Kamis, 17 Januari 2013

Tafsir An Nisa Ayat 36-39

Ayat 36-39: Kewajiban terhadap Allah dan terhadap sesama manusia, perintah beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala saja, arahan dalam hubungan kemasyarakatan, dan perintah berinfak

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا (٣٦) الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا (٣٧) وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلا بِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا (٣٨) وَمَاذَا عَلَيْهِمْ لَوْ آمَنُوا بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقَهُمُ اللَّهُ وَكَانَ اللَّهُ بِهِمْ عَلِيمًا     (٣٩)

Terjemah Surat An Nisa Ayat 36-39

36. Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun[1]. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua[2], karib-kerabat[3], anak-anak yatim[4], orang-orang miskin[5], tetangga dekat dan tetangga jauh[6], teman sejawat[7], ibnu sabil[8] dan apa yang kamu miliki[9]. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri[10],

37. (yaitu) orang-orang yang kikir[11], dan menyuruh orang lain berbuat kikir[12], dan menyembunyikan karunia yang telah diberikan Allah kepadanya[13]. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir[14] azab yang menghinakan.

38. Dan (juga) orang-orang yang meinfakkan hartanya karena riya[15] kepada orang lain, dan tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian[16]. Barang siapa yang menjadikan setan sebagai temannya[17], maka ketahuilah dia (setan) itu teman yang sangat jahat.

39.[18] Apa mudharatnya bagi mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan hari kemudian serta menginfakkan sebagian rezki yang telah diberikan Allah kepadanya?[19] Dan Allah Maha Mengetahui keadaan mereka.


[1] Allah Ta'ala dalam ayat ini memerintahkan kita hanya menyembah kepada-Nya saja dan mengarahkan berbagai bentuk ibadah kepada-Nya, baik berdoa, meminta pertolongan dan perlindungan, ruku' dan sujud, berkurban, bertawakkal dsb. serta masuk ke dalam pengabdian kepada-Nya, tunduk kepada perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan rasa cinta, takut dan harap serta berbuat ikhlas dalam semua ibadah baik yang nampak (ibadah lisan dan anggota badan) maupun yang tersembunyi (ibadah hati). Allah Ta'ala juga melarang berbuat syirk, baik syirk akbar (besar) maupun syirk asghar (kecil).

Syirk Akbar (besar) adalah syirk yang biasa terjadi dalam uluhiyyah maupun rububiyyah. Syirk dalam Uluhiyyah yaitu dengan mengarahkan ibadah kepada selain Allah Ta’ala, misalnya berdo’a dan meminta kepada selain Allah, ruku’ dan sujud kepada selain Allah, berkurban untuk selain Allah (seperti membuat sesaji untuk jin atau penghuni kubur), bertawakkal kepada selain Allah dan mengarahkan segala bentuk penyembahan/ibadah lainnya kepada selain Allah Ta’ala. Sedangkan syirk dalam rububiyyah yaitu menganggap bahwa di samping Allah ada juga yang ikut serta mengurus alam semesta. Syirk dalam uluhiyyah dan rububiyyah termasuk syirk akbar. Sedangkan Syirk Asghar (kecil) adalah perbuatan, ucapan atau niat yang dihukumi oleh agama Islam sebagai Syirk Asghar karena bisa mengarah kepada Syirk Akbar contohnya adalah:

q Bersumpah dengan nama selain Allah.

q Memakai jimat dengan keyakinan bahwa jimat tersebut sebagai sebab terhindar dari madharat (namun bila berkeyakinan bahwa jimat itu dengan sendirinya bisa menghindarkan musibah atau mendatangkan manfaat maka menjadi Syirk Akbar).

q Meyakini bahwa bintang sebagai sebab turunnya hujan. Hal ini adalah Syirk Asghar karena ia telah menganggap sesuatu sebagai sebab tanpa dalil dari syara’, indra, kenyataan maupun akal. Dan hal itu bisa menjadi Syirk Akbar bila ia beranggapan bahwa bintang-bintanglah yang menjadikan hujan turun.

q Riya’ (beribadah agar dipuji dan disanjung manusia). Contohnya adalah seseorang memperbagus shalat ketika ia merasakan sedang dilihat orang lain.

q Beribadah dengan tujuan mendapatkan keuntungan dunia.

q Thiyarah (merasa sial dengan sesuatu sehingga tidak melanjutkan keinginannya). Misalnya, ketika ia mendengar suara burung gagak ia beranggapan bahwa bila ia keluar dari rumah maka ia akan mendapat kesialan sehingga ia pun tidak jadi keluar, dsb. Pelebur dosa thiyarah adalah dengan mengucapkan,

اَللّهُمَّ لَا خَيْرَ اِلَّا خَيْرُكَ وَلَا طَيْرَ اِلَّا طَيْرُكَ وَلاَ اِلهَ غَيْرُكَ

َ“Ya Allah, tidak ada kebaikan kecuali kebaikan-Mu dan tidak ada nasib sial kecuali yang Engkau tentukan. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.”(HR. Ahmad)

Termasuk syirk juga adalah apa yang disebutkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berikut ketika menafsirkan ayat "Falaa taj'aluu lillahi andaadaa…"artinya: "Maka janganlah kamu adakan bagi Allah tandingan-tandingan sedang kamu mengetahui" (Al Baqarah: 22) :

الْأَنْدَادُ: هُوَ الشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيْبِ النَّمْلِ عَلَى صَفَاةٍ سَوْدَاءَ فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ؛ وَهُوَ أَنْ تَقُوْلَ: وَاللهِ، وَحَيَاتِكَ يَا فُلاَنُ وَحَيَاتِيْ، وَتَقُوْلُ: لَوْلاَ كُلَيْبَةُ هَذَا لَأَتَانَا اللَّصُوْصُ، وَلَوْلَا الْبِطُّ فِي الدَّارِ لَأَتَانَا اللَّصُوْصُ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ لِصَاحِبِهِ: مَا شَاءَ اللهُ وَشِئْتَ، وَقَوْلُ الرَّجُلِ: لَوْلَا اللهُ وَفُلاَنٌ. لاَ تَجْعَلْ فِيْهَا فُلاَناً هَذَا كُلُّهُ بِهِ شِرْكٌ                                               (رواه ابن أبي حاتم)

"Tandingan-tandingan tersebut adalah perbuatan syirk, di mana ia lebih halus daripada semut di atas batu yang hitam di kegelapan malam, yaitu kamu mengatakan "Demi Allah dan demi hidupmu hai fulan", "Demi hidupku", juga mengatakan "Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri", dan kata-kata "Jika seandainya tidak ada angsa di rumah ini tentu kita kedatangan pencuri", juga pada kata-kata seseorang kepada kawannya "Atas kehendak Allah dan kehendakmu", dan pada kata-kata seseorang "Jika seandainya bukan karena Allah dan si fulan (tentu…)", janganlah kamu tambahkan fulan padanya, semua itu syirk."

Kata-kata "Jika seandainya tidak ada anjing kecil ini tentu kita kedatangan pencuri" adalah syirk jika yang dilihat hanya sebab tanpa melihat kepada yang mengadakan sebab itu, yaitu Allah Subhaanahu wa Ta'aala atau seseorang bersandar kepada sebab dan lupa kepada siapa yang mengadakan sebab itu, yaitu Allah Azza wa Jalla.

Namun, tidak termasuk syirk jika seseorang menyandarkan kepada sesuatu yang memang sebagai sebab berdasarkan dalil syar'i atau hissiy (inderawi) atau pun waqi' (kenyataan), ssebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Abu Thalib, "Jika seandainya bukan karena saya, tentu ia berada di lapisan neraka yang paling bawah."

Demikian pula termasuk syirk:

- Meyakini ramalan bintang (zodiak),

- Melakukan pelet, sihir/santet,

- Membaca jampi-jampi syirk,

- Mengatakan bahwa hujan turun karena bintang ini dan itu, padahal hujan itu turun karena karunia Allah dan rahmat-Nya.

- Mengatakan “Hanya Allah dan kamu saja harapanku”, “Aku dalam lindungan Allah dan kamu”, “Dengan nama Allah dan nama fulan” dan kalimat lain yang terkesan menyamakan dengan Allah Ta’ala.

Perbedaan Syirk Akbar dengan Syirk Asghar adalah bahwa Syirk Akbar mengeluarkan seseorang dari Islam, sedangkan Syirk Asghar tidak. Syirk Akbar menghapuskan seluruh amal sedangkan Syirk Asghar tidak dan Syirk Akbar mengekalkan pelakunya di neraka bila pelakunya meninggal di atas perbuatan itu sedangkan Syirk Asghar tidak (yakni tahtal masyii'ah; jika Allah menghendaki, maka Dia akan menyiksanya dan jika Allah menghendaki, maka Dia akan mengampuninya), kalau pun pelakunya disiksa, namun tidak kekal.

Setelah Allah memerintahkan memenuhi hak-Nya, yaitu dengan mentauhidkan-Nya, Dia juga memerintahkan untuk memenuhi hak hamba, dari mulai yang terdekat lebih dahulu, yaitu kedua orang tua.

[2] Yakni berbuat baiklah kepada mereka baik dalam hal ucapan maupun dalam hal perbuatan. Dalam hal ucapan misalnya dengan berkata-kata yang lembut dan baik kepada kedua orang tua, sedangkan dalam hal perbuatan misalnya menaati kedua orang tua dan menjauhi larangannya, menafkahi orang tua dan memuliakan orang yang mempunyai keterkaitan dengan orang tua serta menyambung tali silaturrahim dengan mereka.

[3] Baik kerabat dekat maupun jauh, yakni kita diperintah berbuat baik kepada mereka dalam ucapan maupun perbuatan, serta tidak memutuskan tali silaturrahim dengan mereka.

[4] Anak yatim adalah anak-anak yang ditinggal wafat bapaknya saat mereka masih kecil. Mereka memiliki hak yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin. Misalnya menanggung mereka, berbuat baik kepada mereka, menghilangkan rasa sedih yang menimpa mereka, mengajari adab dan mendidik mereka sebaik-baiknya untuk maslahat agama maupun dunia mereka.

[5] Misalnya dengan memenuhi kebutuhan mereka, mendorong orang lain memberi mereka makan serta membantu sesuai kemampuan.

[6] Dekat dan jauh di sini ada yang mengartikan dengan tempat, ada pula yang mengartikan dengan hubungan kekerabatan. Yakni tetangga dekat maksudnya tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan. Sedangkan maksud tetangga jauh adalah tetangga yang tidak memiliki hubungan kekerabatan.

Tetangga yang memiliki hubungan kekerabatan memiliki dua hak, hak tetangga dan hak sebagai kerabat. Oleh karenanya, tetangga tersebut berhak mendapatkan haknya sebagai tetangga dan berhak diberlakukan secara ihsan yang ukurannya sesuai uruf (kebiasaan yang berlaku). Demikian juga tetangga yang jauh, yakni yang tidak memiliki hubungan kekerabatan pun berhak mendapatkan haknya sebagai tetangga, semakin dekat tempatnya (rumahnya), maka haknya pun semakin besar. Selaku tetangganya, hendaknya ia tidak lupa memberinya hadiah, sedekah, mengundang, bertutur kata yang baik serta bersikap yang baik dan tidak menyakitinya.

[7] Ada yang mengartikan "teman sejawat" dengan teman dalam perjalanan, ada pula yang mengartikan istri, dan ada pula yang mengartikan dengan "teman" secara mutlak. Selaku teman hendaknya diberlakukan secara baik, misalnya dengan membantunya, menasehatinya, bersamanya dalam keadaan senang maupun sedih, lapang maupun sempit, mencintai kebaikan didapatkannya dsb.

[8] Ibnu sabil ialah orang yang dalam perjalanan bukan untuk maksiat dan bekalnya habis sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan. Termasuk juga anak yang tidak diketahui ibu bapaknya. Ibnu Sabil memiliki hak yang ditanggung oleh kaum muslimin, yaitu dengan menyampaikan ibnu sabil ke tempat tujuannya atau kepada sebagian tujuannya, memuliakannya dan bersikap ramah terhadapnya.

[9] Mencakup budak maupun hewan yang dimilikinya. Berbuat baik kepada mereka adalah dengan memberikan kecukupan kepada mereka dan tidak membebani mereka dengan beban-beban yang berat, membantu mereka mengerjakan beban itu dan membimbing mereka terhadap hal yang bermaslahat bagi mereka.

Orang yang berbuat baik kepada mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, maka sesungguhnya dia telah tunduk kepada Allah dan bertawadhu' (berendah hati) kepada hamba-hamba Allah; tunduk kepada perintah Allah dan syari'at-Nya, di mana ia berhak memperoleh pahala yang besar dan pujian yang indah. Sebaliknya, barang siapa yang tidak berbuat baik kepada mereka yang disebutkan itu, maka sesungguhnya dia berpaling dari Tuhannya, tidak tunduk kepada perintah-Nya serta tidak bertawadhu' kepada hamba-hamba Allah, bahkan sebagai orang yang sombong; orang yang bangga terhadap dirinya lagi membanggakan diri di hadapan orang lain.

[10] Di hadapan manusia terhadap apa yang dimilikinya.

[11] Terhadap sesuatu yang wajib diberikan oleh mereka atau ada hak-hak wajib yang mesti mereka keluarkan.

[12] Baik dengan ucapan maupun dengan sikap mereka.

[13] Berupa ilmu dan harta. Seperti halnya orang-orang Yahudi. Mereka menyembunyikan pengetahuan tentang kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, menggantinya dengan menampilkan yang batil sehingga menghalangi manusia dari masuk ke dalam agama yang dibawa Beliau. Mereka menggabung antara sikap kikir terhadap harta, kikir terhadap ilmu dan ditambah dengan upaya merugikan diri dan orang lain. Sifat seperti ini adalah sifat yang ada dalam diri orang-orang kafir. Oleh karena itu, di akhir ayat Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir…dst."

[14] Ada yang mengatakan bahwa maksud "kafir" di sini adalah kufur terhadap nikmat Allah (tidak bersyukur). Hal itu, karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.

[15] Riya ialah melakukan sesuatu karena ingin dilihat dan dipuji orang lain.

[16] Infak mereka tidak didasari keikhlasan, keimanan kepada Allah dan mengharap pahala di hari kemudian.

[17] Tindakan mereka seperti yang disebutkan dalam ayat di atas tidak lain disebabkan mereka menjadikan setan sebagai kawannya. Padahal setan adalah seburuk-buruk kawan, karena usahanya untuk membinasakan kawannya dan berusaha merugikannya.

[18] Sebagaimana kikir terhadap karunia Allah dan menyembunyikan apa yang diberikan Allah merupakan kemaksiatan, demikian pula orang yang berinfak dan beribadah karena selain Allah, ia pun berdosa dan bermaksiat. Hal itu, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan menaati-Nya dengan cara ikhlas, amalan yang didasari keikhlasan itulah yang diterima Allah. Oleh karena itu, di ayat ini Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengajak mereka yang berbuat seperti itu untuk berpikir, yakni apa keberatannya mereka beriman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya dengan ikhlas.

[19] Yakni tidak ada mudharatnya, bahkan yang ada mudharat atau bahayanya adalah apa yang mereka yakini selama ini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar