al Baqarah: 172) oleh karena itu, bagi mereka yang mengaku mengikuti para nabi harus melakukan demikian, akan tetapi orang-orang yang zalim tidak menghendaki selain durhaka sebagaimana yang diterangkan dalam ayat selanjutnya.

[8] Seperti Yahudi, Nasrani, dan lain-lain.

[9] Berupa pengetahuan dan agama. Masing-masing mereka bangga dengannya, dan menyangka bahwa merekalah yang benar sedangkan selainnya salah, padahal yang benar di antara mereka adalah yang tetap di atas agama para rasul, yaitu Islam dan mengikuti jejak mereka, yaitu memakan yang baik-baik dan beramal saleh, selainnya adalah batil.

[10] Yakni di tengah-tengah kebodohannya terhadap kebenaran dan dakwaan mereka, bahwa mereka adalah orang-orang yang benar.

[11] Sampai tiba ajal mereka atau sampai azab datang menimpa mereka, karena nasehat tidak bermanfaat, larangan tidak berguna, dan bagaimana mungkin bermanfaat nasehat kepada orang yang sudah merasa benar dan malah ingin mengajak orang lain kepadanya?

[12] Yakni apakah mereka menyangka bahwa pemberian-Nya kepada mereka berupa harta dan anak menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbahagia, dan bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat?

[13] Bahwa hal itu sesungguhnya istidraj (persiapan untuk diazab). Diberikan nikmat kepada mereka, tidak lain agar bertambah dosa mereka, sehingga hukuman disempurnakan untuk mereka pada hari kiamat. Lihat pula surah At Taubah ayat 55, surah Al An’aam ayat 44 dan surah Ali Imran ayat 178.

[14] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan orang-orang yang menggabung antara sikap buruk dengan merasa aman, yaitu orang-orang yang menyangka pemberian Allah kepada mereka di dunia menunjukkan bahwa mereka di atas kebaikan dan keutamaan, maka Allah menyebutkan orang-orang yang berbuat ihsan dan memiliki rasa takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

[15] Mreka takut jika Allah meletakan keadilan-Nya kepada mereka, sehingga tidak tersisa lagi kebaikan bagi mereka, dan mereka menyangka bahwa mereka belum memenuhi hak Allah Ta’ala, mereka pun takut jika iman mereka hilang. Karena mereka kenal Tuhan mereka, dan keberhakan-Nya dimuliakan dan diagungkan serta takut kepada-Nya, maka yang demikian membuat mereka menahan diri dari dosa dan meremehkan kewajiban.

[16] Apabila ayat-ayat itu dibacakan kepada mereka, maka keimanan mereka bertambah, mereka pun memikirkan dan mentadabburi ayat-ayat-Nya, sehingga jelaslah bagi mereka makna-makna Al Qur’an, keagungannya, kesesuaiannya dan tidak ada yang bertentangan, demikian pula ajakannya untuk mengenal Allah, takut dan berharap kepada-Nya serta keadaan tentang pembalasan, yang dari sana muncul bagi mereka rincian keimanan yang tidak mungkin diungkapkan oleh lisan. Di samping itu, mereka juga mentafakkuri ayat-ayat Allah yang ada di alam semesta.

[17] Baik syirk besar, seperti menyembah selain Allah, maupun syirk kecil seperti riya’, dsb. Bahkan mereka ikhlas dalam ibadahnya karena Allah, baik dalam perkataan mereka, perbuatan maupun semua keadaan mereka.

[18] Ayat di atas dapat diartikan, “Dan mereka yang mengerjakan apa yang mereka kerjakan” sehingga termasuk pula amal saleh di samping sedekah, seperti shalat, zakat, haji, dan lainnya.

[19] Jika tidak diterima amal mereka.

[20] Maksudnya, karena mereka tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan mereka untuk dihisab, maka mereka khawatir kalau pemberian (sedekah) dan amal mereka tidak diterima Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan tidak menyelamatkan mereka.

[21] Perhatian mereka tertuju kepada sesuatu yang mendekatkan diri mereka kepada Allah, dan keinginan mereka tertuju kepada sesuatu yang menyelamatkan mereka dari azab-Nya. Oleh karena itu, semua kebaikan yang mereka dengar dan ada kesempatan bagi mereka melakukannya, maka mereka segera melakukannya. Mereka melihat wali-wali Allah dan orang-orang pilihan-Nya di hadapan mereka, di mana mereka bersegera kepada kebaikan dan berlomba-lomba untuk mendekatkan diri kepada Allah, maka mereka pun ikut berlomba-lomba. Oleh karena peserta lomba biasanya ada yang menang dan ada yang kalah, maka Allah jelaskan di ayat tersebut bahwa mereka semua menang.

[22] Maksudnya orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang disebutkan dalam ayat 57, 58, 59, dan 60 itu adalah orang yang bersegera mendapatkan kebaikan-kebaikan, dan kebaikan-kebaikan itu akan diberikan kepada mereka dengan segera sejak di dunia ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar