Sabtu, 09 Februari 2013

Tafsir Al An’aam Ayat 152-165

Ayat 152-153: Perhatian Islam terhadap anak yatim, menjaga hartanya, serta perintah memenuhi hak kepada yang memiliki hak dan mengikuti kebenaran

وَلا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ لا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ (١٥٢) وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٥٣

 

Terjemah Surat Al An’aam Ayat 152-153

152. Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim[1], kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat[2], sampai dia mencapai (usia) dewasa[3]. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil[4]. Kami tidak membebani sesorang melainkan menurut kesanggupannya[5]. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu)[6] dan penuhilah janji Allah[7]. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.”

153. Dan sungguh, inilah[8] jalan-Ku yang lurus[9]. Maka ikutilah![10] Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain)[11] yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya[12]. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.

Ayat 154-158: Kitab-kitab yang Allah turunkan terdapat petunjuk dan hujjah, dan tidak ada uzur untuk menyelisihinya

ثُمَّ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ تَمَامًا عَلَى الَّذِي أَحْسَنَ وَتَفْصِيلا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لَعَلَّهُمْ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ (١٥٤) وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (١٥٥) أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ (١٥٦) أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَى مِنْهُمْ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ (١٥٧)هَلْ يَنْظُرُونَ إِلا أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لا يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُونَ (١٥٨

Terjemah Surat Al An’aam Ayat 154-158

154. Kemudian Kami telah memberikan kepada Musa kitab (Taurat) untuk menyempurnakan (nikmat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan[13], untuk menjelaskan segala sesuatu[14], dan sebagai petunjuk[15] dan rahmat[16], agar mereka[17] beriman akan adanya pertemuan dengan Tuhannya[18].

155. Dan ini adalah kitab (Al-Quran) yang Kami turunkan dengan penuh berkah[19]. Ikutilah[20], dan bertakwalah[21] agar kamu mendapat rahmat[22],

156. (Kami turunkan Al-Quran itu) agar kamu (tidak) mengatakan, "Kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan sebelum kami (Yahudi dan Nasrani), dan sungguh, kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca[23],”

157. Atau agar kamu (tidak) mengatakan, "Jikalau kitab itu diturunkan kepada kami, tentulah kami lebih mendapat petunjuk daripada mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani)." Sungguh, telah datang kepadamu penjelasan yang nyata, petunjuk dan rahmat dari Tuhanmu[24]. Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling daripadanya? Kelak, Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan azab yang keras, karena mereka selalu berpaling.

158. Yang mereka[25] nanti-nantikan hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka[26], atau kedatangan Tuhanmu[27] atau sebagian tanda-tanda dari Tuhanmu[28]. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu[29] tidak berguna lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau (belum) berusaha berbuat kebajikan dengan imannya itu[30]. Katakanlah, "Tunggulah[31]! Kami pun menunggu."

Ayat 159-160: Peringatan terhadap sikap berpecah dalam agama dan menjelaskan balasan terhadap amal

إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ (١٥٩) مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى إِلا مِثْلَهَا وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (١٦٠

Terjemah Surat Al An’aam Ayat 159-160

159. Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama-Nya[32] dan mereka menjadi terpecah (dalam golongan-golongan)[33], sedikit pun bukan tanggung jawabmu (Muhammad) atas mereka[34]. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) kepada Allah. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.

160. Barang siapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya[35]. Dan barang siapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya[36]. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).

Ayat 161-165: Agama yang sahih dan tauhid yang bersih adalah milik Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan penjelasan bahwa seseorang akan diminta pertanggungjawaban terhadap amalnya dan akan dihisab pada hari Kiamat

قُلْ إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٦١) قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢) لا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ (١٦٣) قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلا عَلَيْهَا وَلا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ (١٦٤) وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلائِفَ الأرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ إِنَّ رَبَّكَ سَرِيعُ الْعِقَابِ وَإِنَّهُ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ (١٦٥

Terjemah Surat Al An’aam Ayat 161-165

161. Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus[37]. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.”

162. [38]Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku[39], hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.

163. Tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)[40]".

164. Katakanlah (Muhammad), "Apakah (patut) aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dialah Tuhan bagi segala sesuatu. Setiap perbuatan dosa seseorang, dirinya sendiri yang bertanggung jawab. Dan seseorang tidak akan memikul beban dosa orang lain[41]. Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitahukan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan[42]."

165. Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain[43], untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu[44]. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman[45] dan sungguh, Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[46].


[1] Yakni memakannya atau menukarnya dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi atau mengambil tanpa sebab.

[2] Yang memberikan maslahat baginya. Ayat ini menunjukkan tidak bolehnya mendekati harta aak yatim atau mengolahnya dengan pengolahan yang merugikan anak yatim.

[3] Dan menjadi cerdas. Ayat ini menunjukkan bahwa anak yatim sebelum dewasa dicegah melakukan tindakan terhadap hartanya, dan walinyalah yang mengelola hartanya dengan pengelolaan yang menguntungkan, dan bahwa pencegahan tindakan anak yatim terhadap hartanya berlaku sampai dewasa.

[4] Dan dengan tidak mengurangi.

[5] Oleh karena itu, jika seseorang berusaha memenuhi takaran dan timbangan, namun terjadi kekurangan tanpa ada sikap remeh darinya, maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

[6] Maksudnya tetap mengatakan yang sebenarnya meskipun merugikan kerabat sendiri.

[7] Maksudnya penuhilah segala janji yang diadakan antara kamu dengan-Nya berupa mengerjakan hak-haknya dan memenuhinya, demikian juga perjanjian yang diadakan antara kamu dengan orang lain. Semua perjanjian wajib dipenuhi dan haram dibatalkan atau diremehkan.

[8] Yakni perintah yang disebutkan dalam ayat 151-152 dan yang semisalnya.

[9] Jalan yang menghubungkan kepada Allah dan kepada surga-Nya, jalan yang lurus, mudah dan ringan.

[10] Agar kamu memperoleh keberuntungan dan memperoleh apa yang kamu harapkan.

[11] Yakni jalan-jalan yang menyelisihinya.

[12] Menyimpangkan kamu dari jalan-Nya yang lurus. Jika kamu sudah keluar dari jalan yang lurus, maka di sana tidak ada lagi jalan selain jalan yang mengarah kepada neraka. Kita meminta kepada Allah agar Dia membimbing kita menempuh jalan yang lurus.

[13] Di antara umat Nabi Musa ‘alaihis salam, karena sesungguhnya Allah telah memberikan nikmat yang banyak kepada mereka yang berbuat baik, yang di antaranya sekaligus sebagai penyempurnanya adalah kitab Taurat.

[14] Yang dibutuhkan dalam agama, seperti yang halal dan yang haram, perintah dan larangan, ‘Aqidah, dan lainnya.

[15] Yang menunjukkan mereka kepada kebaikan dan mengenalkan mereka keburukan. Baik terkait dengan masalah ushul (dasar-dasar agama) maupun furu’ (cabang)

[16] Di mana dengannya mereka memperoleh kebahagiaan, rahmat dan kebaikan yang banyak.

[17] Bani Israil.

[18] Karena di dalamnya mengandung dalil pasti yang menunjukkan adanya kebangkitan dan pembalasan terhadap amal, di mana hal itu mengharuskan mereka beriman kepada pertemuan dengan Tuhan mereka serta mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

[19] Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak, dari sana semua ilmu diambil dan dari sana berbagai keberkahan digali. Tidak ada satu kebaikan kecuali diserukan dan didorongnya, disebutkan pula di sana hikmah dan maslahatnya. Dan tidak ada satu keburukan pun kecuali dilarangnya, diperingatkannya dan disebutkan berbagai sebab yang menjauhkan seseorang dari mengerjakannya serta akibatnya.

[20] Ikutilah perintahnya dan jauhilah larangannya, serta bangunlah dasar agama kamu dan cabangnya di atasnya.

[21] Jangan menyelisihi perintah-Nya.

[22] Oleh karena itu, sebab terbesar untuk menggapai rahmat Alah adalah dengan mengikuti Al Qur’an.

[23] Diturunkan Al Quran dalam bahasa Arab agar orang musyrik Mekah tidak mengatakan bahwa mereka tidak mempunyai kitab karena kitab yang diturunkan kepada golongan Yahudi dan Nasrani diturunkan dalam bahasa yang tidak diketahui mereka.

[24] Bagi orang yang mengikutinya.

[25] Yakni orang-orang musyrik.

[26] Untuk mencabut ruh mereka.

[27] Untuk memberikan keputusan kepada manusia di padang mahsyar.

[28] Maksudnya tanda-tanda yang menunjukkan telah dekatnya kiamat.

[29] Yaitu terbitnya matahari dari barat.

[30] Ketika itu, manusia semua beriman, namun beriman ketika itu tidak bermanfaat dan pintu tobat pun ditutup. Hikmahnya adalah karena iman hanyalah bermanfaat ketika beriman kepada yang ghaib dan seseorang melakukannya dengan pilihannya, adapun apabila sebagian tanda besar hari kiamat tiba, yaitu terbitnya matahari dari barat, maka masalahnya menjadi nyata, sehingga tidak ada faedahnya lagi iman, karena hal itu seperti keimanan karena terpaksa, seperti imannya orang yang akan tenggelam atau terbakar ketika dirinya menyaksikan kematian dsb. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

“Maka ketika mereka melihat azab Kami, mereka berkata, "Kami beriman hanya kepada Allah saja, dan Kami kafir kepada sembahan-sembahan yang telah kami persekutukan dengan Allah".--“Maka iman mereka tidak berguna bagi mereka ketika mereka telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. Dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (Terj. Al Mu’min: 84-85)

[31] Salah satu dari ketiga hal itu. Kelak kamu akan mengetahui siapakah di antara kita yang lebih berhak memperoleh keamanan?!

[32] Dengan berselisih di dalamnya, di mana masing-masing mengambil nama-nama yang sesungguhnya tidak bermanfaat apa-apa bagi agamanya seperti Yahudi, Nasrani dan Majusi, atau tidak menyempurnakan imannya, seperti mengambil sesuatu dari syari’at dan menjadikan agamanya, namun dia tinggalkan yang lain yang semisalnya atau yang lebih tinggi daripadanya dalam syari’at ini sebagaimana keadaan Ahli bid’ah. Ayat ini menunjukkan bahwa agama memerintahkan bersatu padu dan melarang berpecah belah dalam agama, baik dalam masalah ushul (dasar agama) maupun furu’ (cabang).

[33] Yakni golongan yang amat fanatik kepada pemimpin-pemimpinnya. Dalam sebuah qira’at dibaca “Faaraquu” yakni meninggalkan agama yang mereka diperintahkan untuk menjalankannya, seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani.

[34] Dalam ayat ini, Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk berlepas diri dari orang-orang yang memecah belah agamanya.

[35] Ini merupakan balasan paling sedikitnya, dan bisa menjadi banyak tergantung niatnya.

[36] Ini merupakan bukti keadilan Allah dan ihsan-Nya, dan bahwa Dia tidak menzalimi meskipun seberat dzarrah pun.

[37] Agama yang lurus, yang mengandung aqidah yang bermanfaat, amal yang saleh, memerintahkan semua kebaikan dan melarang semua keburukan, agama yang dipegang para nabi dan rasul, khususnya imamul hunafa’ Ibrahim ‘alaihis salam.

[38] Ayat sebelumnya masih umum, dan ayat ini lebih khusus, dengan menyebutkan ibadah yang utama.

[39] Ada yang mengartikan “nusuk” di ayat ini dengan “sembelihanku”. Disebutkan shalat dan kurban adalah karena keutamaan kedua ibadah ini, di mana hal itu menunjukkan cinta kepada Allah Ta’ala, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, dan menunjukkan pendekatan diri kepada Allah baik dengan hati, lisan, anggota badan maupun dengan harta.

[40] Di antara umat ini.

[41] Maksudnya masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.

[42] Kemudian Dia akan memberikan balasan.

[43] Baik dengan harta, kedudukan, dsb.

[44] Siapa di antara kamu yang taat dan siapa di antara kamu yang bermaksiat.

[45] Kepada orang-orang yang bermaksiat dan mendustakan ayat-ayat-Nya.

[46] Kepada orang yang beriman dan beramal saleh, serta bertobat dari semua dosa yang membinasakan.

Selesai dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, dan segala puji bagi Allah di awal dan akhirnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar