Minggu, 10 Februari 2013

Tafsir Al A’raaf Ayat 31-41

Ayat 31-34: Perintah menutup aurat, menjaga penampilan yang baik di masyarakat dan bolehnya bersenang-senang dengan rezeki yang halal dan baik

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (٣١) قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ (٣٢) قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالإثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ (٣٣) وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلا يَسْتَقْدِمُونَ      (٣٤)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 31-34 

31.[1] Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus[2] pada setiap (memasuki) masjid[3], makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan[4]. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan[5].

32. Katakanlah (Muhammad)[6], "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya[7] dan rezeki yang baik-baik?" Katakanlah, "Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia[8], dan khusus (untuk mereka saja) pada hari kiamat[9]. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui.

33. Katakanlah (Muhammad), "Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji[10] yang terlihat[11] dan yang tersembunyi[12], perbuatan dosa[13], perbuatan zalim (kepada manusia)[14] tanpa alasan yang benar, dan (mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu, sedangkan Dia tidak menurunkan alasan untuk itu[15], dan (mengharamkan) kamu membicarakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui[16]."

 

34.[17] Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu)[18]. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.

Ayat 35-37: Pengutusan para rasul sebagai penegakkan hujjah atas manusia dan penjelasan tentang zalimnya orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah Subhaanahu wa Ta'aala

يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ (٣٥) وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٣٦) فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ أُولَئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ الْكِتَابِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ            (٣٧)

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 35-37

35.[19] Wahai anak Adam! Jika datang kepadamu rasul-rasul dari kalanganmu sendiri yang menceritakan ayat-ayat-Ku kepadamu, maka barang siapa bertakwa[20] dan mengadakan perbaikan[21], maka tidak ada rasa takut pada mereka[22], dan mereka tidak bersedih hati[23].

36. Tetapi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami[24] dan menyombongkan diri terhadapnya[25], mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.

37. Siapakah yang lebih zalim[26] daripada orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah[27] atau yang mendustakan ayat-ayat-Nya[28]? Mereka itu akan memperoleh bagian yang telah ditentukan dalam kitab (Lauh Mahfuzh[29]); sampai datang para utusan (malaikat) Kami kepada mereka untuk mencabut nyawanya. Mereka (para malaikat) berkata[30], "Manakah sesembahan yang biasa kamu sembah selain Allah?"[31] Mereka (orang musyrik) menjawab, "Semuanya telah lenyap dari kami." Dan mereka memberikan kesaksian terhadap diri mereka sendiri[32] bahwa mereka adalah orang-orang kafir.

Ayat 38-41: Di antara peristiwa yang akan disaksikan pada hari Kiamat, kehinaan orang-orang kafir dan tidak dikabulkannya doa mereka

قَالَ ادْخُلُوا فِي أُمَمٍ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ فِي النَّارِ كُلَّمَا دَخَلَتْ أُمَّةٌ لَعَنَتْ أُخْتَهَا حَتَّى إِذَا ادَّارَكُوا فِيهَا جَمِيعًا قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لأولاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلاءِ أَضَلُّونَا فَآتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لا تَعْلَمُونَ (٣٨) وَقَالَتْ أُولاهُمْ لأخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ (٣٩) إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ     (٤٠) لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ (٤١

Terjemah Surat Al A’raaf Ayat 38-41

38. Allah berfirman, "Masuklah kamu ke dalam api neraka bersama golongan jin dan manusia yang telah lebih dahulu dari kamu. Setiap kali suatu umat masuk, dia melaknat saudaranya, sehingga apabila mereka telah masuk semuanya[33], berkatalah orang yang (masuk) belakangan[34] (kepada) orang yang (masuk) terlebih dahulu[35], "Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami[36], datangkanlah siksaan api neraka yang berlipat ganda kepada mereka." Allah berfirman, "Masing-masing mendapatkan (siksaan) yang berlipat ganda, tapi kamu tidak mengetahui.”

39. Dan orang yang (masuk) terlebih dahulu berkata kepada yang (masuk) belakangan, "Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikit pun atas kami[37]. Maka rasakanlah azab itu karena perbuatan yang telah kamu lakukan.”

40. Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya[38], tidak akan dibukakan pintu-pintu langit[39] bagi mereka, dan mereka tidak akan masuk surga, sebelum unta masuk ke dalam lubang jarum[40]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat.

41. Bagi mereka tikar tidur dari api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka)[41]. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang zalim[42]


[1] Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ia berkata, “Ada wanita yang bertawaf di Baitullah dalam keadaan telanjang, lalu ia berkata, “Siapa yang mau meminjamkan kepadaku pakaian tawaf?” Untuk dia jadikan penutup farjinya dan ia berkata, “Pada hari ini, sebagiannya nampak atau semuanya. Bagian yang nampak daripadanya, tidak saya halalkan.” Maka turunlah ayat, “Khudzuu ziinatakum ‘inda kulli masjid.”

Hadits ini dinisbatkan oleh Ibnu Katsir kepada Nasa’i dan Ibnu Jarir (juz 8 hal. 160) dan diriwayatkan oleh Al Waahidiy dalam Asbaabunnuzul. Hakim juga menyebutkan di juz 2 hal. 319-320 dari jalan Syu’bah, di sana disebutkan turunnya ayat ini, “Qul man harrama ziinatallah…dst.” Hakim berkata, “Hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim, namun keduanya tidak menyebutkan”, dan didiamkan oleh Adz Dzahabi. Mungkin saja kedua ayat ini turun karena sebab tersebut, walahu ‘alam.

[2] Yang menutupi auratmu.

[3] Maksudnya setiap akan mengerjakan shalat atau thawaf keliling ka'bah atau ibadah-ibadah yang lain. Ayat ini memerintahkan untuk menutupi aurat, karena menutupnya menghiasi badan sebagaimana menanggalkannya menjadikan buruk bagi badan. Dalam ayat ini terdapat perintah menutup aurat ketika shalat dan dalam menjalankan ibadah lainnya, perintah berhias dan membersihkan pakaian dari kotoran dan najis.

[4] Maksudnya janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan kepada yang diharamkan. Demikian pula terdapat larangan berlebihan (bermewah-mewahan) dalam hal makan, minum dan berpakaian.

[5] Berlebih-lebihan adalah perkara yang dibenci Allah, membahayakan badan dan penghidupannya, bahkan terkadang membawanya kepada keadaan yang membuatnya tidak sanggup memenuhi kewajiban. Dalam ayat ini terdapat perintah makan dan minum, larangan meninggalkannya dan larangan berlebih-lebihan dalam makan dan minum.

[6] Kepada orang yang membebani diri dan mengharamkan rezeki yang baik-baik yang Allah halalkan.

[7] Seperti pakaian.

[8] Mafhum ayat ini menunjukkan bahwa barang siapa tidak beriman kepada Allah dan menggunakan nikmat-nikmat-Nya untuk bermaksiat, maka ia tidak berhak menikmatinya, bahkan akan diberikan hukuman terhadapnya dan pada hari kiamat kenikmatan yang mereka rasakan akan ditanya.

[9] Maksudnya perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedangkan di akhirat nanti hanya untuk orang-orang yang beriman saja.

[10] Yakni dosa-dosa besar seperti zina, liwath (homoseks), dsb.

[11] Yang terkait dengan anggota badan.

[12] Yang terkait dengan hati, seperti riya’, ujub, sombong, nifak, dsb.

[13] Terkait dengan hak Allah.

[14] Terkait dengan hak mereka.

[15] Padahal yang Dia turunkan alasannya adalah tauhid (mengesakan-Nya dalam beribadah).

[16] Baik dalam nama-nama-Nya, sifat-Nya, perbuatan-Nya atau dalam syari’at-Nya, seperti mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan-Nya, dsb. Dalam ayat ini, Allah melarang beberapa perkara, dari mulai yang ringan hingga yang besar, karena di dalamnya terdapat kerusakan baik sifatnya khusus maupun umum, terdapat kezaliman dan sikap berani kepada Allah, menindas hamba-hamba Allah dan karena di dalamnya terdapat perobahan agama Allah dan syari’at-Nya.

[17] Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah mengeluarkan anak cucu Adam ke bumi dan menempatkan mereka di sana serta menentukan ajal yang tidak maju dan tidak mundur.

[18] Yakni setiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan.

[19] Setelah Allah menempatkan Adam dan keturunannya di muka bumi, Allah menguji mereka dengan pengutusan rasul dan penurunan kitab, di mana rasul tersebut menceritakan kepada mereka ayat-ayat Allah dan menerangkan hukum-hukum-Nya. Selanjutnya, Allah menyebutkan keutamaan orang yang mengikuti seruan para rasul-Nya dan menyebutkan kerugian bagi mereka yang tidak mau mengikuti.

[20] Ada yang mengartikan dengan menjauhi larangan Allah, berupa syirk, dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil.

[21] Terhadap amalnya, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

[22] Sebagaimana rasa takut yang dialami oleh selain mereka.

[23] Terhadap yang telah luput. Ketika rasa takut dan kesedihan sudah hilang, maka akan tercapai keamanan yang sempurna, kebahagiaan dan keberuntungan.

[24] Hati mereka tidak mengimaninya.

[25] Anggota badan mereka tidak mau tunduk kepadanya.

[26] Yakni tidak ada yang lebih zalim.

[27] Seperti menisbatkan sekutu atau anak kepada-Nya atau berkata terhadap Allah tanpa ilmu.

[28] Yaitu Al Qur’an.

[29] Berupa rezeki yang sementara, hidup sampai waktu tertentu dan sebagainya sesuai yang tercatat dalam Al Lauhul Mahfuzh. Mereka hanya bersenang-senang sebentar, dan kemudian mereka akan disiksa selamanya.

[30] Sambil mencela mereka dengan keras.

[31] Apakah mereka dapat memberi manfaat kepadamu atau menghindarkan bahaya?

[32] Ketika matinya.

[33] Yang pertama hingga yang terakhir, para pemimpin dan para pengikut.

[34] Maksudnya para pengikutnya.

[35] Maksudnya para pemimpinnya.

[36] Dengan menghias amal buruk kepada kami.

[37] Maksudnya: kita telah sama-sama tersesat dan telah mengerjakan sebab untuk diazab, lantas apa kelebihan kamu di atas kami? Namun sudah maklum, bahwa azab kepada para pemimpin kesesatan tentu lebih dahsyat daripada kepada para pengikut, sebagaimana nikmat dan pahala yang diperoleh para pemimpin petunjuk lebih besar daripada para pengikut. Oleh karena itu, Allah berfirman:“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (Terj. An Nahl: 88) Ayat ini dan yang semisalnya menunjukkan bahwa orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah akan kekal diazab, meskipun mereka berbeda-beda tingkatan azabnya tergantung amal mereka, sikap keras mereka, kezaliman dan kedustaan mereka, dan bahwa cinta kasih yang sebelumnya terjalin di antara mereka akan berubah pada hari kiamat menjadi permusuhan dan saling laknat-melaknat.

[38] Tidak mau beriman.

[39] Ketika ruh mereka diangkat ke langit, lalu dijatuhkan ke sijjin (bagian bawah bumi), berbeda dengan orang mukmin, pintu langit akan dibukakan untuknya dan ruhnya dinaikkan ke langit menghadap Allah.

[40] Artinya mereka tidak mungkin masuk surga sebagaimana tidak mungkin masuknya unta ke lubang jarum.

[41] Mereka terkepung dalam api neraka

[42] Dengan balasan yang sesuai, dan Allah sama sekali tidaklah berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya.

1 komentar: