Kamis, 21 Maret 2013

Tafsir Al Kahfi Ayat 47-59

Ayat 47-49: Beberapa peristiwa pada hari Kiamat dan hisab.

وَيَوْمَ نُسَيِّرُ الْجِبَالَ وَتَرَى الأرْضَ بَارِزَةً وَحَشَرْنَاهُمْ فَلَمْ نُغَادِرْ مِنْهُمْ أَحَدًا (٤٧) وَعُرِضُوا عَلَى رَبِّكَ صَفًّا لَقَدْ جِئْتُمُونَا كَمَا خَلَقْنَاكُمْ أَوَّلَ مَرَّةٍ بَلْ زَعَمْتُمْ أَلَّنْ نَجْعَلَ لَكُمْ مَوْعِدًا (٤٨) وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلا كَبِيرَةً إِلا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا (٤٩

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 47-49

47. [1]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung[2] dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.

48. Dan mereka akan dibawa ke hadapan Tuhanmu dengan berbaris. (Allah berfirman), “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami, sebagaimana Kami menciptakan kamu pada pertama kali[3]; [4]bahkan kamu menganggap bahwa Kami tidak akan menetapkan bagi kamu waktu[5] (untuk memenuhi) perjanjian.”

49. Dan diletakkanlah kitab (catatan amal[6])[7], lalu engkau akan melihat orang yang berdosa[8] merasa ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata[9], "Betapa celaka kami, kitab apakah ini, tidak ada yang tertinggal, (dosa) yang kecil dan yang besar melainkan tercatat semuanya,” dan mereka dapati (semua) apa yang telah mereka kerjakan (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang jua pun[10].”

Ayat 50-53: Sujudnya para malaikat kepada Adam ‘alaihis salam dan keengganan Iblis untuk sujud kepadanya, permusuhan Iblis kepada keturunan Adam, kesesatan kaum musyrik dan lemahnya akal mereka karena menyembah berhala.

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلا (٥٠) مَا أَشْهَدْتُهُمْ خَلْقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلا خَلْقَ أَنْفُسِهِمْ وَمَا كُنْتُ مُتَّخِذَ الْمُضِلِّينَ عَضُدًا (٥١)وَيَوْمَ يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ مَوْبِقًا (٥٢) وَرَأَى الْمُجْرِمُونَ النَّارَ فَظَنُّوا أَنَّهُمْ مُوَاقِعُوهَا وَلَمْ يَجِدُوا عَنْهَا مَصْرِفًا (٥٣

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 50-53

50. Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam![11]” Maka mereka pun sujud kecuali iblis[12]. Dia adalah dari golongan jin, maka dia mendurhakai perintah Tuhannya[13]. Pantaskah kamu menjadikan dia dan keturunannya sebagai pemimpin selain Aku[14], padahal mereka adalah musuhmu? Sangat buruklah (iblis itu) sebagai pengganti (Allah) bagi orang yang zalim[15].

51. Aku tidak menghadirkan mereka (iblis dan anak cucunya) untuk menyaksikan penciptaan langit dan bumi[16] dan tidak (pula) penciptaan diri mereka sendiri; dan Aku tidak menjadikan orang yang menyesatkan itu sebagai penolong[17].

52. [18]Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Dia berfirman, "Panggillah olehmu sekutu-sekutu-Ku yang kamu anggap itu[19].” Mereka lalu memanggilnya, tetapi mereka (sekutu-sekutu) tidak membalas (seruan) mereka dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka)[20].

53. [21]Dan orang yang berdosa melihat neraka, lalu mereka menduga, bahwa mereka akan jatuh ke dalamnya dan mereka tidak menemukan tempat berpaling darinya.

Ayat 54-56: Pengulangan perumpamaan-perumpamaan dalam Al Qur’an agar diambil pelajaran, akibat tidak memperhatikan peringatan-peringatan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa di antara ciri manusia adalah suka berdebat dan menentang kebenaran dengan kebatilan.

وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ وَكَانَ الإنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلا (٥٤) وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الأوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلا    (٥٥) وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا (٥٦

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 54-56

54. Dan sesungguhnya Kami telah menjelaskan berulang-ulang kepada manusia[22] dalam Al Qur’an ini dengan bermacam-macam perumpamaan[23]. Tetapi manusia adalah memang yang paling banyak membantah[24].

55. Dan tidak ada sesuatu pun yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk[25] telah datang kepada mereka, dan memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlaku pada) umat yang terdahulu[26] atau datangnya azab atas mereka dengan nyata[27].

56. Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa kabar gembira[28] dan pemberi peringatan[29]; tetapi orang yang kafir membantah dengan (cara) yang batil[30] agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak (kebenaran)[31], dan mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan apa yang diperingatkan terhadap mereka sebagai olok-olokan.

Ayat 57-59: Termasuk kezaliman yang paling besar adalah ketika seseorang diingatkan dengan ayat-ayat Allah namun ia malah berpaling darinya, dan luasnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya.

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا جَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا وَإِنْ تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَى فَلَنْ يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا (٥٧) وَرَبُّكَ الْغَفُورُ ذُو الرَّحْمَةِ لَوْ يُؤَاخِذُهُمْ بِمَا كَسَبُوا لَعَجَّلَ لَهُمُ الْعَذَابَ بَلْ لَهُمْ مَوْعِدٌ لَنْ يَجِدُوا مِنْ دُونِهِ مَوْئِلا (٥٨) وَتِلْكَ الْقُرَى أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَوْعِدًا (٥٩

Terjemah Surat Al Kahfi Ayat 57-59

57. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya[32], lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua tangannya[33]? Sungguh, Kami telah menjadikan hati mereka tertutup, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka[34]. Kendatipun engkau (Muhammad) menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk untuk selama-lamanya[35].  

58. [36]Dan Tuhanmu Maha Pengampun, lagi memiliki rahmat (kasih sayang). Jika Dia hendak menyiksa mereka karena perbuatan mereka, tentu Dia akan menyegerakan siksa bagi mereka[37]. Tetapi bagi mereka ada waktu tertentu (untuk mendapat siksa)[38] yang mereka tidak akan menemukan tempat berlindung darinya.

59. Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan[39] ketika mereka berbuat zalim[40], dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka[41].


[1] Di ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitakan tentang keadaan pada hari kiamat, dan apa yang terjadi pada hari itu berupa peristiwa yang dahsyat dan mengerikan.

[2] Yakni dengan menyingkirkannya dari tempatnya, lalu gunung-gunung itu dijadikan-Nya seperti bulu yang dihambur-hamburkan dan debu yang bertebaran, bumi pun nampak rata dan tidak terlihat tempat yang rendah dan yang tinggi di sana. Ketika itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menghimpun manusia semuanya di bumi itu, yang terdahulu maupun yang datang kemudian, baik yang ada di perut bumi, dasar lautan, dan menghimpun mereka setelah mereka terpisah-pisah, mengembalikan mereka setelah mereka menjadi tulang-belulang sebagai makhluk yang baru, kemudian mereka dihadapkan kepada Allah sambil berbaris, agar Dia melihat amal mereka dan memberikan keputusan untuk mereka dengan adil.

[3] Yakni sendiri-sendiri, tidak beralas kaki, telanjang dan belum disunat. Demikian pula tanpa membawa harta dan keluarga, bahkan yang dibawa adalah amal yang mereka kerjakan baik atau buruk.

[4] Lalu dikatakan kepada orang-orang yang mengingkari kebangkitan.

[5] Yang dimaksud dengan waktu di sini ialah hari kebangkitan yang telah dijanjikan Allah untuk menerima balasan.

[6] Pencatatnya adalah para malaikat yang mulia (Al Malaa’ikatul kiram).

[7] Orang yang diletakkan kitab itu di tangan kanannya adalah orang-orang mukmin, sedangkan orang yang diletakkan kitab itu di tangan kirinya adalah orang-orang kafir.

[8] Yakni orang-orang kafir.

[9] Ketika melihat keburukan yang tertulis dalam kitab itu.

[10] Dia tidak akan menghukum seseorang tanpa dosa dan tidak mengurangi pahala orang yang beriman. Ketika itu, mereka diberi balasan sesuai apa yang tercatat dalam kitab itu, mereka mengakuinya, dan telah pasti azab baginya. Hal itu tidak lain karena perbuatan yang mereka lakukan, dan mereka tidak keluar dari keadilan dan karunia-Nya.

[11] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam serta sebagai pelaksanaan terhadap perintah Allah, bukan berarti sujud menghambakan diri, karena sujud menghambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

[12] Ada yang mengatakan, bahwa pengecualian di ayat ini adalah pengecualian muttashil (bersambung), dan ada pula yang berpendapat, bahwa pengecualian tersebut adalah pengecualian munqathi’ (terputus). Jika muttashil, maka berarti jin tergolong malaikat, namun jika munqathi’, maka berarti bahwa Iblis adalah nenek moyang jin, dan ia mempunyai keturunan, sedangkan malaikat tidak.

[13] Iblis merasa dirinya lebih baik daripada Adam karena dia diciptakan dari api, sedangkan Adam diciptakan dari tanah.

[14] Di mana engkau menaatinya.

[15] Ya, buruk sekali orang yang mengambil setan sebagai walinya menggantikan Allah Ar Rahman. Setan mengajaknya kepada perbuatan keji dan jahat, sedangkan Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan. Setang menjanjikannya kemiskinan, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya, setan mengajaknya keluar dari cahaya kepada kegelapan, sedangkan Allah mengajak keluar dari kegelapan kepada cahaya. Dalam ayat ini terdapat dorongan untuk menjadikan setan sebagai musuh dan menyebutkan alasan mengapa perlu dijadikan musuh, dan bahwa tidak ada yang menjadikan setan sebagai wali(pemimpin)nya selain orang yang zalim. Kezaliman apa yang lebih besar daripada kezaliman orang yang mengambil musuhnya sebagai wali, padahal musuhnya selalu mencari cara untuk menggelincirkannya dan menjatuhkannya.

[16] Dan tidak mengajak mereka bermusyawarah. Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala yang sendiri mencipta dan mengatur, serta bertindak terhadapnya dengan hikmah-Nya. Namun mengapa mereka menjadikan setan sebagai sekutu-sekutu bagi Allah, yang mereka taati sebagaimana Allah ditaati, padahal setan-setan itu tidak menciptakan dan tidak hadir ketika Allah menciptakan langit dan bumi serta tidak membantu Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[17] Yakni tidak patut dan tidak layak bagi Allah menyertakan mereka yang suka menyesatkan untuk mengatur alam semesta, karena mereka berusaha menyesatkan manusia dan memusuhi Tuhannya, bahkan yang layak adalah menjauhkan mereka dan tidak mendekatkan.

[18] Setelah Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan keadaan orang yang menyekutukan-Nya di dunia dan membatalkan perbuatan syirk, maka Dia memberitahukan keadaan mereka nanti di akhirat bersama para sekutunya, dan Dia berfirman, “Panggillah sekutu-sekutu-Ku yang kamu anggap itu.” Padahal sesungguhnya Allah tidak mempunyai sekutu baik dari langit maupun dari bumi.

[19] Yakni yang kamu anggap dapat memberi syafaat, memberi manfaat bagimu dan membebaskan dirimu dari penderitaan dan azab.

[20] Di mana mereka semua binasa di dalamnya. Ketika itu terjadilah permusuhan antara para sekutu terhadap para penyembahnya, para sekutu mengingkari mereka (para penyembahnya) dan berlepas diri dari mereka.

[21] Pada hari kiamat ketika hisab diselesaikan, setiap kelompok dibedakan sesuai amal mereka, dan azab sudah ditetapkan akan menimpa orang-orang yang berdosa, maka sebelum mereka masuk ke neraka, mereka melihat lebih dulu neraka, hati mereka pun gelisah, dan mereka yakin akan memasukinya dan tidak menemukan tempat berpaling darinya.

[22] Untuk maslahat dan manfaat mereka.

[23] Sebagaimana yang tertera dalam surah Al Kahfi ini, belum dengan yang disebutkan dalam surah-surah yang lain. Hal ini menghendaki seseorang untuk menerima Al Qur’an, tunduk dan taat serta tidak menentangnya. Namun kebanyakan manusia membantah yang hak setelah jelas baginya.

[24] Padahal yang demikian tidak pantas mereka lakukan, dan bukan merupakan sikap adil. Sikap itu timbul karena kezaliman dan sifat keras, bukan karena kurangnya penjelasan, hujjah dan bukti.

[25] Yakni Al Qur’an.

[26] Yaitu dengan dibinasakan seperti umat-umat terdahulu.

[27] Oleh karena itu, hendaknya mereka takut terhadapnya dan bertobat dari kekafirannya sebelum datang kepada mereka azab yang tidak dapat ditolak lagi.

[28] Bagi orang-orang yang beriman dengan surga.

[29] Bagi orang-orang yang kafir dengan neraka. Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah mengutus para rasul main-main, tidak pula agar manusia menjadikan mereka sebagai tuhan serta tidak pula agar mereka (para rasul) menyeru untuk kepentingan dirinya. Bahkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala menutus para rasul untuk mengajak manusia kepada kebaikan dan melarang keburukan serta memberikan kabar gembira dan peringatan.

[30] Yaitu ucapan mereka, “Apakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?”

[31] Dengan diutusnya para rasul, maka hujjah Allah bagi manusia menjadi tegak, akan tetapi orang-orang kafir tidak menghendaki selain berbantah-bantahan menggunakan yang batil untuk mengalahkan yang benar. Mereka berusaha membela yang batil sesuai kemampuan demi mengalahkan yang hak, mereka memperolok rasul-rasul Allah dan ayat-ayat-Nya serta merasa bangga dengan ilmu yang mereka miliki. Akan tetapi, Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya meskipun orang-orang yang kafir benci. Termasuk hikmah Allah dan rahmat-Nya adalah diadakan-Nya orang-orang yang melawan kebenaran dengan kebatilan agar kebenaran semakin jelas dan kebatilan semakin terlihat.

[32] Diterangkan kebenaran dan petunjuk kepadanya serta diberi targhib dan tarhib.

[33] Berupa kekafiran dan kemaksiatan serta tidak merasakan pengawasan Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Ia tidak ingat peringatan itu dan tidak kembali dari sikap itu. Ia lebih zalim daripada orang yang berpaling karena belum datang ayat-ayat Allah kepadanya, meskipun ia zalim juga, namun masih di bawah orang yang tadi. Hal itu, karena orang yang bermaksiat di atas ilmu jelas lebih besar dosanya daripada orang yang tidak seperti itu. Oleh karena orang tersebut berpaling dari ayat-ayat-Nya, melupakan dosa-dosanya, ridha dengan keburukan terhadap dirinya padahal dia mengetahui, maka Allah hukum dengan menutup pintu-pintu hidayah, yakni dengan menjadikan hatinya tertutup sehingga ia tidak dapat memahami ayat-ayat Allah meskipun mendengarnya.

[34] Jika keadaan mereka seperti ini, maka tidak ada jalan untuk menunjukkan mereka.

[35] Yang demikian karena ketika mereka melihat yang hak (benar), mereka tinggalkan, ketika melihat yang batil mereka malah menempuhnya, maka Allah hukum dengan mengunci hati mereka dan mengecapnya, sehingga tidak ada cara dan jalan untuk memberinya petunjuk. Dalam ayat di atas terdapat ancaman bagi orang yang meninggalkan kebenaran setelah mengetahuinya.

[36] Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan tentang luasnya ampunan dan rahmat-Nya, dan bahwa Dia mengampuni dosa-dosa semuanya. Allah akan menerima tobat orang yang bertobat, lalu melimpahkan rahmat dan ihsan-Nya.

[37] Akan tetapi Dia Maha Penyantun, tidak segera mengazab, bahkan menunda tetapi bukan berarti membiarkan, karena dosa-dosa itu tetap ada pengaruhnya meskipun telah berlalu masa yang panjang. Meskipun begitu, Dia mengajak hamba-hamba-Nya agar bertobat dan kembali kepada-Nya. Jika mereka bertobat dan kembali, maka Dia akan mengampuni dan merahmati mereka serta menyingkirkan siksaan dari mereka. Tetapi apabila mereka tetap terus di atas kezaliman dan sikap membangkang, maka ketika waktu yang dijanjikan datang, Allah akan menimpakan siksa-Nya.

[38] Seperti pada hari kiamat.

[39] Seperti kaum ‘Aad, Tsamud, dsb.

[40] Yakni bukan karena Kami menzalimi mereka.

[41] Yang tidak maju dan tidak pula mundur.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar