Sabtu, 05 Januari 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 114-119

Ayat 114-115: Menerangkan haramnya menodai kehormatan masjid, contoh tindakan menghalangi orang lain beribadah, dan menerangkan bahwa menghadap kiblat adalah salah satu syarat sahnya shalat

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ مَنَعَ مَسَاجِدَ اللَّهِ أَنْ يُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ وَسَعَى فِي خَرَابِهَا أُولَئِكَ مَا كَانَ لَهُمْ أَنْ يَدْخُلُوهَا إِلا خَائِفِينَ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ (١١٤) وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ (١١٥

114. Siapakah yang lebih zalim daripada orang yang melarang menyebut nama Allah di dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha merobohkannya?[1] mereka itu tidak pantas memasukinya kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka mendapat kehinaan di dunia dan di akhirat mendapat azab yang berat.

 

115.[2] Dan milik Allah timur dan barat. Kemanapun kamu menghadap di sanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.[3]

Ayat 116-119: Menyebutkan kedustaan orang-orang Ahli Kitab dan kaum musyrikin dalam dakwaan mereka bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala punya anak; Mahasuci Dia dari apa yang mereka sifatkan

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ (١١٦) بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَإِذَا قَضَى أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ (١١٧) وَقَالَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ لَوْلا يُكَلِّمُنَا اللَّهُ أَوْ تَأْتِينَا آيَةٌ كَذَلِكَ قَالَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ مِثْلَ قَوْلِهِمْ تَشَابَهَتْ قُلُوبُهُمْ قَدْ بَيَّنَّا الآيَاتِ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (١١٨) إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلا تُسْأَلُ عَنْ أَصْحَابِ الْجَحِيمِ   (١١٩

116. Mereka (orang-orang kafir) berkata[4]: "Allah mempunyai anak". Mahasuci Allah[5], bahkan milik-Nyalah apa yang di langit dan di bumi. Semua tunduk kepada-Nya[6].

117. Allah Pencipta langit dan bumi[7]. Apabila Dia hendak menetapkan sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu.

118. Dan orang-orang yang tidak mengetahui[8] berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda (kekuasaan-Nya) kepada kami?"[9] Demikian pula orang-orang sebelum mereka telah berkata seperti ucapan mereka itu. Hati mereka serupa[10]. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin.

119. Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran[11], sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan[12]. Kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang penghuni-penghuni neraka.


[1] Tidak ada yang lebih zalim daripada orang yang melarang dzikrullah di masjid-masjid Allah, seperti melarang orang yang shalat, orang yang membaca Al Qur'an dan melarang orang lain menjalan ibadah. Terlebih ditambah dengan usaha untuk merobohokannya atau melarang kaum mukmin masuk ke dalamnya.

Usaha merobohkannya menurut Syaikh As Sa'diy dalam tafsirnya ada dua; Hissiy (inderawi) dan Maknawi. Yang Hissiy misalnya menghancurkannya, merusaknya dan mengotorinya. Sedangkan yang Maknawi adalah melarang orang-orang yang menyebut nama Allah di masjid-masjid-Nya. Ayat di atas adalah umum mencakup kepada semua yang memiliki sifat tersebut, termasuk ke dalamnya As-habul Fiil (para tentara bergajah di bawah pimpinan Abrahah yang hendak menghancurkan Ka'bah), kaum Quraisy yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun Hudaibiyah, kaum Nasrani yang menghancurkan Baitul Maqdis dan lain-lain, maka Allah membalas mereka dengan menghalangi mereka masuk ke dalam masjid baik secara syara' maupun taqdir (ketentuan)-Nya kecuali dalam keadaan takut dan hina. Ketika mereka membuat takut hamba-hamba Allah, maka Allah membuat hati mereka takut. Kaum musyrik yang menghalangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ternyata tidak lama, kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala mengizinkan Beliau menaklukkan Makkah dan melarang kaum musyrik mendekati rumah-Nya (lihat surat At Taubah: 28). Sebelum mereka adalah As-habul Fiil, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menimpakan kehinaan kepada mereka di dunia (baca kisahnya di surat Al Fiil), sedangkan orang-orang Nasrani yang merobohkan Baitul Maqdis akhirnya dikalahkan oleh kaum mukmin. Oleh karena itu, siapa saja yang coba-coba mengikuti jejak mereka, pasti akan memperoleh kehinaan.

Jika tidak ada orang yang paling zalim daripada orang yang menghalangi orang lain menjalankan ibadah di dalamnya dan berusaha merobohkannya berarti tidak ada orang yang paling besar imannya daripada orang yang berusaha memakmurkan masjid-Nya baik Hissiy (seperti membangunnya dan membersihkannya) maupun maknawi (seperti mengumandangkan azan, mengadakan shalat jama'ah, mengadakan ta'lim, membaca Al Qur'an di sana dan melakukan ibadah-ibadah lainnya di sana).

[2] Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat menghadap dari Mekah ke Madinah di atas kendaraannya, ke arah wajahnya menghadap. Tentang hal ini, turun ayat, Fa ainamaa tuwalluu fatsamma wajhullah." (Hadits ini diriwayatkan pula oleh Tirmidzi, Nasa'i, Ahmad dan Ibnu Jarir. Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih.")

[3] Timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya adalah milik Allah, Dia-lah pemilik bumi ini. Disebutkan timur dan barat, karena di sana terdapat tanda-tanda kekuasaan-Nya yang besar, dari sana terbit dan tenggelam matahari, jika Allah Subhaanahu wa Ta'aala memiliki kedua arah itu, berarti memiliki semua arah. Oleh karena itu, arah mana saja seseorang menghadap dengan perintah Allah (misalnya perintah menghadap ka'bah setelah sebelumnya menghadap ke Baitul Maqdis) atau keringanan dari-Nya (seperti ketika shalat sunat di atas kendaraannya, atau ia tidak mengetahui di mana kiblat, lalu ia shalat setelah mencari-cari arah kiblat, ternyata arah kiblatnya salah atau ia shalat dalam keadaan disalib, diikat, sakit dsb), maka di situlah wajah Allah, yakni ia tidak keluar dari dari kerajaan Allah dan keta'atan kepada-Nya. Sesungguhnya Allah Mahaluas rahmat dan karunia-Nya kepada hamba-hamba-Nya dan mengetahui perbuatan mereka, tidak ada satu pun yang samar bagi-Nya. Ayat ini menetapkan adanya wajah bagi Allah Ta'ala yang layak bagi-Nya, dan bahwa Dia memiliki wajah yang berbeda dengan wajah makhluk.

[4] Mereka ini adalah orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang musyrik. Meskipun mereka menisbatkan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, namun Allah Subhaanahu wa Ta'aala sangat halim (sabar dan tidak langsung menghukum padahal Dia mampu) dan mereka masih mendapatkan rezeki-Nya. Kata-kata ini "subhaanah", merupakan bantahan Allah Subhaanahu wa Ta'aala terhadap pernyataan batil tersebut. Kemudian Allah Subhaanahu wa Ta'aala menegakkan hujjah dengan firman-Nya setelah kata-kata "subhaanah".

[5] Yakni Mahasuci Allah dari pernyataan yang batil tersebut. Demikian juga Mahasuci Dia dari apa yang disifatkan oleh kaum musyrikin dan orang-orang zalim. Mahasuci Allah yang memiliki kesempurnaan secara mutlak dari segala sisi, Dia tidak terkena aib dan kekurangan dari segala sisi.

[6] Maksudnya: semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya dan hamba-Nya, mereka semua tunduk kepada-Nya dan di bawah tadbir (pengaturan)-Nya. Jika mereka semua adalah hamba-Nya dan butuh kepada-Nya sedangkan Dia tidak butuh kepada mereka, bagaimana mungkin salah seorang di antara mereka menjadi anaknya, padahal anak itu biasanya sejenis dengan bapaknya, karena memang ia bagian daripadanya. Perhatikanlah, Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Memiliki lagi Maha Menundukkan, sedangkan mereka dimiliki dan ditundukkan, Dia Maha Kaya, sedangkan mereka fakir, berbeda bukan!, dan sungguh sangat berbeda. Oleh karena itu, pernyataan ini termasuk kebatilan yang paling batil.

Tunduk atau qunut terbagi dua: Ketundukan umum dan ketundukan khusus. Ketundukan umum maksudnya bahwa semua makhluk di bawah tadbir (pengaturan) Allah Subhaanahu wa Ta'aala seperti yang dinyatakan dalam ayat ini. Sedangkan ketundukan khusus adalah ketundukan beribadah sebagaimana firman-Nya "wa quumuu lillahi qaanitiin" (dan berdirilah karena Allah dengan tunduk/khusyu') di surat Al Baqarah: 238.

[7] Badii' artinya Allah Subhaanahu wa Ta'aala Pencipta tanpa didahului contoh sebelumnya. Allah Maha Kuasa mampu menciptakan makhluk begitu indah tanpa didahului contoh sebelumnya.

[8] Baik dari kalangan ahli kitab maupun selain mereka.

[9] Tanda-tanda di sini adalah tanda-tanda sesuai yang mereka inginkan berdasarkan akal mereka yang tidak sehat dan pandangan mereka yang dangkal yang membuat mereka berani berbicara seperti itu kepada Allah Al Khaliq dan bersikap sombong kepada rasul-rasul-Nya, seperti permintaan mereka agar dapat melihat Allah (lihat Al Baqarah: 55), permintaan agar Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam menurunkan kitab langsung dari langit (lihat An Nisaa': 153), dan seperti yang disebutkan dalam surat Al Israa': 90-95. seperti inilah kebiasaan mereka terhadap rasul-rasul, meminta ayat-ayat yang memberatkan diri mereka, bukan ayat-ayat untuk memperoleh bimbingan, karena memang niat mereka bukan mencari yang hak, padahal para rasul telah datang membawakan ayat-ayat yang biasanya dengan ayat tersebut manusia mau beriman. Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman, "Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada orang-orang yang yakin."

Orang-orang yang yakin telah mengetahui dari ayat-ayat Allah dan buktinya yang begitu jelas sesuatu yang membuat mereka yakin dan hilang keraguan dan kebimbangan.

[10] Yakni ucapan tersebut tidaklah muncul kecuali karena kesamaan hati dalam kekafiran dan kesesatan.

[11] Pada ayat ini, Allah Subhaanahu wa Ta'aala menyatakan kebenaran kerasulan Beliau dan kebenaran apa yang Beliau bawa berupa Al Qur'an dan As Sunnah. Kebenaran Beliau didukung oleh banyak dalil, baik dalil sam'i (naqli) seperti pada ayat ini, maupun dalil 'aqli (akal). Dalil 'aqlinya adalah sbb:

Pertama, keadaan penduduk bumi sebelum Beliau diutus berada dalam kegelapan dan jauh dari akhlak mulia sehingga disebut sebagai zaman jahiliyyah (kebodohan). Manusia tidak berpikir lagi tentang apa yang disembahnya; pantas atau tidak untuk disembah seperti patung, api, salib dsb. Kita pun mengetahui bahwa Allah Subhaanahu wa Ta'aala tidaklah menciptakan makhluk-Nya dengan membiarkan mereka begitu saja, karena Allah Subhaanahu wa Ta'aala Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Kuasa dan Maha Penyayang. Hikmah dan rahmat-Nya menghendaki untuk mengutus kepada mereka yang berada dalam kegelapan ini seorang rasul yang menyuruh mereka menyembah kepada yang pantas disembah, yaitu Pencipta mereka (Allah) dan mengembalikan mereka kepada jati diri mereka yang sesungguhnya (memanusiakan manusia) sebagai hamba Allah bukan hamba makhluk, membebaskan mereka dari peribadatan kepada makhluk menuju peribadatan kepada Allah, mengfungsikan kembali akal mereka yang selama ini tertahan geraknya, menjalin hubungan baik antara sesama mereka yang sebelumnya bermusuh-musuhan dan menyatukan mereka di atas tauhid, di atas beribadah kepada Allah dan di atas kebaikan sehingga hidup mereka diberkahi, makmur dan penuh kedamaian.

"Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (Terj. Al A'raaf: 96)

Kedua, barang siapa yang mengetahui keadaan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebelum diutus, akhlaknya yang mulia dan pribadinya yang agung, pasti akan mengetahui bahwa akhlak tersebut adalah akhlak para nabi dan rasul. Hal ini pun sama menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam adalah Nabi dan Rasul.

Ketiga, barang siapa yang mengetahui apa yang Beliau bawa, baik Al Qur'an maupun As Sunnah yang isinya mengandung berita yang benar, perintah-perintah yang baik (berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahim, berkata jujur, menepati janji dsb), larangan mengerjakan perbuatan buruk (larangan meminum khamr, judi, mengadu domba dsb), belum lagi mukjizat yang diberikan kepada Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam, pasti akan membenarkan kenabian dan kerasulan Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam kecuali orang yang zhalim dan sombong saja padahal hati mereka mengakui,

"Dan mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." (Terj. An Naml: 14)

[12] Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam diutus dengan membawa agama yang benar (Islam) yang diperkuat dengan hujjah dan mukjizat. Beliau diperintahkan menyampaikan agama ini dengan memberikan berita gembira kepada kaum mukmin kebaikan yang akan mereka peroleh di dunia dan akhirat, dan menakuti mereka yang menolak padahal sudah jelas kebenarannya dengan azab Allah. Tugas Beliau hanya menyampaikan, adapun hisabnya diserahkan kepada Allah. Beliau tidaklah diminta pertanggungjawaban terhadap kekafiran mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar