Kamis, 10 Januari 2013

Tafsir Ali Imran Ayat 18-27

Ayat 18-22: Menyebutkan persaksian terhadap keesaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam, serta akibat yang akan diterima orang-orang yang kafir kepada Allah lagi menganiaya para nabi-Nya

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨) إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الإسْلامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ (١٩) فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالأمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ (٢٠) إِنَّ الَّذِينَ يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ النَّبِيِّينَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَيَقْتُلُونَ الَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِالْقِسْطِ مِنَ النَّاسِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ (٢١) أُولَئِكَ الَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَا لَهُمْ مِنْ نَاصِرِينَ (٢٢

18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia; yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu[1] (juga menyatakan yang demikian).Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[2].

19. Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam[3]. Tidaklah berselisih[4] orang-orang yang telah diberi Al Kitab[5] kecuali setelah datang pengetahuan kepada mereka[6], karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.

 

20. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam dan tauhid), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku[7]". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al kitab serta kepada orang-orang yang ummi[8]: "Apakah kamu (mau) masuk Islam?". Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya.

21. Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan[9] serta membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil[10], sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu siksa yang pedih.

22. Mereka itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya[11] di dunia dan di akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memperoleh penolong[12].

Ayat 23-25: Menerangkan keadaan Ahli Kitab, berpalingnya mereka dari hukum Allah dan berpalingnya mereka dari kebenaran

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ أُوتُوا نَصِيبًا مِنَ الْكِتَابِ يُدْعَوْنَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ يَتَوَلَّى فَرِيقٌ مِنْهُمْ وَهُمْ مُعْرِضُونَ (٢٣) ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَنْ تَمَسَّنَا النَّارُ إِلا أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ وَغَرَّهُمْ فِي دِينِهِمْ مَا كَانُوا يَفْتَرُونَ (٢٤) فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ وَهُمْ لا يُظْلَمُونَ (٢٥

23.[13] Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bagian al kitab (Taurat), mereka diajak (berpegang) kepada kitab Allah untuk memutuskan (perkara) di antara mereka. Kemudian sebagian dari mereka berpaling seraya menolak (kebenaran).

24. Hal itu[14] adalah karena mereka berkata, "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung". mereka terperdaya dalam agama mereka oleh apa yang mereka ada-adakan.

25. Bagaimana jika nanti mereka Kami kumpulkan pada hari (kiamat) yang tidak diragukan terjadinya dan kepada setiap jiwa diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dikerjakannya dan mereka tidak dizalimi (dirugikan)[15]?[16]

Ayat 26-27: Bukti-bukti kekuasaan dan kebenaran Allah Subhaanahu wa Ta'aala dan berhaknya Dia diibadahi

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٦) تُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَتُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَتُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَتُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ (٢٧

26.[17] Katakanlah, "Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau mencabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki[18] dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki[19]. Di tangan Engkaulah[20] segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu[21].

27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati[22], dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[23]. Dan Engkau berikan rezeki kepada siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)".


[1] Ayat ini menunjukkan keutamaan orang-orang yang berilmu. Mereka adalah para nabi dan orang-orang berilmu lainnya dari kalangan orang-orang mukmin. Pengangkatan saksi dari kalangan orang-orang berilmu menngandung tazkiyah (rekomendasi) dan ta'dil (penyebutan sebagai orang adil) dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala, dan bahwa mereka merupakan orang-orang yang terpercaya.

[2] Perlu diketahui, bahwa kebenaran tauhid dan batilnya syirk didukung oleh dalil-dalil naqli (wahyu) maupun 'aqli (akal), sehingga kebenarannya bagi orang-orang yang memiliki mata hati lebih jelas dan terang daripada matahari. Adapun dalil-dalil naqlinya adalah seluruh isi Al Qur'an dan As Sunnah terdapat perintah mentauhidkan Allah dan menguatkannya, mencintai orang-orang yang bertauhid, mencela syirk dan membenci orang-orang yang berbuat syirk. Sedangkan dalil 'aqli di antaranya:

- Pengakuan manusia terhadap rububiyyah Allah, yakni Allah adalah Pencipta, Penguasa dan Pengatur alam semesta. Hal ini menghendaki agar hanya Allah saja yang disembah.

- Semua nikmat yang diperoleh seorang hamba berasal dari Allah, demikian juga dengan perlindungan-Nya dari bahaya. Karena semua nikmat berasal dari Allah, maka hanya Dia saja yang berhak disembah.

- Keadaan sesembahan yang disembah selain Allah sangat lemah, tidak bisa memberi manfaat dan menghindarkan bahaya, dan keadaannya yang tidak bisa mendengar, melihat, menolong yang lain dsb. Menolong dirinya sendiri ketika ada bahaya yang menghampirinya tidak bisa, lalu bagaimana mungkin ia dapat menolong yang lain, seperti inilah keadaan yang kita saksikan pada berhala-berhala dan patung-patung. Berbeda dengan Allah, yang memiliki sifat-sifat sempurna, Al Hayyu dan Al Qayyum (Maha Hidup dan mampu mengurus makhluk-Nya), Maha Perkasa, Maha Kuasa, Maha Mendengar lagi Maha Melihat dan sifat-sifat sempurna lainnya.

- Kemenangan ahli tauhid dan binasanya orang-orang musyrik, seperti pada kisah-kisah para rasul terdahulu bersama umatnya, di mana orang-orang yang bertauhid diselamatkan Allah, sedangkan orang-orang yang berbuat syirk dibinasakan, setelah itu diakhiri dengan ayat "Inna fii dzaalika la'ibrah" (sesungguhnya pada yang demikian itu ada pelajaran).

- Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan kebenaran tauhid dan batilnya syirk.

Di samping itu, yang menyatakan tauhid adalah Allah Rabbul 'alamin, malaikat dan orang-orang yang berilmu, di mana pernyataan masing-masingnya diterima, lalu bagaimana jika semuanya menyatakan demikian, maka lebih diterima lagi.

[3] Yaitu agama yang memerintahkan untuk menyerahkan diri kepada Allah dengan mentauhidkan-Nya, tunduk kepada-Nya dengan mentaati-Nya, berlepas dari syirk dan pelakunya serta mengikuti rasul yang diutus Allah Subhaanahu wa Ta'aala, yang diakhiri oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada pula yang mengartikan Islam dengan "syari'at yang dibawa para rasul, yang dasarnya adalah tauhid". Orang yang mencari agama selain agama yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (agama Islam), maka agama itu tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.

[4] Sebagiannya beriman dan sebagian lagi kafir.

[5] Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran, seperti orang-orang Yahudi dan Nasrani.

[6] Yakni setelah tegak hujjah.

[7] Dalam kata-kata ini terdapat ta'yis (menjadikan putus asa) orang-orang yang coba-coba memurtadkan kita dari agama Islam dengan perdebatan yang dilakukannya dan menguatkan agama ketika datang syubhat.

[8] Ummi artinya ialah orang yang tidak tahu tulis baca. Menurut sebagian ahli tafsir yang dimaksud dengan Ummi ialah orang musyrik Arab yang tidak tahu tulis baca. Sedangkan menurut sebagian yang lain ialah orang-orang yang tidak diberi Al Kitab.

[9] Seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi.

[10] Yakni orang-orang yang beramr ma'ruf dan bernahi munkar, yang pada hakikatnya adalah berbuat ihsan kepada orang itu serta menasehatinya. Namun malah dibalas dengan perbuatan buruk

[11] Pekerjaannya yang baik menjadi sia-sia, seperti sedekah dan silaturrahim.

[12] Yang menolong mereka dari azab.

[13] Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengabarkan tentang keadaan ahlul kitab yang telah mendapatkan nikmat-Nya berupa kitab-Nya, di mana hal tersebut mengharuskan mereka menjadi manusia yang paling lurus dan lebih mudah tunduk kepada hukum-hukum-Nya, namun kenyataannya saat mereka diajak mengikuti hukum yang ada dalam kitab Allah, mereka malah berpaling badannya dan berpaling pula hatinya. Dalam ayat ini, terdapat peringatan agar kita tidak berbuat seperti yang mereka lakukan sehingga kita mendapat celaan seperti halnya mereka dan mendapatkan siksa seperti mereka. Bahkan yang wajib dilakukan oleh setiap orang saat dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya adalah mendengar, taat dan tunduk atau "sami'naa wa atha'naa". Kemudian pada ayat setelahnya diterangkan sebab yang membuat mereka seperti itu.

[14] Sebab mereka berpaling dari kebenaran, berani menentang Allah dan meremehkan agama-Nya adalah karena perkataan mereka yang disebutkan di atas.

[15] Yakni tidak dikurangi kebaikannya dan tidak ditambah keburukannya.

[16] Ketika mereka dikumpulkan oleh Allah dan diberi balasan, maka mereka akan menyadari salahnya persangkaan mereka selama ini, yakni bahwa mereka hanya masuk ke dalam neraka beberapa hari saja.

[17] Di dalam ayat ini terdapat isyarat bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala akan mencabut kekuasaan para kisra dan kaisar serta kekuasaan orang-orang yang mengikuti jejak mereka, dan akan memberikan kekuasaan itu kepada umat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan hal itu telah terjadi falillahil hamd. Oleh karena itu, memperoleh kekuasaan atau tercabutnya kekuasaan mengikuti kehendak Allah Subhaanahu wa Ta'aala. Namun yang demikian, tidaklah menafikan sunnatullah, berupa sebab-sebab kauniyyah (di alam semesta) dan diniyyah (agama) yang menjadi sebab tetapnya kerajaan, memperolehnya kerajaan atau sebab hilangnya kerajaan. Semua itu terjadi dengan kehendak Allah, sebab tidaklah mewujudkan apa-apa secara sendiri, bahkan semua sebab mengikuti qadha' dan qadar Allah. Di antara sebab yang dijadikan Allah sebagai sebab memperoleh kekuasaan adalah iman dan amal shalih, bersatunya kaum muslimin, mereka memiliki persiapan yang mereka sanggupi, sabar dan tidak bertengkar (lihat surat An Nur: 55, Al Anfal: 45-46 dan 62-63). Oleh karena itu, sebab utama runtuhnya negara Islam adalah meninggalkan agamanya dan berpecah belah.

[18] Karena mentaati-Mu.

[19] Karena bermaksiat kepada-Mu.

[20] Di dalam ayat ini menetapkan sifat Tangan sesuai yang layak bagi Allah Subhaanahu wa Ta'aala.

[21] Di antara bukti kekuasaan-Nya adalah apa yang disebutkan pada ayat setelahnya.

[22] Seperti keluarnya tumbuhan dari biji, munculnya manusia dari mani atau keluarnya anak ayam dari telur.

[23] Misalnya keluarnya telur dari ayam. Ada pula yang mengartikan bahwa pergiliran kekuasaan di antara bangsa-bangsa dan timbul tenggelamnya sesuatu umat adalah menurut hukum Allah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar