Senin, 14 Januari 2013

Tafsir Ali Imran Ayat 195-200

Ayat 195-198: Agama Islam menyamakan balasan antara laki-laki dan perempuan, asas diterima amal adalah takwa, bukan harta dan kedudukan, dan menerangkan bahwa orang-orang kafir hanya memperoleh kesenangan sementara sedangkan yang memperoleh kesenangan yang kekal adalah orang-orang mukmin

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ فَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَأُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأُوذُوا فِي سَبِيلِي وَقَاتَلُوا وَقُتِلُوا لأكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلأدْخِلَنَّهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ ثَوَابًا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الثَّوَابِ         (١٩٥) لا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلادِ        (١٩٦) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ       (١٩٧) لَكِنِ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ لَهُمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا نُزُلا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِلأبْرَارِ (١٩٨

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 195-198

195. Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan[1], (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain[2]. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh[3], pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah[4]. Di sisi Allah ada pahala yang baik[5]."

196.[6] Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di seluruh negeri.

 

197. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat kembali mereka ialah neraka Jahannam. Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat tinggal.

198. Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhannya, mereka akan mendapat surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya sebagai tempat tinggal[7] dari sisi Allah[8]. Dan apa yang di sisi Allah lebih baik bagi orang-orang yang berbakti[9].

Ayat 199-200: Berimannya sebagian Ahli Kitab dengan masuk Islam, serta seruan kepada kaum mukmin untuk bersabar

وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩٩) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٢٠٠

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 199-200

199.[10] Dan sesungguhnya di antara Ahli Kitab ada yang beriman kepada Allah[11], dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu[12] dan yang diturunkan kepada mereka[13], karena mereka berendah hati kepada Allah, dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah[14] dengan harga yang murah[15]. Mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya[16]. Sungguh, Allah sangat cepat perhitungan-Nya.

200.[17] Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu[18] dan kuatkanlah kesabaranmu serta tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu)[19] dan bertakwalah kepada Allah[20] agar kamu beruntung[21].


[1] Yakni semuanya akan mendapatkan pahala secara sempurna.

[2] Maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. Kedua-duanya sama-sama manusia, tidak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.

[3] Mereka beriman, berhijrah, meninggalkan segala yang mereka cintai seperti tempat tinggal dan harta demi mencari ridha Allah serta berjihad di jalan-Nya.

[4] Yang memberikan balasan yang banyak terdapat amal yang sedikit.

[5] Berupa surga yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga dan belum pernah terlintas di hati manusia. Oleh karena itu, barang siapa yang menginginkannya, maka mintalah kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mendekatkan diri kepada-Nya semampunya.

[6] Dalam tafsir Al Jalaalain disebutkan, bahwa ayat ini turun ketika kaum muslimin mengatakan, "Musuh-musuh Allah sepengetahuan kami berada dalam kenikmatan, sedangkan kami berada dalam kesulitan."

Maksud ayat ini adalah menghibur kaum mukmin agar tidak terpedaya oleh kesenangan dunia yang diperoleh orang-orang kafir dan bebasnya mereka bergerak di seluruh negeri melakukan berbagai perdagangan, lancarnya usaha mereka, dapat bersenang-senang dan menikmati berbagai kesenangan. Semua ini sebagaimana disebutkan pada ayat selanjutnya adalah kesenangan sementara, mereka hanya menikmati sebentar dan akan dilanjutkan dengan azab yang lama.

[7] Yakni tempat tinggal beserta perlengkapan-perlengkapannya seperti makanan, minuman dan lain-lain.

[8] Kalau pun orang-orang mukmin di dunia ini ditaqdirkan mengalami kesengsaraan, kesusahan dan kesulitan, namun jika dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal, maka kesusahan itu sangat ringan sekali. Dunia memang menjadi surga bagi orang kafir, namun surga mereka (dunia ini) adalah surga yang sementara, terbatas dan tidak sempurna. Di dunia ada hidup dan ada mati, ada senang dan ada sedih, ada masa muda dan ada masa tua, ada sehat dan ada sakit serta keterbatasan lainnya.

[9] Maksudnya ialah penghargaan dari Allah disamping tempat tinggal beserta perlengkapan-perlengkapannya itu, adalah lebih baik daripada kesenangan duniawi yang dinikmati orang-orang kafir itu.

[10] Abu Bakar Al Bazzar meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyalatkan raja Najasyi ketika diberitakan bahwa ia telah wafat, lalu ada yang mengatakan, "Wahai Rasulullah, apakah Engkau akan menyalatkan seorang budak Habasyah?" Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Wa inna min ahlil kitaab…dst." (Hadits ini memiliki banyak jalur yang menjadikannya shahih).

[11] Seperti Abdullah bin Salam, kawan-kawannya dan Raja Najasyi.

[12] Yaitu Al Qur'an.

[13] Yaitu Taurat dan Injil. Inilah iman yang bermanfaat, yakni mengimani semua rasul dan semua kitab. Adapun jika hanya beriman kepada sebagian rasul atau sebagian kitab, maka iman tersebut tidak bermanfaat. Mereka inilah Ahli Kitab dan ahli ilmu yang sesungguhnya, di mana hanya orang-orang yang berilmu sajalah yang takut kepada Allah. Kepada mereka diberikan rasa takut kepada Allah, tunduk kepada keagungan-Nya yang menjadikan mereka mengerjakan perintah dan menjauhi larangan serta berjalan di atas batasan-Nya. Di antara sempurnanya rasa takut mereka adalah mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah.

[14] Yang ada pada mereka di dalam Taurat dan Injil seperti tentang diutusnya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

[15] Yaitu dunia, dengan menyembunyikan ayat itu karena mengkhawatirkan kedudukannya di tengah-tengah kaumnya seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi. Mereka tidak mengedepankan dunia di atas agama, mereka mengetahui bahwa kerugian yang sesungguhnya adalah ketika lebih ridha dengan kehinaan daripada kemuliaan, meengedepankan kepentingan pribadi dan meninggalkan kebenaran yang merupakan kemenangan di dunia dan di akhirat.

[16] Mereka mendapatkan pahala dua kali karena beriman kepada Taurat, Injil dan Al Qur'an (lihat Al Qashash: 54).

[17] Dalam ayat ini, Allah mendorong kaum mukmin kepada sesuatu yang menyampaikan mereka kepada keberuntungan, yaitu sabar; sikap menahan diri memikul hal yang tidak mengenakkan.

[18] Di atas ketaatan, ketika tertimpa musibah dan dalam menjauhi maksiat.

[19] Yakni berjihadlah.

[20] Dalam semua keadaan kamu.

[21] Mendapatkan surga dan terhindar dari neraka.

Hubungan surat Ali Imran dengan surat An Nisaa':

1. Surat Ali 'Imran diakhiri dengan perintah bertakwa, sesuai dengan permulaan surat An Nisaa'.

2. Dalam surat Ali Imran terdapat kisah penciptaan Nabi Isa 'alaihis salam tanpa bapak dan agar hilang syubhat, maka disebutkan penciptaan Nabi Adam 'alaihis salam. Dalam kisah tersebut terdapat pembelaan terhadap ibu Nabi Isa 'alaihis salam dari tuduhan zina oleh orang-orang Yahudi dan penetapan bahwa Nabi Isa ''alaihis salam adalah seorang hamba sebagai bantahan terhadap orang-orang Nasrani. Sedangkan dalam surat An Nisaa' disebutkan bantahan terhadap kedua belah pihak; Yahudi (lihat ayat 156) dan Nasrani (171-172).

3. Dalam surat Ali Imran disebutkan, bahwa Nabi Isa 'alaihis salam diangkat ke langit, dan dalam surat An Nisaa' disebutkan bantahan terhadap anggapan orang-orang Yahudi yang mengaku telah membunuhnya.

4. Dalam surat Ali Imran disebutkan sikap orang-orang yang dalam ilmunya tentang ayat-ayat mutasyabihat (lihat ayat 7), sedangkan di dalam surat An Nisaa' disebutkan lebih lanjut keadaan orang-orang yang dalam ilmunya (lihat ayat 162).

5. Dalam surat Ali 'Imran disebutkan peperangan Badar dan Uhud secara lengkap, dan sebagiannya diulangi lagi dalam surat An Nisaa'.

6. Dalam surat Ali 'Imran disebutkan bahwa banyak yang gugur di kalangan kaum muslimin sebagai Syuhada', yang berarti mereka meninggalkan anak-anak dan isteri-isteri mereka, maka pada bagian awal surat An Nisaa' disebutkan perintah memelihara anak yatim serta pembagian harta pusaka.

Selesai tafsir surat Ali Imran dengan pertolongan Allah dan taufiq-Nya, wal hamdulillah 'alaa ni'matih wa nas'aluhu tamaaman ni'mah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar