Sabtu, 05 Januari 2013

Tafsir Al Baqarah Ayat 102-105

Ayat 102-103: Membicarakan tentang sihir, dan bahwa orang-orang Yahudi ketika meninggalkan agama beralih mengikuti sihir, dan menerangkan tuduhan mereka terhadap Nabi Sulaiman ‘alaihis salam

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَى مُلْكِ سُلَيْمَانَ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّى يَقُولا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلا تَكْفُرْ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلا يَنْفَعُهُمْ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (١٠٢) وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (١٠٣

102.[1] Dan mereka mengikuti apa[2] yang dibaca oleh setan-setan[3] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu melakukan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir[4], tetapi setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia[5] dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat[6] di negeri Babil Yaitu Harut dan Marut, padahal keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang sebelum mengatakan, "Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir."[7] Maka mereka mempelajari dari kedua Malaikat itu sesuatu yang dapat memisahkan antara seorang (suami) dengan istrinya[8]. Mereka (ahli sihir) tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah[9]. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan, dan tidak memberi manfaat kepada mereka[10]. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barang siapa yang menukar (kitab Allah) dengan sihir itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat[11]. Sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya[12] dengan sihir, sekiranya mereka tahu[13].

 

103. Sesungguhnya jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik[14], sekiranya mereka tahu[15].

Ayat 104-105: Mengajarkan adab kepada kaum mukmin dan menerangkan tipu daya orang-orang Yahudi dan keburukan mereka, serta ketidaksopanan mereka terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (١٠٤) مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ (١٠٥

104. Wahai orang-orang yang beriman! janganlah kamu katakan (kepada Nabi Muhammad): "Raa'ina", tetapi Katakanlah: "Unzhurna"[16], dan dengarlah[17]. Bagi orang-orang yang kafir itu akan mendapat azab yang pedih[18].

105. Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan[19] dari Tuhanmu. Tetapi Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian), dan Allah pemilik karunia yang besar.


[1] Syaikh As Sa'diy menerangkan dalam kitab Tafsirnya bahwa sudah menjadi ketentuan dan hikmah ilahiyyah, barang siapa yang meninggalkan sesuatu yang memberinya manfaat dan ia bisa mengambil manfaat itu, tetapi malah meninggalkannya, maka ia diuji dengan kesibukan-kesibukan yang memadharatkannya. Barang siapa yang tidak beribadah kepada Allah, maka ia ditimba musibah dengan beribadah kepada selain-Nya, barang siapa yang meninggalkan cinta kepada Allah, takut dan berharap kepada-Nya, maka ia akan ditimpakkan musibah dengan cinta kepada selain Allah, takut dan berharap kepada selain-Nya, barang siapa yang tidak menafkahkan harta untuk keta'atan kepada Allah, maka ia akan menafkahkan hartanya karena menta'ati setan, barang siapa yang tidak menghinakan dirinya kepada Tuhannya, maka akan ditimpa musibah dengan menghinakan diri kepada sesama hamba, dan barang siapa yang meninggalkan kebenaran, maka ia akan ditimpa musibah dengan sesuatu yang batil. Seperti inilah keadaan orang-orang Yahudi, ketika mereka meninggalkan kitab Allah, mereka mengikuti apa yang dibacakan oleh setan-setan dan apa yang mereka buat berupa perkara sihir di masa kerajaan Sulaiman. Setan-setan mengeluarkan ilmu sihir dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman 'alaihis salam juga mempelajari sihir sehingga ia memperoleh kerajaan yang besar. Namun apa yang mereka katakan adalah dusta, Sulaiman tidaklah mempelajari ilmu sihir, Allah menyatakan "wa maa kafara Sulaimaan" (Sulaiman tidaklah kafir), yakni tidak mempelajari sihir.

[2] Maksudnya, kitab-kitab sihir.

[3] Setan-setan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa Nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir.

[4] Maksudnya, Sulaiman tidaklah kafir dan tidak mempelajari dan melakukan sihir. Ayat ini menunjukkan bahwa melakukan sihir merupakan perbuatan yang dapat mengkafirkan pelakunya.

[5] Karena tujuan yang diinginkan setan adalah agar manusia tersesat dan jauh dari agama, di antara caranya adalah dengan menyodorkan ilmu sihir, akhirnya banyak di kalangan orang-orang Yahudi yang mempelajarinya.

[6] Orang-orang Yahudi juga mempelajari sihir dari dua malaikat bernama Harut dan Marut di negeri Babil di Irak, padahal ia merupakan cobaan dari Allah kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan kedua malaikat itu tidaklah mengajarkan sihir kepada seorang pun kecuali setelah memberinya nasehat dan mengingatkannya untuk tidak mempelajari sihir serta mengatakan, "Janganlah kamu kafir" akibat mempelajri sihir dan menta'ati setan. Namun mereka malah mempelajarinya.

[7] Dengan demikian, setan mengajarkan sihir kepada manusia dengan tujuan melakukan tadlis (penyamaran) dan penyesatan, ditambah lagi dengan penisbatannya kepada Nabi Sulaiman 'alaihis salam, padahal Beliau tidak seperti itu. Adapun malaikat, mengajarkan sihir sebagai ujian sambil memberikan nasehat. Hal ini untuk menegakkan hujjah kepada mereka. Namun, orang-orang Yahudi lebih mengutamakan ilmu sihir yang diajarkan oleh setan dan diajarkan oleh dua malaikat sebagai cobaan, mereka tinggalkan ilmu agama yang diwariskan oleh para nabi dan rasul beralih kepada ilmu yang diajarkan oleh setan. Mirip dengan apa yang mereka lakukan adalah orang-orang di zaman sekarang, yang meninggalkan ilmu agama; meninggalkan kitab Allah, meninggalkan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beralih kepada filsafat yang diajarkan oleh orang-orang Yunani, ini pun sama termasuk bisikan setan. Oleh karena itu, Imam Syafi'i rahimahullah berkata:

كل العلوم سوى القران مشغلة

إلا الحديث والفقه فى الدين

العلم ما كان فيه قال حدثنا

وماسوى ذلك وسواس الشياطين

"Semua ilmu selain Al Qur'an (seperti ilmu kalam) hanyalah menyibukkan, selain hadits dan mendalami agama.

Ilmu adalah yang tercantum di dalamnya kata "telah menyampaikan sebuah hadits kepada kami", sedangkan selain itu hanyalah bisikan setan belaka."

[8] Ada berbacam-macam ilmu sihir yang dikerjakan orang-orang Yahudi, sampai-sampai ada sihir yang digunakan untuk memisahkan pasangan suami-istri.

[9] Ayat ini menunjukkan bahwa sihir itu ada hakikatnya, dan bahwa sihir itu dapat mencelakakan dengan izin Allah.

Perlu diketahui, bahwa izin terbagi dua:

Pertama, Izin Qadariy, yakni yang terkait dengan kehendak Allah sebagaimana pada ayat ini.

Kedua, Izin Syar'i, seperti pada ayat 97 sebelumnya.

Perbedaan di antara keduanya adalah bahwa Izin Qadari tidak mesti dicintai oleh Allah Subhaanahu wa Ta'aala, sedangkan Izin Syar'i memang dicintai Allah.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa sebab itu betapa pun besar yang diupayakan, namun hasilnya tetap mengikuti Qadha' dan Qadar.

[10] Ayat ini menunjukkan bahwa bahwa ilmu sihir adalah ilmu yang mencelakakan, tidak ada manfa'at di dalamnya baik manfa'at diniyyah (agama) maupun duniawiyah (dunia) tidak seperti maksiat lainnya yang terkadang ada sedikit manfa'at duniawinya seperti khamr dan judi. Namun sihir penuh madharat, tidak ada manfa'atnya sama sekali. Oleh karena itu, segala yang dilarang bisa isinya madhharat (bahaya) saja atau bahayanya lebih besar daripada manfa'atnya, sebagaimana segala yang diperintahkan, bisa isinya hanya maslahat atau kebaikannya lebih besar daripada keburukan.

[11] Setan membawakan sihir kepada orang-orang Yahudi, sehingga ilmu sihir menjadi ilmu yang diminati mereka, sampai-sampai kitab Allah ditinggalkan. Padahal mereka mengetahui barang siapa yang yang lebih memilih ilmu sihir dan meninggalkan kebenaran (ilmu agama), niscaya ia tidak akan memperoleh keuntungan di akhirat.

[12] Yakni rela menjual imannya untuk memperoleh sihir.

[13] Yakni jika mereka memiliki ilmu (pengetahuan) yang membuahkan amal.

[14] Maksudnya: Lebih baik daripada sihir dan apa yang mereka cari.

[15] Yakni sekiranya mereka mengetahui pahala dan balasan yang diperoleh bagi mereka yang beriman dan bertakwa, tentu mereka tidak akan memilih sihir.

[16] Raa 'ina berarti: sudikah kiranya kamu memperhatikan kami. di saat Para sahabat mengucapkan kata-kata ini kepada Rasulullah, orang Yahudi pun memakai kata ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa'ina Padahal yang mereka katakan ialah Ru'uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Allah menyuruh supaya para sahabat mengganti perkataan Raa'ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa'ina.

[17] Maksudnya: Dengarkanlah apa yang dibacakan kepadamu dari firman Tuhanmu serta pahamilah. Termasuk juga mendengarkan Al Qur'an, mendengarkan As Sunnah yang di dalamnya berisi hikmah, karena tidak disebutkan secara khusus di sana apa yang mesti didengar.

[18] Ada beberapa faedah yang dapat diambil dari ayat ini, di antaranya:

- Perkara mubah bisa menjadi terlarang jika menjadi wasilah/sarana kepada yang haram.

- Hendaknya seseorang memiliki adab yang baik dan ketika berbicara menggunakan lafaz-lafaz yang tidak mengandung kemungkinan buruk.

[19] Baik wahyu (Al Qur'an), ilmu pengetahuan, pertolongan maupun berita gembira.

1 komentar: