Kamis, 17 Januari 2013

Tafsir An Nisa Ayat 135-140

Ayat 135-136: Perintah berbuat adil dalam masalah hukum, qadha’ (peradilan) serta menerangkan rukun-rukun iman

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَى أَنْفُسِكُمْ أَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالأقْرَبِينَ إِنْ يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ أَوْلَى بِهِمَا فَلا تَتَّبِعُوا الْهَوَى أَنْ تَعْدِلُوا وَإِنْ تَلْوُوا أَوْ تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا (١٣٥) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي نَزَّلَ عَلَى رَسُولِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلالا بَعِيدًا (١٣٦

Terjemah Surat An Nisa Ayat 135-136

135. Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan[1], menjadi saksi[2] karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri[3] atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan(kebaikannya)[4]. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran[5]. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata)[6] atau enggan menjadi saksi[7], maka ketahuilah Allah Mahateliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan[8].

136. Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman[9] kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al Qur'an) yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, maka sungguh orang itu telah tersesat sangat jauh[10].

Ayat 137-139: Bahaya kaum munafik terhadap umat Islam

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا ثُمَّ ازْدَادُوا كُفْرًا لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلا لِيَهْدِيَهُمْ سَبِيلا (١٣٧) بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (١٣٨) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا (١٣٩

Terjemah Surat An Nisa Ayat 137-139

137. Sesungguhnya orang-orang yang beriman lalu kafir, kemudian beriman (lagi), kamudian kafir lagi, lalu bertambah kekafirannya[11], maka Allah tidak akan mengampuni mereka, dan tidak (pula) menunjukkan kepada mereka jalan (yang lurus)[12].

138. Kabarkanlah kepada orang-orang munafik[13] bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,

139. (Yaitu) orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah[14].

Ayat 140: Tidak bolehnya berwala’ kepada orang-orang kafir dan tidak bolehnya duduk bersama orang-orang yang mengolok-olokkan Al Qur’an, serta bagus memilih teman yang baik

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا (١٤٠

Terjemah Surat An Nisa Ayat 140

140. Dan sungguh, Allah telah menurunkan ketentuan kepadamu di dalam Al Quran[15] bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka[16], sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau kamu tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka[17]. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di neraka Jahanam[18],


[1] Keadilan di sini mencakup keadilan terhadap hak Allah, demikian juga keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah. Berbuat adil terhadap hak Allah adalah dengan tidak menggunakan nikmat-Nya untuk bermaksiat kepada-Nya, bahkan menggunakannya untuk ketaaan kepada-Nya. Sedangkan keadilan terhadap hak hamba-hamba Allah adalah dengan memenuhi kewajibanmu terhadap orang lain, sebagaimana kamu menuntut hakmu. Oleh karena itu, kamu harus memberikan nafkah yang wajib kamu keluarkan, membayarkan hutang yang kamu tanggung, serta bermu'amalah dengan manusia dengan cara yang kamu suka jika kamu dimu'amalahkan seperti itu, seperti akhlak mulia, membalas jasa dsb. Di antara bentuk menegakkkan keadilan adalah bersikap adil dalam berbicara, oleh karena itu, dia tidak boleh menghukumi salah satu dari dua perkataan atau salah satu dari dua orang yang bersengketa karena ada hubungan nasab dengannya atau karena lebih cenderung kepadanya, bahkan sikapnya harus adil. Termasuk adil pula menunaikan persaksian yang diketahuinya bagaimana pun bentuknya, meskipun mengena kepada orang yang dicintainya atau bahkan mengenai dirinya sendiri.

[2] Yakni saksi yang benar.

[3] Yakni dengan mengakui kebenaran dan tidak menyembunyikannya.

[4] Oleh karena itu, jangan mempertimbangkan orang kaya karena kekayaannya dan orang miskin karena kasihan kepadanya, bahkan tetaplah kamu bersaksi terhadap kebenaran kepada siapa pun orangnya. Menegakkan keadilan termasuk perkara agung, dan yang demikian menunjukkan keadaan agama seseorang, kewara'annya dan kedudukannya dalam agama Islam. Oleh karenanya wajib bagi orang yang memperbaiki dirinya dan menginginkan keselamatan untuk memperhatikan hal ini dan menjadikannnya sebagai pusat perhatiannya serta menyingkirkan segala penghalang yang menghalanginya dari keinginan berlaku adil dan mengamalkannya. Di antara penghalang utama yang dapat menghalangi seseorang dari keadilan adalah mengikuti hawa nafsu, maka dalam ayat di atas Allah mengingatkan untuk menyingkirkan penghalang ini, Dia berfirman, "Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran ".

[5] Hal itu, karena jika kamu mengikuti hawa nafsu, maka kamu akan menyimpang dari jalan yang benar, karena hawa nafsu biasanya membuat buta bashirah (mata hati) yang ada dalam diri seseorang sehingga ia pun melihat yang hak sebagai batil dan yang batil sebagai hak. Barang siapa yang dapat selamat dari hawa nafsunya, maka dia akan diberi taufiq kepada kebenaran dan akan ditunjuki ke jalan yang lurus.

[6] Termasuk ke dalamnya memutar balikkan fakta, tidak menyempurnakannya, saksi menta'wil kepada maksud yang lain dsb. ini semua termasuk memutar balikkan fakta.

[7] Termasuk pula jika hakim enggan memberikan keputusan terhadapnya.

[8] Oleh karena itu, Dia akan memberikan balasan kepadamu. Dalam ayat ini terdapat ancaman yang keras bagi orang yang memutar balikkan fakta atau enggan bersaksi, termasuk pula –min baab aulaa/apalagi- orang yang menghukum dengan batil atau bersaksi palsu, karena orang-orang yang sebelumnya tadi meninggalkan yang hak, adapun mereka, yakni orang yang berhukum dengan batil atau bersaksi palsu, maka dia telah meninggalkan kebenaran dan malah menegakkan yang batil.

[9] Perlu diketahui, bahwa perintah beriman bisa tertuju kepada orang yang belum masuk dalam keimanan dan belum memiliki sifat itu, seperti perintah kepada orang yang belum beriman, "Wahai orang-orang yang telah diberi Al Kitab, berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan kitab yang ada pada kamu…dst." (Terj. An Nisaa': 47), bisa juga tertuju kepada orang yang sudah masuk ke dalam keimanan, maka perintah di sini untuk memperbaiki apa yang telah ada dari keimanan itu dan memunculkan apa yang belum ada, seperti pada ayat di atas, di mana Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kepada kaum mukmin untuk beriman. Hal ini menghendaki agar mereka memperbaiki keimanan mereka, berupa keikhlasan dan kebenarannya, serta menjauhkan imannya dari segala yang dapat merusak dan bertobat dari segala yang dapat mengurangi keimanan. Demikian juga perintah untuk mewujudkan apa yang belum ada dalam diri seorang mukmin, berupa pengetahuan keimanan dan pengamalannya. Kemudian dilanjutkan dengan istiqamah dan tetap terus di atasnya sampai wafat, sebagaimana firman Allah Ta'ala, "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Terj. Ali Imran: 102).

[10] Kesesatan apa yang lebih jauh daripada kesesatan orang yang meninggalkan jalan yang lurus dan malah menempuh jalan yang mengarah kepada azab yang pedih. Perlu diketahui, bahwa mengingkari salah satu di antara yang disebutkan dalam ayat di atas sama saja mengingkari semuanya, karena adanya talazum (terikat dan tidak dapat dipisahkan yang satu dengan yang lain) dengan beriman kepada sebagiannya dan ingkar kepada sebagian yang lain.

[11] Misalnya di samping kekafirannya, ia merendahkan Islam pula.

[12] Ada yang menafsirkan ayat di atas sebagai berikut, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa, yaitu orang-orang Yahudi, lalu kafir karena menyembah anak sapi, kemudian beriman lagi setelahnya, lalu kafir lagi kepada Nabi Isa dan bertambah lagi kekafirannya dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, maka Allah tidak akan mengampuni mereka selama mereka seperti itu dan tidak menunjukkan mereka jalan yang lurus." Yakni jauh dari taufiq dan hidayah ke jalan yang lurus. Ayat di atas juga menunjukkan bahwa jika mereka tidak bertambah kafir, bahkan kembali kepada Islam serta meninggalkan kekafirannya, maka Allah akan mengampuni mereka meskipun telah melakukan kemurtadan berkali-kali. Jika orang yang melakukan kekafiran saja seperti ini, yakni Allah akan menerima tobatnya jika dia kembali, maka terhadap dosa-dosa yang di bawahnya sudah tentu Allah akan membukakan pintu tobat kepadanya jika dia kembali bertobat, meskipun ia telah berkali-kali melakukan dosa.

[13] Yakni orang-orang yang menampakkan keislaman di luar dan menyembunyikan kekafiran di dalam.

[14] Inilah keadaan mereka kaum munafik, mereka bersangka buruk kepada Allah dan kurang yakin bahwa Allah akan memenangkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, padahal kekuatan itu milik Allah semuanya, semua makhluk dalam kekuasaan-Nya, dan kehendak-Nya berlaku pada mereka. Dia menjamin akan memenangkan agama-Nya dan memenangkan hamba-hamba-Nya yang mukmin, kalau pun terkadang musuh yang menang, namun tidak selamanya, karena kemenangan terakhir akan diperoleh kaum mukmin. Dalam ayat ini terdapat ancaman memberikan wala' (loyalitas) kepada kaum kafir dan meninggalkan berwala' kepada kaum mukmin, dan bahwa yang demikian termasuk sifat orang-orang munafik, padahal keimanan yang sesungguhnya menghendaki mencintai kaum mukmin dan berwala' kepada mereka serta membenci orang-orang kafir dan memusuhi mereka.

[15] Seperti di surat Al An'aam ayat 68.

[16] Bersama orang-orang kafir dan orang-orang yang memperolok ayat-ayat Allah. Hal itu, karena seorang muslim dituntut mengimani ayat-ayat Allah, memuliakannya dan mengagungkannya serta menghormatinya. sedangkan kebalikannya adalah merendahkan dan memperolok-oloknya. Dalam ayat ini juga terdapat larangan menghadiri majlis-majlis maksiat dan kefasikan yang di sana perintah Allah direndahkan dan larangan-Nya dikerjakan. Dengan demikian barang siapa yang menghadiri majlis yang di sana dikerjakan maksiat, maka ia harus mengingkari jika memiliki kemampuan atau pergi meninggalkan jika tidak mampu mengingkari.

[17] Dalam hal dosa, karena yang demikian menunjukkan keridhaan kamu terhadap kekafiran mereka dan keridhaan kepada sikap mereka mengolok-olok ayat Allah, sedangkan orang yang ridha dengan maksiat sama seperti orang yang melakukannya.

[18] Sebagaimana mereka berkumpul bersama di atas kekafiran dan mengolok-olok ayat-ayat Allah ketika di dunia, dan keadaan mereka (kaum munafik) yang zhahirnya seakan-akan bersama kaum mukmin tidaklah bermanfaat apa-apa bagi mereka.

2 komentar: