Kamis, 28 Maret 2013

Tafsir Al Furqan Ayat 63-77

Ayat 63-77: Seorang muslim hendaknya menyifati dirinya dengan sifat hamba-hamba Allah yang mendapatkan kemuliaan dengan beribadah kepada-Nya dan agar ia mendapatkan pahala yang besar di akhirat.

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الأرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلامًا (٦٣) وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا     (٦٤) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (٦٥) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٦٦) وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا (٦٧) وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩) إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (٧١) وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا   (٧٢) وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا (٧٣) وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا (٧٤) أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلامًا (٧٥) خَالِدِينَ فِيهَا حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (٧٦) قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا (٧٧

Terjemah Surat Al Furqan Ayat 63-77

63. [1]Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih[2] itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati[3] dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, “Salam[4],”

64. dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri[5].

65. Dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami[6], karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal,”

66. sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman[7].

67. Dan (termasuk hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta)[8], mereka tidak berlebihan[9], dan tidak (pula) kikir[10], di antara keduanya secara wajar[11],

 

68. [12]dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain[13] dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah[14] kecuali dengan (alasan) yang benar[15], dan tidak berzina[16]; dan barang siapa melakukan demikian itu[17], niscaya dia mendapat hukuman yang berat,

69. (yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina[18],

70. [19]kecuali orang-orang yang bertobat[20] dan beriman[21] dan mengerjakan amal saleh[22], maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan[23]. Allah Maha Pengampun[24] lagi Maha Penyayang[25].

71. Dan barang siapa bertobat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertobat kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya[26].

72. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu[27], dan apabila mereka bertemu[28] dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah[29], mereka berlalu dengan menjaga kehormatan dirinya[30],

73. dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidak bersikap sebagai orang-orang yang tuli dan buta[31],

74. dan orang-orang yang berkata, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami[32] dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)[33], dan jadikanlah kami pemimpin[34] bagi orang-orang yang bertakwa[35].”

75. Mereka itu akan diberi balasan yang tinggi (dalam surga)[36] atas kesabaran mereka[37], dan di sana mereka akan disambut dengan penghormatan dan salam[38],

76. Mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.

77. [39]Katakanlah (Muhammad, kepada orang-orang musyrik), "Tuhanku tidak akan mengindahkan kamu, kalau tidak karena doamu[40]. (Tetapi bagaimana Dia mengindahkan kamu), padahal sungguh, kamu telah mendustakan (Rasul dan Al Qur’an)? Karena itu, kelak (azab) pasti (menimpamu)[41].”


[1] Selanjutnya Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan banyaknya kebaikan-Nya, nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya serta taufiq-Nya kepada mereka untuk beramal saleh sehingga mereka berusaha mencapai tempat-tempat tinggi di kamar-kamar surga.

[2] Ubudiyyah (penghambaan) terbagi menjadi dua:

- Ubudiyyah kepada rububiyyah Allah, maka dalam hal ini semua manusia ikut di dalamnya, baik yang muslim maupun yang kafir, yang baik maupun yang jahat, semuanya adalah hamba Allah yang diatur-Nya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Tuhan yang Maha Pemurah selaku seorang hamba.” (Terj. Maryam: 93)

- Ubudiyyah kepada uluhiyyah Allah, yaitu ibadah yang dilakukan para nabi dan para wali-Nya, dan penghambaan kepada uluhiyyah inilah yang dimaksud dalam ayat di atas. Oleh karena itulah, Allah hubungkan kata ‘ibaad” (hamba-hamba) kepada Ar Rahman sebagai isyarat bagi mereka, bahwa mereka memperoleh keadaan ini disebabkan rahmat-Nya.

Dalam ayat ini dan selanjutnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyebutkan sifat-sifat mereka yang merupakan sifat yang sangat utama.

[3] Dia bertawadhu’ (berendah diri) kepada Allah dan berendah hati kepada makhluk-Nya. Ayat ini menerangkan sifat mereka, yaitu sopan, tenang, dan bertawadhu’.

[4] Yakni ucapan yang bersih dari dosa. Mereka memaafkan orang yang bodoh dan tidak mengucapkan kecuali yang baik. Mereka santun dan tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi membalasnya dengan kebaikan.

[5] Maksudnya orang-orang yang shalat tahajjud di malam hari semata-mata karena Allah.

[6] Yakni hindarkanlah dari kami; jagalah kami dari sebab-sebab yang memasukkan kami ke dalamnya, dan ampunilah perbuatan kami yang mendatangkan azab.

[7] Ucapan ini mereka ucapkan karena tadharru’ (merendahkan diri) kepada Tuhan mereka, menjelaskan butuhnya mereka kepada Allah, dan bahwa mereka tidak sanggup memikul azab Allah serta agar mereka dapat mengingat nikmat-Nya.

[8] Baik nafkah wajib maupun sunat.

[9] Sampai melewati batas sehingga jatuh ke dalam pemborosan dan meremehkan hak yang wajib.

[10] Sehingga jatih ke dalam kebakhilan dan kekikiran.

[11] Mereka mengeluarkan dalam hal yang wajib, seperti zakat, kaffarat dan nafkah yang wajib dan dalam hal yang patut dikeluarkan namun tidak sampai menimbulkan madharrat baik bagi diri maupun orang lain. Ayat ini terdapat dalil yang memerintahkan untuk hidup hemat.

[12] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Mas’ud ia berkata, “Aku bertanya - atau Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya- , “Dosa apa yang paling besar di sisi Allah?” Beliau menjawab, “Yaitu kamu adakan tandingan bagi Allah, padahal Dia menciptakanmu.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut jika ia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau menzinahi istri tetanggamu.” Ibnu Mas’ud berkata, “Lalu turun ayat ini membenarkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina;

Imam Bukhari juga meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa orang-orang yang sebelumnya musyrik pernah melakukan banyak pembunuhan dan melakukan banyak perzinaan, lalu mereka mendatangi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya apa yang engkau ucapkan dan engkau serukan sungguh bagus. Sudikah kiranya engkau memberitahukan kepada kami penebus amal kami?” Maka turunlah ayat, “dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina;” dan turun pula ayat, “Katakanlah, "Wahai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Terj. Az Zumar: 53)

Syaikh Muqbil berkata, “Tidak menutup kemungkinan ayat tersebut turun berkenaan dua sebab tersebut secara bersamaan.”

[13] Bahkan hanya beribadah kepada-Nya dengan ikhlas.

[14] Yaitu jiwa seorang muslim dan orang kafir yang mengikat perjanjian.

[15] Seperti membunuh seorang karena membunuh orang lain, membunuh pezina yang muhshan dan membunuh orang kafir yang halal dibunuh (seperti kafir harbi).

[16] Mereka menjaga kemaluan mereka kecuali kepada istri-istri mereka dan hamba sahaya mereka.

[17] Yakni salah satu di antara ketiga perbuatan buruk itu.

[18] Ancaman kekal di neraka tertuju kepada mereka yang melakukan ketiga perbuatan itu (syirk, membunuh dan berzina) atau orang yang melakukan perbuatan syirk. Demikian pula azab yang pedih tertuju kepada orang yang melakukan salah satu dari perbuatan itu karena keadaannya yang berupa syirk atau termasuk dosa besar yang paling besar. Adapun pembunuh dan pezina, maka ia tidak kekal di neraka, karena telah ada dalil-dalil baik dari Al Qur’an maupun As Sunnah yang menunjukkan bahwa semua kaum mukmin akan dikeluarkan dari neraka dan orang mukmin tidak kekal di neraka meskipun melakukan dosa besar. Ketiga dosa yang disebutkan dalam ayat di atas adalah dosa besar yang paling besar, karena dalam syirk merusak agama, membunuh merusak badan dan zina merusak kehormatan.

[19] Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada Sa’id bin Jubair, ia berkata, “Abdurrahman bin Abzaa memerintahkan aku dengan mengatakan, “Bertanyalah kepada Ibnu Abbas tentang kedua ayat ini, apa perkara kedua (orang yang disebut dalam ayat tersebut)?” Yaitu ayat, “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar…dst.” (Terj. Al Israa’: 33) dan ayat, “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja ...dst.” (Terj. An Nisaa’: 93) Maka aku bertanya kepada Ibnu Abbas, ia menjawab, “Ketika turun ayat yang ada dalam surah Al Furqan, orang-orang musyrik Mekah berkata, “Kami telah membunuh jiwa yang diharamkan Allah dan kami telah menyembah selain Allah serta mengerjakan perbuatan-perbuatan keji.” Maka Allah menurunkan ayat, “kecuali orang-orang yang bertobat…dst.” Adapun yang disebutkan dalam surah An Nisaa’ itu adalah seorang yang sudah mengenal Islam dan syariatnya, lalu ia melakukan pembunuhan, maka balasannya adalah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya.” Kemudian aku menyebutkanya kepada Mujahid, ia berkata, “Kecuali orang yang menyesali (perbuatannya).”

[20] Dari dosa-dosa tersebut dan lainnya, yaitu dengan berhenti melakukannya pada saat itu juga, menyesali perbuatan itu dan berniat keras untuk tidak mengulangi lagi.

[21] Kepada Allah dengan iman yang sahih yang menghendaki untuk meninggalkan maksiat dan mengerjakan ketaatan.

[22] Yakni amal yang diperintahkan syari’ (Allah dan Rasul-Nya) dengan ikhlas karena Allah.

[23] Dalam hal ini ada dua pendapat: Pendapat pertama, perbuatan mereka yang buruk diganti dengan perbuatan yang baik. Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Mereka adalah kaum mukmin, di mana sebelum beriman, mereka berada di atas kejahatan, lalu Allah menjadikan mereka benci kepada kejahatan, maka Allah alihkan mereka kepada kebaikan, sehingga Allah merubah kejahatan mereka dengan kebaikan. Sa’id bin Jubair berkata, “Allah merubah penyembahan mereka kepada berhala menjadi menyembah kepada Ar Rahman, yang sebelumnya memerangi kaum muslimin menjadi memerangi orang-orang musyrik dan Allah merubah mereka yang sebelumnya menikahi wanita musyrikah menjadi menikahi wanita mukminah.” Al Hasan Al Basri berkata, “Allah merubah mereka yang sebelumnya amal buruk menjadi amal saleh, yang sebelumnya syirk menjadi ikhlas dan yang sebelumnya berbuat zina menjadi menikah, dan yang sebelumnya kafir menjadi muslim.” Pendapat kedua, keburukan yang telah berlalu itu berubah karena tobat nashuha, kembali kepada Allah dan ketaatan menjadi kebaikan.

[24] Bagi orang yang bertobat.

[25] Kepada hamba-hamba-Nya, di mana Dia mengajak mereka bertobat setelah mereka menghadapkan kepada-Nya dosa-dosa besar, lalu Dia memberi mereka taufik untuk bertobat dan menerima tobat itu.

[26] Hendaknya dia mengetahui, bahwa tobatnya telah sempurna, karena ia telah kembali ke jalan yang menghubungkan kepada Allah, di mana jalan itu merupakan jalan kebahagiaan dan keberuntungan. Oleh karena itu, hendaknya ia ikhlas dalam tobat dan membersihkannya dari campuran maksud yang tidak baik. Kesimpulan ayat ini adalah dorongan untuk menyempurnakan tobat, melakukannya dengan cara yang paling utama dan agung agar Allah menyempurnakan pahalanya sesuai tingkat kesempurnaan tobatnya.

[27] Ada pula yang menafsirkan dengan tidak menghadiri Az Zuur, yakni ucapan dan perbuatan yang haram. Oleh karena itu, mereka menjauhi semua majlis yang di dalamnya penuh dengan ucapan dan perbuatan yang haram, seperti mengolok-olok ayat-ayat Allah, perdebatan yang batil, ghibah (gosip), namimah (mengadu domba), mencaci-maki, qadzaf (menuduh zina), nyanyian yang haram, meminum khamr (arak), menghamparkan sutera, memajang gambar-gambar, dsb. Jika mereka tidak menghadiri Az Zuur, maka tentu mereka tidak mengucapkan dan melakukannya.Termasuk ucapan Az Zuur adalah persaksian palsu.

[28] Yakni tanpa ada maksud untuk menemuinya, akan tetapi bertemu secara tiba-tiba.

[29] Yakni tidak ada kebaikan atau faedahnya baik bagi agama maupun dunia seperti obrolan orang-orang bodoh.

[30] Mereka bersihkan diri mereka dari ikut masuk ke dalamnya meskipun tidak ada dosa di sana, namun hal itu mengurangi kehormatannya.

[31] Mereka tidak menghadapinya dengan berpaling; tuli dari mendengarnya serta memalingkan pandangan dan perhatian darinya sebagaimana yang dilakukan orang yang tidak beriman dan tidak membenarkan, akan tetapi keadaan mereka ketika mendengarnya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya orang yang benar benar percaya kepada ayat ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong.”(Terj. As Sajdah: 15) Mereka menghadapinya dengan sikap menerima, butuh dan tunduk. Telinga mereka mendengarkan dan hati mereka siap menampung sehingga bertambahlah keimanan mereka dan semakin sempurna keimanannya serta timbul rasa semangat dan senang.

[32] Termasuk pula kawan-kawan kami.

[33] Yakni dengan melihat mereka taat kepada-Mu.

Apabila kita memperhatikan keadaan dan sifat-sifat mereka (hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih), maka dapat kita ketahui, bahwa hati mereka tidak senang kecuali ketika melihat pasangan dan anak-anak mereka taat kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Doa mereka agar pasangan dan anak-anak mereka menjadi saleh sesungguhnya mendoakan untuk kebaikan mereka, karena manfaatnya kembalinya kepada mereka, bahkan kembalinya untuk manfaat kaum muslimin secara umum, karena dengan salehnya orang-orang yang disebutkan maka akan menjadi sebab salehnya orang yang bergaul dengan mereka dan dapat memperoleh manfaat darinya.

[34] Yakni pemimpin dalam kebaikan.

[35] Maksudnya, sampaikanlah kami ke derajat yang tinggi ini; derajat para shiddiqin dan insan kamil dari kalangan hamba Allah yang saleh, yaitu derajat imam (pemimpin) dalam agama dan menjadi panutan bagi orang-orang yang bertakwa, baik dalam perkataan maupun perbuatan mereka, di mana orang-orang yang baik berjalan di belakang mereka. Mereka memberi petunjuk lagi mendapat petunjuk. Sudah menjadi maklum, bahwa berdoa agar mencapai sesuatu berarti berdoa meminta agar diadakan sesuatu yang dapat meyempurnakannya, dan derajat imamah fiddin tidak akan sempurna kecuali dengan sabar dan yakin sebagaimana disebutkan dalam surah As Sajdah: 24. Doa agar dijadikan pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa adalah doa yang menghendaki amal, bersabar di atas perintah Allah, bersabar menjauhi larangan Allah dan bersabar terhadap taqdir-Nya yang pedih. Demikian juga dibutuhkan ilmu yang sempurna yang dapat menyampaikan seseorang kepada derajat yakin. Dengan sabar dan yakin itulah mereka dapat berada pada derajat yang sangat tinggi setelah para nabi dan rasul. Oleh karena cita-cita mereka begitu tinggi dan tidak sekedar cita-cita, bahkan mereka melakukan sebab-sebabnya sambil berdoa kepada Allah, maka Allah Subhaanahu wa Ta'aala membalas mereka dengan kedudukan yang tinggi (ghurfah) di akhirat.

[36] Yakni kedudukan yang tinggi dan tempat-tempat yang indah; yang menghimpun semua yang disenangi dan sejuk dipandang oleh mata.

[37] Di atas ketaatan kepada Allah.

[38] Dari Tuhan mereka, dari para malaikat dan dari sesama mereka. Dalam ayat lain, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, “(Yaitu) surga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu;---(sambil mengucapkan), "Salamun 'alaikum bima shabartum" (salam atasmu karena kesabaranmu). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Terj. Ar Ra’d: 23-24)

Wal hasil, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyifati mereka dengan sikap sopan, tenang, tawadhu’ kepada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya, adabnya baik, santun (tidak lekas marah), berakhlak mulia, memaafkan orang-orang yang jahil (bodoh), dan berpaling dari mereka, membalas perbuatan buruk mereka dengan perbuatan baik, melakukan qiyamullail, ikhlas dalam melakukannya, takut kepada neraka, bertadharru’ (merendahkan diri sambil berdoa) kepada Allah agar Dia menyelamatkan mereka darinya, mengeluarkan nafkah yang wajib dan yang sunat, berhemat dalam hal tersebut, selamat dari dosa-dosa besar, ikhlas dalam beribadah, tidak menzalimi darah dan kehormatan orang lain, segera bertobat jika terjadi sikap itu, tidak menghadiri majlis yang munkar dan kefasikan apalagi sampai melakukan, menjauhkan dirinya dari hal yang tidak berguna yang menunjukkan muru’ah (kesopanan) dan sempurnanya pribadi mereka, diri mereka jauh dari ucapan dan perbuatan yang hina, menyikapi ayat-ayat Allah dengan tunduk dan menerima, memahami maknanya dan mengamalkan serta berusaha mewujudkan hukum-hukumnya dan bahwa mereka berdoa dengan doa yang yang paling sempurna, di mana mereka mendapatkan manfaat darinya, demikian pula orang yang bersama mereka, dan kaum muslimin pun mendapatkan manfaat darinya, yaitu doa untuk kesalehan istri dan keturunan mereka, di mana termasuk ke dalamnya adalah berusaha mengajarkan agama kepada mereka dan menasehati mereka, karena orang yang berusaha terhadap sesuatu dan berdoa kepada Allah tentu mengerjakan sebab-sebabnya, dan bahwa mereka berdoa kepada Allah agar mencapai derajat yang tinggi yang mereka mampu, yaitu derajat imamah fiddin (pemimpin dalam agama atau shiddiiqiyyah). Allah mempunyai nikmat yang besar kepada hamba-hamba-Nya, Dia menerangkan sifat-sifat mereka, perbuatan mereka dan cita-cita mereka serta menerangkan pahala yang akan diberikan-Nya kepada mereka agar hamba-hamba-Nya ingin memiliki sifat tersebut, mengerahkan kemampuannya untuk itu, dan agar mereka meminta kepada Allah yang mengaruniakan nikmat tersebut, di mana karunia-Nya ada di setiap waktu dan tempat, Dia menunjuki mereka sebagaimana Dia telah memberi hidayah, serta mendidiknya dengan pendidikan khusus sebagaimana Dia telah mengurus mereka.

Ya Allah, untuk-Mulah segala puji, kepada-Mu kami mengadu dan kepada Engkaulah kami meminta pertolongan dan bantuan. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan-Mu. Kami tidak kuasa memberi manfaat bagi diri kami, demikian pula menimpakan madharrat, dan kami tidak sanggup melakukan satu kebaikan pun jika Engkau tidak memudahkannya, karena sesungguhnya kami adalah lemah dari berbagai sisi. Kami bersaksi, jika Engkau menyerahkan kami kepada diri kami meskipun sekejap mata, maka sesungguhnya Engkau telah menyerahkan kami kepada kelemahan, kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami tidak percaya selain kepada rahmat-Mu yang dengannya Engkau telah menciptakan kami dan memberi kami rezeki serta mengaruniakan kepada kami berbagai nikmat dan menghindarkan bencana dari kami. Rahmatilah kami dengan rahmat yang mencukupkan kami dari rahmat selain-Mu, sehingga tidak akan kecewa orang yang meminta dan berharap kepada-Mu.

[39] Oleh karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyandarkan sebagian hamba-hamba-Nya kepada rahmat-Nya dan mengkhususkan mereka dengan ibadah karena kemuliaan mereka, mungkin seseorang akan berkata, “Mengapa yang lain tidak dimasukkan pula dalam ubudiyyah seperti mereka?” Maka di ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala memberitahukan, bahwa Dia tidak peduli dengan selain mereka, dan bahwa seandainya tidak karena doa mereka kepada-Nya, baik doa ibadah maupun doa masalah, maka Dia tidak peduli dan tidak mencintai mereka.

[40] Yakni kepada-Nya di saat sulit, lalu Dia mengabulkannya.

[41] Maksudnya, azab di akhirat akan menimpamu setelah sebagiannya menimpamu di dunia (oleh karena itu, 70 orang di antara mereka terbunuh dalam perang Badar), dan Dia akan memberikan keputusan antara kamu dengan hamba-hamba-Nya yang mukmin. Selesai tafsir surah Al Furqan dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, dan segala puji bagi Allah di awal dan akhirnya.

7 komentar:

  1. terima kasih yaaaaaaa

    BalasHapus
  2. makasih yaaa........!

    BalasHapus
  3. assalamualaikum..ustadz,ini tafsir dari syaikh muqbil bukan?maaf.barakallahu fikum

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus