Kamis, 10 Januari 2013

Tafsir Ali Imran Ayat 110-120

Ayat 110-115: Keutamaan umat Islam di atas umat yang lain, akhir keadaan orang-orang kafir adalah kehinaan dan penyesalan serta menjelaskan keadaan Ahli Kitab

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ (١١٠) لَنْ يَضُرُّوكُمْ إِلا أَذًى وَإِنْ يُقَاتِلُوكُمْ يُوَلُّوكُمُ الأدْبَارَ ثُمَّ لا يُنْصَرُونَ (١١١) ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الأنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ذَلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ (١١٢)لَيْسُوا سَوَاءً مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ أُمَّةٌ قَائِمَةٌ يَتْلُونَ آيَاتِ اللَّهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُونَ (١١٣) يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ (١١٤) وَمَا يَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ يُكْفَرُوهُ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ (١١٥

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 110-115

110. Kamu adalah umat yang terbaik[1] yang ditampilkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman[2], tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

111. Mereka[3] tidak akan membahayakan kamu, kecuali gangguan-gangguan kecil saja[4], dan jika mereka memerangi kamu, niscaya mereka mundur berbalik ke belakang (kalah). Selanjutnya mereka tidak mendapat pertolongan.

112. Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia[5]. Mereka mendapat murka dari Allah dan selalu diliputi kesengsaraan. Yang demikian itu[6] karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar[7]. Yang demikian itu[8] disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas[9].

 

113.[10] Mereka itu tidak (seluruhnya) sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur[11], mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari, sedang mereka juga bersujud (shalat)[12].

114. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir[13], menyuruh berbuat yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan[14]. Mereka itu[15] termasuk orang-orang yang saleh.

115. Dan kebajikan apa pun yang mereka kerjakan[16], maka sekali-kali tidak akan diingkari (pahala)nya. Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.

Ayat 116-117: Hukuman bagi orang-orang kafir dan hasil amal mereka di dunia dan akhirat

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (١١٦) مَثَلُ مَا يُنْفِقُونَ فِي هَذِهِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَكِنْ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (١١٧

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 116-117

116. Sesungguhnya orang-orang yang kafir, baik harta maupun anak-anak mereka[17], sedikit pun tidak dapat menolak azab Allah. Mereka itu penghuni neraka, (dan) mereka kekal di dalamnya.

117. Perumpamaan harta yang mereka[18] infakkan[19] di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman milik suatu kaum yang menzalimi diri sendiri[20], lalu angin itu merusaknya[21]. Allah tidak menzalimi mereka[22], tetapi merekalah yang menzalimi diri sendiri[23].

Ayat 118-120: Peringatan untuk umat Islam agar tidak berwala’ dan mengambil teman kepercayaan kepada orang-orang kafir dan orang-orang munafik

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (١١٨) هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (١١٩) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (١٢٠

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 118-120

118. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu[24] sebagai teman kepercayaanmu[25], (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka[26], dan apa yang disembunyikan dalam hati[27] mereka lebih besar lagi. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami)[28], jika kamu mengerti.

119. Beginilah kamu! kamu menyukai mereka[29], padahal mereka tidak menyukaimu[30], dan kamu beriman kepada semua kitab[31]. Apabila mereka berjumpa dengan kamu, mereka berkata, "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena marah dan benci kepadamu[32]. Katakanlah, "Matilah kamu karena kemarahanmu itu!". Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati[33].

120. Jika kamu memperoleh kebaikan[34], niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu tertimpa bencana[35], mereka bergembira karenanya[36]. Jika kamu bersabar dan bertakwa[37], tipu daya mereka tidak akan mennyusahkan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala apa yang mereka kerjakan.


[1] Mereka dianggap umat terbaik, karena mereka menyempurnakan diri mereka dengan iman yang menghendaki untuk melaksanakan segala perintah Allah, dan karena mereka menyempurnakan pula orang lain dengan menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah yang munkar, atau dengan kata lain mengajak manusia kepada Allah, berjihad dan mengerahkan kemampuan untuk mengembalikan mereka dari kesesatan dan kemaksiatan. Ayat ini merupakan dalil keutamaan umat Nabi Muhammad disbanding umat-umat yang lain. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّكُمْ تُتِمُّوْنَ سَبْعِيْنَ أُمَّةً أَنْتُمْ خَيْرُهَا وَ أَكْرَمُهَا عَلَى اللهِ

"Sesungguhnya kalian yang menyempurnakan menjadi tujuh puluh umat. Kalianlah umat yang terbaik dan paling mulia di sisi Allah." (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami' no. 2301).

[2] Dalam ayat ini terdapat seruan halus dari Allah kepada Ahli Kitab untuk mengajak mereka beriman (masuk Islam), namun sayang kebanyakan mereka menolak. Bahkan lebih dari itu, mereka pun memusuhi orang-orang yang beriman dengan berbagai bentuk permusuhan, tetapi semua itu tidaklah membahayakan kaum mukmin selain gangguan kecil saja.

[3] Maksudnya: orang-orang Yahudi.

[4] Maksudnya: sebatas gangguan di lisan saja, seperti mecaci, mengancam dsb.

[5] Berpegang dengan "Tali Allah" maksudnya perlindungan yang ditetapkan Allah dalam Al Quran, yaitu akad dzimmah yang menghendaki mereka membayar jizyah (pajak) kepada pemerintah Islam dan mau mengikuti hukum-hukum agama. Sedangkan "tali perjanjian dengan manusia" yakni kemananan dari mereka, misalnya dengan adanya hudnah (genjatan senjata), mengadakan perjanjian (mu'ahad), maupun sebagai tawanan yang diamankan oleh seorang kaum muslimin meskipun wanita maupun budak –budak pun boleh mengamankan menurut sebagian ulama-.

[6] Yakni: ditimpa kehinaan, kerendahan, dan kemurkaan dari Allah.

[7] Mereka membalas kebaikan para nabi dengan keburukan, bagai air susu dibalas dengan air tuba.

[8] Yakni: kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi.

[9] Dari yang halal beralih kepada yang haram.

[10] Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menunda shalat Isya, lalu keluar ke masjid, ternyata para sahabat sedang menunggu shalat, maka Beliau bersabda, "Adapun, tidak ada seorang pun penganut agama ini yang mengingat Allah di waktu ini selain kamu." Maka Allah menurunkan beberapa ayat", yakni dari ayat 113 s/d 115. Hadits ini hasan sebagaimana dikatakan Imam Syaukani menukil dari As Suyuthi, karena 'Ashim terdapat sesuatu dalam hapalannya. Al Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id berkata, "Para perawi Ahmad adalah tsiqah selain 'Ashim bin Abinnujud, ia diperselisihkan dalam hal berhujjah dengannya."

Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id menyebutkan hadits lain tentang sebab turunnya ayat di atas, dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ketika Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Asad bin Ubaid serta beberapa orang Yahudi yang masuk Islam lainnya beriman, membenarkan dan semakin cinta dengan Islam. Para ulama yahudi yang kafir berkata, "Tidak ada yang beriman kepada Muhammad dan mengikutinya selain orang-orang buruk di antara kami. Jika mereka termasuk orang-orang yang baik, tentu mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyang mereka," maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat, "Laisuu sawaa'aa…dst. sampai "Minash shaalihiin". (HR. Thabrani, namun dalam sanadnya terdapat Muhammad bin Abu Muhammad seorang yang majhul, dengan demikian hhadits ini dha'if).

Oleh karena itu, Ibnu Jarir memilih hadits pertama sebagai sebab turunnya ayat, ia berkata, "Hanya saja yang lebih tepat dalam menafsirkan ayat tersebut adalah pendapat yang mengatakan bahwa maksudnya bacaan Al Qur'an di shalat Isya, karena ia adalah shalat yang tidak dilakukan seorang pun di antara Ahli Kitab, maka Allah menyifati umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa mereka melakukan shalat pada waktu itu, tidak Ahli Kitab yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya."

[11] Yakni: golongan ahli kitab yang telah memeluk agama Islam.

[12] Ayat ini menerangkan tentang ibadah mereka di malam hari, lamanya tahajjud mereka dan membaca kitab Allah serta perhatian mereka yang tinggi untuk tunduk, ruku' dan sujud kepada-Nya.

[13] Sebagaimana kaum mukmin beriman, mereka beriman kepada semua nabi yang diutus dan semua kitab yang diturunkan, termasuk beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan kitab yang diberikan kepada-Nya, yaitu Al Qur'an. Sering sekali disebutkan "beriman kepada hari akhir", karena beriman kepadanya dapat mendorong orang mukmin untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap pahala di hari itu dan menjauhkan diri dari segala yang mendatangkan siksa di hari itu.

[14] Mereka memanfaatkan kesempatan yang ada untuk menambah kebaikan dan melakukannya segera, misalnya di awal waktu. Hal ini tidak lain karena rasa cintanya mereka kepada kebaikan dan mengetahui manfaat-manfaatnya.

[15] Yakni yang memiliki sifat-sifat itu.

[16] Banyak maupun sedikit. Hanya saja pahala terhadap amal mengikuti apa yang ada dalam hati, berupa keimanan dan ketakwaan. Oleh karena itu, lanjutan ayatnya adalah, " Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa."

[17] Disebutkan "harta dan anak", karena biasanya manusia menebus dirinya dengan harta dan terkadang dengan meminta bantuan kepada anak.

[18] Yakni orang-orang kafir.

[19] Untuk menghalangi manusia dari jalan Allah dan memadamkan cahaya Allah .

[20] Dengan kekafiran dan kemaksiatan.

[21] Sehingga tanaman itu tidak dapat diambil manfaatnya. Demikian juga harta yang mereka keluarkan tersebut akan sia-sia tidak ada manfaatnya. Mereka hanya memperoleh kelelahan, kerugian dan kekecewaan.

[22] Dengan menjadikan infak mereka sia-sia.

[23] Dengan kekafiran yang menjadikannya sia-sia.

[24] Seperti orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum munafik.

[25] Demikian juga dilarang memberikan jabatan kepada mereka dalam urusan kaum muslimin. Pernah dikatakan kepada Umar bin Khaththab, "Sesungguhnya di sini ada seorang pemuda dari penduduk Hirah yang sanggup menjaga dan mampu menulis", maka Umar berkata, "Kalau demikian, maka saya sama saja telah mengambil teman kepercayaan selain orang mukmin."

[26] Dengan membicarakan mereka dan menyampaikan rahasia mereka kepada kaum musyrikin.

[27] Berupa permusuhan.

[28] Yang di sana terdapat hal yang bermaslahat bagi kamu baik bagi agama maupun dunia kamu.

[29] Karena hubungan kerabat dan kawan.

[30] Karena mereka menyelisihi agama kamu.

[31] Sedangkan mereka tidak beriman kepada kitabmu.

[32] Karena melihat persatuan kamu.

[33] Dalam ayat ini terdapat berita gembira bagi kaum mukmin, bahwa mereka yang hendak menimpakan bahaya kepada kaum mukmin sebenarnya hanya menimpakan bahaya kepada diri mereka sendiri, kemarahan mereka tidak dapat mereka wujudklan, bahkan mereka senantiasa tertekan karena kemarahan tersebut yang dapat membawa mereka kepada kematian, sehingga mereka berpindah dari kesengsaraan dunia menuju kesengsaraan akhirat.

[34] Seperti kemenangan dan harta rampasan perang (ghanimah).

[35] Seperti kekalahan dan musibah.

[36] Hal ini menunjukkan bahwa mereka senantiasa memusuhi kita dan tidak memberikan kesetiaan kepada kita. Oleh karena itu, janganlah kita berwala' kepada mereka.

[37] Inilah sebab kemenangan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar