Sabtu, 16 Maret 2013

Tafsir Al Hijr Ayat 78-99

Ayat 78-84: Akhir kehidupan penduduk Aikah dan penduduk negeri Hijr.

وَإِنْ كَانَ أَصْحَابُ الأيْكَةِ لَظَالِمِينَ (٧٨) فَانْتَقَمْنَا مِنْهُمْ وَإِنَّهُمَا لَبِإِمَامٍ مُبِينٍ (٧٩) وَلَقَدْ كَذَّبَ أَصْحَابُ الْحِجْرِ الْمُرْسَلِينَ (٨٠)وَآتَيْنَاهُمْ آيَاتِنَا فَكَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ (٨١) وَكَانُوا يَنْحِتُونَ مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا آمِنِينَ (٨٢) فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُصْبِحِينَ (٨٣) فَمَا أَغْنَى عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ (٨٤

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 78-84

78. Dan sesungguhnya penduduk Aikah[1] itu benar-benar kaum yang zalim[2],

79. maka Kami membinasakan mereka[3]. Dan sesungguhnya kedua negeri itu[4] terletak di satu jalur jalan raya[5].

80. Dan sesungguhnya penduduk negeri Hijr[6] benar-benar telah mendustakan para rasul (mereka)[7],

81. Dan Kami telah mendatangkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami[8], tetapi mereka selalu berpaling darinya[9],

82. Dan mereka[10] memahat rumah-rumah dari gunung batu, (yang didiami) dengan rasa aman[11].

83. Kemudian mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur pada pagi hari[12],

84. Sehingga tidak berguna bagi mereka, apa yang telah mereka usahakan[13].

Ayat 85-86: Kiamat pasti datang, dan perintah Allah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar berpaling dari orang-orang musyrik.

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلا بِالْحَقِّ وَإِنَّ السَّاعَةَ لآتِيَةٌ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ (٨٥) إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلاَّقُ الْعَلِيمُ     (٨٦)

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 85-86

85. Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan kebenaran[14]. Dan sungguh, kiamat pasti akan datang[15], maka maafkanlah (mereka) dengan cara yang baik[16].

86. Sungguh, Tuhanmu, Dialah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui.

Ayat 87-89: Anugerah Allah yang terbesar kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keutamaan surah Al Fatihah secara khusus dan Al Qur’an secara umum, dan perintah kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam agar tidak tertipu oleh dunia dan perhiasannya.

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ (٨٧) لا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ وَلا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ (٨٨) وَقُلْ إِنِّي أَنَا النَّذِيرُ الْمُبِينُ (٨٩

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 81-89

87. Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang dibaca berulang-ulang[17] dan Al Quran yang agung.

88. [18]Jangan sekali-kali engkau (Muhammad) tujukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang kafir)[19], dan jangan engkau bersedih hati terhadap mereka[20] dan berendah hatilah kamu terhadap orang yang beriman[21].

89. Dan katakanlah, “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan[22] yang jelas.”

Ayat 90-99: Keadaan Ahli Kitab, bahwa mereka menjadikan Al Qur’an terbagi-bagi, dan perintah kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam agar berdakwah secara terang-terangan dan melazimi dzikrullah.

كَمَا أَنْزَلْنَا عَلَى الْمُقْتَسِمِينَ (٩٠) الَّذِينَ جَعَلُوا الْقُرْآنَ عِضِينَ (٩١)فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ (٩٢) عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ (٩٣) فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ (٩٤) إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ      (٩٥) الَّذِينَ يَجْعَلُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ (٩٦) وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ (٩٧)فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ (٩٨) وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ (٩٩

Terjemah Surat Al Hijr Ayat 90-99

90. Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menurunkan (azab) kepada orang yang memilah-milah (kitab Allah)[23],

91. (yaitu) orang-orang[24] yang telah menjadikan Al Quran itu terbagi-bagi[25].

92. [26]Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua,

93. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.

94. [27]Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik[28].

95. Sesungguhnya Kami memelihara engkau (Muhammad) dari (kejahatan) orang yang memperolok-olokkan (engkau)[29],

96. (yaitu) orang yang menganggap adanya Tuhan selain Allah; mereka kelak akan mengetahui (akibatnya).

97. Dan sungguh, Kami mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan[30],

98. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu[31] dan jadilah engkau di antara orang yang bersujud (shalat)[32],

99. Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin (ajal) datang kepadamu[33].


[1] Penduduk Aikah adalah kaum Syu'aib. Aikah adalah tempat yang berhutan di daerah Madyan.

[2] Karena berbuat syirk kepada Allah, membajak, mengurangi takaran dan timbangan serta mendustakan Syu’aib.

[3] Dengan suara keras yang mengguntur, gempa, dan hari yang gelap.

[4] Yakni kota kaum Luth (Sadom) dan Aikah.

[5] Yang dilalui setiap waktu oleh musafir dan sisa-sisa peninggalan mereka dapat dilihat. Oleh karena itu, tidakkah mereka mengambil pelajaran?

[6] Penduduk kota Al-Hijr ini adalah kaum Tsamud. Hijr tempat yang terletak di Wadi Qura antara Madinah dan Syam.

[7] Yang dimaksud para rasul di sini adalah Nabi Saleh. Disebutkan rasul-rasul (dalam bentuk jamak) adalah karena mendustakan seorang rasul sama dengan mendustakan semua rasul, di mana dakwah mereka adalah sama, yaitu mentauhidkan Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[8] Yang menunjukkan kebenaran yang dibawa Nabi Saleh, di antaranya adalah unta betina.

[9] Sambil menyombongkan diri.

[10] Karena begitu banyaknya nikmat yang Allah berikan.

[11] Kalau sekiranya mereka mensyukuri nikmat Allah tersebut dan membenarkan Nabi mereka, yaitu Saleh ‘alaihis salam, tentu Allah akan membanyakkan rezeki untuk mereka, memberikan balasan yang baik di dunia dan akhirat. Akan tetapi mereka malah mendustakan, bahkan membunuh unta betina itu dan berkata, “Wahai Saleh! Datangkanlah kepada kami azab yang engkau ancamkan itu jika engkau termasuk orang-orang yang benar.”

[12] Peristiwa itu terjadi pada hari yang keempat, setelah datangnya peringatan kepada mereka.

[13] Seperti membangun benteng-benteng dan mengumpulkan harta.

[14] Yakni bukan main-main atau sesuatu yang batil sebagaimana yang disangka oleh musuh-musuh Islam.

[15] Lalu masing-masing diberikan balasan sesuai amalnya.

[16] Yakni berpalinglah dari mereka tanpa perlu keluh kesah atau maafkanlah tanpa perlu menyakiti, bahkan hendaknya perbuatan buruk orang lain dibalas dengan kebaikan dan kesalahannya dengan dimaafkan agar memperoleh pahala yang besar dari Tuhanmu. Namun tidak selamanya demikian, bahkan perlu adanya hukuman bagi orang-orang yang zalim lagi melampaui batas, jika memang membuahkan hasil.

[17] Yang dimaksud tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang adalah surat Al-Faatihah yang terdiri dari tujuh ayat. Sebagian ahli tafsir menafsirkan dengan tujuh surah yang panjang, yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, Al-Maaidah, An-Nissa', Al 'Araaf, Al An'aam dan Al-Anfaal bersama At Taubah.

[18] Oleh karena Allah Ta’ala telah memberikan sesuatu yang paling utama kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu Al Qur’an beserta tujuh yang dibaca berulang-ulang, maka dengan karunia Allah dan rahmat-Nya itulah seharusnya manusia bergembira. Karena hal itu lebih baik dari apa yang dikejar manusia pada umumnya berupa harta.

[19] Yakni cukupkanlah dengan pemberian Allah kepadamu berupa tujuh yang berulang-ulang dan Al Qur’an yang agung.

[20] Karena mereka tidak beriman. Hal itu, karena mereka sudah tidak dapat diharapkan lagi kebaikan dan manfaatnya.

[21] Kamu telah memiliki pengganti yang lebih baik dari orang-orang kafir, yaitu orang-orang mukmin.

[22] Terhadap azab Allah. Yakni kerjakanlah kewajibanmu, yaitu memberi peringatan, menyampaikan risalah, melakukan tabligh baik kepada kerabat maupun bukan, kawan maupun musuh, dsb. Karena jika kamu telah melakukannya, maka kamu tidak memikul sedikit pun tanggung jawab terhadap perbuatan mereka, dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab terhadap perbuatanmu.

[23] Yang dimaksud dengan orang-orang yang membagi-bagi kitab Allah adalah orang-orang yang menerima sebagian isi kitab dan menolak sebahagian yang lain. Ada yang menafsirkan, bahwa mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani.

[24] Yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani yang membagi-bagi Al Quran, ada bagian yang mereka percayai dan ada pula bagian yang mereka ingkari. Ada pula yang berpendapat, bahwa mereka adalah orang-orang yang ditugaskan di jalan-jalan Mekah untuk menghalangi manusia masuk Islam. Sebagian dari mereka menyebut Al Qur’an sebagai sihir, sebagian lagi sebagai perdukunan, sedangkan sebagian lagi menyebutnya sebagai sya’ir.

[25] Kesimpulan ayat 89, 90, dan 91 adalah bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyuruh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memperingatkan orang Yahudi dan Nasrani, bahwa Dia akan menurunkan azab kepada mereka sebagaimana Allah telah membinasakan kaum Tsamud.

[26] Dalam ayat ini terdapat ancaman yang begitu keras terhadap mereka jika tetap di atas sikapnya itu.

[27] Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam agar tidak mempedulikan orang-orang musyrik dan selainnya yang menentang Beliau, dan agar Beliau menyampaikan perintah Allah secara terang-terangan.

[28] Yakni janganlah pedulikan mereka dan jangan pula pedulikan cercaan mereka, dengan tetap menjalankan tugasmu.

[29] Ayat ini sama seperti firman Alah Ta’ala, “Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Terj. Al Maa’idah: 67)

Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah melakukannya. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mengolok-olok Beliau dan apa yang Beliau bawa, kecuali Allah Ta’ala membinasakannya dengan cara yang dahsyat.

[30] Berupa olok-olokkan dan sikap mendustakan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesungguhnya mampu membinasakan habis mereka dan menyegerakan untuk mereka apa yang layak mereka terima, akan tetapi Allah Ta’ala memberi tangguh mereka.

[31] Yakni mengucapkan “Subhaanallahi wa bihamdih.”

[32] Maksudnya, perbanyaklah dzikrullah, tasbih, tahmid, dan melakukan shalat, karena hal itu akan melapangkan dadamu dan membantu meringankan urusanmu.

[33] Yakni tetaplah mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan melakukan berbagai ibadah di setiap waktu sampai maut datang kepadamu. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melakukannya, Beliau senantiasa beribadah sampai ajal menjemput –semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya-.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar