Sabtu, 30 Maret 2013

Tafsir Al Ankabut Ayat 28-44

Ayat 28-35: Kisah Nabi Luth ‘alaihis salam, pengingkarannya terhadap perbuatan keji yang dilakukan kaumnya, dan penjelasan akibat dari perbuatan keji.

  وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٢٨) أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ وَتَقْطَعُونَ السَّبِيلَ وَتَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ (٢٩) قَالَ رَبِّ انْصُرْنِي عَلَى الْقَوْمِ الْمُفْسِدِينَ (٣٠) وَلَمَّا جَاءَتْ رُسُلُنَا إِبْرَاهِيمَ بِالْبُشْرَى قَالُوا إِنَّا مُهْلِكُو أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ إِنَّ أَهْلَهَا كَانُوا ظَالِمِينَ (٣١) قَالَ إِنَّ فِيهَا لُوطًا قَالُوا نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَنْ فِيهَا لَنُنَجِّيَنَّهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (٣٢) وَلَمَّا أَنْ جَاءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِيءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالُوا لا تَخَفْ وَلا تَحْزَنْ إِنَّا مُنَجُّوكَ وَأَهْلَكَ إِلا امْرَأَتَكَ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (٣٣) إِنَّا مُنْزِلُونَ عَلَى أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ (٣٤) وَلَقَدْ تَرَكْنَا مِنْهَا آيَةً بَيِّنَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (٣٥

Terjemah Surat Al Ankabut Ayat 28-35

28. Dan (ingatlah) ketika Luth[1] berkata kepada kaumnya, "Kamu benar-benar melakukan perbuatan yang sangat keji (homoseksual) yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari umat-umat sebelum kamu[2].”

29. Apakah pantas kamu mendatangi laki-laki, menyamun[3] dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, "Datangkanlah kepada kami azab Allah, jika engkau termasuk orang-orang yang benar[4].”

30. Dia (Luth) berdoa[5], "Ya Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) atas golongan yang berbuat kerusakan itu[6].”

31. Dan ketika utusan Kami (para malaikat) datang kepada Ibrahim dengan membawa kabar gembira, mereka mengatakan, "Sungguh, Kami akan membinasakan penduduk kota (Sodom) ini karena penduduknya sungguh orang-orang zalim.”

32. Ibrahim berkata, "Sesungguhnya di kota itu ada Luth.” Mereka (para malaikat) berkata, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”

33. Dan ketika para utusan Kami (para malaikat) datang kepada Luth, dia merasa bersedih hati karena (kedatangan) mereka[7], dan (merasa) tidak mempunyai kekuatan untuk melindungi mereka, dan mereka (para utusan) berkata, "Janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati. Sesungguhnya kami akan menyelamatkanmu dan pengikut-pengikutmu, kecuali istrimu, dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).”

34. Sesungguhnya Kami akan menurunkan azab dari langit kepada penduduk kota ini karena mereka berbuat fasik[8].

35. Dan sungguh, tentang itu telah Kami tinggalkan suatu tanda yang nyata[9] bagi orang-orang yang mengerti.

Ayat 36-37: Kisah Nabi Syu’aib ‘alaihis salam dan hukuman terhadap kaumnya yang mendustakan.

  وَإِلَى مَدْيَنَ أَخَاهُمْ شُعَيْبًا فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَارْجُوا الْيَوْمَ الآخِرَ وَلا تَعْثَوْا فِي الأرْضِ مُفْسِدِينَ (٣٦) فَكَذَّبُوهُ فَأَخَذَتْهُمُ الرَّجْفَةُ فَأَصْبَحُوا فِي دَارِهِمْ جَاثِمِينَ (٣٧

Terjemah Surat Al Ankabut Ayat 36-37

36. Dan kepada penduduk Madyan (Kami telah mengutus) saudara mereka Syu'aib[10], dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah, harapkanlah (pahala) hari akhir[11], dan jangan kamu berkeliaran di bumi berbuat kerusakan.”

37. Mereka mendustakannya (Syu'aib), maka mereka ditimpa gempa yang dahsyat, lalu jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka,

Ayat 38-40: Akibat yang dialami negeri-negeri yang zalim; kaum ‘Ad dan Tsamud, demikian pula akibat yang dialami penguasa yang sombong seperti Fir’aun dan Qarun dan bagaimana mereka diberi hukuman karena dosa-dosanya.

  وَعَادًا وَثَمُودَ وَقَدْ تَبَيَّنَ لَكُمْ مِنْ مَسَاكِنِهِمْ وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ فَصَدَّهُمْ عَنِ السَّبِيلِ وَكَانُوا مُسْتَبْصِرِينَ (٣٨) وَقَارُونَ وَفِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مُوسَى بِالْبَيِّنَاتِ فَاسْتَكْبَرُوا فِي الأرْضِ وَمَا كَانُوا سَابِقِينَ (٣٩) فَكُلا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الأرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (٤٠

Terjemah Surat Al Ankabut Ayat 38-40

38. juga (ingatlah) kaum 'Aad dan Tsamud, sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka[12], setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan (buruk) mereka[13], sehingga menghalangi mereka dari jalan (Allah), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam,

39. dan (juga) Karun, Fir'aun dan Haman. Sungguh, telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa) keterangan-keterangan yang nyata. Tetapi mereka berlaku sombong di bumi[14], dan mereka orang-orang yang tidak luput (dari azab Allah).

40. Maka masing-masing (mereka itu) Kami azab karena dosa-dosanya[15], di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil[16], ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur[17], ada yang Kami benamkan ke dalam bumi[18], dan ada pula yang Kami tenggelamkan[19]. Allah sama sekali tidak hendak menzalimi mereka[20], akan tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri[21].

Ayat 41-44: Lemahnya keyakinan syirk dan batilnya, keutamaan orang-orang yang berilmu, dan perintah kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan umatnya untuk mendirikan shalat, beramr ma’ruf dan bernahi munkar.

مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتًا وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (٤١) إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٤٢)وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ (٤٣) خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ بِالْحَقِّ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِلْمُؤْمِنِينَ          (٤٤)

Terjemah Surat Al Ankabut Ayat 41-44

41. [1]Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung[2] selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba[3] sekiranya mereka mengetahui[4].

42. Sungguh, Allah mengetahui apa saja yang mereka sembah selain Dia (Allah)[5]. Dan Dia Mahaperkasa[6] lagi Mahabijaksana[7].

43. Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia[8]; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu[9].

44. Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak[10]. Sungguh, pada yang demikian itu pasti terdapat tanda-tanda (kekuasaan)[11] Allah bagi orang-orang yang beriman[12].


[1] Luth adalah anak saudara Ibrahim.

[2] Kaum Luth di samping melakukan perbuatan syirk juga mengerjakan perbuatan keji, menyamun dan melakukan perbuatan munkar di majlis mereka, maka Luth menasehati mereka tentang perkara ini dan menerangkan keburukannya serta menerangkan akibat dari perbuatan itu, namun mereka tidak berhenti dan sadar.

[3] Sebagian ahli tafsir mengartikan menyamun di sini dengan melakukan perbuatan keji terhadap orang-orang yang lewat dalam perjalanan, karena sebagian besar mereka melakukan homoseksual dengan tamu-tamu yang datang ke kampung mereka. Ada pula yang mengartikan dengan merusak jalan keturunan karena berbuat homoseksual itu, ada ada pula yang menafsirkan, dengan menghadang orang-orang yang lewat lalu membunuh dan merampas harta mereka.

[4] Bahwa perbuatan itu keji dan bahwa azab akan turun menimpa pelakunya.

[5] Karena sudah putus asa terhadap mereka, mengetahui keberhakan mereka untuk menerima azab dan sudah tidak sabar terhadap pendustaan dari mereka, maka Beliau mendoakan keburukan untuk mereka.

[6] Maka Allah mengabulkan doanya, Dia mengutus para malaikat untuk membinasakan mereka, namun sebelumnya mereka menemui Ibrahim dan memberikan kabar gembira kepadanya akan mendapat putra; Ishaq dan setelahnya nanti ada Ya’kub. Kemudian Nabi Ibrahim bertanya kepada mereka tentang urusan mereka selanjutnya, maka para malaikat memberitahukan, bahwa mereka hendak membinasakan kaum Luth, lalu Beliau meminta mereka mempertimbangkan kembali dan Beliau berkata, “Sesungguhnya di sana terdapat Luth.” Para malaikat menjawab, "Kami lebih mengetahui siapa yang ada di kota itu. Kami pasti akan menyelamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya. Dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).” Selanjutnya para malaikat pergi dan mendatangi Luth.

[7] Nabi Luth ‘alaihis salam merasa bersedih hati karena kedatangan para utusan Allah itu, di mana mereka berupa pemuda yang rupawan sedangkan kaum Luth sangat menyukai pemuda-pemuda yang rupawan untuk melakukan homoseksual. Beliau merasa tidak sanggup melindungi mereka jika ada gangguan dari kaumnya, maka para malaikat itu memberitahukan kepada Luth, bahwa mereka adalah para utusan Allah ‘Azza wa Jalla.

[8] Maka para malaikat memerintahkan Luth untuk pergi di malam hari membawa keluarganya selain istrinya. Ketika tiba pagi harinya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala membalik negeri mereka, Dia menjungkirbalikkan bagian atas ke bawah dan penduduknya dihujani batu dari tanah yang keras secara bertubi-tubi sehingga mereka semua binasa, maka jadilah mereka bahan pembicaraan dan pelajaran bagi generasi setelah mereka.

[9] Maksudnya, bekas-bekas runtuhan kota Sodom, negeri kaum Luth. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala di surah Ash Shaaffat: 137-138, “Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi,-- dan di waktu malam. Maka apakah kamu tidak memikirkan?

[10] Beliau memerintahkan mereka beribadah kepada Allah saja, beriman kepada kebangkitan dan berharap pahala di hari itu dan takut terhadap peristiwa di hari itu, beramal untuk menghadapinya, serta melarang mereka berbuat kerusakan di bumi dengan melakukan kemaksiatan, seperti mengurangi takaran dan timbangan, mebegal jalan, dsb.

[11] Bisa juga diartikan, takutlah kepada hari Kiamat.

[12] Di Hijr dan Yaman.

[13] Berupa kekafiran dan kemaksiatan, sehingga mereka menyangka bahwa perbuatan mereka itu lebih baik daripada apa yang dibawa para rasul.

[14] Mereka tidak mau mengikuti kebenaran yang dibawa Musa ‘alaihis salam dan mereka merendahkan hamba-hamba Allah.

[15] Yakni sesuai ukuran dosanya dan diberi hukuman yang sesuai.

[16] Seperti kaum Luth. Ada pula yang mengatakan seperti kaum ‘Aad, yaitu ketika mereka berkata, “Siapakah yang lebih kuat daripada kami?” Maka datang kepada mereka angin topan yang sangat dingin yang membawa kerikil-kerikil lalu ditimpakan kepada mereka, mengangkat mereka dari bumi sampai tinggi ke atas, lalu dijungkirbalikkan ke bawah, sehingga kepalanya pecah dan mereka dalam keadaan berbadan tanpa kepala seperti batang-batang kurma yang telah kosong (lapuk), lihat tafsir Ibnu Katsir.

[17] Seperti kaum Saleh (Tsamud).

[18] Seperti Karun.

[19] Seperti kaum Nuh dan Fir’aun bersama bala tentaranya.

[20] Dia tidak akan mengazab mereka, kecuali karena mereka berdosa.

[21] Mereka tidak mengerjakan tugas mereka, di mana mereka diciptakan untuk beribadah, bahkan menyibukkan diri mereka untuk selain itu, mereka sibukkan diri mereka untuk memuaskan hawa nafsu dan berbuat maksiat, sehingga mereka merugikan diri mereka serugi-ruginya.

[22] Setelah Allah menerangkan kelemahan sesembahan orang-orang musyrik, Dia menjelaskan kepada yang lebih tinggi lagi, yaitu bahwa berhala dan patung itu tidak ada apa-apanya, bahkan mereka hanya sekedar nama dan keyakinan yang mereka ada-adakan, padahal jika diteliti, maka akan diketahui dengan jelas kebatilannya.

[23] Yakni sesembahan yang mereka harapkan manfaatnya.

[24] Rumah tersebut tidak menghalangi panas, dingin dan bahaya yang menimpa. Laba-laba tergolong hewan yang lemah, dan rumahnya adalah rumah yang paling lemah. Oleh karena itu, tidak ada yang mengambilnya sebagai rumah pelindung kecuali akan menambah kelemahan untuknya. Demikianlah berhala dan patung yang mereka jadikan sebagai pelindung, mereka tidak dapat memberikan manfaat kepada para penyembahnya; mereka lemah dari berbagai sisi, dan jika menjadikan mereka sebagai penguat, maka hanya menambah kelemahan belaka.

[25] Jika mereka memiliki pengetahuan tentang keadaan mereka dan keadaaan yang mereka jadikan sebagai pelindung, tentu mereka tidak akan menjadikannya sebagai pelindung dan akan berlepas diri dari mereka, dan tentu mereka akan menjadikan Allah Yang Mahakuasa lagi Maha Penyayang sebagai pelindung mereka, di mana barang siapa yang menyerahkan urusan kepada-Nya, maka Dia akan mencukupkannya dan akan menguatkannya.

[26] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengetahui –di mana Dia mengetahui yang gaib dan yang tampak-, sesuatu yang mereka sembah selain-Nya, dan bahwa mereka tidak memiliki sifat ketuhanan sama sekali, dan keadaan mereka sebagaimana firman-Nya, “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (Terj. An Najm: 23)

[27] Dengan keperkasaan-Nya Dia mengalahkan semua makhluk.

[28] Dia menempatkan sesuatu pada tempatnya.

[29] Yakni karena mereka, untuk manfaat mereka dan untuk mengajarkan mereka, karena perumpamaan termasuk di antara cara untuk memperjelas ilmu, mendekatkan perkara yang masih di akal dengan perkara yang dapat dirasakan, sehingga makna yang diinginkan menjadi jelas, sehingga ia merupakan maslahat untuk semua manusia.

[30] Di mana ilmu tersebut masuk sampai ke hati mereka. Ayat ini merupakan pujian kepada perumpamaan yang Allah buat dan dorongan untuk mentadabburi dan memikirkannya, demikian pula pujian bagi orang yang dapat memahaminya. Dari sini diketahui, bahwa orang yang tidak memahaminya berarti tidak berilmu. Sebabnya adalah karena perumpamaan yang Allah buat dalam Al Qur’an adalah untuk perkara-perkara besar (seperti ushuluddin), tuntutan yang tinggi, serta masalah yang agung. Ahli ilmu mengetahui, bahwa perumpamaan itu lebih penting daripada selainnya karena Allah memperhatikannya, mendorong hamba-hamba-Nya untuk memikirkannya. Jika ternyata ada orang yang tidak memahaminya padahal sangat penting sekali, maka yang demikian menunjukkan bahwa ia bukan ahli ilmu, karena jika masalah yang sangat penting saja dia tidak mengetahuinya, apalagi masalah yang di bawahnya.

[31] Maksudnya, Allah Subhaanahu wa Ta'aala sendiri yang menciptakan langit dengan keadaannya yang tinggi, luas, indah dan apa yang ada di sana seperti matahari, bulan, bintang, malaikat, dll. demikian pula Allah sendiri yang menciptakan bumi dan apa yang ada di sana seperti gunung-gunung, lautan, daratan, padang sahara, pepohonan dan lain-lain. Dia menjadikan semua itu bukanlah untuk main-main, melainkan dengan penuh hikmah, agar perintah dan syari’at-Nya tegak, agar nikmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya semakin sempurna, dan agar mereka mengetahui kebijaksanaan-Nya, keperkasaan-Nya, dan pengaturan-Nya, di mana hal itu menunjukkan keesaan-Nya, keberhakan-Nya untuk disembah, dan dicintai oleh semua makhluk-Nya.

[32] Bisa juga maksudnya, terdapat tanda yang menerangkan tuntutan keimanan jika seorang mukmin mau memikirkannya.

[33] Disebutkan “orang-orang yang beriman” secara khusus karena hanya mereka yang dapat mengambil manfaat daripadanya, berbeda dengan orang-orang kafir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar