Rabu, 09 Januari 2013

Tafsir Ali Imran Ayat 1-9

Surah Ali Imran (Keluarga Imran)[1]

Surah ke-3. Terdiri dari 200 ayat. Madaniyyah

Ayat 1-6: Menetapkan keesaan dan kekuasaan Allah Subhaanahu wa Ta'aala, menetapkan kenabian Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan menetapkan kebenaran Al Qur’an


الم (١) اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ (٢) نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنْزَلَ التَّوْرَاةَ وَالإنْجِيلَ (٣) مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ (٤) إِنَّ اللَّهَ لا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الأرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ (٥)هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الأرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٦

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 1-6

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

1. Alif laam miim[2].

2. Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang hidup kekal[3], Yang terus menerus mengurus makhluk-Nya[4].


3. Dia menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu yang mengandung kebenaran; membenarkan (kitab-kitab) sebelumnya[5], dan menurunkan Taurat dan Injil,

4. Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia[6], dan Dia menurunkan Al Furqaan[7]. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat. Allah Mahaperkasa lagi mempunyai hukuman[8].

5. Bagi Allah tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi di bumi dan di langit[9].

6. Dialah yang membentuk kamu dalam rahim menurut yang Dia kehendaki[10]. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia.Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana[11].

Ayat 7-9: Menerangkan ayat-ayat yang muhkamat dan mutasyabihat dalam Al Qur’an, pentingnya doa, dan wajibnya bertadharru’ (merendahkan diri dan berdoa) kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلا أُولُو الألْبَابِ (٧)رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (٨) رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (٩

Terjemah Surat Ali Imran Ayat 7-9

7. Dialah yang menurunkan kitab (Al Quran) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamaat[12], itulah pokok-pokok isi Al Qur'an[13] dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat[14]. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya[15], padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah[16]. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata: "Kami beriman kepadanya (Al Qur'an), semuanya dari sisi Tuhan kami[17]." Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran (daripadanya) kecuali orang-orang yang berakal[18].

8. (Mereka berdoa), "Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, Sesungguhnya Engkau Maha pemberi (karunia)".

9. "Ya Tuhan Kami, Engkau-lah yang mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tidak ada keraguan padanya"[19]. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.


[1] Surat ini turun setelah surat Al Anfal. Ayat pertama sampai 80-an ayat turun untuk membantah orang-orang Nasrani, membantah keyakinan mereka dan mengajak mereka ke dalam agama yang benar, yaitu Islam, sebagaimana awal-awal surat Al Baqarah turun untuk membantah orang-orang Yahudi.

[2] Sudah dibahas di surat Al Baqarah, lihatlah.

[3] Sifat ini menghendaki semua sifat-sifat lain yang menyempurnakannya, seperti sifat mendengar, melihat, berkuasa, kuat, agung, kekal, perkasa dsb.

[4] Maksudnya: Allah berdiri sendiri tanpa memerlukan bantuan makhluk-Nya, Dia mengatur dan mengurus makhluk-Nya sehingga semua makhluk membutuhkannya. Temasuk mengurus makhluk-Nya juga adalah menurunkan kitab agar menjadi pedoman bagi manusia dalam meniti hidup ini.

[5] Oleh karena itu, Al Qur'an adalah pentazkiyah (yang merekomendasi) kitab-kitab sebelumnya, apa saja berita yang dibenarkannya maka berita itu diterima dan apa saja berita yang ditolaknya, maka berita itu tertolak. Kitab tersebut sejalan dengan kitab-kitab sebelumnya dalam semua tuntutan yang disepakati para rasul. Oleh karena itu, orang-orang Ahlul kitab tidak dapat membenarkan kitab-kitab mereka jika mereka tidak beriman kepada kitab Al Qur'an. Hal itu, karena kafir kepada kitab tersebut membatalkan keimanan mereka kepada kitab-kitab mereka.

[6] Agar urusan agama dan dunia mereka menjadi baik. Zhahirnya bahwa firman-Nya " menjadi petunjuk bagi manusia " kembali kepada kitab-kitab yang disebutkan, baik Taurat dan Injil yang masih murni dan kitab Al Qur'an. Dengan demikian, barang siapa yang tidak mau menerima kitab yang diturunkan-Nya, maka dia berada dalam kesesatan.

[7] Al Furqaan ialah kitab yang membedakan antara yang benar dan yang salah. Ada pula yang mengartikan furqan di sini dengan hujjah, bukti dan keterangan yang jelas, serta perincian segala yang dibutuhkan manusia berupa hukum-hukum yang jelas sehingga tidak ada lagi udzur bagi mereka yang tidak beriman kepadanya.

[8] Bagi orang-orang yang mendurhakainya.

[9] Disebutkan hanya bumi dan langit, karena penglihatan manusia tidak dapat melebihinya.

[10] Misalnya dibentuk laki-laki atau perempuan, berkulit putih atau berkulit hitam.

[11] Ayat-ayat di atas mengandung taqrir (pernyataan) terhadap keesaan Allah dan keberhakan-Nya untuk diibadati tidak selain-Nya, membatalkan sesembahan-sesembahan yang disembah selain-Nya, membantah keyakinan orang-orang Nasrani yang menyangka bahwa Nabi Isa 'alaihis salam berhak disembah. Demikian juga menunjukkan bahwa Allah Maha Hidup dan Maha Mengurus (Qayyumiyyah Tammah) yang mencakup semua sifat suci bagi-Nya, menerangkan syari'at-syari'at yang besar dan bahwa syari'at tersebut merupakan rahmat dan hidayah bagi manusia, menerangkan hukuman bagi mereka yang tidak mau mengambil syari'at yang diturunkan-Nya dan menyatakan luasnya ilmu Allah, terlaksananya apa yang Dia kehendaki dan menerangkan pula tentang hikmah(kebijaksanaan)-Nya.

[12] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang jelas maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.

[13] Yang dirujuk ketika terjadi kesamaran dan mengembalikan kepadanya paham yang menyelisihinya, atau maksudnya bisa juga "Yang dijadikan pegangan dalam hukum".

[14] Termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali setelah diteliti secara mendalam atau dipadukan dengan ayat yang muhkamat; atau ayat-ayat yang pengertiannya hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib misalnya ayat-ayat mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain. Ada pula yang menggolongan beberapa huruf di awal surat sebagai mutasyabihat, seperti alif laam miim, dsb. wallahu a'lam.

Adapun Syaikh As Sa'diy, ia menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

Al Qur'anul 'Azhim semuanya adalah muhkam (jelas maksudnya), sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"(Inilah) suatu kitab yang ayat-ayat-Nya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi Mahatahu," (Terj. Huud: 1)

Al Qur'an tersusun rapi, mengandung keadilan dan ihsan,

"Dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?" (Terj. Al Maa'idah: 50)

Semuanya mengandung mutasyabih (kemiripan) dalam hal indah, kefasihan, saling membenarkan yang satu dengan lainnya, lafaz dan maknanya sesuai.

Adapun muhkamat dan mutasyabihat yang disebutkan di ayat ini, maka Al Qur'an itu sebagaimana disebutkan Allah, ada ayat-ayat yang muhkamat, yakni jelas maksudnya, tidak ada kesamaran dan sesuatu yang belum jelas. Inilah pokok-pokok isi kitab, yakni pokok yang dikembalikan kepadanya segala yang masih samar, dan ayat-ayat muhkamat inilah yang paling banyak (dalam Al Qur'an). Ada pula ayat-ayat yang mutasyabihat, yakni maknanya masih samar di pikiran, karena kandungannya yang masih ijmal (global) atau mengarah kepada pemahaman tertentu, padahal bukan itu maksudnya. Al hasil, di antara ayat-ayat Al Qur'an ada ayat-ayat yang jelas bagi setiap orang, dan inilah ayat yang paling banyak, dan dipakai rujukan. Di antaranya ada pula ayat-ayat yang masih musykil bagi sebagian manusia, maka yang wajib dalam masalah ini adalah mengembalikan yang mutasyabihat kepada yang muhkamat, yang masih samar kepada yang jelas. Dengan cara seperti ini, satu sama lain saling membenarkan dan tidak terjadi pertentangan. Akan tetapi, orang-orang (dalam hal ini) terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang dalam hatinya ada penyimpangan, yakni menyimpang dari jalan istiqamah, di mana niat mereka rusak, bahkan yang mereka cari adalah kesesatan, dan hati mereka menyimpang dari jalan yang lurus dan dari petunjuk, mereka mencari yang mutasyabihat, mereka meninggalkan yang jelas dan beralih kepada yang mutasyabihat, bahkan mereka berbuat sebaliknya, yang muhkam mereka bawa kepada yang yang mutasyabihat….dst." (lihat Tafsir As Sa'diy)

[15] Orang-orang yang berpenyakit hati karena niatnya yang buruk berusaha mencari ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan syubhat di tengah manusia agar dapat menyesatkan mereka, di samping itu, mereka menta'wil ayat-ayat mutasyabihat untuk menguatkan pemahaman mereka yang batil.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membacakan ayat di atas, Dan bersabda,

فَإِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأولَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهًمْ

"Apabila kalian melihat orang-orang yang mencari ayat-ayat mutasyabihat, mereka itulah orang-orang yang disebut Allah, maka berhati-hatilah."

[16] Jumhur (mayoritas) mufassir mewaqfkan (memberhentikan) sampai ayat ini, namun yang lain menyambung dengan kata-kata "wa raasikhuun…dst." Kedua-duanya masih mengandung kemungkinan benar, jika maksud "ta'wil" di sini adalah mengetahui hakikatnya, maka yang benar adalah waqf sampai "illallah", karena yang mengetahui hakikatnya adalah Allah saja. Misalnya hakikat sifat Allah, hakikat sifat-sifat yang terjadi pada hari akhir dsb. Hal ini, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah, tidak boleh bagi seseorang memberanikan diri mengkaifiyatkannya. Oleh karena itu, Imam Malik rahimahullah pernah ditanya tentang firman Alllah "Ar Rahmaanu 'alal 'arsyis tawaa" (Allah bersemayam di atas 'Arsy) bagaimana bersemayam-Nya?" Maka ia menjawab, "Bersemayam adalah kata yang sudah diketahui, bagaimananya adalah majhul (tidak diketahui), mengimaninya wajib dan menanyakannya bid'ah." Demikianlah yang harus dikatakan dalam ayat-ayat sifat, yakni bahwa sifat tersebut diketahui, namun kaifiyatnya majhul. Orang-orang yang ilmunya mendalam, mengimaninya dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah.

Adapun jika arti "ta'wil" di ayat ini adalah tafsir, penjelasan lebih dalam, maka yang benar adalah menyambung kata-kata Ar Raasikhuun (orang-orang yang ilmunya mendalam) dengan Allah; tidak diwaqfkan. Sehingga tafsir ayat-ayat yang mutasyabihat, pengembalian kepada ayat-ayat yang muhkamat serta penyingkiran kesamaran yang ada dalam ayat-ayat mutasyabihat, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta'ala dan orang-orang yang ilmunya mendalam.

[17] Oleh karena semua ayat tersebut berasal dari sisi Allah, maka tidak akan terjadi pertentangan, bahkan isinya sama, yang satu dengan yang lain saling membenarkan dan menguatkan.

[18] Hanya orang-orang yang berakal saja yang dapat memahami dan mengerti maknanya secara benar.

[19] Tujuan dari do'a ini adalah menjelaskan bahwa hati mereka tertuju kepada akhirat. Oleh karena itu, mereka meminta keteguhan di atas hidayah agar memperoleh pahalanya. Pada beberapa ayat di atas, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memuji orang-orang yang ilmunya mendalam dengan tujuh sifat yang merupakan tanda kebahagiaan:

1. Ilmu, sebagai sarana yang menyampaikan mereka kepada Allah.

2. Ilmunya yang mendalam.

3. Beriman kepada semua kitab dan mengembalikan ayat yang mutasyabihat kepada ayat yang muhkamat.

4. Meminta kepada Allah ampunan dan keselamatan dari musibah yang menimpa orang-orang yang tersesat.

5. Mereka mengakui nikmat hidayah yang diberikan Allah.

6. Mereka meminta kepada Allah rahmat-Nya yang mengandung keberhasilan memperoleh kebaikan dan terhindar dari keburukan. Mereka bertawassul dengan nama-Nya Al Wahhab.

7. Keimanan dan keyakinan mereka yang mendalam kepada hari kiamat dan rasa takut mereka kepada hari itu sehingga membuahkan amal.

3 komentar:

  1. Coba kalau ruang tex huruf Arab sama dengan tampilan huruf latinnya. Tentu bacanya lebih nyaman.

    BalasHapus
  2. Mohon untuk menambah lebih banyak tafsir.

    BalasHapus